Selasa, 06 Juni 2017

6

Tak ada kebijaksanaan pada jiwa-jiwa yang lelah dan selalu berkeluh kesah. Jangan harap nasihat dari para pencari kebenaran. Fana. Dan menyenangi yang sedang ditapaki. Mengagumi yang diimani. Kini dan akan berputar lagi.

Sabtu, 20 Mei 2017

102

Silakan saja kalian mengadu pada teman atau orang yang dipercaya. Hanya, seperti yang kubilang, setiap manusia punya kapasitas untuk mengkhianati manusia lainnya, meski dalam pikiran dan hati bukan dalam ucapan dan tindakan. Silakan saja kalian jujur kepada orang lain, namun jangan sampai tak jujur pada diri. Sebab tak ada yang peduli pada dirimu, selain dirimu sendiri.

Selama perilaku manusia masih berorientasi materi makin mudah setiap mereka digerakkan dalam kegiatan yang bertujuan menaikkan derajat sosial. Lalu benarkah manusia adalah makhluk sosial ataukah manusia adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya?

Sejak kapan manusia mempertimbangkan kepentingan manusia lainnya sebelum ia membuat suatu keputusan? Dan kenapa manusia hidup dalam bayang yang lain.

Pada akhirnya hanya ada dua perspektif dalam menjalani hidup ini; aku menjadi bagian hidupmu atau kamu menjadi bagian hidupku.

Sejarah ialah masa lalu dan masa kini yang segera melaju menuju masa depan dan semua tinggal sejarah di masa yang entah lagi hingga kapan.

Jenny=Fstvlst berujar :
Tentang benda-benda yang engkau punya dan engkau banggakan
Tentang gaya hidup yang kau kenakan dan bahkan kini engkau tuhankan
Tentang kekinian yang selalu saja engkau bicarakan
Tentang status dan posisi tawarmu di penglihatan orang-orang
Jangan harap itu bisa mengesankanku dan menjatuhkanku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah dan selamanya akan kau genggam
Tentang nama besar yang engkau sandang dan engkau busungkan
Tentang seberapa pintar dan cemerlangmu di penglihatan orang-orang
Tentang satu dua tiga peperangan yang pernah kau menangkan
Kalimat menjatuhkan yang jadi sering engkau ucapkan kau hujamkan
Jangan harap itu bisa mempercepatmu dan mengejarku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah kau punya
Dan atas nama segalanya yang engkau kira telah dan selamanya akan kau genggam
Seratus dua puluh sekian masih kan menambah kecepatan, kecepatan dan tak akan bisa kau kejar
Jangan harap itu bisa mempercepatmu dan mengejarku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah kau punya
Dan atas nama segalanya yang engkau kira telah dan selamanya akan kau genggam
Seratus dua puluh sekian masih kan menambah kecepatan


Kenapa dianjurkan berdoa dan juga berusaha, sedangkan masih ada perih dalam tatapan kosong pedagang mie tektek yang tiap malam mendorong gerobak dengan kaki-kaki rentanya.

Kenapa diajarkan menjadi sejahtera, sedangkan masih ada lelah dalam kayuhan pedal sepeda penjaja kacang rebus juga pengumpul kardus dan botol plastik di jalanan.

Kenapa diberi contoh berbagi, sedangkan dalam naungan halte transmetro seorang tua tak tahu lagi harus pulang apatah berteduh kemana.

Kenapa harus berilmu jika yang kau urus hidupmu melulu?

Untuk apa logika dihadapkan dengan rasa?

Kenapa berkomunitas tapi tak bertetangga?


Kenapa mesti hidup jika nanti mati?

Untuk apa hidup jika kelak mati. Lalu apa guna punya kuasa memilih dan mengolah raga, pikir, rasa, jika hanya sementara. Tak ada yang abadi. Lalu buat apa kau cipta ini semua?

Mengapa kau biarkan manusia menindas manusia dan kau tak acuh ketika manusia saling suka.

Kenapa kau ciptakan adam dengan hawa?

Kenapa manusia hidup bersama, tidak sekadar berpasang-pasangan saja?

Kenapa ada miskin ada kaya, ada benci ada suka, ada tangis ada tawa.
(Ada yang punya kesempatan menjadi lebih kaya dan banyak juga yang tak sanggup meningkatkan kesejahteraan hidup. Sebab struktur di masyarakat yang tidak memungkinkan.
Wacana, rencana, perjuangan tindakan untuk kehidupan lebih baik bukan untuk nama-nama.
Sejak kapan manusia jadi serigala bagi manusia lainnya.
Apa saja alasan manusia membantu manusia lainnya:
  • Berharap imbalan-Nya
  • Agar dianggap baik oleh lainnya
  • Memuaskan hasrat kepahlawanan
  • Agar dibantu juga olehnya kalau sedang sulit
  • Mendapat untung materil
  • Karena manusia tersebut memang butuh dibantu
  • Karena manusia tersebut ingin membantu)


Kamilah makhluk sempurna! Sesempurna gelisah dalam tanya tentang apa, mengapa, bagaimana. Tak ada jawab, kecuali jika mau mencarinya. Sempurna. Usaha, kerja. Lalu doa? Bukankah kerja juga sebentuk doa?

Siapaku ragukanmu adalah pertanyaan oleh-Mu padaku.

Jika konsensus adalah sebuah upaya agar hak hidup manusia lain tidak dirusuhi, mengapa nafsu menjadikan manusia lain lebih disegani?

Pada akhirnya kita akan jadi pupuk tanah-tanah gersang. Menjadi makanan cacing, sendirian, kedinginan. Maka apa salahnya tidur di bawah buaian hangat matahari pukul sepuluh pagi. Carpe diem katamu, beribadah, dan jadilah manusia. Akan tetapi tidur seharian juga tak perlu disayangkan dalam rentang umur yang singkat katanya.

Tidurlah, tidurlah jangan takut tak bangun lagi. Selagi cukup makan dan minum, tidurmu menyenangkan.

Dan sementara akan kututup dengan paragraf ini:

                Kami mungkin seperti Nuh yang mencipta bahtera dan mengisinya dengan hal-hal yang kami suka. Tapi tidak terjadi banjir. Dan tabung gas lima kiloan yang tersambung dengan kompor yang kami nyalakan meledak, dan membakar habis kami dan hal-hal yang kami sukai.


Rabu, 17 Mei 2017

CULAS.

Tercerabut dari akar-akarnya. Tersungging senyum pagi hari. Terancam oleh manusia lain, menyalak di keramaian pasar. Kurangi perhatian. Kebesaran tafsir dan kehebatan kata. Secuil makna, sedikit asa. Jernih doa, tujuan tanpa nama. Alamat yang tak pasti. Runtuh tembok wibawa, manusia berkelakuan seenaknya. Kerja sekenanya.

Kekerasan di mana-mana. Hati ternoda. Jiwa sakit. Pikiran tumpul. Kirimi kami nasi. Dan doa-doa di pagi hari. Sumpah serapah. Nafsu yang latah. Birahi di ketiak televisi. Hasrat berdengung di sela-sela kontrakan murah.

Gelas-gelas kaca penuh darah dan keringat petani. Nyanyian jiwa. Mata bersinar juga hati gusar.

Batas-batas kewajaran terlampaui. Rumus-rumus jualan dihindari. Manusia mati, tak bisa mengubur diri.

Kodok dan ayam bersahutan, semacam malam dan siang yang berbagi peran.

Jika tak mau jangan mengganggu. Jika tak kuasa jangan henti berdoa.

Jadilah mati dengan tenang.

Hiduplah dalam damai.

Minggu, 23 April 2017

Tidak ada yang baru di bawah matahari dan segala akan mati.

Sudahkah melupakan apa yang ingin diingat, melihat sebagian yang tak lagi kita rawat. Mudah membiarkan perasaan yang tak kita inginkan membaur dalam remah-remah percakapan. Dan terlalu mudah kita melupakan kemudian. Jika ingatan akan lupa tak mampu kita pupuk sedemikian rupa maka kehancuran ingatan selanjutnya tak kan terlewat. Dan dari segala ingatan akan kata, maka setidaknya kita mampu melupakan sebagian dari makna. Lalu kata-kata sebatas alat bukan tujuan, dan makna tak lagi lekat padanya.
Harapan yang kita tujukan pada kata-kata yang kita ucapkan seringkali hanya menjadikan kita semakin merana. Ia; harapan, tak sudi kita damaikan dengan kenyataan. Sebab selalu ada rasa dan logika yang tak patuh pada keinginan dan tak mudah diabaikan. Seribuan malam yang sudah dilalui dan dingin sunyi yang menembus selimut dan kaus kaki bukan pantas dijadikan kenangan, hal itu cukup menjadi pengalaman. Pengamalan petuah sang bijak pada malam-malam tertentu sering dijadikan lumrah. Sebagai kudapan pada malam-malam gelap yang terlalu ringan, angan akan kebenaran lambat untuk diwujudkan.

Keributan pada hari yang sepi membawa angin segar akan pengalaman yang tak jauh pernah dialami, bahwa kepala yang kosong dan berisi sebuah otak ini pada waktu silam dijejali berbagai informasi dan dihadapkan berbagai kondisi. Ramalan bintang oleh para pengajar mungkin salah, juga mengenai teori akan masa depan yang dituliskan tak semuanya cocok diaplikasikan.
Rumah-rumah yang berjajar rapi dan tak pernah saling sikut, dikemudian hari menyadari bahwa penghuni mereka semakin mudah marah, bukan lagi manusia konvensional yang sabar pun tabah. Tembok-tembok dengan cat terkelupas dan ditumbuhi lumut menjadi tempat kencing paling nyaman bagi pemuda tanggung di sekitaran.
Ruang-ruang hijau yang dialiri air dari pedesaan di sebelah selatan mulai kering dan tandus oleh kemarau berkepanjangan. Anak-anak bermain di bawah debu-debu tanah kering, terpeleset kerikil dan batu kecil dan tak kuasa menahan dahaga di bawah rindang pohon tua.
Mereka mengucapkan sesuatu, berbisik, saling menyahut, beberapa saling membentak, namun kata-kata yang mereka ucapkan bukan lagi bahasa yang berdaya guna, bagi mereka kata-kata tersebut telah kehilangan makna sebagai penunjuk suatu benda dan atau peristiwa. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka kini bercampur dengan debu-debu kering di ruang-ruang hampa kerongkongan. Melebur dengan dedaunan yang jatuh di got-got kotor perumahan. Menjadi satu dengan kotoran kucing di gundukan pasir di tengah-tengah taman.

Kehidupan monoton tak beriak-bergelombang mudah ditebak. Dalam putarannya yang selalu. Dan dalam ingatannya yang mulai layu; kehidupan menemui jalan memutar yang tak kunjung usai. Ibarat labirin besar nan rumit, kini ia seakan berkelit. Kehidupan seringkali begitu megah, dan sekaligus bagi yang lain terasa begitu sederhana dan sengsara. Namun diantara pengagum dan penghujat ada sebuah kesepakatan bahwa kehidupan yang telah ditawarkan dan didapat tak boleh disia-siakan.
Nafas yang menderu di tengkuk perempuanku, dan hangat dalam pagutan lidah malam itu. Hidup yang menemukan gairah tapi bukan sesuatu yang baru, hidup seperti itu adalah kebutuhan yang harus diselaraskan. Ia; ingin yang dihajatkan. Dalam remang hidup dan kehidupan pongah, sekalipun terasa gerah, ada saat-saat wajah yang muram itu merona merah.
Lalu ketika udara hambar merasuk di lubang hidung dan lembab di kulit mulai mengganggu, kau akan meletakkan tugasmu, sebentar, untuk mengeringkan badan juga membasuh kepala yang mulai panas oleh ide-ide gila. Ide dan gagasan yang berpacu di kepala di sore hari yang panas dengan angin berhembus cukup lama. Ide dan gagasan yang tak setiap hari muncul dan mereka timbul tanpa diduga. Tumbuh di ingatan diejawantahkan dalam tulisan dan berakhir pada percakapan dengan teman.

Kegembiraan aneh seringkali datang meski sejenak, lalu pergi bersama dengan deru motor dan mobil pagi hari. Semacam polusi udara yang pengap, hitam, dan kotor, kegembiraan itu berbondong-bondong ditekan jumlahnya. Gembira yang melenakan adalah pembunuh nomor satu dari kewarasan, padahal jika boleh jujur gembira ialah efek samping dari perasaan lega.
Maka pada waktu sial tiba, aku akan terlihat tersungkur di pinggiran jalan akibat lalai menekan rem sepeda, pada saat itu kepala sedang terisi oleh angan berduaan dengan si dia. Ya, gembira pada waktu itu karena tak kusikapi secara seksama malah menimbulkan problema. Namun sekali lagi, gembira juga bukan tujuan sebab hidup terlalu rendah jika disikapi demikian.
Di gelas-gelas kosong bekas pembeli menghabiskan teh atau kopi sedemikian hebat senyum itu terkembang menampakkan gigi-gigi yang terawat. Luka-luka yang dulu didapat seolah menemukan penawarnya, kepuasan pelanggan telah menjadi obat yang mujarab. Doa-doa yang dilantunkan pada menit-menit sebelum terlelap terdengar merdu bercampur aroma tanah basah pada dini hari di akhir minggu. Seolah membuktikan, hari-hari biasa setelahnya luka itu mulai tersimpan dan hanya jadi bahan; untuk diingat dan jadi pengingat, sekaligus tak perlu lagi diisolasi dan diberi obat.

Kurang lebih dalam seminggu ada waktu untuk membaca buku yang masih jauh dari predikat penuntut ilmu, tapi begitulah ia menjalani, pelan-pelan dan kadang membosankan. Dan saat kesibukan di luar rumah menuntut kekritisan, pembiasaan diri untuk membaca beragam informasi dan berdiskusi hasilnya adalah kelelahan membayangkan apa yang akan terjadi dan untuk apa semua ini. Beberapa jam dihabiskan hanya untuk merenung; akan jadi apakah aku ini?. Sehingga budaya berpikir berakhir pada ketakutan dan akibat fatalnya ialah menganggap sinis yang orang lain lakukan, malas berbuat, dan tak mau tahu keadaan yang terjadi di lingkungan pertemanan.
Kefanaan manusia dan eksistensi palsu dihadapan orang-orang menjungkalkan prediksi; diri berpotensi yang mampu mempengaruhi. Sebab apa-apa yang dilakukan dan kemudian ditiru oleh liyan hanyalah pemenuhan nafsu akan pengakuan. Agar diakui bisa, diakui punya kuasa, diakui berbeda, diakui kecerdasannya, dan diakui kehebatannya. Pada tahap inilah media massa menjadi sarana paling jitu, untuk melancarkan aksi penghakiman terhadap mereka-mereka yang terpinggirkan, terhadap mereka yang tak sejalur dengan arustama.

Cahaya berpendar di ruas-ruas jalanan kota ini tak menyiratkan ketulusan. Mereka hanya datang untuk dilupakan. Begitu saja tanpa perayaan yang semestinya manusia-manusia itu lakukan. Pendaran lampu jalan, pun cahya redup rembulan tak disemai dengan keindahan. Dilewati laiknya genangan air yang terhempas ke tubuh-tubuh pejalan kaki. Yang namanya kenangan dalam balutan sinar hangat kebersamaan telah dikebumikan bersama peti mati imaji dan keberanian. Mereka yang menyaksikan, melangkah keluar rumah dengan pelan, mencoba mencari dalam perpustakaan ingatan sebuah kata untuk menggambarkan suasana kekalutan. Yah, mungkin keterlambatan, atau bisa jadi penyesalan.
Pekerjaan paling berat ialah melupakan dan pekerjaan paling berani ialah memaafkan. Maka jika tak mampu menemukan mata pencaharian, setidaknya sanggup untuk memaafkan kesalahan; diri pun yang lain. Serta jika tak sanggup melupakan yang sudah tersimpan dalam memori sudah seharusnya merancang strategi perdamaian. Sebab hidup terlalu rapuh jika diisi oleh kebencian. Rindu yang menyayat perasaan tak mampu menjadi obat kebencian, benci yang terakumulasi dan tertata rapi di satu pihak bisa menjadi amunisi, dan sekaligus mengubah wujudnya serupa minyak panas yang diguyurkan ke kulit manusia.
Ketenangan pada jam-jam dini hari dan juga gerimis yang awet memberi perasaan malu. Menggiring pada cita-cita yang masih berupa wacana. Mengajaknya kembali menyusuri kepentingan-kepentingan yang ingin dipenuhi. Dan bahkan menerjemahkan kegetiran kopi dan apa maksud serta tujuan kehidupan.

Lalu, kita kembali pada jam-jam setelah berpeluh dan memeluk kesepian. Pada antusiasme dingin yang tertahan. Dan pada hasrat murni yang malu-malu. Bukan sebab tak mampu, melainkan rencana-rencana ke depan yang seolah muskil sedikit banyak membuyarkan konsentrasi kopulasi.
Keengganan membicarakan hal-hal yang dianggap terlalu jauh malah membuatku semakin menjauh dari relung hatimu yang selama ini kuselami-kuamini. Mata yang menelanjangi dan bibir tipis merah muda dilengkapi hidung dalam takaran tak mengada-ada, ialah kombinasi yang tak mampu kudustai, tuk dikagumi.
Kesalahan di masa lalu terlalu sulit dilupakan meskipun sudah kau coba maafkan. Jalan yang kemudian kita tempuh semakin menguatkan karekter masing-masing. Tanpa diduga kita bersua di persimpangan yang sama, untuk kembali melanjutkan perjalanan ke arah yang berbeda. Sekejap kusadari, mungkin ini yang terakhir sebelum ketegangan-canggung yang menjalari diri bisa perlahan kita pangkas. Kebebasan yang terlihat kekanak-kanakan seharusnya kita rayakan kemudian. Setelahnya kita merasakan langkah ringan dan tawa lepas. Juga jalan-jalan yang kita tempuh tanpa rencana yang jelas serta baju-baju lusuh dan wajah sumringah, menyatu dalam perjalanan panjang yang penuh emosi- memori.

Aku tak pernah terbuka akan suatu hal dan lebih suka mendengar orang lain berbicara tapi tak pernah suka orang yang terlalu banyak bicara. Dan di sela-sela waktu merenung, tidur, membaca dan aktivitas lainnya aku telah menulis beberapa catatan.
1.       23:49 yang gerah. Dalam samarnya neon jalan sayup-sayup dendang Gereja Tua merambat pelan.
2.       Padanya yang selalu bisa membuatku jujur sekaligus tak mampu beranjak.
3.       (Kan). Hangat yang terpampang sebagai bentuk ideal dibenturkan fakta empirik harian. Sunyi memberi-merawat tanpa pamrih, dan tak jua lekas memadu kasih. Menjelang akhir ia hampir putus asa berpikir. Tak ada yang sekaligus bersua dalam takdir. Margot dan Richie memang punya cerita yang belum usai. Begitupun kepak sayap petualangan Mordecai.
4.       (Selasa). Cuaca yang bersahabat. Mendung yang tak jadi hujan. Kipas angin berputar lambat. Sarung bantal lama dipakaikan; wangi, dan Setangkai Anggrek Bulan dilantunkan.
5.       (Di ribaan jalan). Kalkulasi jual beli. Keuntungan yang dipertuanagungkan. Imajii menipu diri. Kehormatan yang diperjuangkan. Sebab pulang ialah kerinduan. Dan tetap di jalanan niscaya kan kesepian. Malam dan waria yang menghangatkan. Muatan dan gaji yang melecahkan. Roda berputar pelan, mengatur strategi hindari pungli. Kawan lama itu menyapa, membelai kepala mesra. Bertukar kabar dan berita. Saling harap jadi kaya dan tak perlu lagi biarkan istri dipeluk tetangga.
6.       Aku Cuma butuh perhatian dan kepedulian dan cinta. Aku gak butuh semua uangmu, Cuma beberapa biar gak mati kelaparan. Aku bisa mencukupi kebutuhan primerku, tanpa perlu jadi hedon apalagi kambing jantannya kaum kapitalis.
7.       Femme fatale dan satu cup pop mie rasa ayam sebelum adzan subuh berkumandang. Pagi yang kepagian kusambut datangnya. Menyisakan hawa sejuk di permukaan tumbuhan. Femme fatale dan merdu kehidupan bumi. Engkau yang jauh dan angkuh. ‘She builds you up to just put you down, what a clown’. –dari Andy untuk Edie, ditulis oleh Lou
8.       (Lewat begitu saja). Aku adalah bukan siapa-siapa di kota ini. Kota yang gersang kini ditumbuhi alang-alang. Dihuni kawanan binatang. Aku bukanlah apa-apa di kota ini. Penikmat terik siang yang tak tahu harus berbuat apa. Melihat sekitar tanpa kepastian. Ingin sesuatu tapi tak tahu apa itu. Lupa waktu terjebak masa lalu. Dibuai harapan merawat ingatan. Merasa hebat padahal tak bermanfaat. Aku siapa di kota ini. Lamunan-lamunan siang hari meredam hawa panas negeri ini. Taring-taring mengoyak daging. Bersilat lidah menoreh luka. Mimpi siang bolong lebih menenangkan, kemenangan yang tertahan. Aku lah orangnya. Orang yang di kota ini membenci segala yang ada. Mensyukuri apa yang diterima. Tak serius dengan pilihan. Sering bercanda dengan sesama ciptaan. Mendapat pelajaran dari ketidaksengajaan. Tertawa riang dalam kesunyian. Mengeluh resah dalam kesibukan. Remuk redam saat penggembalaan. Rindu rumah yang ditelantarkan. Mengisi ruang yang ditinggalkan. Dihimpit gelisah penantian. Ditebas ganas hati tak bertuan. Akulah orang yang; jika marah suka memukul, jika sedih sering tersungkur. Aku ialah mereka yang mengakuiku.
9.       (Mengucapkan selamat tinggal). Pagi ini berkerudung hitam dan bedak tipis di muka. Engkau menyiapkan segenap keberanian untuk kesekian kalinya, untuk sebuah momen pertunukan yang mungkin juga terakhir kalinya. Sebenarnya tak ada yang istimewa darimu selain kecerdasan dan kepercayaan diri. Selebihnya engkau manusia; yang kentutnya bau. Pagi ini gembira dan haru menyelimutiku. Ialah pertunjukan terakhirmu yang menjadi musababnya. Laiknya penari di atas altar penghakiman, ‘diri’-mu lebih terlihat nyata. Busana enak di matadan tutur mengalun rapi selama presentasi hasil karya. Meski karyamu tak sempurna tapi aku salut dengan kegigihan dan kesungguhanmu mengerjakannya hingga kau terlihat begitu menguasai apa yang ada pada fenomena. Kekagumanku tak terhindarkan, kebahagiaan mulai kurasakan, kesedihan mencekik perlahan. Bagimu mungkin tak seberapa, bagiku itu bak pertanda. Bagiku ini telah usai meskipun aku tak pernah memulai. Kecuali, pernah, dulu aku sampaikan sesuatu. Ah, tapi tak usah, dirimu cukup mengetahui saja, bahwa ada pengagum yang tak lekang waktu. Dan kali ini tugasku telah selesai, apa yang telah Tuhan kehendaki telah aku tunaikan. Puisi-puisi yang telah kutuliskan biar kusimpan, bukan aku tak membutuhkan aku hanya tak mau dibuai harapan. Puisi-puisiku biarlah menjelma jadi perilaku dan perkataan yang memuliakanmu. Puisi-puisi itu tak pernah menyimpan kebohongan. Meski sesungguhnya puisi-puisi tersebut fana dan engkau yang abadi. -5/12/16
10.   Orang baik juga pendendam; ketika ia tak mau membalas perlakuan orang lain, lalu dalam hati memohon kepada Tuhan agar memberi balasan yang pantas pada orang tersebut.
11.   (Ingin berkata jujur). Sebelum malam digulir pagi, ada hal-hal yang masih tak pasti. Riak-riak angin malam menawarkan pertemanan. Dan aku yang menanti tak kuasa menyiasati. Diam yang berkelanjutan terlalu naif dibiarkan.


Bukan hanya rendahnya kemampuan mempercayai apa itu hidup namun juga ketidakmampuan untuk menjalani hidup tersebut.

Jumat, 03 Maret 2017

Bara.

Jika aku bertanya tentang kejujuran, maka peristiwa apa yang akan kau ceritakan?
Tidak?
Atau berkeberatan?
Baiklah, inilah yang akan kusampaikan. Kejujuran ialah hal yang baik, tapi efek sampingnya tidak pernah berjalan menyenangkan. Apa aku pernah bertanya kenapa kita harus jujur dan tidak terkungkung dalam imaji masa depan?. Ya, sebab hidup ialah jalinan tindakan. Langkah yang berulang, namun jalan tak pernah berujung kecuali pada kematian. Dan kematian apa yang terdekat dari hari ini; yaitu tak pernah memaafkan kesalahan. Maka begitulah awal dari sebuah cerita. Kejujuran itu kusampaikan ketika usiaku belum genap enam belas. Kejujuran yang sekarang aku apresiasi sebab dengan itu aku belajar menyadari; bahwa hati tak boleh dipaksakan. Bahwa mencintai ialah kebebasan meski diharuskan menetapkan satu pilihan. Lagipula jika kita memilih satu maka mau tak mau kita berkewajiban menanggalkan yang lainnya. Lalu, apabila kemudian kita tak mendapatkan apa-apa selain penyesalan, tengoklah sebentar apa saja kemungkinan yang bisa kau lakukan.
Dari kejujuran kecil yang pernah kulakukan, aku melangkah tanpa tenang, seolah akulah pemantik salah. Dan darinya aku tak pernah bisa kembali jujur terhadap diriku sendiri. Mungkin itu yang pertama, tapi kuyakin bukan yang terakhir kalinya. Kejujuran yang menyakitkan. Membawaku menjauh dari pusaran. Menerbangkan angan. Namun tak pernah mampu membuatku berhenti berjalan.

Pertanyaan kedua, bila aku dirimu maka siapakah yang akan paling kau rindukan kedatangannya?
Kenapa diam?
Tak usah takut.
Aku tak pernah kuasa mengendalikan hasrat. Egosentris yang mengakar kuat. Keinginan memiliki apapun itu tanpa diganggu gugat. Tak pernah mau kalah meski oleh sejawat.
Namun dalam diriku selama masa perenungan di malam-malam itu, aku mulai merelakan apa yang namanya kepemilikan. Bahwasanya tak ada yang lebih abadi selain mengagumi-mencintai. Meski waktu tak pernah memihak, meski selalu tak terlihat.
Aku tak pernah mau berbagi, tapi tingkat tertinggi kekesalanku ialah membiarkan orang lain mengoperasikan mainan kesayanganku, sedangkan aku hanya akan tersenyum karena tindakan seperti itu ialah kebaikan menurut mayoritas kalian. Walau, ketika malam menjelang semua yang aku ikhlaskan kembali muncul seperti beban. Membuatku tak berani tuk sekadar membayangkan.

Satu yang perlu kau camkan ialah aku tak akan pernah mengambil pun menyentuh sedikitpun apa yang dimiliki orang lain, tanpa perintah, tanpa tekanan.

Senin, 20 Februari 2017

Leveller2.

Bersama hening malam selepas hujan yang meninggalkan udara lembap.
Tersumbat akal sehatku.
Berat kepala dan kusandarkan pada bantal di kamar lawas.
Tentang kelaparan, ketidakadilan, dan nyawa yang tercerabut bagai kapas dihempas angin kering musim kemarau.
Perjuangan ini tak akan menemukan ujungnya, pikirku.
Wacana dan teori-teori rumit itu menggumpal tak sanggup melancarkan perjuangan para pedagang, buruh, petani.
Kuas berhias darah ditorehkan pada sebuah layar lebar keramaian.
Pada saat itu kebebasan sudah resmi dikekang.
Pendapat perlu disaring kembali.

Malam menyeruakkan bau tanah basah, rumput kemilau di bawah sinar purnama, dan genangan memantulkan kenyataan.
Surat-surat yang kutulis dan belum sempat kusampaikan, kini tersimpan rapi di lemari.
Gerakan untuk keadilan dan kelelahan berpikir kritis menguras energi.

Leveller.

Kami ada seperti debu-debu berserakan.
Kami hadir seperti bayang-bayang gelap dalam terang siang.
Kami samar dan tak pernah memihak satu.
Sebab kami tahu; ada tindakan yang benar yang dilakukan oleh orang jahat.
Kami tak kenal kata anti, dan tak pernah merasa alergi.
Setiap kelas kami singgahi.
Setiap golongan kami selami.
Ruam-ruam pada kulit kami bukan kilah kesehatan.
Goresan dan luka menganga ialah bagian diri.
Sepi yang melaju dalam koridornya.
Mengibaskan cahaya.

Fantasi dan imaji berpaut di kepala.

Jumat, 20 Januari 2017

Surat untuk ibuk.

Sudah hampir lima tahun aku di kampung orang. Tempat yang teramat berbeda dengan dusun kita yang teduh itu. Sudah hampir selesai pula masa sekolahku, dan akan segera kusandang gelar sarjana di akhir namaku. Tapi buk, apalah dayanya seorang putra sulung terbang tinggi nun jauh disini tanpa suatu hasil yang bisa dibawa pulang nanti?
Aku tahu ibuk dan bapak mungkin tak pernah memintaku kembali dengan sebongkah emas atau sekarung uang. Tapi sebagai anakmu, anak kalian yang kalian lahir dan besarkan dengan ikhlas, aku masih tetap akan meyakini bahwa hidupku juga tentang ibuk-bapak dan adekku.
Jika berkenan akan kusampaikan sesuatu. Buk, aku tahu simbah dan ibuk selalu mengajariku mengaji mengenalkanku tentang agama dan bagaimana menjalaninya. Dan aku juga bersyukur bapak bukan tipe orang yang mau menang sendiri, meski di hadapan putra-putranya ia tegas dan keras, di depan orang lain ia tipe orang yang tidak suka memantik konflik. Dari bapaklah kemudian kami diajarkan bagaimana menghadapi orang lain, bergaul, dan memperlakukan orang lain bahkan menyayangi mereka.
Begini, entah bacaan apa yang telah mempengaruhi pikiran dan jiwa ini akan tetapi aku, anak sulungmu, merasa bahwa tak ada balas dendam yang lebih mulia selain menyejahterakan kalian berdua di hari tua. Aku sadar aku tak lagi remaja, dan teramat sadar bahwa kalian juga menua. Rambut hitam kalian, tangan-tangan dengan otot-otot tegas itu kini mulai sayu. Tubuhmu mudah lelah tetapi semangat dan doa-doamu semakin riuh rendah.
Aku bukan lagi kenari dalam sangkar, yang meski nyaring berbunyi tetapi tak terlalu kuat melawan angin liar. Kepak sayapku tak lagi mudah, cakar dan paruhku semakin liat. Dan semenjak itu aku tak lagi ingin menjadi yang kuingat. Aku ingin terbang lebih tinggi lagi, lebih jauh keliling bumi. Aku ingin menari bersama awan namun dalam inginku juga ada angan berenang dengan ikan. Aku gemini, lahir di bulan juni, dan mungkin karena itu aku tak terlalu kuasa memilih mana yang harus kucintai. Pada saat seperti itulah aku ingin mendengar pendapatmu, ibuk. Selama ini aku tak terlalu mengindahkan kata dan hanya mengaminkan doa. Sebab aku merasa jemu jika harus menuruti perintahmu, tapi itulah aku yang akan tak selalu patuh namun masih sering luluh. Aku ingin ibuk membaca pesan singkatku dan lalu membalasnya dengan bahagia karena aku telah memilih apa yang juga kau cinta. Tapi apa, dan bagaimana aku melakukannya.
Aku ingin pulang bukan sebagai anakmu saja pun seorang dewasa yang punya kehendak dan bertanggung jawab penuh atasnya. Dan ini yang ingin kuutarakan:
Setiap menit yang tersisa ialah peluang mengada untuk kalian yang bersahaja. Menyampaikan doa dan berdialog dengan pencipta. Dalam riuh kepalaku, aku sadar dan menginginkan sesuatu; pada usia tiga puluhku setelah aku memberikan apa-apa yang kalian butuhkan aku akan pergi lagi entah kemana. Mungkin sendiri, mungkin berdua. Ke suatu tempat yang mengijinkanku menggelar segala imaji dan kata. Berbicara apa saja dengan yang ada, menulis dan kembali tertidur pulas di pangkuan semesta. Kurasa tak lama, aku hanya ingin, sekali itu aku menafsirkan kembali hidup, cinta, aku, dunia, keluarga, semesta, juga pencipta. Aku pergi hanya untuk pulang, bukan lari. Karena sekarangpun telah kupilih dengan sadar; apa yang kusanggup itu yang akan kujalani.


Selasa, 17 Januari 2017

Penundaan Menuntut Tanggung Jawab.

Mufakat yang diskenario.

Demokrasi di muka, fasis di kepala.
Lautan manusia hanya sepenggal kisah, darah dan air mata tak ada habisnya.
Kurasi peristiwa, sambung menyambung dengan perantara.
Siapa kuasa ia mengendalikannya.

Subuh berhenti, diujung petang gagak menanti.

Tak ada lagi tangisan sendu, mata terbiasa berurai tanpa disengaja.

Kering tanah, rumput mati, dan ternak kelaparan ialah teman.

Narasi apa yang mereka simpan dan takdir apa yang mereka percaya adalah dua hal berbeda.

Satu pasrah yang lain tak mau mengalah.
Kembalikan jiwa-jiwa yang lelah.
Tubuh lesu dan debu di wajah.
Meski belum sudah.
Menentang memantik amarah, kalah tak dapat dikilah.

Senin, 16 Januari 2017

Klisikan

Di sudut-sudut sepi
Di ambang batas kota imaji
Disekat-sekat budaya massa
Engkau hadir dengan penuhmu
Tanpa ragu
Dinding-dinding kotor ruko pinggir jalan
Lantai berlubang kedai makan
Warung pinggiran berdesakan
Luapan ingin tumpah ruah
Duduk di kursi plastik, dengan resah
Mengingat yang lewat
Lekas menyadari
Nikmat mana lagi yang telah didustai.

3/1/017

Senin, 09 Januari 2017

Pulang.

Adakah yang lebih gecul dari seorang anak laki-laki yang merindukan rumahnya. Meski selalu enggan berpelukan dengan bapaknya atau mengucap sayang pada ibunya, apalagi untuk menyemangati adik satu-satunya.