Sabtu, 26 Oktober 2019

Bersambung.

Sudah tidur sana
Sebentar
Matamu sudah terlalu berat kulihat
Tak apa, isi kepala ini saja yang tak mau minggat
Kuberi tahu kau sesuatu
Cukup, biar aku saja yang bercerita

Ketahuilah pada malam-malam tanpa bintang, dan angin yang berhembus tak terlalu kencang. Kau tahu? Kaki-kaki lemah yang masih menyusuri tepian peradaban. Dihadapkan keanggunan balas dendam, keindahan penipuan, dan pencapaian tak terhingga dari penindasan manusia kepada sesama.
Kau benar, benar-benar butuh tidur.
Memang, aku ingin tidur, sesegera mungkin, tak hanya satu malam, kalau perlu dua hari tiga malam. Tapi kelamaan tidur hanya membuatku semakin sakit kepala. Begini, sudah terlalu lama keegoisan menjadi tonggak utama mencapai keberhasilan, didukung gengsi dan hujaman sanjungan. Menikmati tidak beraturannya tingkah manusia di muka bumi. Mencipta narasi; kebrutalan dan welas asih, kedamaian sekaligus saling hunus senjata.
Ini - itu, dan ya, manusia-manusia.
Manusia dan akalnya.
Manusia dan keabsahannya.
Manusia juga makhluk-makhluk.
Manusia bernafas.
Menghembus debu.
Mengusik tidurmu.
Manusia.
Makhluk.
Dan tumbuhan, dan hewan, dan para penjilat.
Dan siang yang terik dan angin kering.
Dan hujan yang dinanti.
Dan air yang tenang.
Menghanyutkan.
Mengharukan.
Tidurlah, sudah jam 1 pagi.
Sebentar lagi. Bosan sekali rasanya. Kau hirup oksigen kau keluarkan jadi karbon dioksida. Kau tatap lembut album foto itu, kau temukan titik hitam, jamur dan ketidakjelasan warna. Waktuku tak lama, waktu yang dikonversi menjadi uang apalagi.
Mungkin, langit yang bergulung di ufuk barat tak pernah memperhatikan matahari siang tadi.
Malahan derai angin sore ini terlalu kencang untuk bulan ini.
Seperti apel yang sudah kau gigit lalu kau tinggalkan begitu saja dalam kulkas.
Tak ubahnya gigimu yang tak pernah kau sikat sebelum tidur.
Kau lihat tadi, koin lima ratus di trotoar dekat toko roti?, menguning dan terabaikan.
Tertutup koran bekas yang dipakai oleh seorang lelaki berkaki pincang tadi?
Kau lihat seekor kucing mengendusnya?
Dikira potongan bakwan goreng?
Atau mungkin dikira tainya yang belum ia kuburkan?
Menjadi sia-sia.
Atau terabaikan.
Kita.
Tidak, kau saja, aku masih bisa melakukan seuatu.
Jadi kau pikir aku?
Ya, kau tahu kan. Aku bosan dengan keluhan.
Aku juga bosan hanya berkutat pada omongan.
Beri aku satu kata.
Bosan. Giliranmu.
Berjuang.
Aku tak bisa menahan tawa, tapi kenapa?, apalagi?, apa yang bisa kita lakukan?
Berjuang.
Berjuang? Aku bosan dengan perdebatan.
Bukan debat. Kau mau aku menjelaskan? Pertanyaan pertamaku kemudian, maukah kau mendengarkan?
Baiklah.
Kau hirup udara ini, dari dua lubang hidung yang baik-baik saja, lalu kau bilang bosan seenaknya?
Tak ada korelasi.
Memang.
Lalu kenapa aku harus mendengarkanmu?
Tidak harus.
Apa maksudmu?, yang kau bilang tadi?
Pertanyaanku, maukah kau mendengarkan. Kalau tidak, ya tak usahlah. Ini soal kemauan.
Untuk apa mendengarkanmu yang tanpa logika dan hanya menyusun kata-kata?
Baiklah.
Baik.
Kau tahu?, bumi itu bulat!
Kau tahu?, nilai ujianku kemaren delapan puluh lima.
Kau hanya beruntung!
Kau lihat ikan di akuarium itu?, yang warna kuning?
Ya.
Coba kau ingat, di mana kita membelinya?
Pasar?, umm, bukan deng. Coba kuingat, di pasar malam?
Nah, kenapa kita membeli ikan yang dijual di malam hari?
Konyol.
Kau tak perlu jawaban, ada alasan untuk setiap keputusan.
Jangan berdalih.
Ada kemampuan membuat pilihan.
Ada kemampuan mencerna informasi.
Lalu kita terbelenggu dalam pikiran sendiri?
Tersesat di labirin otak kita?
Kurang lebih.
Tak ada jawaban.
Tak semua butuh.
Tak juga kau.
Tapi aku.
Dan aku.
Pram bilang, orang tak berduyun-duyun lahir lalu berduyun-duyun pula mati.
Dan bahkan kau sendiri menolak kelahiranmu di muka bumi bukan? Kenapa kau membenci diri sendiri?
Karena sebagian besar bisa ditebak, dan narasi utamanya adalah jalan kita sudah ditentukan. Apa-apa yang jadi pilihan adalah bukan barang baru, telah digariskan.
Sejak kapan kau percaya hal seperti itu? Kukira ada alasan yang lebih menarik untuk menjadi yang tanpa tujuan selain membawa-bawa konsep yang bisa kau sebut takdir dan semesta kebenaran.
Karena tak semua adalah sama, pada bagian tertentu ada kemunafikan, pada titik tertentu adalah kepolosan, di sisi lain adalah keingintahuan, dan seperti yang orang-orang kisahkan; kejujuran.
Kau terlalu banyak mencari hingga lupa pada yang telah kau temukan.
Aku belum menemukan yang kucari.
Kau sudah menemukan sesuatu.
Itu bukan yang kucari.
Kau tahu apa sesuatu itu?
Ketidaktahuanku tentang batas pengetahuanku. Pengetahuanku atas ketidaktahuanku.
Beri sebuah pohon pupuk dan air yang cukup, biarkan akar-akarnya menancap lebih dalam, menjangkau lebih jauh.
Beri otakmu pengetahuan, biarkan otakmu bekerja, menganalisa dan meneguhkan pendirian.
Sudah berapa kali kau coba temukan arti hidup ini?
Tak sampai seribu kali, tapi itu cukup, untukku mengambil keputusan tidak melakukan bunuh diri. Setidaknya untuk sekarang.
Kau sudah beberapa kali menyinggung tentang ini, kupikir itu hanya bentuk frustasimu. Beberapa hal bisa diselesaikan baik-baik.
Yang lainnya adalah kekacauan. Dan di luar kendali kita. Tapi aku juga tak terlalu berniat melakukan tindakan tersebut.
Memang tak perlu, aku lebih suka melihatmu menatapku, mendengar keluh kesahmu, mendengar cerita yang tak seorangpun pernah menyampaikannya kepadaku kecuali dirimu.
Kau ingin dikubur seperti apa?
Aku mungkin akan menjadi pupuk sebuah pohon sakura. Atau jadi satu denganmu.
Kau mungkin pernah dengar bahwa tak semua dari kita bisa dikubur, beberapa berakhir jadi abu, beberapa lain tenggelam di lautan, yang lain, diawetkan oleh keluarganya.
Aku tak suka jadi mumi, aku tak suka dipajang.
Kau pun tak suka jadi pusat perhatian tapi selalu ada saat aku membutuhkan.
Ya, hampir-hampir aku ini seperti kematian, mengintaimu dan menunggu waktumu.
Dan kehidupan hanyalah sumber ketidakbecusan.
Hanya saja, sebenarnya dirimu seorang pemalas. Menunda pekerjaan, senang melakukan hal-hal yang bukan kewajiban.
Kau benar.
Dan, hari-hari adalah tumpukan masalah yang tak terselesaikan. Didorongnya kesabaran sampai tepinya. Dijegalnya kegigihan dari tekad kerja.
Rupa-rupanya, kemalasan membawaku pada satu fase hidup yang tak terlalu menyedihkan.
Kesedihan dirasakan setiap warga, kesadaran akan pentingnya rasa sedih masih sulit diterima. Sedih dan tangis tak harus selalu bersama. Meski dalam praktik tidak demikian.

Kamis, 26 September 2019

Soar

Kebingungan memimpin urusan dunia. Bingung dan terlalu susah mencari solusi. Menemukan usulan, dijejali sanggahan. Berdiri satu-satu di muka pintu keabadian. Melampaui kemampuan berpikir?

Langit malam terlalu buruk dipandang, digusur asap pekat kendaraan. Polusi, keterbatasan udara segar. Ribuan nyamuk dan semut menggilas kesunyian.

Hapus beberapa kata dalam kalimat di atas, terserah bakal dibaca apa, berubah makna dan tak menemukan esensi. Biar siang menjadi terang dalam peluk kemacetan.

Kebodohan, keindahan, kegagalan, ketidakberaturan, dan ke-ke-ke yang lainnya.
Punyai akal sehat dan lindungi kepala dari kebebalan. Isi hari dengan kebahagiaan. Absurditas. Harapan yang usang. Putus asa. Harga diri. Pasrah. Keinginan. Kebingungan.

Kamis, 19 September 2019

Terima kasih.


Terima kasih masa lalu dan masa sekarang. Tak ubahnya hembusan angin di sela kemarau, kenangan memperlihatkan keelokannya. Sedikit terasa namun membekas. Terima kasih dan sampai jumpa kau ucap. Tak kau hirau teriknya.

Menyusuri seberang jalan, di atas trotoar menelusuri paving blok yang rusak. Rumput-rumput menyembul. Tak mau kalah. Adalah kegigihan, juga kepedihan. Harapan, katamu, tak ubahnya roti canai dalam kuah kari. Enak, tapi terlalu banyak kalori.

Jumat, 12 Juli 2019

Denai.

Sekali lagi, tersakiti, karena dan selalu sama sebabnya, mengabaikan kehadiran kebaikan-kebaikan. Ketika, sadar akan keteledoran, waktu berjalan dengan anggun menuju ketidakpastian yang kesekian kalinya.

Di tepi kerinduan yang meranggas, ditempeli debu-debu, berjalan menengadah, mengaharap sekali lagi guyuran air suci tangis riang.
Melibatkan kenangan, orang-orang berwajah sendu tertunduk menelusuri aspal-aspal tua. Masih dalam siang yang kering, menahan perih, suka duka menguap tanpa bekas.

Pada diam yang tak disadari, keputusasaan menjalar, menyuburkan sulur-sulur beracun yang mengakibatkan mata sembab dan dada sesak.
Terus berjalan diiringi bayang kegagalan, cerita masa lalu adalah teman setia yang tak perlu disangsikan. Kehidupan mendatang adalah setapak demi setapak harap yang dihentak lugas di atas tanah berdebu. Yang dalam kisaran setengah jam akan terhapus jejaknya oleh angin kering musim kemarau.

Kamis, 27 Juni 2019

Sayonara

(Perjalanan panjang kehidupan)

Kau takkan pulang tanpa kebaruan, menuju titik tertentu untuk melanjutkan cerita. Sebuah kisah yang telah lama kau rancang harapan-harapannya, berbelok, meliuk, memutar balik, sejenak berhenti dan kemudian berlari sekencangnya. Kau tak tahu sedang mengisi atau diisi. Kita tak benar-benar sadar, sedang memberi arti atau mencari sebuah arti.

Perpisahan, katamu, adalah sebuah koma dari perjalanan panjang kehidupan. Suatu momentum untuk kembali dari awal, memulai lembaran baru. Mengenang masa lalu, mengendapkan pilu.

Kau menawarkan tantangan dan berani mencoba. Menertawakan getir kenyataan, mendeskripsikan dengan lantang apa itu rindu dan kebahagiaan. Bersujud dalam, memohon ketenangan dan keselamatan.

Jarak, telah kau tekuk tak berkutik. Dan telah kau buktikan, keteguhan menjalani impian. Kini kau akan terbang, menelusuri rute-rute baru kemudian, temukan kesenangan dan persamaan. Tersenyum lagi, menertawakan keabsurdan perjalanan hidup. Menulis lagi hal-hal kecil yang membuatmu bahagia. Menemukan malam yang jatuh di Surabaya.

Nun jauh di sana masihkah kau akan ingat, obrolan-obrolan ringan di sela-sela kejenuhan bekerja?
Di kota yang belum pernah kau singgahi sebelumnya akankah kau syukuri langitnya?

Selasa, 04 Juni 2019

Pertemuan


Untuk kesekian kali kembali. Pada terang bulan dan lembab malam. Untuk kerinduan yang mengawang, diselingi tangis dan hujan sore hari. Ini itu melebur dalam peluk sepersekian detik antar tubuh. Sekian kali dan lagi-lagi.

Mana mungkin hidup itu-itu saja sedang udara kadang segar terkadang memabukkan.

Ramai lancar pada malam sebelum raya.
Satu sibuk menghitung dosa.
Satu sibuk merekap pahala.
Satu sibuk mengurai rasa.

Rabu, 22 Mei 2019

445


Selamat siang. Bagaimana kabarmu. Terik siang tak membuatmu kalah bukan.
Aku masih ingat siang itu kita berlarian di sepanjang jalan pulang, sekolah masih menyenangkan, hidup masih banyak tidur dan main saja.

Kenapa akhir-akhir ini bumi jadi begitu panas dan malam tak lagi menampakkan bintang-bintang. Kenapa pula ayam berkokok terlalu pagi, sedangkan si kucing lebih suka beraktivitas dari pada tidur siang. Siang yang panas dan ingatan di kepala yang tak tuntas. Mirip judul sebuah lagu katamu. Tidak, tidak ada yang kebetulan. Inilah rahasia keindahan, comot sana, comot sini, lalu tambahkan sebanyak-banyaknya ide-ide dan gagasan juga kalimat-kalimat dan biarkan intepretasi di kepala orang-orang. Kau hanya perlu bernafas dan menghidupi kerumitan di kepalamu.

Lalu lalang semut dan kecoa di kamar tak kau hiraukan. Suara burung gereja di jendela juga kau abaikan. Terlalu lelah ataukah terlalu indah?

Mati dan hal-hal buruk yang kau bicarakan menghinggapi kepalaku beberapa minggu, sebenarnya bagaimana hal buruk bisa terjadi pada orang-orang yang hidup biasa saja tanpa banyak bertanya. Rumput-rumput yang dicabuti dan pepohonan yang dipangkas sebegitu seringnya, apakah mereka melakukan balas dendam hingga menyengsarakan manusia. Sapi-sapi gemuk yang selalu dikorbankan dan kambing-kambing bau berdaging alot itukah yang berdoa agar manusia segera mendapat balasan dari Pencipta. Tapi siapa pula Pencipta?

Kau tanyakan itu pada para anak TK, mereka jawab si Agung. Kau tanya pada penjual nasi goreng dijawabnya Ibuku. Perlahan kau lumat buku-buku, siang malam, berminggu-minggu dan kau masih tak tahu, jangan pula kau tanyakan padaku.

Sejenak lepaskan baju lusuhmu dan mandilah. Mandi dengan air dingin dari sumur dan reguklah segelas air putih dari kulkas.

Dinginkan.

Diinginkan.

Dinginkan.

Diinginkan.

Dinginkan, apakah diinginkan.


Kamis, 17 Januari 2019

c o r nian

Libur merupakan jeda sebelum kembali berpeluh keringat. Agar tak jenuh digilas rutinitas. Supaya tubuh punya waktu beristirahat dari hal-hal berat. Biar otak menguraikan penat.
Pagi-pagi sekali sudah kubuka mata. Lembut buliran embun di dedaunan. Kokok ayam bersahutan. Sayup-sayup tukang sayur keliling memanggil pelanggan. Matahari masih malu-malu di kejauhan, menyisakan kilauan kuning di tembok luar kamar. Si kucing mengeong kelaparan, semalam suntuk tak pulang mencari betina untuk diajak kencan.
Ahad pagi seperti seharusnya.
Hari dimulai lambat seolah tak peduli orang-orang kini terbiasa serba cepat. Disibakkan selimut, dipinggirkan bantal guling, berjalan pelan menuju kamar mandi buat gosok gigi. Mencoba mengingat apakah masih ada PR yang belum dikerjakan. Gemericik air akuarium menyadarkannya dari lamunan, diraihnya gayung berisi air untuk berkumur sambil berkaca mencari-cari belek yang tersisa.
Ahad pagi cerah diiringi semilir angin.
Kubuka tirai dan jendela, kuhidupkan radio disaluran biasa, seorang perempuan diseberang bersuara renyah menyambutku. Tersenyum malu-malu. Kurebahkan tubuhku di atas kasur, kubisikkan kalimat pendek pada bantal, "kau layak kugumuli sampai siang".
Ahad pagi pukul sembilan.
Selimut masih menempel di badan, radio menyuarakan tembang kenangan. Orang-orang sibuk liburan sedangkan aku di kamar asik bermalas-malasan. Dan kucingku, dia, lebih pandai mencari teman kencan dari pada empunya. 

capri

Hobinya menunggui air yang dipanaskan di atas kompor, melihat air mendidih, perlahan menyusut menjadi uap-uap panas. Mie instant di plastik kresek yang baru dibeli dari warung dibiarkan saja. Kepulan asap dan air yang mendidih lebih menarik perhatian. Diliriknya mangkuk di atas rak lalu tumpukan sendok di sebelah kanan barisan piring. Uap air menggulung ke udara, menyengat kulit pipi, membuatnya merah. Kepalanya terlalu menunduk ke arah panci, tapi ia tak merasa kepanasan.
Tangan kanannya meremas uang kembalian di kantong celana. Dipikirnya mie instant rasa ayam bawang itu akan dimasukkan ke dalam panci paling tidak satu menit lagi. Sembari menunggu detik berlalu, ia perhatikan api yang menyala, kemudian ia kecilkan. Ia melihat air tak lagi kacau, permukaannya lebih tenang namun masih menghasilkan uap panas.
Pada detik ke tiga puluh lima ia mulai membuka bungkus mie, dipatahkannya lembaran mie jadi dua, dimasukkan salah satu bagian ke dalam plastik bungkus mie dan satu bagian ke dalam panci. Ia ambil mangkuk lalu disobek bungkus bumbu dan dituangkan ke dalamnya.
Menit berikutnya mie sudah masak. Muka merahnya dihiasi senyum kepuasan. 

Kamis, 10 Januari 2019

Lumrah

Semurah udara segar pagi hari, dimunculkannya lagi angan.
Melihat buana tinggi di atas awan, gemerlap, cerah, mengisahkan. Pagi belum tentu beranjak diiringi harmoni. Keselarasan tak utuh menyiratkan. Kebahagiaan tak ditemui di lumbung-lumbung air. Mengalir pelan, sedikit lalu menghambur dalam kelam. Intro dan intermezo. Lagu dan puisi kehidupan. Air dan tanaman, bersinggungan, menghidupi masa depan.

Pada masa tak tentu, mengarahkan konsentrasi pada kepentingan bersama dengan pertimbangan keindahan.

Hari-hari dilimbungkan ketidakpastian. Dibungkam kebohongan. Dirongrong hipokrit akut. Tanah dan pepohonan kering kuning.

Angin panas menghembus rumah-rumah, bayi-bayi kegerahan, kucing-kucing kehausan, ayam-ayam berteduh di bawah kolong ingatan.

Tangan-tangan tak kelihatan katamu. Kemisteriusan duniawi kau bubuhi kisah suci.
Dijungkir balikkannya logika dan rasa. Hingga ketidakteraturan adalah hal biasa. Dipuja bak dewa dipuji seperti nabi.

Di pinggir jalan kau temui lelaki dengan sepeda tua mengayuh penuh khikmat. Melaju tanpa lelah. Melimpahkan senyum dibalik terik siang. Di petak-petak kebun, ibu-ibu menyunggingkan tawa, di sela-sela ceramah rumah tangga, dan tentang suami yang tak muda lagi.

Putus-putus sambungan telepon. Pesan tak sampai. Badai mengulum pulau-pulau kesepian. Rindu dan keinginan pulang. Kabar yang ditukar dengan makanan. Jam tangan diletakkan dalam kantong plastik ketika hujan.

Bisik-bisik tetangga, obrolan sinis teman sebaya, praduga diungkap para tetua, bapak-bapak penuh curiga.

Lama itu relatif dan hidup sekadar singgah.

Para pencerita menjadikan kutukan sebagai dagangan laris dalam toko-tokonya. Dijualnya berbagai barang remeh-temeh lain yang tak jauh beda.

Manusia-manusia sedang berjalan.
Sendiri-sendiri menuju pemakaman.

Ego tak kentara dalam rayu manis kata-kata. Membuncah-ruah dari kepala-kepala berisi teori-teori terkini.
Tinggi hati yang lugu. Menggugat canda dan getir asa.
Kepandaian tak terpiri bertautan dengan kekejian. Nilai-nilai dirundung hama, pohon ilmu tertutup gulma.

Siapa engkau, mendaku raja dengan segala keunggulan, memberikan ancaman-menumbuhkan kebencian. Siapa engkau, lelaki tak berkumis, melanggengkan tumpah darah demi nama harum kemanusiaan. Siapa saja, menganggap salah yang berbeda, percaya diri bahwa yang lain tak pantas berada di muka bumi, selalu melontarkan kemarahan-tuduhan.

Bagaimana bisa aku dengan mudah membicarakan kekurangan orang lain di belakangnya dan sekaligus tersenyum manis menyanjung keberhasilan dan tindakan-tindakan biasa di depannya.