Kamu kira tanpa beban?, yang kamu terka selalu siaga dan murah tawa, seringkali berangan segera menjejak masanya, asa, hangat keluarga. Lalu seketika diputar olehmu, kenangan - kenangan dalam rongga kepala, aku menyiyir, mungkin ini ilusi, nyatanya ini harap yang tak terbendung oleh sikap, kedamaian palsu demi ketenangan sesaat agar produktifitas tetap berlanjut. Agar mata tidak kalah oleh kantuk. Kemudian lalu, seingatku kamu hanya tersenyum simpul melihatku, mengejekku dengan kibasan rambut ekor kudamu, melenggang manja dengan sepatu flatmu. Benarkah aku bisa mengelak darimu?, dari ringkihnya tubuh rampingmu yang penuh terisi pelbagai jenis pengetahuan dunia baru, kerap aku ragu.
Tugas selesai sekejap, ujian hanya sesaat, pekerjaan adalah limpahan kebahagiaan, kamu mengatakannya sekaligus menjalankan, aku mengamini. Pertanyaan klise untuk berketurunan, oh tidak ini terlalu jauh, bagaimana kalau film apa yang akan kita tonton akhir pekan ini?.
Pikiranku terbagi, prioritasku beranjak lagi, apa yang aku ingini, apa yang perlu aku dahulukan, mana yang harus aku kerjakan, berlebihkah?. Aku yang dulu mengidolakan kekasih dalam tampilan gaun merah sekarang mengidamkan wanita dengan balutan dress hitam, dulu dan sekarang.
Kabar yang berhembus kini tak ada lagi harap yang bisa dibeli, angan akan dengan mudah diciptakan sekaligus dihancurkan. Ada suatu kelompok tirani yang akan menyeleksi, memfilterisasi. imajinasi bukan privasi lagi, ketakutanku bukan hidup dalam terali besi. Ketakutanku bersumber pada ketidakmampuanku meyakinkan dunia bahwa menjadi diri sendiri lebih berarti. Aku tak punya nyali, aku akan mati. Sedih yang aku singkirkan, impian yang aku damba, keinginan yang sudah selesai aku bangun fondasinya, kini terancam menjadi keping reruntuhan. Menjadi masa lalu yang tak akan lagi bisa kubeli dari kebanyakan harap yang dipajang dibalik toko - toko megah berinstalasi. Aku murka. Padaku, padamu, pada mereka. Tapi aku diam, ini bukan hak nyata. dan sungguh hanya sementara aku terdiam, hari berikutnya aku menggonggong. Mengaum dalam sunyinya malam, meraung diantara gelapnya hari, mengintai dengan keji setiap mereka yang menghampiri, sayatan luka pada muka. Goresan langka di atas kulit lembutmu terbuat dari cakaran kuku yang belum aku potong hari jumat lalu, bukan kesengajaan tentu saja.
Dan pada malam - malam tertentu kau akan membangunkanku pada jam - jam dini hari untuk sekadar menemanimu membaca novel sampai pagi. Aku butuh kopi, selimut hangat dan earphone agar tetap terjaga, kadang ucapan lirihmu ketika membaca seolah sihir agar aku lekas mendekat. Dan mendekapmu yang akan diteruskan dengan belaian pelan jemari pada rambutku, begitu sampai kucing tetangga mulai berlarian di genteng rumah berusaha menerkam tikus kecil yang dengan sialnya melewati area perburuan musuh, dan bum, kau kaget lalu sedikit meremas tanganku. Aku tersenyum kecil, itu bukan hantu, itu kucing tetanggamu. Kataku dalam hati.
Tiga ratus enam puluh lima hari sejak saat itu kita masih sekamar, lebih menyatu dan dunia makin merayu, mencoba memutus segalanya. Aku terharu dengan kejujuranmu, aku meluapkan ledakan tangis di bantal pemberianmu dalam lindungan selimut yang kubeli denganmu. Bukankah kita terlalu kuat. Sampai - sampai hanya kita seorang yang sanggup memelihara masa lalu meski di dalam stoples bekas selai kacang. Memelihara, mengembangbiakkan, kemudian akan kita bebaskan dua kali tiga ratus enam puluh lima hari lagi.
"Menulis buatku bukan suatu prestasi, ialah bentuk kejujuran", begitu tulisan di atas sticky notes yang kau tempel pada stoples berharga itu. Lalu kuberikan kotak pandora itu. Kau membuka dan tenggelam di dalamnya, selama tiga ratus enam puluh lima hari kemudian kau terus begitu. Menyelami, menjadikan itu candu, menghabiskan waktu luangmu, menukar tiket - tiket keinginan yang telah kau kumpulkan. Melepas saham yang telah kau investasikan, menjual rugi harta benda kehidupan. Yang kemudian kau dapati ialah secarik kertas dalam pandoraku, bertuliskan "aku bukan diriku", lalu kau mulai marah, menyesali semuanya. Terutama keberadaanku, karena yang telah kuberikan semua palsu. Dan yang kau miliki ternyata tak punya arti. Kita ditelanjangi.
Tawa yang menguatkan, tangis yang melenakan. Habis sudah. Asa. Kehidupan yang menghidupimu. Kini terkikis. Sedikit lagi. Dan akan hilang. Dan waktu yang telah kau simpan rapat di brankas pojok kamar di bawah vas bunga porselin putih, kini memudar, baunya mirip telor dadar. Membuatku lapar, seketika mengharuskanku bersabar. Karena dunia sekarang tidak permisif pada makhluk lemah. Pada individu yang terlampau mengalah, dan kamar ini akan segera kita robohkan, tapi tidak sekarang meski tiga ratus enam puluh lima hari berikutnya kita dipastikan tidak lagi bertegur sapa.
Siapa sangka pada hari ketiga ratus lima puluh sembilan benih yang kau sisih dalam cangkir itu tumbuh. Butuh dua hari saja untuk dewasa, dan sehari kemudian mekar bunga krisan putih sejuk. Dua puluh empat jam selanjutnya kau habiskan waktu mengamati krisan putih itu, aku di dapur mengiyakan segala permintaanmu, bahkan buku dan lagu. Stoples yang kau simpan kau sejajarkan dengan cangkir berisi bunga krisan, di jendela kamar, kita berdoa masing - masing, bunga itu melayu. Kau berikan sedikit darah padanya, untuk sekadar menunggu dua puluh tiga jam lagi sebelum masanya.
Sehebat apapun mereka bukan lantas alasan untukku merana. Kesedihan selamanya menghabiskan waktu, sajak yang tertulis akan berdebu, kesempurnaan akan sulit terwujud, ombak di pantai tetap bersahut. Temaram masa depan hanya mampu kita raba, belum sanggup kita genggam. Beban yang sampai sekarang masih terkandung kalau kata orang jangan sampai menyilaukan tujuan kehidupan. Kehangatan keluarga serta asa yang kita bela semerbak menguasai ruangan, jika dan hanya jika ikhlas segalanya.
Lima menit sebelum itu kau melumat bibirku, dan matamu mengucap syukur atas semesta. "Masa lalu takkan bisa kau bunuh, ia akan terus hidup, bahkan berjumlah masif setiap harinya, kedamaian ialah persahabatan tanpa pretensi". Selamat bersumpah pada dunia untuk cita - cita mulia kehidupan. ~#28Oktober1928
