Di dalam ruang dua kali tiga meter ini, setiap malam
pikiranku melayang ke dalam khayalan masa depan. Jauh melebihi jalinan kisah
yang sebenarnya sedang dirajut. Di dalam ruang pengap gelap, kusisipkan
beberapa lembar pernyataan akan sebuah keinginan. Tepatnya tujuan. Bukan, bukan
hanya karena malam ini aku kembali teringat, namun terlebih karena aku ingin
menjadikannya pengingat.
Berawal dalam sebuah pertemuan,
sejenak aku tertegun dengan keberadaan. Kedatanganmu bukan direncanakan, dan
perkenalan denganmu bukan juga sebuah kebetulan. Siang itu aku masih ragu
ketika melihatmu, selalu begitu. Satu kali ini aku akan mencoba menjadi lebih
berani, kuputuskan untuk melakukan. Aku juga akan malu jikalau suatu waktu kamu mengingatkanku pada hari
itu. Muka merah, keringat bercucuran, tangan bergetar, suara mendengung mirip
lebah mencari makan, kejadian cepat berlalu karena argumenku mengatakan salah
tingkah ialah penyebab utama otak tidak menyimpan memori secara maksimal.
Perihal daya tarik yang kau berikan
tak selalu bisa aku jabarkan, spontan. Iya, masalah hati terkadang jauh dari
kewajaran yang merupakan jawaban atas kegelisahan. Wajahmu barangkali ibarat
sepucuk aster yang selalu mengangkat semangat dan menonjolkan kepolosan.
Tubuhmu tidak jauh berbeda dengan seekor kutilang, ramping kecil mungil. Lincah
bergerak dan kicauan khasnya tak pernah lupa menyapa disaat pagi menjelang setelah
kabut beranjak serta pada sore yang matahari tak lagi menyengat dengan
teriknya.
Sebenarnya aku menanti suatu sore
berhias senja jingga di teras rumah kita, berteman teh hangat dan pisang goreng
raja. Dua buah kursi kayu berdampingan terpisah meja bundar berhias dua pucuk
aster merah dalam botol saus bekas. Taukah saat ini aku memimpikan peristiwa
itu? Dimana hujan yang baru saja berhenti masih meninggalkan jejaknya yang
tercampur bau tanah halaman rumah.
Begitu banyak kegiatan yang ingin
kulakukan bersamamu, begitu banyak waktu untukmu yang mungkin aku sendiri tak
pernah menyadari sebanyak itu. Karena aku terlena akan keberadaanmu. Hingga
detik ini yang tak jarang membuatku sulit mengistirahatkan pikiran. Tapi aku
ikhlas, membiarkan rasa itu mengendap di kalbu.
Sambut aku ketika malam nanti aku
baru pulang, dari bekerja. Seduhkan teh panas setelahnya, kuberikan pelukan
hangat sesudahnya. Dan masihkah ada ragu atas keelokanmu, seharusnya sederhana,
pakailah kaos dan celana favoritmu maka kiranamu bukan hal yang mustahil. Lalu
tak ada lagi jarak di atas peraduan, dan tak lupa secangkir teh panas kembali
tersaji selagi kutilang bermandikan embun di dekat jendela.
Selasa sore hendak kusenandungkan
lagu untukmu, kuambil secarik catatan dalam buku. Terlihat sama sebenarnya aku
denganmu. Tanah yang kita pijak, langit yang kita junjung, udara yang kita
hirup, sama. Perempuan dalam doa ialah hal biasa. Lantas kidung yang telah aku
tuliskan, bersajak, tentu saja tentangmu. Tak banyak sebenarnya hanya cukup
untuk mengisi sore ini. Lagi-lagi kidungku ialah sepintas doa untukmu. Harapan
dan impian.
Melihatmu gembira dengan kesibukan
sebagai seorang ibu rumah tangga, bahagia dikaruniai seorang putra, tersenyum
puas setiap kali bakal menutup mata.
Terlelap, bersiap menyambut esok hari baru, rehat sekejap kemudian
menyusun kembali semangat. Adakah yang lebih berat daripadanya. Lebih mudah mensyukuri
dan menikmati ketimbang mempersoalkannya.
Karena surat ini merupakan saksi.
Karena pagi sudah sering memberiku inspirasi. Karena sore nanti aku kembali
menyelesaikan urusan untuk esok hari. Maka jadilah saksi, pengingat karena aku
tak ingin lalai. Karena aku ada.