Minggu, 11 September 2016

Kelam. Selami malam-malam, dalam hidup yang terlanjur tanpa paham.

Demi orang-orang yang terlantar. Terpinggirkan. Diabaikan oleh mayoritas, dianggap liyan dan suaranya tidak pernah dipertimbangkan. Demi mereka yang meneguk segelas air putih untuk setiap ember keringat yang setiap hari mereka keluarkan. Demi apapun juga yang telah mereka lakukan untuk bisa membeli sekilo beras, beberapa butir telur ayam, tahu dan tempe, serta beberapa ikat sayur lengkap dengan bawang juga cabai dan tomat. Kalian yang rela berpanas-panasan, membiarkan kaki melepuh dan kulit menghitam, wajah kusam dan tubuh yang dilekati rasa lelah. Walaupun lelah namun bisa bertahan, sanggup menahan lapar, ngantuk, dahaga dan amarah meski pernah merasa tidak diberi keadilan, dapat tersenyum dalam keadaan yang begitu-begitu saja. Kaki yang mengayuh sepeda sejauh yang engkau bisa, lengan yang tak berhenti melayani para pembeli, telinga yang selalu kuat meski sering kena hujat. Kalian yang meski tahu salah namun tak mau meluapkan amarah. Kalian yang diberi lebih akan tetapi masih mau menyisihkan yang ada. Merasa cukup dan terus berusaha. Keluhan yang tak seberapa dibanding dengan doa dan harapan yang kalian haturkan. Terimakasih atas senyum yang kalian persembahkan, termakasih atas ucapan sopan yang kalian utarakan, sikap ramah yang kalian perlihatkan.