Sabtu, 01 Oktober 2016

Menjadi aku.

Kedewasaan diukur dari apakah, kemampuan berpikir, kepekaan tindakan, atau keluwesan memperlakukan orang lain. Jika menjadi dewasa itu pilihan maka aku lebih suka memilih untuk bersikap seperti sepuluh atau dua belas tahun lalu. Menjalin relasi dengan orang yang kusuka, tidak perlu menahan diri ketika berada di satu tempat dengan orang yang tidak menyenangkan hati. Lagipula suara anak-anak tidak akan terlalu diambil hati meski kadang si anak berucap sesuka hati. Pernah dulu ketika bersama Bapak aku merengek kenapa kita mesti repot-repot membantu saudara yang sedang hajatan, sedangkan yang punya hajatan kan mereka tapi kok kenapa kita juga yang berlelah-lelahan. Bapak menjawab bahwa, jika nanti kita punya hajatan, maka mereka juga akan membantu kita pada akhirnya.
Poinnya pada waktu itu, kenapa aku memaksakan diri mengikuti kegiatan yang melelahkan padahal bukan kewajibanku untuk melakukan. Menjalani yang bisa saja tidak harus kita laksanakan, sebab mereka yang beraksi tapi mengapa kita juga yang harus bereaksi.
Apa yang para manusia dewasa lakukan pada waktu itu tidak masuk di akalku. Aku berkeberatan. Istilahnya mas Dodit, “kamu yang bikin soal, aku yang suruh jawab?”.
Apa yang para manusia dewasa lakukan tidak mengenakan.
Jika begitu maka melakukan suatu tindakan didasari pamrih!, padahal ketika itu aku masih ingat betul belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang mana dijelaskan bahwa jika kita membantu seseorang harus tanpa pamrih. Pikirku, jika memang aku lelah bukankah boleh saja aku tidak membantu mereka para pembuat acara yang maunya dibantu sedemikian rupa sehingga terselenggara lancar jaya.
Pernahkah kalian seperti itu, berat hati bila dimintai tolong, atau menolong orang lain agar suatu saat nanti orang itu berkenan menolong kita kembali?.

Tiga-empat bulan terakhir ini tanpa berpikir keras mengenai pamrih, berat hati, juga pertolongan kembali, terasa sesuatu yang lain. Hal mengenai hubungan timbal-balik antarmanusia, suatu bentuk interaksi di antara mereka, yang meskipun menguntungkan namun tidak selalu dengan bentuk yang sama. Lelahku bukan lelahmu. Tenaga yang tak sebanding tersebut lebih layak tak dibuat perbandingan. Sebab apa yang kita lakukan semestinya apa yang kita inginkan. Namun bagaimana ingin yang kadang tak terakomodasi dan juga tindakan yang kadang tanpa mempertimbangkan keinginan bisa saling disesuaikan ialah penanda kedewasaan. Setidaknya itu menurutku.

Ada sebagian yang merasa dewasa karena menang debat dari yang lainnya. Ada yang merasa dewasa karena selama hidupnya terbiasa tak berfoya-foya. Ada yang merasa dewasa karena mampu membanggakan orang tuanya, ada yang karena bisa menjaga saudaranya, ada yang karena bisa membiayai hidup tanpa uang dari orang tua. Sebagian lainnya memang sewajarnya.

Ah tapi biarlah, menjadi dewasa memang memuakkan dan menjadi diri sendiri tak bisa sembarangan.