Berangkat dari
keresahan untuk membahagiakan kedua orang tua tersayang dan lalu terbayang
bisakah mendapatkan sang perempuan pujaan serta khawatir apakah aku bisa
menjadi orang tua yang baik dan pantas untuk anak-anakku kelak. Memberikan yang
sudah menjadi hak mereka, tanpa perlu mengikut sertakan anak-anak untuk
bekerja, membantu kerja dan sejenisnya. Memberi kesempatan mereka hanya untuk
belajar dan bermain. Kadang impian itu muncul dan selalu indah, tapi tak bisa
menampik kenyataan bahwa di luar sana banyak orang tua yang untuk membelikan
susu buah hatinya saja susah. Mereka yang tinggal di rumah-rumah sempit, yang
anak-anaknya terpaksa ikut mencari biaya makan (dan lain-lain) keluarganya. Hal
itu membuatku tak berhenti berprasangka, apakah dua orang yang menikah itu
benar-benar mempertimbangkan apa-apa yang bakalan mereka hadapi, termasuk
pendidikan anak-anaknya. Atau mereka hanya menyatukan hubungan agar halal
(secara agama yang dianutnya), dan berharap bahwa usaha mereka akan
menghasilkan keberkahan berupa rejeki yang cukup untuk membiayai kebutuhan
harian mereka asalkan mereka selalu berprasangka baik pada Pencipta.
Rasa penasaran
seperti itu yang menyita perhatian dan malahan menjadikanku khawatir
berlebihan. Penasaran itu juga aku tujukan pada para pekerja pabrik tekstil
dari dusunku. Para buruh pabrik ini ada yang masih lajang, ada yang sudah
beristri, ada yang sudah punya buah hati. Mereka bekerja berdasarkan jadwal
yang telah ditentukan, bisa jadi mereka akan berangkat pagi-pagi berbarengan dengan
mbok-mbok yang mau jualan di pasar. Di lain waktu, mereka pergi ketika
mayoritas penduduk dusun sudah terlelap. Bisa juga mereka akan berangkat
bersamaan dengan waktu anak-anak sekolah menengah pulang ke rumah. Dengan
seragam yang rapi, mereka akan menunggu bus jemputan. Aku penasaran, apa yang
menjadi impian mereka sebenarnya, dan kenapa mereka bisa menjadi buruh pabrik.
Ada yang perlu ditekankan disini yaitu terma bisa pada kalimat sebelum ini.
Apakah bisa itu karena terpaksa, bisa sebab mereka berusaha untuk itu, atau
bisa karena memang itu pekerjaan yang mereka bisa, dan barangkali hanya itu
yang mereka bisa. Apakah mereka punya impian semisal memiliki mobil Volkswagen
combi yang digunakan untuk menyusuri pantai selatan pulau Jawa, impian untuk bisa
ke stadion San Siro bersama orang terkasih, keinginan untuk menjadi dosen,
dokter, pilot, menaklukkan puncak-puncak gunung se-Nusantara, atau mungkin ingin
menjalankan ibadah haji bersama kedua orang tua. Aku penasaran bagaimana mereka
mengatur waktu ketika di rumah, waktu yang digunakan untuk tidur, beribadah,
mengaji, bersih-bersih, memasak, menonton tivi, mengobrol dengan orang tua atau
anak-anak mereka dan saudara juga para tetangga. Aku penasaran apakah para
pekerja itu juga punya impian; anak-anak mereka kelak bisa menjadi orang-orang
kaya, yang punya rumah gedongan, mobil merci, sapi beberapa puluh ekor, dan
sebidang lahan yang subur ditanami kates. Atau mereka hanya mengharapkan
anak-anak mereka menjadi siswa-siswa yang rajin di sekolah, lancar membaca
alquran, tepat waktu menjalankan shalat lima waktu, dan tidak punya keinginan
khusus anaknya akan berprofesi sebagai apa nantinya. Aku penasaran apa yang
mereka pikirkan ketika berjalan dari luar rumah ke tempat penjemputan dan
sambil menunggu bus datang. Dan apakah mereka mengkhawatirkan kehidupan.
Selain para
buruh pabrik, aku juga penasaran dengan mereka para perempuan yang hanya
menjadi ibu rumah tangga. Ibu-ibu yang kesehariannya mengurus anak-anak,
memasak di dapur, menikmati sinetron dan mengikuti gosip terkini para
selebriti, ibu-ibu yang kadang pergi ke kebun, sering ke pasar untuk
berbelanja, tak jarang berhutang di warung tetangga, ibu-ibu yang ketika pagi
mengantar anak-anaknya ke depan gerbang sekolah dan menjemputnya kembali saat
siang, ibu-ibu yang mengikuti kegiatan arisan RT, ibu-ibu yang ikut pengajian, dan
sering mengumpul di salah satu rumah tetangga mengobrol entah apa, bisa jadi
masakan mereka yang terlalu asin, resep membuat roti biar bisa mengembang
dengan baik dan tidak keras, atau -ehem- bagaimana biar suami-suami mereka
lebih betah di rumah selepas bekerja bukan malah ngumpul di poskamling hingga
larut hanya untuk main catur atau kartu remi. Padahal, para suami ini sejatinya
juga sedang melepaskan penat dengan saling bercanda dan menyesap rokok ditemani
segelas kopi tubruk seadanya. Aku penasaran, apakah ibu-ibu yang bangunnya
lebih pagi daripada anggota keluarga yang lain, keinginan sewaktu sekolah atau
sebelum menikahnya sudah terwujud. Atau jika belum bagaimana mereka berdamai
dengan hasrat tersebut. Bagaimana mereka bisa (bahkan dengan senang hati)
menjalankan aktivitas menimba di sumur saat masih subuh, memasak nasi dan sayur
dengan tungku untuk sarapan suami dan anak-anak tercintanya, juga kegiatan
mencuci pakaian sekaligus menyetrikanya.
Aku penasaran
dengan para tetangga, apakah mereka pernah bermimpi suatu hari nanti akan
menjadi salah satu anggota pembasmi korupsi. Aku penasaran apakah mereka
khawatir jika anak-anaknya kelak hanya menjadi penjual bakso keliling, tukang tambal
ban, petani cabai atau kates kecil-kecilan, atau hanya penjual berbagai jajanan
anak dan sabun-sabun juga rokok di rumahnya. Aku juga penasaran apakah mereka
menginginkan anak-anaknya menjadi pak camat, bupati, pak gubernur, atau bahkan
presiden.
Aku masih
penasaran, apakah ketika para tetangga beraktivitas mereka kepikiran berita
yang disiarkan di tivi-tivi, tentang kontroversi Ahok dalam penafsiran surat
Al-Maidah ayat 51, mengenai sidang Jessica, pencalonan Anies Baswedan sebagai
Gubernur Jakarta, atau ada yang peduli mengenai kasus Yuyun, hilangnya Wiji
Thukul, Reklamasi Teluk Benoa, banjir Garut, dirilisnya iphone7, bom di Suriah,
dan berita-berita mengenai tim-tim sepakbola dari Eropa sana, Milan, Madrid,
Emyu, dan sebagainya.
Aku penasaran
apakah anak-anak dusunku ada yang terinspirasi novel Laskar Pelangi, atau
terpesona dengan karya Pramoedya Ananta, juga terharu membaca cerpen-cerpen
Seno Gumira. Apakah mereka juga mendengerkan DDH, FSTVLST, Pure Saturday,
TPOBPAH dan lain sebagainya. Apakah mereka kagum dengan sosok Monkey D. Luffy
dan Naruto serta Sasuke.
Ya
pertanyaan-pertanyaan itu kuyakin tak mudah terjawab walaupun aku membuat
angket wawancara dan berkeliling dari rumah ke rumah selama sebulan. Tapi apa
sesungguhnya yang membuat mereka atau kita tetap teguh menjalani hidup yang tak
tahu kenapa kita bisa, harus, dan bagaimana hidup itu. Perihal hidup memang tak
mudah ditafsirkan dengan satu dua pernyataan. Namun, satu yang aku yakini; jika
kita hidup maka kita akan mati. Hidup itu sendiri silakan cari definisinya
secara mandiri. Lalu, benarkah jika kita hidup kita baiknya melakukan apa-apa
yang merupakan hal baik yang telah menjadi kebiasaan orang-orang di sekitar
kita. Apakah harus memiliki tujuan, jika ya, maka apa yang seharusnya menjadi
tujuan utama kita. Kaya, terhormat, mulia, sehat, sejahtera, sederhana.
Bagaimana orang-orang menentukan yang menjadi tujuan hidupnya. Sebelumnya kita
ganti istilah tujuan dengan pencapaian. Ya, apa-apa saja yang orang itu ingin
capai dalam hidup ini, yang ingin mereka raih, rengkuh, miliki, gapai, atau
apapun itu yang dapat membuatnya merasakan hidup yang ‘hidup’. Membuat mereka
bahagia, puas, dan cukup. Bahagia dengan tindakan yang telah mereka lakukan
selama hidup, puas dengan capaian dalam hidup, dan cukup dengan apa-apa yang
telah mereka punyai, miliki, serta jalani.
Menjadi
siapa sekarang yang mungkin tak pernah mereka bayangkan ketika masa
kanak-kanak, apakah perlu disesali atau disyukuri. Bagaimana mereka bisa
mencapai itu, bagaimana mereka bisa membiarkan waktu membawa mereka sampai
kesitu, bagaimana mereka tetap tegar dengan keadaan yang mereka hidupi itu.
Bagaimana bisa orang lain menganggap seseorang itu kekurangan sedangkan yang
bersangkutan selalu saja merasa berkecukupan. Salahkah menjadi yang sekarang,
yang mana mayoritas yang lain tidak pernah menginginkan. Atau kebanyakan yang
lain hanya terbersit keinginan untuk melakukan namun mereka terlalu sibuk dan
selalu tak memprioritaskan keinginan tersebut.
Apakah para
buruh pabrik punya keinginan untuk menjadi seperti petani kates, apakah
mbok-mbok penjual di pasar punya keinginan menjadi ibu guru sekolah dasar,
apakah seorang guru sekolah menengah punya keinginan menjadi ibu-ibu penjual
jajanan dan aneka macam bumbu dapur serta sabun-sabun di teras depan rumah,
apakah mbak-mbak freshgraduate punya
keinginan untuk menjadi ibu-ibu yang setiap pagi mengantar anak-anaknya ke
sekolah dan siangnya menjemput anak-anak lalu ketika sore dengan setia menyapu
halaman sambil memperhatikan anak-anaknya bermain pasar-pasaran atau bal-balan,
apakah mas-mas yang setiap malam begadang di pos ronda punya keinginan untuk
menjadi penceramah di masjid ketika shalat jumat, apakah adek-adek itu punya
keinginan untuk menjadi pesepakbola profesional dan bermain untuk tim semacam
Emyu, Madrid, Barca atau Milan.
Atau adakah
dari mereka yang hanya ingin menjadi peternak kambing yang kesehariannya nitip
makan dari satu rumah ke rumah lainnya, dan bermimpi suatu ketika bisa ziarah
ke Mekah naik kambing-kambing kesayangannya. Menjalani profesi apapun dengan
keyakinan dan keteguhan lalu menyerahkan masa depan kepada Pemilik Hidup.
Ambil contoh
Ki Ledjar Subroto yang memilih jalan menjadi pendalang wayang kancil. Entah apa
saja yang pernah Ki Ledjar dapat dari kesenangannya mendalang wayang kancil.
Menjalaninya dalam beberapa dekade, setia dan itulah keputusannya. Sama halnya
Pak Raden, pencipta tokoh Si Unyil. Mereka menjadi mereka yang kita kenal
sekarang dengan perjuangan yang tak semua tahu bagaimana dan mengapa mereka
kekeuh dengan keputusannya. Tapi berapa banyak peluang yang mereka buang atau
tutup setelah mereka memutuskan suatu hal. Bagaimana mereka begitu yakin,
apakah keputusan itu mereka buat dengan mempertimbangkan keuntungan-keuntungan
materil belaka. Ataukah ada yang lainnya?.
Menjadi tukang
tambal ban, penjual mie ayam, penjual bubur pagi-pagi yang murah meriah,
menjadi supir yang akan merasa puas bila dapat membantu tetangga yang membutuhkan
diantar kemana saja, cukup dengan apa yang ia dapat, penghasilan yang cukup
untuk membeli lauk bagi kedua orang anaknya, menjadi ibu rumah tangga yang
selalu cakap memberikan makanan yang tak saja bergizi bagi anak-anaknya pun
juga santapan yang membuat otak-pikiran-jiwa anaknya bahagia. Haruskah mereka
menjadi yang lainnya atau seharusnya mereka bisa menjadi yang lainnya.
Bagaimana kalian menyadarinya. Apakah kalian menerimanya.
Sebanyak-banyaknya
pilihan untuk bekerja sebagai apa, di mana, kapan, dan dengan siapa, apakah
orang-orang benar-benar sadar dan berkeinginan sesuai dengan apa yang
dikerjakan sekarang. Ataukah mereka hanya menjalani, bekerja dan berusaha
dengan tujuan utama bahagia sekaligus membiarkan diri terbawa ke keadaan dan
kondisi yang tak pernah sempurna; menuai hasil yang telah mereka usahakan
sebelum-sebelumnya dengan lapang dada, mengutuki diri dan menyatakan bahwa apa
yang menimpanya ialah musibah akibat ketamakannya, tersenyum dengan perasaan
lega karena apa yang menimpa dianggapnya sebagai ujian dari empunya.
Segala
pengaruh yang membuat orang-orang ini tetap berdiri, dan teguh dalam menghidupi
diri akan terlalu rumit jika dijabarkan. Untuk itulah orang sering memandang
kuantitas kehidupan seseorang hanyalah permukaan yang nampak, dan di dalamnya
masih jauh tak terjamah bahkan sebagian enggan untuk menguliknya; sibuk dengan
diri masing-masing. Perhitungan yang mereka gunakan berdasarkan pengetahuan
juga pengalaman meski tak jarang curang, menurut mereka sebuah kebaikan yang
wajar. Tak jarang menceburkan diri ialah kemampuan yang mereka miliki dan
kesempatan yang harus dimaksimalkan agar tak ikut hancur bersama kapal yang ditumpanginya.
Lain halnya bila dari mereka yang menjadikan kecurangan sebagai alat utama
mendapatkan kehormatan, dan juga kekayaan yang bahkan mayoritas tak merasakan
keberadaannya.
Jika sudah
begini bagaimana kita menjalani dan menjadi diri sendiri dalam lingkaran hidup
manusia agar tetap bermanfaat dan dapat saling menguntungkan?
Menimbang
untung-rugi dalam sebuah hubungan, laiknya perjuangan yang pantas kita lakukan
bila tak hati-hati akan melenakan. Menyebabkan hubungan hanya melandaskan
keuntungan. Dan jika tak ada keuntungan maka kita ditinggalkan atau
meninggalkan. Tentu saja sah dilakukan sebab interaksi yang melandasi sebuah
hubungan juga berintikan pertukaran. Apakah sepadan apa yang telah diberikan
dengan apa yang kita dapatkan. Ataukah kekhawatiran yang terus membayangi
apabila tak mampu membalas apa yang telah orang lain berikan.
Di sisi lain,
terdapat jalinan-jalinan kuat meski apa yang mereka korbankan tak seimbang
secara kasat mata. Ya, mungkin orang-orang tersebut beranggapan bahwa apa-apa
yang mereka lakukan kepada yang lain ialah apa-apa yang orang lain butuhkan dan
mereka sendiri inginkan. Tak peduli seberapa banyak yang mereka terima
akhirnya, mereka akan merasakan kepuasan dari kebersamaan yang telah dibangun
dan diperjuangkan sedemikian rupa sehingga masing-masing mereka rela
mengorbankan nyawa bagi lainnya.
Inilah yang
namanya pertemanan. Pencarian jati diri ialah aktivitas berteman dengan
orang-orang yang sesuai-pantas dalam kejujuran. Teman bisa kita jumpai punya
kesamaan hobi, kesamaan waktu dan tempat saat berkegiatan, teman di tempat
kerja, teman belajar, berdebat, lomba, dan lainnya. Namun ada juga teman yang
bahkan akan saling membela meski jelas-jelas salah. Teman seperti kata seorang
teman ialah orang yang tertawa bersama dalam ketulusan.
Boleh saja
kita berteman meski sering tak merasakan kenyamanan, sebab menjaga hati orang
lain tetap senang juga dianjurkan, dan berbuat jahat kepada orang lain tak
diajarkan karena lebih banyak kita tak tahu-menahu mengapa orang lain tega
berbuat sesuatu terhadap yang lain. Dan andai kita tahu, maka sebagai pihak
yang tahu bertindaklah sesuai apa yang kita tahu.
Sebab tak
banyak yang kita kenal di muka bumi ini, dan kita hanya perlu berbuat baik
kepada yang lainnya.
Dan, agak
berbeda dengan fenomena pertemanan umumnya; apabila ada ketertarikan di antara
dua manusia berbeda jenis kelamin lalu mereka menjalin sebuah hubungan dengan
tujuan memuaskan nafsu birahi, pada titik itu meneguhkan bahwasanya manusia
juga binatang, dengan gairah mengawini. Binatang hidup untuk bereproduksi,
melestarikan jenisnya dalam keseimbangan hayati. Maka bagaimana kita mengawini
yang lain dengan tidak saja bertujuan reproduksi namun lebih kepada relaksasi
ialah pembeda. Pembeda inilah yang oleh pihak-pihak tertentu dijadikan
komoditas untuk dipertukarkan, yang disesuaikan dengan penawaran-permintaan.
Akan tetapi, pembeda ini jua yang kemudian menjadi bibit tumbuh kembangnya
sebuah lembaga yang kadang-kadang bias atau bahkan tak segan mengurangi hak-hak
dari para penganutnya. Lembaga yang melegalkan kepemilikan dan menghindarkan
diri dari kecemburuan, bayangkan jika orang yang dikawini tadi malam, hari ini
sedang kawin dengan orang lain yang bahkan tak pernah dikenalnya. Ya, asal ada
imbalan yang pantas tentu itu sah-sah saja. Pertanyaannya apakah jika kita
menjadi bagian yang lain dari itu sanggup bertahan dalam kesendirian, sebab
satu-satunya yang berhak kita miliki dan keruk keindahannya ialah apa yang
nyawa kita tempati saat ini.
Perihal
imbalan dan pertukaran, tentu sudah sering kita alami. Melakukan sesuatu,
bekerja, mengerjakan tugas sekolah, menyapu lantai rumah, mengedit makalah, dan
masih banyak lagi ialah bentuk aktivitas yang layak mendapat imbalan. Tenaga
dibalas uang. Atau di masa lampau orang bertukar garam dengan asam, tanpa uang
sebagai acuan. Sekarang, uang menjadi ukuran. Pekerjaan disesuaikan dengan
uang, bukan kebutuhan. Tapi wajar sebab beberapa dari mereka memang layak mendapat
balas jasa berupa setumpuk uang atas kemampuan yang tidak semua orang bisa.
Menggilanya balas jasa juga dengan mudah menjalari lingkungan pendidikan. Para
pengajar sekarang mengerjakan proyek layaknya pekerja, mereka bisa disebut
sebagai pendidik yang cari aman. Barangkali, mereka bahkan tak mendidik, lebih
sekadar memenuhi kewajiban dan lalu bekerja seperti orang kantoran lainnya.
Hanya mereka mendapat tunjangan hari tua. Tapi apa mau dikata, semua yang
membutuhkan tenaga ialah kerja. Lalu apa bedanya dengan para penjaja yang
menawarkan jasa pemuasan gairah bersenggama?.