Kamis, 17 September 2020

Kuharap kita masih bisa tertawa bersama (revisi 1)

Ini adalah kali kedua percakapan kita berakhir tanpa ucapan selamat malam dan sampai jumpa esok pagi. Mungkin aku terlalu lelah atau kau yang mulai jengah. Dini hari tadi aku terjaga, melihat pendar cahaya di wajahmu yang sayu. Bukan sebagai manusia yang antusias berjumpa mainan baru, aku tidak merasakan bungah. Melainkan lebih seperti bayi kucing yang nyenyak dalam pelukan perut induknya. Aku merasa nyaman, dan hangat. Mungkin kau tak lagi membuatku tergila-gila namun hal itu tak sekalipun mengurangi kadar kemauanku untuk tetap bisa berdampingan denganmu. Dan jika kau merasa bosan, aku akan selalu mencari cara untuk membuatmu kembali tertawa dan berkenan berbagi cerita meski bualan semata. Tak ada yang benar-benar membuatku merasakan bahagia selain tawa lepasmu. Kalimat tersebut di atas sudah beratus kali kuucapkan padamu selama dua ribu seratus sembilan puluh hari sejak pertama jumpa. Dan semenjak itu aku telah merawat ingatan tentang satu bait puisi yang pertama kali kubuat untukmu. Kini setelah ribuan jam yang kita habiskan bersama kita mulai terbiasa mengucap rindu dalam seutas senyuman sebelum tidur.

Pernah di suatu sore berhias daun-daun kering kekuningan kau berujar dalam satu tarikan nafas panjang tepat setelah meneguk teh celup di teras belakang rumah. Kau bilang, perkara waktu adalah kebaikan-kebaikan yang berlalu juga keburukan tak berujung. Maka, kemampuan menjaga kewarasan bergantung pada seberapa besar kekuatan kita mengalahkan ego pribadi. Ekspektasi membunuhmu. Ya, ekspektasi mengungkungmu, dan apa yang kita harapkan tapi tidak tergapai adalah hal biasa. Dan kini, aku, kau, masa lalu, berjalan beriringan. Bukan lagi sebagai penyempurnaan. Aku, kau, masa lalu, menguar dalam siang yang sibuk. Satu hal yang membedakan, kita tidak sedang membuat kesepakatan. Karena pilihan adalah bentuk kebebasan. Merdekamu adalah hal yang perlu aku dukung sepenuh hati.

Dua hari semenjak sore yang lumayan kikuk itu muncul pertanyaan dalam kepala, apakah kau melakukan yang terbaik ataukah semampumu atau malahan semaumu?
Dalam hematku tidak berarti semua akan baik-baik saja dan duniamu berputar dengan segala kebaikan-kebaikan tertuju padamu. Karena, mungkin juga keluhuran budi adalah sumbangsih utama untuk dapat berjabat erat dengan harapan-harapan baik orang-orang pada dirimu. Semua akan berlalu bahkan ketika aku belum juga selesai menata hati atas kejadian memalukan yang mungkin berasal dari kekolotan pikiranku. Mungkin semua ini juga berujung pangkal pada sesuatu yang oleh sebagian orang disebut logika. Dipercaya dan dipuja-puja setinggi pesawat di angkasa. Karena pada akhirnya tak ada yang sia-sia kecuali memang kau tak menaruh minat pada apapun dan tidak mengandalkan kerinduan kecil sebagai pengusung hari-hari renta akhir zaman. Misteri, katamu, tak dapat dipecahkan. Namun banyak orang yang terlalu mudah mengambil kesimpulan.

Seingatku dalam ceramah-ceramah di Jumat siang tak sekalipun mengingatkan akan kematian yang harus dirayakan. Kebanyakan, yang disarankan adalah perbanyak penyesalan dan permohonan maaf. Tak apa, kepentingan orang memang berbeda-beda. Pun antara aku dan kau, meski sudah seribu kali bilang rindu, sekalian kali mencurahkan pilu dan setiap akhir pekan bercumbu, kita tetap punya kepentingan masing-masing. Akankah berakhir?
Namun ada hal yang selama dua ribu seratus sembilan puluh hari telah kau tahu dan dan senang sekali mengetahuinya, yaitu pendapat dan cara berpikirmu membekukan isi kepalaku. Kau juga tahu bahwa aku tak pandai bergargumen apalagi berdebat dan kau menyukainya; pikirmu sesegera mungkin tercipta jalan keluar tanpa memperpanjang kalimat-kalimat yang mengukuhkan ego pribadi. Kau terus terang sekaligus tak suka bertele-tele. Kau menunggu komentar-komentar tidak pentingku dan tak mau menyanggahnya. Kau selalu begitu, menemukan ide dalam setiap kebuntuan cara berpikirku dan aku menyukainya.

Tak ada yang menyangka bahwa sabtu yang gerimis itu adalah hari sebelum matahari tak pernah mau lagi menampakkan wajahnya. Ia, menurut beberapa ahli melakukan apa yang disebut sebagai kontemplasi. Ya, matahari melakukannya karena ia merasa tak pernah lagi dianggap dan hanya menjadi pengganggu. Padahal jika menurut para sufi ia melakukan apa yang disebut platonis; suatu laku memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa mengharapkan timbal balik. Ya, seperti itulah, mungkin ia merasa tak dibutuhkan lagi dan melimpahkan wewenangnya kepada bintang yang lain. Kita tunggu saja tiga puluh hari kedepan sembari mencari cara mengeringkan jemuran dengan efektif dan membantu tanaman di rumah melakukan fotosintesis.

Rabu, 19 Februari 2020

Sahaja

Pagi biasa di pinggiran kota. Menunggu matahari membisukan kokok ayam jantan. Di depan meja bekas mesin jahit ibunya, segelas teh sisa semalam tinggal separuh. Kerupuk jaring dan tahu goreng dalam satu piring.
Hari ini, kepulan asap membumbung dari sekitaran kampung di sebelah utara, tengiknya menembus ventilasi kamar. Dua puluh tahun lebih sekian yang lalu ia menyunggingkan senyum, bukan tangis, kepada dua orang yang kini dipanggilnya pak dan buk.
Dua puluh tahun lebih sekian adalah perjalanan panjang kebodohan, kesia-siaan, muram, kebencian, lelah, tapi juga tersimpan rindu-kenangan, dan terkunci harap dan cita dalam tempurung kepala yang berwajah merona.
Pagi ini ia masuk kerja pukul sembilan, ijin barang satu jam untuk menyelesaikan administrasi di kantor lamanya. Tak ada keluh kesah apatah gelisah. Semua berjalan seperti apa yang semesta utarakan. Semua terpenuhi sesuai semesta kehendaki.
Jam menuju angka delapan lebih dua puluh tiga, ia melirik botol bekas sirup yang terisi bunga-bunga pemberian ibu kos. Tak ada sarapan dan baju digosok. Tak ada ragu. Hari ini ia merayakan sekejap hari lahirnya; dalam seutas senyum yang dalam dan terima kasih yang tulus di rongga dada.