Setiap perumpaan memiliki maksud
untuk mengetuk perasaan. Menggelitik ingatan. Padanya kita mengemban tugas
menyampaikan makna tanpa menusuk lebih dalam apa yang kita maksudkan sebagai
tujuan pemaknaan. Intepretasi berlebihan menggugurkan keelokan lekukan tafsiran.
Tidak berlebih dan bukan mengurangi sebagian, agar tetap pada koridor
keseimbangan. Meski kemudian keseimbangan merupakan kemustahilan di jaman edan.
Keadilan yang semula menjadi kunci terciptanya negara dan inti kemasyarakatan,
sekarang menjadi komoditas pemilik kuasa. Pemilik modal bebas melenggang tanpa
perlu peduli pada inkonsistensi keputusan. Semua mendewakan kekayaan.
Kehormatan, kekuasaan, pemilikan uang selalu menjadi tujuan yang menyibukkan
seluruh hidup. Tak ada tempat yang paling indah tanpa segelas rupiah, sepiring
duit. Banyak manusia saat ini yang produktif, tak bisa terkalahkan, tak pernah
gagal, selalu sukses mencapai status tertentu. Mendapat penghormatan. Mempunyai
kekayaan. Dan tinggal sedikit dari mereka yang menjadi manusia seutuhnya, utuh
dalam pandangan penulis, utuh menurut penulis. Utuh yaitu manusia yang hidup
kerena berkesempatan untuk menghidupinya.