Aku tidak ingat sebenarnya.
Kenapa dan bagaimana bisa menjadi seperti ini. Memang bukan hal yang memalukan,
pantas disyukuri malahan. Namun hal ini sedikit memuakkan. Etika perlawanan
seolah terkubur. Kabur oleh jerami – jerami pemenuhan janji – janji bias
kehidupan; konsumsi.
Sebenarnya aku juga tidak
berminat untuk menjadi bagian dari kelompok lain. Menjadi, memasuki dan
menyelami dan mengidentikkan diri. Kepalsuan selalu kurasakan. Keinginan yang
tak pernah terpenuhi oleh mereka, serta grup – grup yang menaungi. Aku sendiri.
Sulit mengerti untuk dimengerti.
Kekuasaan dan kekayaan sebagai
lambang kebahagiaan bagiku juga tak terelakkan, akan tetapi aku bukan budak.
Sebaliknya keduanya ialah alat. Untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran juga
jalan untuk pemahaman akan kehidupan yang merupakan anugerah.
Apa yang lebih penting dari
uang? Cinta dan kasih sayang? Ataukah peluang. Sebab seringkali yang punya uang
ketika tak mempunyai peluang, bisa digambarkan sebagai korban kalah perang.
Jika kamu bertanya apa yang aku
rasa sampai – sampai aku terlalu kalut pada masa – masa kesendirian, maka
jawabnya kemalasan. Malas semacam
penyakit tanpa rasa sakit yang membunuh perlahan. Malas, dalam hal ini,
menurutku hanya bisa terkikis meski perlahan dengan salam. Salam; menyapa.
Menyapa yaitu keluar melihat sekitar, tidak berdiam diri, menahan diri, dan
apapun itu yang terlalu mengagungkan konsep diri sendiri.
Setiap yang memiliki akan
kehilangan, dan andai rasa takut kehilangan teramat kuat konsekuensi
terburuknya ialah kemudian kita tidak punya keinginan untuk memiliki. Kita
mampu, hanya saja tidak ingin. Hal itu tidak menambah apa – apa. Walaupun masih
berarti, itu tidak semenarik dan berwarna ketika kita masih sanggup dan mau
berkeinginan. Sekadar ingin, angan, belum tentu dapat diwujudkan, dan tak
pernah tertutup kemungkinan. Oleh sebab itu, kesempatan datang karena
keberanian kita berkeinginan.
Menjadi aku, itu berarti tidak
bisa mengatur selain aku dan tidak diatur kecuali olehku. Silakan berhenti
mengikutiku karena aku bahkan tidak memberikan undangan untuk itu. Hanya yang
perlu kalian catat, aku senang saat bersama kalian. Kalian yang menjadi bagian
dari aku.
Perlahan terlihat sinar – sinar
yang tungkunya telah kalian persiapkan cukup lama, dengan pengorbanan yang keji
dan kadang memalukan. Menguras emosi, menguji kesabaran, memperjelas pihak mana
yang lebih mementingkan diri sendiri sekaligus cenderung menjatuhkan yang
lainnya.
Jika ini masalah waktu, bukankah
banyak waktu yang terlewat begitu saja, tanpa apa – apa. Makna yang biasanya
kita dapat dari sebuah perjalanan, perguliran waktu, tidak mudah dicerna barang
lima menit setelahnya. Pengendapan perasaan, penuh pemikiran dan kegigihan
menata hati dan peningkatan intensitas dialog dengan diri menjadi aspek penting.
Sebelum apa yang disebut oleh banyak orang semacam pengertian muncul ke
permukaan. Mengerti untuk selanjutnya memahami bagaimana dan kenapa hal – hal
ini terjadi serta untuk apa terjadi.
Kelelahan sebelum memulai
sesuatu bisa jadi pertanda kekalahan dalam permainan. Meski begitu, mencari –
cari alasan atasnya menjadi begitu mudah. Sebab bukan soal angka, sebatas
pendapat subyektif yang kapan saja bisa dirasa. Sanggup datang untuk memperkuat
keegoisan diri.
Menyenangkan bila apa yang
dicita – citakan akhirnya terpenuhi. Pembuktian kualitas diri. Keberuntungan
melekat pada mereka yang tak putus asa di hamparan terjal bekarat.
Ini bukan pembodohan, apabila
kalian mau mengakui, dan seperti yang aku pikirkan semua ini sebatas imaji,
benang – benang penghubung antar lembaran kehidupan.
Apabila masih dirasa berat dan
tidak memungkinkan, anggap saja sebuah petualangan khayal, yang tidak pernah
ada. Tak pernah benar – benar terpikirkan manusia umumnya. Kamu, jika
memikirkan dan mengiyakan hal itu, aku akan cukup senang melihatnya. Cukup
sudah, karena aku memang tidak mahir mengatasi masalah sendiri.
Ketika yang tak terlihat bisa
dirasakan, yang tampak mulai terasa hampa. Kehilangan pesona amat fatal, karena
seberapapun usaha untuk memperindah yang ada tetap tidak mampu menutupi
kefanaan. Derai air mata tidak cukup menyayat perasaan. Seperti yang telah
banyak diketahui, bahkan tangisan dan penderitaan juga bagian dari sandiwara.
Andai saja aku bisa memilih, aku
akan menolak menyerupai mereka. Beruntunglah ini bukan pilihan, dan aku tidak
harus menjadi siapa – siapa. Tentunya itu menenangkan juga menyenangkan.
Mengingat apa – apa yang sudah aku lakukan tidak sama dan mustahil terulang
persis seperti semula.
Penyangkalan – penyangkalan yang
terangkum di dalam tulisan – tulisanku ibarat alibi – alibi penilainaku
terhadap hal – hal di luar diriku, yang akhir – akhir ini kaya ambiguitas,
gambaran samar, dan kedangkalan daya pikir.
Lebih dari itu, segala yang
masuk ke kepalaku, yang aku pikirkan dan ada di otakku bahkan lebih rumit untuk
diuraikan. Fantasi – fantasi dan fatamorgana manis menyatu padu dengan
kelicikan sadis ambisius penghambat kejujuran. Sekali menerima, untuk sebuah
cara, dampaknya bisa beratus kali lipat pada saat ingin memberi. Jumlah yang
begitu banyak itu bukan seketika tercipta dan terpikir begitu saja. Ada sebuah
proses penyesuaian diambang pengambilan keputusan yang didasarkan pada untung
rugi, ia lebih mempertimbangkan keyakinan akan kebercukupan diri. Sehingga
hasilnya berupa keluwesan tanpa beban berlebihan untuk terus berbagi dan
menyajikan pelayanan memadai terhadap yang lain, yang membutuhkan.
Gairah anti-sosial menyeruak dan
tumbuh subur, diimbangi dengan jernihnya gerak – gerak bersama di dalam
mengarungi kemisteriusan ruang-waktu. Dimana terdapat hal – hal yang bisa
begitu saja terjadi, ada hal yang bahkan terkesan dipaksakan, dan banyak dari
hal itu yang tertunda oleh berbagai sebab.
Kerinduan mendalam akan
peristiwa tertentu dengan mudah menjerat semangat, mengendurkan keoptimisan.
Problem ini harus mendapat perhatian khusus, sebab pada waktu – waktu tertentu
ketika dituntut untuk konstan berpacu, jika timbul akibatnya bisa dibayangkan.
Secara pribadi, masukan dariku
ialah; kembalilah pada waktu – waktu luang di dalam rentang hari, ciptakan dan jangan
ragu hindari pengaruh pencarian kedamaian di luar diri. Temukan rumah di dalam
tubuhmu.
Kehendak yang berposisi sebagai
pemrakarsa tindakan sedapat mungkin tumbuh dengan disirami
pengalaman-pengamalan. Agar kelak tidak kering, lebih buruk; merusak. Perlu
pengorbanan menahan kehendak yang rentan. Menyortir dan menyaring biji – biji
kemauan. Tunas – tunas harapan sekali lagi tidak boleh tanpa pengawasan.
Bimbingan diperuntukkan agar mereka bebas menentukan pilihan. Tujuan darinya
ialah meminimalisir pengekangan, dan membiarkan mereka tumbuh besar dengan
keberanian.
Tidak sungkan menjunjung tinggi
martabat. Kepintaran yang dimiliki rata – rata umumnya tidak cukup membendung
gelombang besar semangat toleran. Mendahulukan antrian, menomorsekiankan kecurangan.
Keberpihakan itu perlu, bantuan sudah semestinya, dan yang perlu digaris bawahi
ialah tetap melaksanakan tugas sesuai kemampuan dan aturan yang berlaku. Hingga
di lain waktu bisa kusanggah dengan pernyataan bahwa pertimbangan sekali lagi
tidak saja dari apa yang tampak, butuh empati serta ketelitian supaya ini tidak
atau jangan pernah berakhir di tempat busuk pinggiran peradaban.
Ini agak serius, seterusnya bila
kita terlalu cepat kalap dengan gangguan keseharian maka mulailah mencoba
menggali lagi, bukan terus mencari – cari yang ada di hadapan. Menggali hal –
hal apa sajakah yang telah kita lakukan, dari kita dan tentu pada kita. Banyak
kaitan kenapa suatu hal menimpa, boleh dikatakan terdapat sulur – sulur yang
merajut satu kejadian dengan kejadian lainnya. Sehingga terbentuklah kepekaan;
apa yang terjadi di masa kemudian sudah barang tentu ada kaitannya dengan
kejadian lalu, jika dan hanya jika pribadi tanpa enggan-sungkan menggali,
mengingat kembali.
Luapan
kesukaan akan suatu hal merupakan pemandangan lumrah. Rasa senang menjangkiti
mulai dari kepala sampai ke kaki, dari hilang fokus di kepala hingga mual di
bagian perut. Semua tanpa rencana apalagi pengendalian. Jadilah itu menjadi.
Momen genting untuk melatih respon akan suatu hal yang di luar kendali. Respon
kepada tindakan apa saja, baik yang nyata bertujuan mengusik seseorang pun
sekadar bahan bercandaan. Kemampuan menangkap makna dari ungkapan tersirat
seringkali tidak dipunyai oleh kebanyakan. Maka yang menjadi kendala sebenarnya
bukan mereka yang tidak memiliki (apapun itu) akan tetapi ialah bagaimana pihak
yang memiliki (secara sadar dan dapat dipertanggungjawabkan) menjangkau serta
mengayomi. Karena beranggapan benar dan bersikap seolah paling bisa diterima,
rawan akan aksi – aksi pembalasan.
Hilangnya
kepercayaan kepada suatu pihak disebabkan sikap (bagian dari) arogansi,
cerminan kekacauan sistem pengendalian nafsu dan kehendak diri dapat berakibat
mengerikan. Tapi cukuplah, biarkan itu sebagai masa lalu. Bukan untuk
dilupakan, hanya saja mengingat peristiwa buruk jika tidak hati – hati malahan
menjadi sebab terjerumusnya akal sehat ke dalam kubangan lumpur kebencian,
kolot dan menyebalkan.
Dengan
jujur, keirianku pada hal – hal di luar kuasa, di luar diri, di luar kemampuan,
sungguh membuatku malu. Namun yang lebih mengenaskan adalah apa – apa yang
orang lain lakukan dengan baik dengan segala sumber daya yang mereka miliki dan
dalam sebagian besar bidang serta bagian tersebut nyatanya mempunyai level yang
sama dengan hal – hal yang melekat dengan diriku. Pada posisi inilah aku hanya
mematung meratapi keberhasilan yang lain, tanpa sempat menempatkan semangat
menjadi pondasi kuat, tanpa mampu menyadari kemampuan diri, tanpa mau
mengendapkan lagi angan yang menyublim jadi khayalan, tanpa keberanian melawan
kemalasan, tanpa keinginan mewujudkan, tanpa kesungguhan mengejawantahkan
impian – impian yang menggantung di dinding kamar. Pada kondisi inilah
seharusnya aku berhenti menulis untuk menyampaikan alasan – alasan.
Berhenti,
mengambil jeda atau kalau perlu meminta pendapat, kritikan serta saran dari
pihak lain. Namun keputusan seperti itu kuanggap sebagai pembicaraan biasa yang
tidak akan secara frontal mengubah cara menulisku. Gaya penuturan yang
menurutku rumit, dengan tanpa isi yang jelas, tujuan penulisan tidak secara
pasti diketahui. Tanpa teori dan minimnya wawasan. Jelas bahwa menulis sekarang
banyak dituntut dalam pandanganku untuk tak luput dari kemampuan menganalisa
gejala global, hafal diluar kepala zaman – zaman kejayaan karya klasik,
sekaligus kudu obyektif dan tidak terlalu sentimental. Biar tidak dianggap
cengeng, menyesatkan dan mungkin berakhir jadi sampah.
Tetapi jika
langkah – langkah yang tertera di atas membuatmu berhenti menulis dalam kasus
ini dan aku kira banyak juga tindakan yang seolah tak bisa diwujudkan karenanya,
di luar pembahasan penulisan. Maka lupakan saja. Anggap itu aturan agar
tulisanmu layak diterbitkan, layak dibaca oleh kebanyakan. Sebab aku
menyarankan tulisanmu yang menggambarkan siapa dirimu, bukan dosa tatkala tidak
akan sepenuhnya dipahami sebagai tulisan yang bagus. Tulisan menempatkan posisi
dalam proses kompromi dengan diri sendiri.
Pandangan
sinis terlihat di atas dengan mengatasnamakan kepercayaan diri mencoba
meyakinkan yang lain bahwa suatu hal bisa dilakukan walaupun masih
mempertimbangkan pandangan umum namun di dalamnya ditekankan sejenis keegoisan.
Bahkan ditinjau dari dampak latennya, pendapat seperti itu berpeluang besar
menjadi pedoman untuk melakukan hal yang tidak didasari kerendahan hati.
Fungsi juga
makna dari segala yang tercipta tak lantas serta merta tertangkap indera. Tak
tergapainya ranah ide bagi kebanyakan tak menyurutkan minat mereka pada
kesenangan, selera tertera pada jenis yang dipilih. Pengkultusan suatu bentuk
keindahan berlaku untuk beberapa diantaranya. Terkadang hal – hal kecil inilah
yang luput dari perhatian, mengeneralisasikan yang belum diketahui-dikenali sudah
lumrah. Tanpa usaha konkrit menciptakan proses berpikir dan merasa gejala,
tanda – tanda, supaya firasat turut andil dalam pengambilan keputusan.
Kedigdayaan
para pemilik modal meluluh lantakkan tatanan sosial, fakta ini terlalu serius
ditanggapi oleh para pakar. Kenyataan ini juga yang memenuhi pembicaraan pemuda
– pemuda dewasa baru, mudah ditemui bersama asap – asap tembakau yang ikut
menyesaki kedai – kedai kopi.
Kelihaian
menyikapi masalah yang mendera seolah menyelamatkan keceriaan dari terkaman
kacau balau ketidakpastiaan. Tertuang ketika bertukar tawa untuk sejenak lepas
dari jerat peraturan ketat. Untuk menyempatkan rehat barang sekejap. Biar bisa
bersandar berharap lelah menghindar. Membiarkan diri tenggelam dalam untaian –
untaian ringan sebuah obrolan, celoteh riang saat berkumpul, candaan khas,
cerita kehidupan, kisah – kisah lalu, kasih tak sampai, dan tentu perjalanan
yang belum usai.