Ini
adalah kali kedua percakapan kita berakhir tanpa ucapan selamat malam dan
sampai jumpa esok pagi. Mungkin aku terlalu lelah atau kau yang mulai jengah.
Dini hari tadi aku terjaga, melihat pendar cahaya di wajahmu yang sayu. Bukan
sebagai manusia yang antusias berjumpa mainan baru, aku tidak merasakan bungah.
Melainkan lebih seperti bayi kucing yang nyenyak dalam pelukan perut induknya.
Aku merasa nyaman, dan hangat. Mungkin kau tak lagi membuatku tergila-gila namun
hal itu tak sekalipun mengurangi kadar kemauanku untuk tetap bisa berdampingan
denganmu. Dan jika kau merasa bosan, aku akan selalu mencari cara untuk
membuatmu kembali tertawa dan berkenan berbagi cerita meski bualan semata. Tak
ada yang benar-benar membuatku merasakan bahagia selain tawa lepasmu. Kalimat
tersebut di atas sudah beratus kali kuucapkan padamu selama dua ribu seratus sembilan
puluh hari sejak pertama jumpa. Dan semenjak itu aku telah merawat ingatan
tentang satu bait puisi yang pertama kali kubuat untukmu. Kini setelah ribuan
jam yang kita habiskan bersama kita mulai terbiasa mengucap rindu dalam seutas
senyuman sebelum tidur.
Pernah di suatu sore berhias daun-daun kering
kekuningan kau berujar dalam satu tarikan nafas panjang tepat setelah meneguk teh
celup di teras belakang rumah. Kau bilang, perkara waktu adalah kebaikan-kebaikan
yang berlalu juga keburukan tak berujung. Maka, kemampuan menjaga kewarasan
bergantung pada seberapa besar kekuatan kita mengalahkan ego pribadi. Ekspektasi
membunuhmu. Ya, ekspektasi mengungkungmu, dan apa yang kita harapkan tapi tidak
tergapai adalah hal biasa. Dan kini, aku, kau, masa lalu, berjalan beriringan.
Bukan lagi sebagai penyempurnaan. Aku, kau, masa lalu, menguar dalam siang yang
sibuk. Satu hal yang membedakan, kita tidak sedang membuat kesepakatan. Karena
pilihan adalah bentuk kebebasan. Merdekamu adalah hal yang perlu aku dukung
sepenuh hati.
Dua hari semenjak sore yang lumayan kikuk itu muncul pertanyaan dalam kepala,
apakah kau melakukan yang terbaik ataukah semampumu atau malahan semaumu?
Dalam hematku tidak berarti semua akan baik-baik saja dan duniamu berputar
dengan segala kebaikan-kebaikan tertuju padamu. Karena, mungkin juga keluhuran
budi adalah sumbangsih utama untuk dapat berjabat erat dengan harapan-harapan baik
orang-orang pada dirimu. Semua akan berlalu bahkan ketika aku belum juga
selesai menata hati atas kejadian memalukan yang mungkin berasal dari kekolotan
pikiranku. Mungkin semua ini juga berujung pangkal pada sesuatu yang oleh
sebagian orang disebut logika. Dipercaya dan dipuja-puja setinggi pesawat di
angkasa. Karena pada akhirnya tak ada yang sia-sia kecuali memang kau tak
menaruh minat pada apapun dan tidak mengandalkan kerinduan kecil sebagai
pengusung hari-hari renta akhir zaman. Misteri, katamu, tak dapat dipecahkan.
Namun banyak orang yang terlalu mudah mengambil kesimpulan.
Seingatku dalam ceramah-ceramah di Jumat siang tak sekalipun mengingatkan akan
kematian yang harus dirayakan. Kebanyakan, yang disarankan adalah perbanyak penyesalan
dan permohonan maaf. Tak apa, kepentingan orang memang berbeda-beda. Pun antara
aku dan kau, meski sudah seribu kali bilang rindu, sekalian kali mencurahkan
pilu dan setiap akhir pekan bercumbu, kita tetap punya kepentingan
masing-masing. Akankah berakhir?
Namun ada hal yang selama dua ribu seratus sembilan puluh hari telah kau tahu
dan dan senang sekali mengetahuinya, yaitu pendapat dan cara berpikirmu
membekukan isi kepalaku. Kau juga tahu bahwa aku tak pandai bergargumen apalagi
berdebat dan kau menyukainya; pikirmu sesegera mungkin tercipta jalan keluar
tanpa memperpanjang kalimat-kalimat yang mengukuhkan ego pribadi. Kau terus
terang sekaligus tak suka bertele-tele. Kau menunggu komentar-komentar tidak
pentingku dan tak mau menyanggahnya. Kau selalu begitu, menemukan ide dalam
setiap kebuntuan cara berpikirku dan aku menyukainya.
Tak ada yang menyangka bahwa sabtu yang gerimis itu adalah hari sebelum
matahari tak pernah mau lagi menampakkan wajahnya. Ia, menurut beberapa ahli
melakukan apa yang disebut sebagai kontemplasi. Ya, matahari melakukannya
karena ia merasa tak pernah lagi dianggap dan hanya menjadi pengganggu. Padahal
jika menurut para sufi ia melakukan apa yang disebut platonis; suatu laku
memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa mengharapkan timbal balik. Ya,
seperti itulah, mungkin ia merasa tak dibutuhkan lagi dan melimpahkan
wewenangnya kepada bintang yang lain. Kita tunggu saja tiga puluh hari kedepan
sembari mencari cara mengeringkan jemuran dengan efektif dan membantu tanaman
di rumah melakukan fotosintesis.