Selasa, 12 April 2016

rahayu



Saat aku melihat keluar, aku merasakan sesuatu yang sama. Langit yang biru serupa dari tempatku dulu beranjak remaja. Biru, dan awan yang sesekali menyelimuti. Hijau daun, pohon – pohon juga rerumputan, cicitan beberapa burung dan suara serangga. Langit biru yang meski tertutup atap – atap rumah tetap bisa memberi efek padaku. Setidaknya membuatku teringat pada waktu itu, pada masa aku beranjak remaja. Tanpa beban, banyak impian, khayalan mengisi kepala. Aku suka saat itu, aku suka saat ini, aku suka mengingatnya, aku suka melihat langit biru.
Mungkinkah langit juga mengingatnya. Mengingat masa aku menatapnya. Mengingat wajahku ketika memandangnya. Mengingat mata yang kosong ketika melihatnya, apakah ia juga tahu jika aku sering berkhayal pada saat yang sama.
Rasaku langit biru selalu menjagaku dari tidur pagiku, meski aku suka memandangnya namun ia juga tahu aku suka ketika ia melihatku tidur pulas di dalam kamar. Langit biru hangat, seperti selimut yang membendungku bangun sebelum matahari sampai di atas ubun – ubun.
Langit biru menemani tidur pagiku, memijit badanku perlahan, menganginiku sepoi – sepoi dengan udara segar dedaunan.
Langit biru membawaku ke dunia yang tak terjamah logika sekaligus mengingatkanku pada waktu lalu.