Bersama hening malam selepas hujan yang meninggalkan udara lembap.
Tersumbat akal sehatku.
Berat kepala dan kusandarkan pada bantal di kamar lawas.
Tentang kelaparan, ketidakadilan, dan nyawa yang tercerabut bagai kapas dihempas angin kering musim kemarau.
Perjuangan ini tak akan menemukan ujungnya, pikirku.
Wacana dan teori-teori rumit itu menggumpal tak sanggup melancarkan perjuangan para pedagang, buruh, petani.
Kuas berhias darah ditorehkan pada sebuah layar lebar keramaian.
Pada saat itu kebebasan sudah resmi dikekang.
Pendapat perlu disaring kembali.
Malam menyeruakkan bau tanah basah, rumput kemilau di bawah sinar purnama, dan genangan memantulkan kenyataan.
Surat-surat yang kutulis dan belum sempat kusampaikan, kini tersimpan rapi di lemari.
Gerakan untuk keadilan dan kelelahan berpikir kritis menguras energi.