Kamis, 21 Juli 2016

Absurd

Membayangkan kebahagiaan ketika bisa bersamanya, sedang kita sekarang sudah bahagia, hanya, terlihat biasa.

Selasa, 19 Juli 2016

selepas tidur, ketika dalam mimpi sedang bersiap tuk menikah

Kemampuanmu mengkonversikan lelahku menjadi bahan bakar api semangatku, sungguh mengagumkan.

Rabu, 13 Juli 2016

Urip kui penak.

Bagaimana jadinya hidup tanpa tertawa. Sehari tanpa senyum. Pagi hari lengkap dengan syukur, malam tiba disambut dengan doa. Mau jadi apa kalau dua puluh empat jam dalam sehari, empat jam saja bisa merasa bahagia. Apa yang membuat hati jadi gembira, jiwa tenang dan jarang menggerundel. Mata yang ramah, lidah yang halus, hati yang bestari.

Sedang hidup masih saja tak dapat menghindari kata tapi, sering menyangkali, menafikan meski sudah dinyatakan.

Minggu, 10 Juli 2016

Aku tidur dalam pelukmu
Di antara bayang kembang rerumputan
Dan sinar rembulan



26 juli 014

Suatu saat.

Suatu saat aku akan bicara tentang bimasakti. Suatu saat aku akan bicara tentang bumi. Suatu saat aku akan bicara tentang langit. Suatu saat aku akan bicara tentang awan.
Lalu aku akan mulai bicara tentang tanah, bicara tentang rumah.
Aku bicara tentang debu, pasir, batu, dan rumput.
Suatu saat aku bicara tentang manusia dengan manusia. Tentang partikel, atom, dan sel.
Bicara yang abstrak, belum teraba. Kemudian bicara yang nyata, dapat dirasa.
Yang tinggi, yang besar, yang luas. Dan yang kecil, rendah, juga enteng.

Misalnya aku membicarakan hangat pagi, lalu aku membicarakan meja dan kursi.  

Selasa, 05 Juli 2016

Apa yang perlu saya rayakan.

Akhir-akhir ini saya hampir setiap malam mendengarkan sebuah lagu dari Opick yang berjudul Salam Ya Rasulullah. Lagu yang kalem dan menenangkan. Ada kata-kata dalam liriknya yang memicu rasa penasaran saya; ummati ummati ummati. Dalam sebuah riwayat, dikatakan Rasulullah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya mengucapkan; ummati ummati ummati. Ummati atau dimaknai sebagai umatku diucapkan sebanyak tiga kali, tentu tidak sembarangan jika beliau malah lebih memikirkan umatnya dibanding keluarga dan kerabatnya atau bahkan kematian itu sendiri. Hal ini juga mengindikasikan kecintaan yang mendalam Rasulullah terhadap umatnya yang walaupun masih dibawah cinta beliau terhadap Sang Kekasih. Tak sekadar rasa cinta Rasul pada umatnya sekaligus juga kegundahan hati dengan apa yang akan dialami oleh umatnya terepresentasi dalam ummati ummati ummati.
Jika boleh mengandaikan, Rasul mungkin telah banyak tersenyum selama ramadhan kali ini. Melihat kita yang senantiasa meramaikan rumah-rumah Allah sepanjang hari, melihat kita yang selalu menyegerakan beribadah, menyegerakan berbuka misalnya. Menjalankan shalat-shalat malam, mengkhatamkan Quran, bersedekah dan berbagi dan masih banyak lagi.
Mungkin beliau sekarang menangis, melihat kondisi umatnya; bom bunuh diri di Jordan, Istanbul, Bangladesh, Baghdad, Malaysia, Qatif, Jeddah, Madinah, dan sekarang Solo [kutipan tweet mbak Alissa Wahid]. Atas dasar apa umat yang dicintainya berusaha menghancurkan masjid yang telah didirikan olehnya dan bahkan menjadi makam bagi beliau dan kerabatnya.
Dan bagi kita umat yang akan segera menyambut perayaan, apakah yang akan kita lakukan, hari ini dan di masa depan.
Apakah kita sudah melupakan Salim Kancil yang dibunuh oleh preman dan orang-orang suruhan. Apakah masih ingat kematian Yuyun yang diperkosa dan dibuang ke jurang oleh kawanan.
Berapa banyak petani yang sawahnya harus dikorbankan yang katanya demi pembangunan. Nelayan yang dipindahkan akibat reklamasi lahan. TKI yang mati tanpa perlawanan. Orang-orang pinggiran yang mati kelaparan.
Masih bisakah kita tolerir tindakan kekerasan demi tegaknya ketertiban. Ribuan saudara di pulau Papua yang dipukul, diintimidasi, ditekan, agar tunduk atas nama keindonesiaan. Orang berbeda keyakinan yang dibumi hanguskan. Penyeragaman atas dasar kebhinnekaan. Warga terusir dari tanah kelahiran. Masyarakat yang disuruh pergi dari kampung halaman. Bahkan lumpur lapindo tak kunjung terselesaikan.
Pencemaran lingkungan, degradasi lahan, kebakaran hutan, pencurian ikan, longsor dan banjir yang masih dianggap tanggung jawab hujan.

Apa yang bisa kita rayakan?