Akhir-akhir ini
saya hampir setiap malam mendengarkan sebuah lagu dari Opick yang berjudul
Salam Ya Rasulullah. Lagu yang kalem dan menenangkan. Ada kata-kata dalam liriknya
yang memicu rasa penasaran saya; ummati
ummati ummati. Dalam sebuah riwayat, dikatakan Rasulullah sebelum
menghembuskan nafas terakhirnya mengucapkan; ummati ummati ummati. Ummati atau dimaknai sebagai umatku diucapkan sebanyak tiga kali,
tentu tidak sembarangan jika beliau malah lebih memikirkan umatnya dibanding keluarga
dan kerabatnya atau bahkan kematian itu sendiri. Hal ini juga mengindikasikan
kecintaan yang mendalam Rasulullah terhadap umatnya yang walaupun masih dibawah
cinta beliau terhadap Sang Kekasih. Tak sekadar rasa cinta Rasul pada umatnya sekaligus
juga kegundahan hati dengan apa yang akan dialami oleh umatnya terepresentasi
dalam ummati ummati ummati.
Jika boleh
mengandaikan, Rasul mungkin telah banyak tersenyum selama ramadhan kali ini. Melihat
kita yang senantiasa meramaikan rumah-rumah Allah sepanjang hari, melihat kita
yang selalu menyegerakan beribadah, menyegerakan berbuka misalnya. Menjalankan shalat-shalat
malam, mengkhatamkan Quran, bersedekah dan berbagi dan masih banyak lagi.
Mungkin beliau
sekarang menangis, melihat kondisi umatnya; bom bunuh diri di Jordan, Istanbul, Bangladesh, Baghdad, Malaysia,
Qatif, Jeddah, Madinah, dan sekarang Solo [kutipan tweet mbak Alissa Wahid]. Atas dasar apa umat yang dicintainya
berusaha menghancurkan masjid yang telah didirikan olehnya dan bahkan menjadi
makam bagi beliau dan kerabatnya.
Dan bagi kita
umat yang akan segera menyambut perayaan, apakah yang akan kita lakukan, hari
ini dan di masa depan.
Apakah kita
sudah melupakan Salim Kancil yang dibunuh oleh preman dan orang-orang suruhan.
Apakah masih ingat kematian Yuyun yang diperkosa dan dibuang ke jurang oleh
kawanan.
Berapa banyak
petani yang sawahnya harus dikorbankan yang katanya demi pembangunan. Nelayan
yang dipindahkan akibat reklamasi lahan. TKI yang mati tanpa perlawanan.
Orang-orang pinggiran yang mati kelaparan.
Masih bisakah
kita tolerir tindakan kekerasan demi tegaknya ketertiban. Ribuan saudara di
pulau Papua yang dipukul, diintimidasi, ditekan, agar tunduk atas nama
keindonesiaan. Orang berbeda keyakinan yang dibumi hanguskan. Penyeragaman atas
dasar kebhinnekaan. Warga terusir dari tanah kelahiran. Masyarakat yang disuruh
pergi dari kampung halaman. Bahkan lumpur lapindo tak kunjung terselesaikan.
Pencemaran
lingkungan, degradasi lahan, kebakaran hutan, pencurian ikan, longsor dan
banjir yang masih dianggap tanggung jawab hujan.
Apa yang bisa
kita rayakan?