Kamis, 17 Januari 2019

c o r nian

Libur merupakan jeda sebelum kembali berpeluh keringat. Agar tak jenuh digilas rutinitas. Supaya tubuh punya waktu beristirahat dari hal-hal berat. Biar otak menguraikan penat.
Pagi-pagi sekali sudah kubuka mata. Lembut buliran embun di dedaunan. Kokok ayam bersahutan. Sayup-sayup tukang sayur keliling memanggil pelanggan. Matahari masih malu-malu di kejauhan, menyisakan kilauan kuning di tembok luar kamar. Si kucing mengeong kelaparan, semalam suntuk tak pulang mencari betina untuk diajak kencan.
Ahad pagi seperti seharusnya.
Hari dimulai lambat seolah tak peduli orang-orang kini terbiasa serba cepat. Disibakkan selimut, dipinggirkan bantal guling, berjalan pelan menuju kamar mandi buat gosok gigi. Mencoba mengingat apakah masih ada PR yang belum dikerjakan. Gemericik air akuarium menyadarkannya dari lamunan, diraihnya gayung berisi air untuk berkumur sambil berkaca mencari-cari belek yang tersisa.
Ahad pagi cerah diiringi semilir angin.
Kubuka tirai dan jendela, kuhidupkan radio disaluran biasa, seorang perempuan diseberang bersuara renyah menyambutku. Tersenyum malu-malu. Kurebahkan tubuhku di atas kasur, kubisikkan kalimat pendek pada bantal, "kau layak kugumuli sampai siang".
Ahad pagi pukul sembilan.
Selimut masih menempel di badan, radio menyuarakan tembang kenangan. Orang-orang sibuk liburan sedangkan aku di kamar asik bermalas-malasan. Dan kucingku, dia, lebih pandai mencari teman kencan dari pada empunya. 

capri

Hobinya menunggui air yang dipanaskan di atas kompor, melihat air mendidih, perlahan menyusut menjadi uap-uap panas. Mie instant di plastik kresek yang baru dibeli dari warung dibiarkan saja. Kepulan asap dan air yang mendidih lebih menarik perhatian. Diliriknya mangkuk di atas rak lalu tumpukan sendok di sebelah kanan barisan piring. Uap air menggulung ke udara, menyengat kulit pipi, membuatnya merah. Kepalanya terlalu menunduk ke arah panci, tapi ia tak merasa kepanasan.
Tangan kanannya meremas uang kembalian di kantong celana. Dipikirnya mie instant rasa ayam bawang itu akan dimasukkan ke dalam panci paling tidak satu menit lagi. Sembari menunggu detik berlalu, ia perhatikan api yang menyala, kemudian ia kecilkan. Ia melihat air tak lagi kacau, permukaannya lebih tenang namun masih menghasilkan uap panas.
Pada detik ke tiga puluh lima ia mulai membuka bungkus mie, dipatahkannya lembaran mie jadi dua, dimasukkan salah satu bagian ke dalam plastik bungkus mie dan satu bagian ke dalam panci. Ia ambil mangkuk lalu disobek bungkus bumbu dan dituangkan ke dalamnya.
Menit berikutnya mie sudah masak. Muka merahnya dihiasi senyum kepuasan. 

Kamis, 10 Januari 2019

Lumrah

Semurah udara segar pagi hari, dimunculkannya lagi angan.
Melihat buana tinggi di atas awan, gemerlap, cerah, mengisahkan. Pagi belum tentu beranjak diiringi harmoni. Keselarasan tak utuh menyiratkan. Kebahagiaan tak ditemui di lumbung-lumbung air. Mengalir pelan, sedikit lalu menghambur dalam kelam. Intro dan intermezo. Lagu dan puisi kehidupan. Air dan tanaman, bersinggungan, menghidupi masa depan.

Pada masa tak tentu, mengarahkan konsentrasi pada kepentingan bersama dengan pertimbangan keindahan.

Hari-hari dilimbungkan ketidakpastian. Dibungkam kebohongan. Dirongrong hipokrit akut. Tanah dan pepohonan kering kuning.

Angin panas menghembus rumah-rumah, bayi-bayi kegerahan, kucing-kucing kehausan, ayam-ayam berteduh di bawah kolong ingatan.

Tangan-tangan tak kelihatan katamu. Kemisteriusan duniawi kau bubuhi kisah suci.
Dijungkir balikkannya logika dan rasa. Hingga ketidakteraturan adalah hal biasa. Dipuja bak dewa dipuji seperti nabi.

Di pinggir jalan kau temui lelaki dengan sepeda tua mengayuh penuh khikmat. Melaju tanpa lelah. Melimpahkan senyum dibalik terik siang. Di petak-petak kebun, ibu-ibu menyunggingkan tawa, di sela-sela ceramah rumah tangga, dan tentang suami yang tak muda lagi.

Putus-putus sambungan telepon. Pesan tak sampai. Badai mengulum pulau-pulau kesepian. Rindu dan keinginan pulang. Kabar yang ditukar dengan makanan. Jam tangan diletakkan dalam kantong plastik ketika hujan.

Bisik-bisik tetangga, obrolan sinis teman sebaya, praduga diungkap para tetua, bapak-bapak penuh curiga.

Lama itu relatif dan hidup sekadar singgah.

Para pencerita menjadikan kutukan sebagai dagangan laris dalam toko-tokonya. Dijualnya berbagai barang remeh-temeh lain yang tak jauh beda.

Manusia-manusia sedang berjalan.
Sendiri-sendiri menuju pemakaman.

Ego tak kentara dalam rayu manis kata-kata. Membuncah-ruah dari kepala-kepala berisi teori-teori terkini.
Tinggi hati yang lugu. Menggugat canda dan getir asa.
Kepandaian tak terpiri bertautan dengan kekejian. Nilai-nilai dirundung hama, pohon ilmu tertutup gulma.

Siapa engkau, mendaku raja dengan segala keunggulan, memberikan ancaman-menumbuhkan kebencian. Siapa engkau, lelaki tak berkumis, melanggengkan tumpah darah demi nama harum kemanusiaan. Siapa saja, menganggap salah yang berbeda, percaya diri bahwa yang lain tak pantas berada di muka bumi, selalu melontarkan kemarahan-tuduhan.

Bagaimana bisa aku dengan mudah membicarakan kekurangan orang lain di belakangnya dan sekaligus tersenyum manis menyanjung keberhasilan dan tindakan-tindakan biasa di depannya.