Senin, 05 Mei 2014

Surat Cinta

Di dalam ruang dua kali tiga meter ini, setiap malam pikiranku melayang ke dalam khayalan masa depan. Jauh melebihi jalinan kisah yang sebenarnya sedang dirajut. Di dalam ruang pengap gelap, kusisipkan beberapa lembar pernyataan akan sebuah keinginan. Tepatnya tujuan. Bukan, bukan hanya karena malam ini aku kembali teringat, namun terlebih karena aku ingin menjadikannya pengingat.

            Berawal dalam sebuah pertemuan, sejenak aku tertegun dengan keberadaan. Kedatanganmu bukan direncanakan, dan perkenalan denganmu bukan juga sebuah kebetulan. Siang itu aku masih ragu ketika melihatmu, selalu begitu. Satu kali ini aku akan mencoba menjadi lebih berani, kuputuskan untuk melakukan. Aku juga akan malu jikalau  suatu waktu kamu mengingatkanku pada hari itu. Muka merah, keringat bercucuran, tangan bergetar, suara mendengung mirip lebah mencari makan, kejadian cepat berlalu karena argumenku mengatakan salah tingkah ialah penyebab utama otak tidak menyimpan memori secara maksimal.

            Perihal daya tarik yang kau berikan tak selalu bisa aku jabarkan, spontan. Iya, masalah hati terkadang jauh dari kewajaran yang merupakan jawaban atas kegelisahan. Wajahmu barangkali ibarat sepucuk aster yang selalu mengangkat semangat dan menonjolkan kepolosan. Tubuhmu tidak jauh berbeda dengan seekor kutilang, ramping kecil mungil. Lincah bergerak dan kicauan khasnya tak pernah lupa menyapa disaat pagi menjelang setelah kabut beranjak serta pada sore yang matahari tak lagi menyengat dengan teriknya.

            Sebenarnya aku menanti suatu sore berhias senja jingga di teras rumah kita, berteman teh hangat dan pisang goreng raja. Dua buah kursi kayu berdampingan terpisah meja bundar berhias dua pucuk aster merah dalam botol saus bekas. Taukah saat ini aku memimpikan peristiwa itu? Dimana hujan yang baru saja berhenti masih meninggalkan jejaknya yang tercampur bau tanah halaman rumah. 

            Begitu banyak kegiatan yang ingin kulakukan bersamamu, begitu banyak waktu untukmu yang mungkin aku sendiri tak pernah menyadari sebanyak itu. Karena aku terlena akan keberadaanmu. Hingga detik ini yang tak jarang membuatku sulit mengistirahatkan pikiran. Tapi aku ikhlas, membiarkan rasa itu mengendap di kalbu.

            Sambut aku ketika malam nanti aku baru pulang, dari bekerja. Seduhkan teh panas setelahnya, kuberikan pelukan hangat sesudahnya. Dan masihkah ada ragu atas keelokanmu, seharusnya sederhana, pakailah kaos dan celana favoritmu maka kiranamu bukan hal yang mustahil. Lalu tak ada lagi jarak di atas peraduan, dan tak lupa secangkir teh panas kembali tersaji selagi kutilang bermandikan embun di dekat jendela.

            Selasa sore hendak kusenandungkan lagu untukmu, kuambil secarik catatan dalam buku. Terlihat sama sebenarnya aku denganmu. Tanah yang kita pijak, langit yang kita junjung, udara yang kita hirup, sama. Perempuan dalam doa ialah hal biasa. Lantas kidung yang telah aku tuliskan, bersajak, tentu saja tentangmu. Tak banyak sebenarnya hanya cukup untuk mengisi sore ini. Lagi-lagi kidungku ialah sepintas doa untukmu. Harapan dan impian.

            Melihatmu gembira dengan kesibukan sebagai seorang ibu rumah tangga, bahagia dikaruniai seorang putra, tersenyum puas setiap kali bakal menutup mata.  Terlelap, bersiap menyambut esok hari baru, rehat sekejap kemudian menyusun kembali semangat. Adakah yang lebih berat daripadanya. Lebih mudah mensyukuri dan menikmati ketimbang mempersoalkannya.

            Karena surat ini merupakan saksi. Karena pagi sudah sering memberiku inspirasi. Karena sore nanti aku kembali menyelesaikan urusan untuk esok hari. Maka jadilah saksi, pengingat karena aku tak ingin lalai. Karena aku ada.

Kerja?!

Memilah dan memilih pekerjaan apalagi anti terhadap pekerjaan tertentu kini tak lagi berlaku. Tidak ada kerja tidak makan, tidak ada kerja tidak sekolah, tidak ada kerja menganggur tapi ‘sok’ banyak acara.

Sekarang kerja tidak bisa dipilih jika kemampuan dan kualitas diri tak mumpuni. Asal kerja asal halal tidak terlalu menjadi masalah. Yang jadi masalah mungkin gengsi, namun apalah artinya gengsi kalau usia sudah tak muda lagi. Ketika tubuh tak sebugar dulu lagi serta kemampuan yang dimilki sebatas mengandalkan fisik maka apapun asal halal dilakukan demi terpenuhinya kebutuhan keluarga.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dibilang siap atau memenuhi kriteria siap untuk membina rumah tangga namun apa daya naluri terasa sulit ditahan akibatnya kebutuhan keluarga mengalahkan lainnya.

Dan bekerja dengan semampunya mungkin jalan paling prospek. Karena jika ditilik melalui prediksi pertumbuhan usia produktif yang semakin membludak daripada menunggu waktu lebih bijaksana langsung bertindak.

Akan tetapi manusia dengan usia produktif selain sedang mengenyam bangku  sekolah maupun perguruan tinggi dibimbing, dibina, untuk kemudian dibudidayakan menjadi wirausahawan dibidang industry, lingkungan serta sosial. Kemungkinan besar akan lebih banyak menyerap pengangguran dan secara tidak langsung mengurangi beban negara mengurus jumlah manusia usia produktif yang belum bermata pencaharian.

Lagi-lagi kreatifitas, inovasi, komitmen, dedikasi, tekad dan mimpi sangat diperlukan generasi usia produktif, sebelum akhirnya berada pada level setengah masa selanjutnya tidak bisa memilih dan menentukan profesi yang akan ditekuni.

11 Juni 2013

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”, pepatah lama terimplementasi dengan baik selaras dengan perkembangan zaman. Transformasi aplikasi dari peribahasa di atas melekat kuat dalam benak seorang pria paruh baya.

Selembar daun yang gugur dari pohon ketapang setiap harinya ialah sumber penghidupan. Daun kering merupakan popok kompos seharusnya, menjadi sampah. Mengganggu kebersihan. Untuk itulah ia dibutuhkan bukan sekadar tuntutan pengangguran maupun sempitnya lapangan pekerjaan. Bagi pemegang teguh prinsip ‘menjaga kebersihan’, tugas ini adalah keharusan dan sisi lain sebagai pekerjaan mulia.

Di dalam rumus kehidupan yang saling melengkapi, setiap peran di laksanakan secara optimal. Multiperan pria paruh baya tak semua berkesempatan merasakan pun memilki. Status yang tak jarang dipandang sebelah mata nyatanya vital fungsi serta manfaatnya.

Selembar daun pun yang jatuh ialah kehendak-Nya dan daun yang jatuh itulah sumber penghidupan seorang pria paruh baya.

1 Maret 2013

Ruang Baca



Sebagai salah satu gudang ilmu dan pengetahuan. Lebih tertata rapi, berbaris-baris, bertumpuk, dan berjajar berbagai jenis buku. Di balik pintu kaca terlihat berratus sampai berribu judul dengan macam-macam bidang ilmu. Literature, buku panduan, handbook, fiksi maupun sejarah terbentang sepanjang rak kayu di sekeliling meja persegi panjang dengan kursi lipat di tengah ruangan.

Terkadang hening, dan sering terdengar nyaring obrolan pengunjung mengenai tugas yang dikerjakan, materi kuliah juga kabar sehari-hari.

Jarak intim tak terelakkan. Mungkin terkesan bising pada suatu waktu namun seolah normal jika dibandingkan kesibukan yang dialami pengunjung.

Ada saat dimana ruangan penuh biasanya pada minggu efektif kuliah, kebanyakan mahasiswa tingkat akhir yang disibukkan mencari bahan proposal-skripsi. Menunjukkan minat baca terlihat terpaksa jika menilik dari pernyataan di atas.

Kenyataan ini bisa menjadi evaluasi terhadap minat baca mahasiswa, menyangkut koleksi buku, fasilitas yang ditawarkan serta kenyamanan suasana dan tempat.

28 Februari 2013

Kesegaran

Kesegaran udara pagi mengalir menembus rimbun pepohonan menghantarkan ketenangan. Dalam pagi dengan langit biru menyelimuti bersama angina menyentuh kulit. Di bawah dedaunan hijau lebar, bersandar pada kursi kayu terdengar kicau burung kutilang silih beganti. 

Ruang terbuka hijau seperti ini tak banyak memberi efek ketentraman. Rasa senang bukanlah saat berdekatan dengan alam menghasilkan suatu kebiasaan baru untuk me-refresh pikiran jiwa melainkan pada pusat keramaian tak jarang perbelanjaan. 

Demikian itu menyuburkan konsumsi masyarakat. Daya beli yang terkadang tak masuk akal, besar pasak daripada tiang. Mangabaikan keperluan tabungan sebagai langkah preventif saat terjadinya gangguan yang membutuhkan dana berlebih. Kecenderungan membelanjakan sebagian besar penghasilan sama halnya pemborosan waktu untuk mendapat barang sesuai keinginan bukan sesuai kebutuhan. Hingga pusat-pusat keramaian perbelanjaan menjamur di setiap sudut kota, tanpa memperdulikan kebutuhan ruang hijau sebagai lumbung oksigen murni juga meruntuhkan minat menikmati kesagaran udara bersih, suasana tenang yang menentramkan namun tak tanpa beban.

28 Februari 2013