Rabu, 17 Mei 2017

CULAS.

Tercerabut dari akar-akarnya. Tersungging senyum pagi hari. Terancam oleh manusia lain, menyalak di keramaian pasar. Kurangi perhatian. Kebesaran tafsir dan kehebatan kata. Secuil makna, sedikit asa. Jernih doa, tujuan tanpa nama. Alamat yang tak pasti. Runtuh tembok wibawa, manusia berkelakuan seenaknya. Kerja sekenanya.

Kekerasan di mana-mana. Hati ternoda. Jiwa sakit. Pikiran tumpul. Kirimi kami nasi. Dan doa-doa di pagi hari. Sumpah serapah. Nafsu yang latah. Birahi di ketiak televisi. Hasrat berdengung di sela-sela kontrakan murah.

Gelas-gelas kaca penuh darah dan keringat petani. Nyanyian jiwa. Mata bersinar juga hati gusar.

Batas-batas kewajaran terlampaui. Rumus-rumus jualan dihindari. Manusia mati, tak bisa mengubur diri.

Kodok dan ayam bersahutan, semacam malam dan siang yang berbagi peran.

Jika tak mau jangan mengganggu. Jika tak kuasa jangan henti berdoa.

Jadilah mati dengan tenang.

Hiduplah dalam damai.