Sudah tidur sana
Sebentar
Matamu sudah terlalu berat kulihat
Tak apa, isi kepala ini saja yang tak mau minggat
Kuberi tahu kau sesuatu
Cukup, biar aku saja yang bercerita
Ketahuilah pada malam-malam tanpa bintang, dan angin yang berhembus tak terlalu kencang. Kau tahu? Kaki-kaki lemah yang masih menyusuri tepian peradaban. Dihadapkan keanggunan balas dendam, keindahan penipuan, dan pencapaian tak terhingga dari penindasan manusia kepada sesama.
Kau benar, benar-benar butuh tidur.
Memang, aku ingin tidur, sesegera mungkin, tak hanya satu malam, kalau perlu dua hari tiga malam. Tapi kelamaan tidur hanya membuatku semakin sakit kepala. Begini, sudah terlalu lama keegoisan menjadi tonggak utama mencapai keberhasilan, didukung gengsi dan hujaman sanjungan. Menikmati tidak beraturannya tingkah manusia di muka bumi. Mencipta narasi; kebrutalan dan welas asih, kedamaian sekaligus saling hunus senjata.
Ini - itu, dan ya, manusia-manusia.
Manusia dan akalnya.
Manusia dan keabsahannya.
Manusia juga makhluk-makhluk.
Manusia bernafas.
Menghembus debu.
Mengusik tidurmu.
Manusia.
Makhluk.
Dan tumbuhan, dan hewan, dan para penjilat.
Dan siang yang terik dan angin kering.
Dan hujan yang dinanti.
Dan air yang tenang.
Menghanyutkan.
Mengharukan.
Tidurlah, sudah jam 1 pagi.
Sebentar lagi. Bosan sekali rasanya. Kau hirup oksigen kau keluarkan jadi karbon dioksida. Kau tatap lembut album foto itu, kau temukan titik hitam, jamur dan ketidakjelasan warna. Waktuku tak lama, waktu yang dikonversi menjadi uang apalagi.
Mungkin, langit yang bergulung di ufuk barat tak pernah memperhatikan matahari siang tadi.
Malahan derai angin sore ini terlalu kencang untuk bulan ini.
Seperti apel yang sudah kau gigit lalu kau tinggalkan begitu saja dalam kulkas.
Tak ubahnya gigimu yang tak pernah kau sikat sebelum tidur.
Kau lihat tadi, koin lima ratus di trotoar dekat toko roti?, menguning dan terabaikan.
Tertutup koran bekas yang dipakai oleh seorang lelaki berkaki pincang tadi?
Kau lihat seekor kucing mengendusnya?
Dikira potongan bakwan goreng?
Atau mungkin dikira tainya yang belum ia kuburkan?
Menjadi sia-sia.
Atau terabaikan.
Kita.
Tidak, kau saja, aku masih bisa melakukan seuatu.
Jadi kau pikir aku?
Ya, kau tahu kan. Aku bosan dengan keluhan.
Aku juga bosan hanya berkutat pada omongan.
Beri aku satu kata.
Bosan. Giliranmu.
Berjuang.
Aku tak bisa menahan tawa, tapi kenapa?, apalagi?, apa yang bisa kita lakukan?
Berjuang.
Berjuang? Aku bosan dengan perdebatan.
Bukan debat. Kau mau aku menjelaskan? Pertanyaan pertamaku kemudian, maukah kau mendengarkan?
Baiklah.
Kau hirup udara ini, dari dua lubang hidung yang baik-baik saja, lalu kau bilang bosan seenaknya?
Tak ada korelasi.
Memang.
Lalu kenapa aku harus mendengarkanmu?
Tidak harus.
Apa maksudmu?, yang kau bilang tadi?
Pertanyaanku, maukah kau mendengarkan. Kalau tidak, ya tak usahlah. Ini soal kemauan.
Untuk apa mendengarkanmu yang tanpa logika dan hanya menyusun kata-kata?
Baiklah.
Baik.
Kau tahu?, bumi itu bulat!
Kau tahu?, nilai ujianku kemaren delapan puluh lima.
Kau hanya beruntung!
Kau lihat ikan di akuarium itu?, yang warna kuning?
Ya.
Coba kau ingat, di mana kita membelinya?
Pasar?, umm, bukan deng. Coba kuingat, di pasar malam?
Nah, kenapa kita membeli ikan yang dijual di malam hari?
Konyol.
Kau tak perlu jawaban, ada alasan untuk setiap keputusan.
Jangan berdalih.
Ada kemampuan membuat pilihan.
Ada kemampuan mencerna informasi.
Lalu kita terbelenggu dalam pikiran sendiri?
Tersesat di labirin otak kita?
Kurang lebih.
Tak ada jawaban.
Tak semua butuh.
Tak juga kau.
Tapi aku.
Dan aku.
Pram bilang, orang tak berduyun-duyun lahir lalu berduyun-duyun pula mati.
Dan bahkan kau sendiri menolak kelahiranmu di muka bumi bukan? Kenapa kau membenci diri sendiri?
Karena sebagian besar bisa ditebak, dan narasi utamanya adalah jalan kita sudah ditentukan. Apa-apa yang jadi pilihan adalah bukan barang baru, telah digariskan.
Sejak kapan kau percaya hal seperti itu? Kukira ada alasan yang lebih menarik untuk menjadi yang tanpa tujuan selain membawa-bawa konsep yang bisa kau sebut takdir dan semesta kebenaran.
Karena tak semua adalah sama, pada bagian tertentu ada kemunafikan, pada titik tertentu adalah kepolosan, di sisi lain adalah keingintahuan, dan seperti yang orang-orang kisahkan; kejujuran.
Kau terlalu banyak mencari hingga lupa pada yang telah kau temukan.
Aku belum menemukan yang kucari.
Kau sudah menemukan sesuatu.
Itu bukan yang kucari.
Kau tahu apa sesuatu itu?
Ketidaktahuanku tentang batas pengetahuanku. Pengetahuanku atas ketidaktahuanku.
Beri sebuah pohon pupuk dan air yang cukup, biarkan akar-akarnya menancap lebih dalam, menjangkau lebih jauh.
Beri otakmu pengetahuan, biarkan otakmu bekerja, menganalisa dan meneguhkan pendirian.
Sudah berapa kali kau coba temukan arti hidup ini?
Tak sampai seribu kali, tapi itu cukup, untukku mengambil keputusan tidak melakukan bunuh diri. Setidaknya untuk sekarang.
Kau sudah beberapa kali menyinggung tentang ini, kupikir itu hanya bentuk frustasimu. Beberapa hal bisa diselesaikan baik-baik.
Yang lainnya adalah kekacauan. Dan di luar kendali kita. Tapi aku juga tak terlalu berniat melakukan tindakan tersebut.
Memang tak perlu, aku lebih suka melihatmu menatapku, mendengar keluh kesahmu, mendengar cerita yang tak seorangpun pernah menyampaikannya kepadaku kecuali dirimu.
Kau ingin dikubur seperti apa?
Aku mungkin akan menjadi pupuk sebuah pohon sakura. Atau jadi satu denganmu.
Kau mungkin pernah dengar bahwa tak semua dari kita bisa dikubur, beberapa berakhir jadi abu, beberapa lain tenggelam di lautan, yang lain, diawetkan oleh keluarganya.
Aku tak suka jadi mumi, aku tak suka dipajang.
Kau pun tak suka jadi pusat perhatian tapi selalu ada saat aku membutuhkan.
Ya, hampir-hampir aku ini seperti kematian, mengintaimu dan menunggu waktumu.
Dan kehidupan hanyalah sumber ketidakbecusan.
Hanya saja, sebenarnya dirimu seorang pemalas. Menunda pekerjaan, senang melakukan hal-hal yang bukan kewajiban.
Kau benar.
Dan, hari-hari adalah tumpukan masalah yang tak terselesaikan. Didorongnya kesabaran sampai tepinya. Dijegalnya kegigihan dari tekad kerja.
Rupa-rupanya, kemalasan membawaku pada satu fase hidup yang tak terlalu menyedihkan.
Kesedihan dirasakan setiap warga, kesadaran akan pentingnya rasa sedih masih sulit diterima. Sedih dan tangis tak harus selalu bersama. Meski dalam praktik tidak demikian.