Paling merasa benar itu
menyenangkan. Merasa benar membuat hati tenang. Merasa benar menjadikan gejala
keretakan tak ubahnya letupan sekejap. Kadang merasa benar juga mengingatkan
ketidakbenaran dari keyakinan. Terjerumus dalam perangkap seperti ini tidak kentara,
terperangkap oleh jerat – jerat halus tak kasat mata. Meyakini hanya satu
kebenaran juga membingungkan, apalagi jika dihadapkan oleh kebenaran –
kebenaran lain yang diinternalisasi oleh yang lain. Susah memang, perlu
kerandahan hati, adaptasi, penekanan pada ego terlebih amarah.
Beranggapan sejarah sebatas masa
lalu tanpa perlu pertimbangan proporsional dalam pemaknaan menandai kebenaran
tidak bisa utuh dan absolut. Apa yang menjadi pertimbangan dengan hal itu ialah
berikut;
Tidak baik membanding – bandingkan. Tidak elok
menganggap remeh selera berlainan. Tidak mudah menerima kritikan. Tidak
terbiasa tetap tersenyum meski direndahkan di depan mata. Tidak usah terlalu
rapuh dengan ejekan yang lain. Tidak harus menertawai yang tak sanggup. Tidak perlu
mengatai yang tidak sama. Tidak lelah bersabar pada yang belum paham. Tidak
lemah walau terus disalahi. Tidak bijak dimarahi balas memarahi. Tidak segan
menjabat pada yang kita anggap hebat. Tidak sungkan menyapa meskipun tidak
dihiraukan. Tidak perlu berpikir dua kali jika memang untuk kebaikan.
Selanjutnya dalam pemahaman
dangkal dan pengalaman yang teramat minim ini, terdapat kegelisahan yaitu jika
kemudian kebenaran yang kita anggap benar bisa membawa kita pada level tak
terhingga, bisakah setiap orang yang melakukannya menjadi yang pertama
semuanya, setiapnya, tanpa kecuali, tanpa pandang bulu, bersama – sama dalam
satu golongan yang bahkan menjadi satu – satunya yang ada di semesta, tidak ada
yang lainnya, hanya mereka. Lalu di manakah kita, yang merasa benar karena
telah dihadapkan dengan para perasa benar yang mengakui kebenaran lainnya tanpa
menyalahkan mereka.
Pengakuan diri akan suara yang
lain, menghargai sekaligus mengasihi ialah laku padu dalam penyelarasan atas
keberagaman kebenaran. Terbitnya matahari pagi juga penanda adanya kesempatan
bertindak nyata, embun yang membasahi rerumputan mengilhami imaji untuk saling
mengasih sayangi. Segala kata yang menunjukkan keindahan dan kebaikan terangkum
dalam satu istilah, cinta. Jika dan hanya jika kita mampu memaknai, mengamini,
menjalankan, dan apapun itu yang melandaskan diri padanya, kemungkinan terburuk
terjadinya pengabaian terhadap yang lain semakin mengecil. Apakah terlalu naïf
jika kemudian kita sering menyebut satu kata tersebut.
Pedoman yang tidak dapat
digoyahkan bahkan oleh kebencian akut di muka bumi, seperti kembang rerumputan
yang tak tercerabut dari tanah kala badai menerjang. Hidup yang penuh dendam
amarah tidak bisa merasakan satu sentuhan lembut kasih di ujung jari. Begitukah
yang dirasakan oleh para perasa benar yang terlanjur tenar. Masih berupa
pendapat kasar.
Sebuah pernyataan keheranan pernah
tercatat;
Di setiap langkah yang tertuju pada kebahagiaan,
selalu ada pribadi – pribadi yang tak sungkan untuk mengembangkan sayapnya bukan
hanya agar dia dapat terbang lebih tinggi, lebih kuat menembus badai dan
derasnya angin. Mereka turut serta menaungi yang lain sekaligus dalam usahanya
untuk memperbaiki diri. Kegelisahan yang terpancar dari wajah – wajah muda
menjadi awal dari sebuah keinginan untuk mengenali lebih jauh apa dan bagaimana
ia bisa hidup menjalani hari, bersahabat dan beradaptasi, mengayun, mengalir
alun.
Dari
segala pendapat mengenai kesenangan, biasanya dapat digambarkan lebih rinci
misalnya dalam mengarungi lembah gegap-gempita asmara. Di dalamnya tidak hanya
mengandung jawaban kenapa kita bisa bahagia pun juga kesadaran bagaimana kita
mengejar keinginan dan menciptakan kebahagiaan dengannya. Sesederhana nasi
padang dengan lauk rendang. Seterbiasa itulah kesenangan asmara terpantau dalam
kepungan polah bungah sepasang manusia.
Masih
dalam pandangan awal, jika saja apa yang disebut sebagai hambatan selama
mengarungi lautan suka cita ialah pengkhianatan. Maka, jelas wajar bila
keduanya tidak mau lagi saling menepikan ego barang sejenak. Dan ini yang
menjadikan kesenangan sekaligus rentan, rapuh dalam hirupan nafas kukuh.
Getaran suka, beralih menjadi genderang pertikaian. Amarah terlontar dalam
setiap pandangan, tatapan licik menghantui keterlibatan niat memperbaiki keadaan.
Jaring
penghubung manusia, relasi pertemanan dan sebagainya tak pantas diperlakukan
sebelah hati. Butuh penyesuaian kerendahan hati dengan kepercayaan diri, biar
mampu, mengendalikan dan tak terjerat nafsu pongah.
Ringkih, getir, dan riang sekaligus. Meskipun dihadapkan pada batasan –
batasan tertentu semua masih sanggup dilewati dengan kepercayaan diri. Apa yang
akan terjadi selanjutnya benar – benar mengikuti arus. Pelayanan maksimal pada
lainnya yang mau menerima dengan tanpa sungkan. Kecakapan berbalas ungkapan
bersahutan menjadikan sore yang panas sebatas rutinitas, tanpa beban yang perlu
diratapi berlebihan. Aura kejenakaan kadang sanggup menyelamatkan peristiwa,
emosi yang tiba – tiba gugur akibat bersentuhan dengannya merupakan pertanda
bahwa tak ada yang kemudian menjadi wabah kebencian.
Seolah tak perlu khawatir pada anjuran kebenaran. Suara kebenaran berintikan
anggaran.
Para mereka juga jiwa – jiwa yang tak mati oleh banjir komoditi,
padanya kebenaran akan terungkap, tersingkap.