Rabu, 28 Oktober 2015

Asa

Kamu kira tanpa beban?, yang kamu terka selalu siaga dan murah tawa, seringkali berangan segera menjejak masanya, asa, hangat keluarga. Lalu seketika diputar olehmu, kenangan - kenangan dalam rongga kepala, aku menyiyir, mungkin ini ilusi, nyatanya ini harap yang tak terbendung oleh sikap, kedamaian palsu demi ketenangan sesaat agar produktifitas tetap berlanjut. Agar mata tidak kalah oleh kantuk. Kemudian lalu, seingatku kamu hanya tersenyum simpul melihatku, mengejekku dengan kibasan rambut ekor kudamu, melenggang manja dengan sepatu flatmu. Benarkah aku bisa mengelak darimu?, dari ringkihnya tubuh rampingmu yang penuh terisi pelbagai jenis pengetahuan dunia baru, kerap aku ragu.

Tugas selesai sekejap, ujian hanya sesaat, pekerjaan adalah limpahan kebahagiaan, kamu mengatakannya sekaligus menjalankan, aku mengamini. Pertanyaan klise untuk berketurunan, oh tidak ini terlalu jauh, bagaimana kalau film apa yang akan kita tonton akhir pekan ini?.

Pikiranku terbagi, prioritasku beranjak lagi, apa yang aku ingini, apa yang perlu aku dahulukan, mana yang harus aku kerjakan, berlebihkah?. Aku yang dulu mengidolakan kekasih dalam tampilan gaun merah sekarang mengidamkan wanita dengan balutan dress hitam, dulu dan sekarang.

Kabar yang berhembus kini tak ada lagi harap yang bisa dibeli, angan akan dengan mudah diciptakan sekaligus dihancurkan. Ada suatu kelompok tirani yang akan menyeleksi, memfilterisasi. imajinasi bukan privasi lagi, ketakutanku bukan hidup dalam terali besi. Ketakutanku bersumber pada ketidakmampuanku meyakinkan dunia bahwa menjadi diri sendiri lebih berarti. Aku tak punya nyali, aku akan mati. Sedih yang aku singkirkan, impian yang aku damba, keinginan yang sudah selesai aku bangun fondasinya, kini terancam menjadi keping reruntuhan. Menjadi masa lalu yang tak akan lagi bisa kubeli dari kebanyakan harap yang dipajang dibalik toko - toko megah berinstalasi. Aku murka. Padaku, padamu, pada mereka. Tapi aku diam, ini bukan hak nyata. dan sungguh hanya sementara aku terdiam, hari berikutnya aku menggonggong. Mengaum dalam sunyinya malam, meraung diantara gelapnya hari, mengintai dengan keji setiap mereka yang menghampiri, sayatan luka pada muka. Goresan langka di atas kulit lembutmu terbuat dari cakaran kuku yang belum aku potong hari jumat lalu, bukan kesengajaan tentu saja. 

Dan pada malam - malam tertentu kau akan membangunkanku pada jam - jam dini hari untuk sekadar menemanimu membaca novel sampai pagi. Aku butuh kopi, selimut hangat dan earphone agar tetap terjaga, kadang ucapan lirihmu ketika membaca seolah sihir agar aku lekas mendekat. Dan mendekapmu yang akan diteruskan dengan belaian pelan jemari pada rambutku, begitu sampai kucing tetangga mulai berlarian di genteng rumah berusaha menerkam tikus kecil yang dengan sialnya melewati area perburuan musuh, dan bum, kau kaget lalu sedikit meremas tanganku. Aku tersenyum kecil, itu bukan hantu, itu kucing tetanggamu. Kataku dalam hati. 

Tiga ratus enam puluh lima hari sejak saat itu kita masih sekamar, lebih menyatu dan dunia makin merayu, mencoba memutus segalanya. Aku terharu dengan kejujuranmu, aku meluapkan ledakan tangis di bantal pemberianmu dalam lindungan selimut yang kubeli denganmu. Bukankah kita terlalu kuat. Sampai - sampai hanya kita seorang yang sanggup memelihara masa lalu meski di dalam stoples bekas selai kacang. Memelihara, mengembangbiakkan, kemudian akan kita bebaskan dua kali tiga ratus enam puluh lima hari lagi.

"Menulis buatku bukan suatu prestasi, ialah bentuk kejujuran", begitu tulisan di atas sticky notes yang kau tempel pada stoples berharga itu. Lalu kuberikan kotak pandora itu. Kau membuka dan tenggelam di dalamnya, selama tiga ratus enam puluh lima hari kemudian kau terus begitu. Menyelami, menjadikan itu candu, menghabiskan waktu luangmu, menukar tiket - tiket keinginan yang telah kau kumpulkan. Melepas saham yang telah kau investasikan, menjual rugi harta benda kehidupan. Yang kemudian kau dapati ialah secarik kertas dalam pandoraku, bertuliskan "aku bukan diriku", lalu kau mulai marah, menyesali semuanya. Terutama keberadaanku, karena yang telah kuberikan semua palsu. Dan yang kau miliki ternyata tak punya arti. Kita ditelanjangi.

Tawa yang menguatkan, tangis yang melenakan. Habis sudah. Asa. Kehidupan yang menghidupimu. Kini terkikis. Sedikit lagi. Dan akan hilang. Dan waktu yang telah kau simpan rapat di brankas pojok kamar di bawah vas bunga porselin putih, kini memudar, baunya mirip telor dadar. Membuatku lapar, seketika mengharuskanku bersabar. Karena dunia sekarang tidak permisif pada makhluk lemah. Pada individu yang terlampau mengalah, dan kamar ini akan segera kita robohkan, tapi tidak sekarang meski tiga ratus enam puluh lima hari berikutnya kita dipastikan tidak lagi bertegur sapa.

Siapa sangka pada hari ketiga ratus lima puluh sembilan benih yang kau sisih dalam cangkir itu tumbuh. Butuh dua hari saja untuk dewasa, dan sehari kemudian mekar bunga krisan putih sejuk. Dua puluh empat jam selanjutnya kau habiskan waktu mengamati krisan putih itu, aku di dapur mengiyakan segala permintaanmu, bahkan buku dan lagu. Stoples yang kau simpan kau sejajarkan dengan cangkir berisi bunga krisan, di jendela kamar, kita berdoa masing - masing, bunga itu melayu. Kau berikan sedikit darah padanya, untuk sekadar menunggu dua puluh tiga jam lagi sebelum masanya.

Sehebat apapun mereka bukan lantas alasan untukku merana. Kesedihan selamanya menghabiskan waktu, sajak yang tertulis akan berdebu, kesempurnaan akan sulit terwujud, ombak di pantai tetap bersahut. Temaram masa depan hanya mampu kita raba, belum sanggup kita genggam. Beban yang sampai sekarang masih terkandung kalau kata orang jangan sampai menyilaukan tujuan kehidupan. Kehangatan keluarga serta asa yang kita bela semerbak menguasai ruangan, jika dan hanya jika ikhlas segalanya. 

Lima menit sebelum itu kau melumat bibirku, dan matamu mengucap syukur atas semesta. "Masa lalu takkan bisa kau bunuh, ia akan terus hidup, bahkan berjumlah masif setiap harinya, kedamaian ialah persahabatan tanpa pretensi". Selamat bersumpah pada dunia untuk cita - cita mulia kehidupan. ~#28Oktober1928

Rabu, 14 Oktober 2015

Tahun Baru Muharram

Selamat tahun baru hijriyah.
Mari kita berhijrah.
Hijrah yaitu pindah.
Pindah tempat, pindah perilaku, pindah kebiasaan, pindah haluan.
Menuju kepada kebaikan, kemanfaatan.
Aku dan kamu, aku berhijrah menuju kamu. Atau aku berhijrah dari kamu. Dia yang tahu.


Jumat, 02 Oktober 2015

Ya, Halo!



Halo saya Amirul Bayu Kurniawan, saya terlahir di kota jauh dari Jakarta namun virus globalisasi dan kapitalisme mulai menggerogotinya. Di kota saya pendidikan bukan lagi hal yang mewah, hampir seluruh penduduk mengenalnya meski tak semua mengenyamnya. Di kota tempat saya lahir seolah tidak terpengaruh isu – isu pemanasan global, mencairnya es di kutub utara maupun misteri Iluminati di luar sana.
Masih jelas terekam bagaimana orang tua saya begitu mendambakan pendidikan tinggi bagi anaknya, meski selalu menjadi masalah dalam urusan dana bahkan rela terbelit hutang karenanya. Mbah Kakung saya dan orang tuanya dulu merupakan orang yang disegani di dusun saya. Saya kurang tahu persis cerita mengenai Mbah buyut Kakung, namun Mbah Kakung saya sewaktu beliau hidup ialah seorang kyai, menjadi imam masjid, dan diundang mengaji kesana – kemari. Menurut penuturan ibu saya, Mbah Kakung dulu juga sempat ikut berperang melawan penjajah, meski saya tidak pernah mendengar langsung ceritanya dari Mbah Kakung. Sampai akhirnya Mbah Kakung stroke saya sering meminta uang untuk membeli bola plastik yang saya gunakan untuk bermain di halaman depan rumah Mbah.
Berbicara tentang pendidikan, saya akan menyoroti apa yang saya lihat dari para Bangsawan kalau saya boleh sebut baik di dusun saya maupun di dusun sekitarnya. Mereka para Bangsawan, kaum cendekia, disegani orang lain, bisaanya karena mempunyai kepandaian tertentu, misalnya pandai mengaji seperti para Kyai, atau menjadi guru dan mantri, selain itu mereka juga masih mempunyai garis keturunan baik dari Trah Raja Mataram dan sebagainya, yang jelas selain ilmu serta kepandaian, mereka juga Tuan Tanah. Mereka dihormati, anak – anak mereka oleh orang bisaa dipanggil dengan sebutan “Mas” sebelum namanya, saya juga dipanggil seperti itu oleh tetangga, bahkan oleh ibuk – ibuk dan bapak – bapak disekitar. Namun kini dijaman duaribuan ini ada sesuatu yang mulai bergeser, ilmu dan pengetahuan menjadi komoditas terbaik untuk mendapatkan kehormatan, dan hal itu mulai disadari oleh masyarakat di desa saya. Banyak mereka sudah menjadi sarjana, menjadi pegawai, tentara, masuk kantor perpajakan, hidup di luar kota, atau bagi yang membangun rumah di desa memiliki arsitektur minimalis yang sedang digandrungi masa kini dengan deretan motor dan mobil yang semakin menunjukkan kesuksesannya. Bagi para keturunan Bangsawan sudah banyak yang bisa dijadikan contoh, dari masyarakat yang terhitung bisaa juga sudah banyak yang mulai bermunculan. Sengaja saya tidak membahas mereka yang mungkin kurang secara pendidikan dan kesuksesan, karena mereka bahkan sampai saat ini masih adem ayem hidup tentrem tiap malem bisa merem meski dollar hampir limabelas ribu tetep kalem.
Kemudian yang menjadi titik perhatian saya ialah, mereka yang merupakan keturunan bangsawan dengan sederet kesusksesan dan prestasi yang dimiliki akan tetap dihormati oleh orang lain di dusun pun di desanya karena dua hal, pertama karena orang tuanya, yang kedua karena harta kekayaannya. Bukan ilmu dan kepandaian serta kharisma yang otomatis turut serta di dalamnya, dan juga sikap kedermawanan yang menurut saya seharusnya menjadi inti dari konsep Kebangsawanan.
Ketika mereka yang telah sukses dan melihat dunia luar lebih luas dari desa dan dusunnya kemudian mulai terbuai rayuan gombal materialistis dan kapitalis maka gelar Kebangsawanan yang mereka warisi ialah kosong, tak lebih dari manusia yang berlindung dengan tedeng aling – aling uang, harta, dan komoditi kekayaan lainnya. Dimana hal tersebut juga sudah mulai mampu dicapai oleh mereka masyarakat bisaa. Sesungguhnya bukan ketakutan akan hilangnya penghargaan akan gelar Bangsawan, namun lebih kepada apa yang selanjutnya akan mereka hargai, hormati dan patuhi lebih dari sekadar kepemilikan benda dan kekayaan sejenisnya.
Tidak akan ada lagi seseorang yang peduli dengan mereka kaum biasa, yang bekerja untuk makin nanti, dan besok mereka yakin pekerjaannya bisa mencukupi kebutuhan hari berikutnya. Mereka yang mau menyentuh, memahami, tidak menyeragamkan pikiran atas semua penduduk dusun yang jelas mulai terasa kesenjangan ekonomi pun pendidikan. Keluasan berpikir, kelapangan hati mengerti dan memahami, bukan saja membela mereka yang lemah tapi sekaligus meng-andhap asor­-kan para generasi berpikiran maju. Ini yang saya takutkan dan serta saya harapkan.
Kemudian menjelang masa akhir kuliah strata satu saya, saya mulai berpikir akan jadi apa saya nantinya, kaum sukses yang bekerja di luar kota punya rumah gedong di desa dengan segala perabotan dan kendaraan yang sesuai dengan selera pasaran. Atau kah hidup sembari berjualan angkringan, tiap pagi ke ladang menyangkul, sebelumnya diawalai ritual makan bubur dari mbok – mbok di RT sebelah, sambil menyenandungkan lagu – lagu dari mas Dadang Pohon Tua. Lalu sesampai di ladang nyangkulnya dengan iringan music Navicula, Efek Rumah Kaca. Ah sudahlah ini masalah selera, menjadi pak tani pun bisa hafal lirik lagu Bonjovi bahkan FSTVLST, The 1975, Vampire Weekend, atau juga The Strokes dan The Libertines. Tapi siapa pula yang mau mendampingi hidup pak tani itu, jaman sekarang anak gadis dirawat betul – betul oleh orang tuanya agar kelak bisa hidup bahagia selama – lamanya dengan suami dan anak – anaknya yang setiap hari naik mobil istimewa duduk dimuka, mengendarainya supaya baik nama dan pamornya.