Sudahkah melupakan apa yang ingin diingat, melihat
sebagian yang tak lagi kita rawat. Mudah membiarkan perasaan yang tak kita
inginkan membaur dalam remah-remah percakapan. Dan terlalu mudah kita melupakan
kemudian. Jika ingatan akan lupa tak mampu kita pupuk sedemikian rupa maka
kehancuran ingatan selanjutnya tak kan terlewat. Dan dari segala ingatan akan
kata, maka setidaknya kita mampu melupakan sebagian dari makna. Lalu kata-kata
sebatas alat bukan tujuan, dan makna tak lagi lekat padanya.
Harapan yang kita tujukan pada kata-kata yang kita
ucapkan seringkali hanya menjadikan kita semakin merana. Ia; harapan, tak sudi
kita damaikan dengan kenyataan. Sebab selalu ada rasa dan logika yang tak patuh
pada keinginan dan tak mudah diabaikan. Seribuan malam yang sudah dilalui dan
dingin sunyi yang menembus selimut dan kaus kaki bukan pantas dijadikan
kenangan, hal itu cukup menjadi pengalaman. Pengamalan petuah sang bijak pada
malam-malam tertentu sering dijadikan lumrah. Sebagai kudapan pada malam-malam
gelap yang terlalu ringan, angan akan kebenaran lambat untuk diwujudkan.
Keributan pada hari yang sepi membawa angin segar
akan pengalaman yang tak jauh pernah dialami, bahwa kepala yang kosong dan
berisi sebuah otak ini pada waktu silam dijejali berbagai informasi dan
dihadapkan berbagai kondisi. Ramalan bintang oleh para pengajar mungkin salah,
juga mengenai teori akan masa depan yang dituliskan tak semuanya cocok
diaplikasikan.
Rumah-rumah yang berjajar rapi dan tak pernah
saling sikut, dikemudian hari menyadari bahwa penghuni mereka semakin mudah
marah, bukan lagi manusia konvensional yang sabar pun tabah. Tembok-tembok
dengan cat terkelupas dan ditumbuhi lumut menjadi tempat kencing paling nyaman
bagi pemuda tanggung di sekitaran.
Ruang-ruang hijau yang dialiri air dari pedesaan
di sebelah selatan mulai kering dan tandus oleh kemarau berkepanjangan.
Anak-anak bermain di bawah debu-debu tanah kering, terpeleset kerikil dan batu
kecil dan tak kuasa menahan dahaga di bawah rindang pohon tua.
Mereka mengucapkan sesuatu, berbisik, saling
menyahut, beberapa saling membentak, namun kata-kata yang mereka ucapkan bukan
lagi bahasa yang berdaya guna, bagi mereka kata-kata tersebut telah kehilangan
makna sebagai penunjuk suatu benda dan atau peristiwa. Kata-kata yang keluar
dari mulut mereka kini bercampur dengan debu-debu kering di ruang-ruang hampa
kerongkongan. Melebur dengan dedaunan yang jatuh di got-got kotor perumahan.
Menjadi satu dengan kotoran kucing di gundukan pasir di tengah-tengah taman.
Kehidupan monoton tak beriak-bergelombang mudah
ditebak. Dalam putarannya yang selalu. Dan dalam ingatannya yang mulai layu;
kehidupan menemui jalan memutar yang tak kunjung usai. Ibarat labirin besar nan
rumit, kini ia seakan berkelit. Kehidupan seringkali begitu megah, dan
sekaligus bagi yang lain terasa begitu sederhana dan sengsara. Namun diantara
pengagum dan penghujat ada sebuah kesepakatan bahwa kehidupan yang telah
ditawarkan dan didapat tak boleh disia-siakan.
Nafas yang menderu di tengkuk perempuanku, dan
hangat dalam pagutan lidah malam itu. Hidup yang menemukan gairah tapi bukan
sesuatu yang baru, hidup seperti itu adalah kebutuhan yang harus diselaraskan.
Ia; ingin yang dihajatkan. Dalam remang hidup dan kehidupan pongah, sekalipun
terasa gerah, ada saat-saat wajah yang muram itu merona merah.
Lalu ketika udara hambar merasuk di lubang hidung
dan lembab di kulit mulai mengganggu, kau akan meletakkan tugasmu, sebentar,
untuk mengeringkan badan juga membasuh kepala yang mulai panas oleh ide-ide
gila. Ide dan gagasan yang berpacu di kepala di sore hari yang panas dengan
angin berhembus cukup lama. Ide dan gagasan yang tak setiap hari muncul dan
mereka timbul tanpa diduga. Tumbuh di ingatan diejawantahkan dalam tulisan dan
berakhir pada percakapan dengan teman.
Kegembiraan aneh seringkali datang meski sejenak,
lalu pergi bersama dengan deru motor dan mobil pagi hari. Semacam polusi udara
yang pengap, hitam, dan kotor, kegembiraan itu berbondong-bondong ditekan
jumlahnya. Gembira yang melenakan adalah pembunuh nomor satu dari kewarasan,
padahal jika boleh jujur gembira ialah efek samping dari perasaan lega.
Maka pada waktu sial tiba, aku akan terlihat
tersungkur di pinggiran jalan akibat lalai menekan rem sepeda, pada saat itu
kepala sedang terisi oleh angan berduaan dengan si dia. Ya, gembira pada waktu
itu karena tak kusikapi secara seksama malah menimbulkan problema. Namun sekali
lagi, gembira juga bukan tujuan sebab hidup terlalu rendah jika disikapi
demikian.
Di gelas-gelas kosong bekas pembeli menghabiskan
teh atau kopi sedemikian hebat senyum itu terkembang menampakkan gigi-gigi yang
terawat. Luka-luka yang dulu didapat seolah menemukan penawarnya, kepuasan
pelanggan telah menjadi obat yang mujarab. Doa-doa yang dilantunkan pada
menit-menit sebelum terlelap terdengar merdu bercampur aroma tanah basah pada
dini hari di akhir minggu. Seolah membuktikan, hari-hari biasa setelahnya luka
itu mulai tersimpan dan hanya jadi bahan; untuk diingat dan jadi pengingat,
sekaligus tak perlu lagi diisolasi dan diberi obat.
Kurang lebih dalam seminggu ada waktu untuk
membaca buku yang masih jauh dari predikat penuntut ilmu, tapi begitulah ia
menjalani, pelan-pelan dan kadang membosankan. Dan saat kesibukan di luar rumah
menuntut kekritisan, pembiasaan diri untuk membaca beragam informasi dan
berdiskusi hasilnya adalah kelelahan membayangkan apa yang akan terjadi dan
untuk apa semua ini. Beberapa jam dihabiskan hanya untuk merenung; akan jadi
apakah aku ini?. Sehingga budaya berpikir berakhir pada ketakutan dan akibat
fatalnya ialah menganggap sinis yang orang lain lakukan, malas berbuat, dan tak
mau tahu keadaan yang terjadi di lingkungan pertemanan.
Kefanaan manusia dan eksistensi palsu dihadapan
orang-orang menjungkalkan prediksi; diri berpotensi yang mampu mempengaruhi.
Sebab apa-apa yang dilakukan dan kemudian ditiru oleh liyan hanyalah pemenuhan
nafsu akan pengakuan. Agar diakui bisa, diakui punya kuasa, diakui berbeda,
diakui kecerdasannya, dan diakui kehebatannya. Pada tahap inilah media massa
menjadi sarana paling jitu, untuk melancarkan aksi penghakiman terhadap
mereka-mereka yang terpinggirkan, terhadap mereka yang tak sejalur dengan
arustama.
Cahaya berpendar di ruas-ruas jalanan kota ini tak
menyiratkan ketulusan. Mereka hanya datang untuk dilupakan. Begitu saja tanpa
perayaan yang semestinya manusia-manusia itu lakukan. Pendaran lampu jalan, pun
cahya redup rembulan tak disemai dengan keindahan. Dilewati laiknya genangan
air yang terhempas ke tubuh-tubuh pejalan kaki. Yang namanya kenangan dalam
balutan sinar hangat kebersamaan telah dikebumikan bersama peti mati imaji dan
keberanian. Mereka yang menyaksikan, melangkah keluar rumah dengan pelan,
mencoba mencari dalam perpustakaan ingatan sebuah kata untuk menggambarkan
suasana kekalutan. Yah, mungkin keterlambatan, atau bisa jadi penyesalan.
Pekerjaan paling berat ialah melupakan dan
pekerjaan paling berani ialah memaafkan. Maka jika tak mampu menemukan mata
pencaharian, setidaknya sanggup untuk memaafkan kesalahan; diri pun yang lain.
Serta jika tak sanggup melupakan yang sudah tersimpan dalam memori sudah
seharusnya merancang strategi perdamaian. Sebab hidup terlalu rapuh jika diisi
oleh kebencian. Rindu yang menyayat perasaan tak mampu menjadi obat kebencian,
benci yang terakumulasi dan tertata rapi di satu pihak bisa menjadi amunisi,
dan sekaligus mengubah wujudnya serupa minyak panas yang diguyurkan ke kulit
manusia.
Ketenangan pada jam-jam dini hari dan juga gerimis
yang awet memberi perasaan malu. Menggiring pada cita-cita yang masih berupa
wacana. Mengajaknya kembali menyusuri kepentingan-kepentingan yang ingin
dipenuhi. Dan bahkan menerjemahkan kegetiran kopi dan apa maksud serta tujuan
kehidupan.
Lalu, kita kembali pada jam-jam setelah berpeluh
dan memeluk kesepian. Pada antusiasme dingin yang tertahan. Dan pada hasrat
murni yang malu-malu. Bukan sebab tak mampu, melainkan rencana-rencana ke depan
yang seolah muskil sedikit banyak membuyarkan konsentrasi kopulasi.
Keengganan membicarakan hal-hal yang dianggap
terlalu jauh malah membuatku semakin menjauh dari relung hatimu yang selama ini
kuselami-kuamini. Mata yang menelanjangi dan bibir tipis merah muda dilengkapi
hidung dalam takaran tak mengada-ada, ialah kombinasi yang tak mampu kudustai,
tuk dikagumi.
Kesalahan di masa lalu terlalu sulit dilupakan
meskipun sudah kau coba maafkan. Jalan yang kemudian kita tempuh semakin
menguatkan karekter masing-masing. Tanpa diduga kita bersua di persimpangan
yang sama, untuk kembali melanjutkan perjalanan ke arah yang berbeda. Sekejap
kusadari, mungkin ini yang terakhir sebelum ketegangan-canggung yang menjalari
diri bisa perlahan kita pangkas. Kebebasan yang terlihat kekanak-kanakan
seharusnya kita rayakan kemudian. Setelahnya kita merasakan langkah ringan dan
tawa lepas. Juga jalan-jalan yang kita tempuh tanpa rencana yang jelas serta
baju-baju lusuh dan wajah sumringah, menyatu dalam perjalanan panjang yang
penuh emosi- memori.
Aku tak pernah terbuka akan suatu hal dan lebih
suka mendengar orang lain berbicara tapi tak pernah suka orang yang terlalu
banyak bicara. Dan di sela-sela waktu merenung, tidur, membaca dan aktivitas
lainnya aku telah menulis beberapa catatan.
1.
23:49 yang
gerah. Dalam samarnya neon jalan sayup-sayup dendang Gereja Tua merambat pelan.
2.
Padanya yang
selalu bisa membuatku jujur sekaligus tak mampu beranjak.
3.
(Kan). Hangat
yang terpampang sebagai bentuk ideal dibenturkan fakta empirik harian. Sunyi
memberi-merawat tanpa pamrih, dan tak jua lekas memadu kasih. Menjelang akhir
ia hampir putus asa berpikir. Tak ada yang sekaligus bersua dalam takdir.
Margot dan Richie memang punya cerita yang belum usai. Begitupun kepak sayap
petualangan Mordecai.
4.
(Selasa).
Cuaca yang bersahabat. Mendung yang tak jadi hujan. Kipas angin berputar
lambat. Sarung bantal lama dipakaikan; wangi, dan Setangkai Anggrek Bulan
dilantunkan.
5.
(Di ribaan
jalan). Kalkulasi jual beli. Keuntungan yang dipertuanagungkan. Imajii menipu
diri. Kehormatan yang diperjuangkan. Sebab pulang ialah kerinduan. Dan tetap di
jalanan niscaya kan kesepian. Malam dan waria yang menghangatkan. Muatan dan
gaji yang melecahkan. Roda berputar pelan, mengatur strategi hindari pungli.
Kawan lama itu menyapa, membelai kepala mesra. Bertukar kabar dan berita.
Saling harap jadi kaya dan tak perlu lagi biarkan istri dipeluk tetangga.
6.
Aku Cuma
butuh perhatian dan kepedulian dan cinta. Aku gak butuh semua uangmu, Cuma
beberapa biar gak mati kelaparan. Aku bisa mencukupi kebutuhan primerku, tanpa
perlu jadi hedon apalagi kambing jantannya kaum kapitalis.
7.
Femme fatale
dan satu cup pop mie rasa ayam sebelum adzan subuh berkumandang. Pagi yang
kepagian kusambut datangnya. Menyisakan hawa sejuk di permukaan tumbuhan. Femme
fatale dan merdu kehidupan bumi. Engkau yang jauh dan angkuh. ‘She builds you up to just put you down, what
a clown’. –dari Andy untuk Edie, ditulis oleh Lou
8.
(Lewat begitu
saja). Aku adalah bukan siapa-siapa di kota ini. Kota yang gersang kini
ditumbuhi alang-alang. Dihuni kawanan binatang. Aku bukanlah apa-apa di kota
ini. Penikmat terik siang yang tak tahu harus berbuat apa. Melihat sekitar
tanpa kepastian. Ingin sesuatu tapi tak tahu apa itu. Lupa waktu terjebak masa
lalu. Dibuai harapan merawat ingatan. Merasa hebat padahal tak bermanfaat. Aku
siapa di kota ini. Lamunan-lamunan siang hari meredam hawa panas negeri ini.
Taring-taring mengoyak daging. Bersilat lidah menoreh luka. Mimpi siang bolong
lebih menenangkan, kemenangan yang tertahan. Aku lah orangnya. Orang yang di
kota ini membenci segala yang ada. Mensyukuri apa yang diterima. Tak serius
dengan pilihan. Sering bercanda dengan sesama ciptaan. Mendapat pelajaran dari
ketidaksengajaan. Tertawa riang dalam kesunyian. Mengeluh resah dalam
kesibukan. Remuk redam saat penggembalaan. Rindu rumah yang ditelantarkan.
Mengisi ruang yang ditinggalkan. Dihimpit gelisah penantian. Ditebas ganas hati
tak bertuan. Akulah orang yang; jika marah suka memukul, jika sedih sering
tersungkur. Aku ialah mereka yang mengakuiku.
9.
(Mengucapkan
selamat tinggal). Pagi ini berkerudung hitam dan bedak tipis di muka. Engkau
menyiapkan segenap keberanian untuk kesekian kalinya, untuk sebuah momen
pertunukan yang mungkin juga terakhir kalinya. Sebenarnya tak ada yang istimewa
darimu selain kecerdasan dan kepercayaan diri. Selebihnya engkau manusia; yang
kentutnya bau. Pagi ini gembira dan haru menyelimutiku. Ialah pertunjukan
terakhirmu yang menjadi musababnya. Laiknya penari di atas altar penghakiman,
‘diri’-mu lebih terlihat nyata. Busana enak di matadan tutur mengalun rapi
selama presentasi hasil karya. Meski karyamu tak sempurna tapi aku salut dengan
kegigihan dan kesungguhanmu mengerjakannya hingga kau terlihat begitu menguasai
apa yang ada pada fenomena. Kekagumanku tak terhindarkan, kebahagiaan mulai
kurasakan, kesedihan mencekik perlahan. Bagimu mungkin tak seberapa, bagiku itu
bak pertanda. Bagiku ini telah usai meskipun aku tak pernah memulai. Kecuali,
pernah, dulu aku sampaikan sesuatu. Ah, tapi tak usah, dirimu cukup mengetahui saja,
bahwa ada pengagum yang tak lekang waktu. Dan kali ini tugasku telah selesai,
apa yang telah Tuhan kehendaki telah aku tunaikan. Puisi-puisi yang telah
kutuliskan biar kusimpan, bukan aku tak membutuhkan aku hanya tak mau dibuai
harapan. Puisi-puisiku biarlah menjelma jadi perilaku dan perkataan yang
memuliakanmu. Puisi-puisi itu tak pernah menyimpan kebohongan. Meski
sesungguhnya puisi-puisi tersebut fana dan engkau yang abadi. -5/12/16
10.
Orang baik
juga pendendam; ketika ia tak mau membalas perlakuan orang lain, lalu dalam
hati memohon kepada Tuhan agar memberi balasan yang pantas pada orang tersebut.
11.
(Ingin
berkata jujur). Sebelum malam digulir pagi, ada hal-hal yang masih tak pasti.
Riak-riak angin malam menawarkan pertemanan. Dan aku yang menanti tak kuasa
menyiasati. Diam yang berkelanjutan terlalu naif dibiarkan.
Bukan hanya rendahnya kemampuan mempercayai apa itu hidup namun juga
ketidakmampuan untuk menjalani hidup tersebut.