Saat aku melihat keluar, aku merasakan sesuatu yang sama.
Langit yang biru serupa dari tempatku dulu beranjak remaja. Biru, dan awan yang
sesekali menyelimuti. Hijau daun, pohon – pohon juga rerumputan, cicitan
beberapa burung dan suara serangga. Langit biru yang meski tertutup atap – atap
rumah tetap bisa memberi efek padaku. Setidaknya membuatku teringat pada waktu
itu, pada masa aku beranjak remaja. Tanpa beban, banyak impian, khayalan
mengisi kepala. Aku suka saat itu, aku suka saat ini, aku suka mengingatnya,
aku suka melihat langit biru.
Mungkinkah langit juga mengingatnya. Mengingat masa aku
menatapnya. Mengingat wajahku ketika memandangnya. Mengingat mata yang kosong
ketika melihatnya, apakah ia juga tahu jika aku sering berkhayal pada saat yang
sama.
Rasaku langit biru selalu menjagaku dari tidur pagiku, meski
aku suka memandangnya namun ia juga tahu aku suka ketika ia melihatku tidur
pulas di dalam kamar. Langit biru hangat, seperti selimut yang membendungku
bangun sebelum matahari sampai di atas ubun – ubun.
Langit biru menemani tidur pagiku, memijit badanku perlahan,
menganginiku sepoi – sepoi dengan udara segar dedaunan.
Langit biru membawaku ke dunia yang tak terjamah logika
sekaligus mengingatkanku pada waktu lalu.