Senin, 11 Januari 2016

Umpama



Setiap perumpaan memiliki maksud untuk mengetuk perasaan. Menggelitik ingatan. Padanya kita mengemban tugas menyampaikan makna tanpa menusuk lebih dalam apa yang kita maksudkan sebagai tujuan pemaknaan. Intepretasi berlebihan menggugurkan keelokan lekukan tafsiran. Tidak berlebih dan bukan mengurangi sebagian, agar tetap pada koridor keseimbangan. Meski kemudian keseimbangan merupakan kemustahilan di jaman edan. Keadilan yang semula menjadi kunci terciptanya negara dan inti kemasyarakatan, sekarang menjadi komoditas pemilik kuasa. Pemilik modal bebas melenggang tanpa perlu peduli pada inkonsistensi keputusan. Semua mendewakan kekayaan. Kehormatan, kekuasaan, pemilikan uang selalu menjadi tujuan yang menyibukkan seluruh hidup. Tak ada tempat yang paling indah tanpa segelas rupiah, sepiring duit. Banyak manusia saat ini yang produktif, tak bisa terkalahkan, tak pernah gagal, selalu sukses mencapai status tertentu. Mendapat penghormatan. Mempunyai kekayaan. Dan tinggal sedikit dari mereka yang menjadi manusia seutuhnya, utuh dalam pandangan penulis, utuh menurut penulis. Utuh yaitu manusia yang hidup kerena berkesempatan untuk menghidupinya.