Sabtu, 31 Desember 2016

Padamu negeri.

Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sabtu, 12 November 2016

Aku akan hidup berteman sepi, dan orang-orang akan berkerumun di kuburanku nanti.
Dan bila Tuhan telah mati, akan kubangun surgaku sendiri.
Surga yang tak bisa diinterupsi.
Surga yang tak bisa dibeli.

Jumat, 14 Oktober 2016

Migunani Marang Liyan

Berangkat dari keresahan untuk membahagiakan kedua orang tua tersayang dan lalu terbayang bisakah mendapatkan sang perempuan pujaan serta khawatir apakah aku bisa menjadi orang tua yang baik dan pantas untuk anak-anakku kelak. Memberikan yang sudah menjadi hak mereka, tanpa perlu mengikut sertakan anak-anak untuk bekerja, membantu kerja dan sejenisnya. Memberi kesempatan mereka hanya untuk belajar dan bermain. Kadang impian itu muncul dan selalu indah, tapi tak bisa menampik kenyataan bahwa di luar sana banyak orang tua yang untuk membelikan susu buah hatinya saja susah. Mereka yang tinggal di rumah-rumah sempit, yang anak-anaknya terpaksa ikut mencari biaya makan (dan lain-lain) keluarganya. Hal itu membuatku tak berhenti berprasangka, apakah dua orang yang menikah itu benar-benar mempertimbangkan apa-apa yang bakalan mereka hadapi, termasuk pendidikan anak-anaknya. Atau mereka hanya menyatukan hubungan agar halal (secara agama yang dianutnya), dan berharap bahwa usaha mereka akan menghasilkan keberkahan berupa rejeki yang cukup untuk membiayai kebutuhan harian mereka asalkan mereka selalu berprasangka baik pada Pencipta.
Rasa penasaran seperti itu yang menyita perhatian dan malahan menjadikanku khawatir berlebihan. Penasaran itu juga aku tujukan pada para pekerja pabrik tekstil dari dusunku. Para buruh pabrik ini ada yang masih lajang, ada yang sudah beristri, ada yang sudah punya buah hati. Mereka bekerja berdasarkan jadwal yang telah ditentukan, bisa jadi mereka akan berangkat pagi-pagi berbarengan dengan mbok-mbok yang mau jualan di pasar. Di lain waktu, mereka pergi ketika mayoritas penduduk dusun sudah terlelap. Bisa juga mereka akan berangkat bersamaan dengan waktu anak-anak sekolah menengah pulang ke rumah. Dengan seragam yang rapi, mereka akan menunggu bus jemputan. Aku penasaran, apa yang menjadi impian mereka sebenarnya, dan kenapa mereka bisa menjadi buruh pabrik. Ada yang perlu ditekankan disini yaitu terma bisa pada kalimat sebelum ini. Apakah bisa itu karena terpaksa, bisa sebab mereka berusaha untuk itu, atau bisa karena memang itu pekerjaan yang mereka bisa, dan barangkali hanya itu yang mereka bisa. Apakah mereka punya impian semisal memiliki mobil Volkswagen combi yang digunakan untuk menyusuri pantai selatan pulau Jawa, impian untuk bisa ke stadion San Siro bersama orang terkasih, keinginan untuk menjadi dosen, dokter, pilot, menaklukkan puncak-puncak gunung se-Nusantara, atau mungkin ingin menjalankan ibadah haji bersama kedua orang tua. Aku penasaran bagaimana mereka mengatur waktu ketika di rumah, waktu yang digunakan untuk tidur, beribadah, mengaji, bersih-bersih, memasak, menonton tivi, mengobrol dengan orang tua atau anak-anak mereka dan saudara juga para tetangga. Aku penasaran apakah para pekerja itu juga punya impian; anak-anak mereka kelak bisa menjadi orang-orang kaya, yang punya rumah gedongan, mobil merci, sapi beberapa puluh ekor, dan sebidang lahan yang subur ditanami kates. Atau mereka hanya mengharapkan anak-anak mereka menjadi siswa-siswa yang rajin di sekolah, lancar membaca alquran, tepat waktu menjalankan shalat lima waktu, dan tidak punya keinginan khusus anaknya akan berprofesi sebagai apa nantinya. Aku penasaran apa yang mereka pikirkan ketika berjalan dari luar rumah ke tempat penjemputan dan sambil menunggu bus datang. Dan apakah mereka mengkhawatirkan kehidupan.
Selain para buruh pabrik, aku juga penasaran dengan mereka para perempuan yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Ibu-ibu yang kesehariannya mengurus anak-anak, memasak di dapur, menikmati sinetron dan mengikuti gosip terkini para selebriti, ibu-ibu yang kadang pergi ke kebun, sering ke pasar untuk berbelanja, tak jarang berhutang di warung tetangga, ibu-ibu yang ketika pagi mengantar anak-anaknya ke depan gerbang sekolah dan menjemputnya kembali saat siang, ibu-ibu yang mengikuti kegiatan arisan RT, ibu-ibu yang ikut pengajian, dan sering mengumpul di salah satu rumah tetangga mengobrol entah apa, bisa jadi masakan mereka yang terlalu asin, resep membuat roti biar bisa mengembang dengan baik dan tidak keras, atau -ehem- bagaimana biar suami-suami mereka lebih betah di rumah selepas bekerja bukan malah ngumpul di poskamling hingga larut hanya untuk main catur atau kartu remi. Padahal, para suami ini sejatinya juga sedang melepaskan penat dengan saling bercanda dan menyesap rokok ditemani segelas kopi tubruk seadanya. Aku penasaran, apakah ibu-ibu yang bangunnya lebih pagi daripada anggota keluarga yang lain, keinginan sewaktu sekolah atau sebelum menikahnya sudah terwujud. Atau jika belum bagaimana mereka berdamai dengan hasrat tersebut. Bagaimana mereka bisa (bahkan dengan senang hati) menjalankan aktivitas menimba di sumur saat masih subuh, memasak nasi dan sayur dengan tungku untuk sarapan suami dan anak-anak tercintanya, juga kegiatan mencuci pakaian sekaligus menyetrikanya.
Aku penasaran dengan para tetangga, apakah mereka pernah bermimpi suatu hari nanti akan menjadi salah satu anggota pembasmi korupsi. Aku penasaran apakah mereka khawatir jika anak-anaknya kelak hanya menjadi penjual bakso keliling, tukang tambal ban, petani cabai atau kates kecil-kecilan, atau hanya penjual berbagai jajanan anak dan sabun-sabun juga rokok di rumahnya. Aku juga penasaran apakah mereka menginginkan anak-anaknya menjadi pak camat, bupati, pak gubernur, atau bahkan presiden.
Aku masih penasaran, apakah ketika para tetangga beraktivitas mereka kepikiran berita yang disiarkan di tivi-tivi, tentang kontroversi Ahok dalam penafsiran surat Al-Maidah ayat 51, mengenai sidang Jessica, pencalonan Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta, atau ada yang peduli mengenai kasus Yuyun, hilangnya Wiji Thukul, Reklamasi Teluk Benoa, banjir Garut, dirilisnya iphone7, bom di Suriah, dan berita-berita mengenai tim-tim sepakbola dari Eropa sana, Milan, Madrid, Emyu, dan sebagainya.
Aku penasaran apakah anak-anak dusunku ada yang terinspirasi novel Laskar Pelangi, atau terpesona dengan karya Pramoedya Ananta, juga terharu membaca cerpen-cerpen Seno Gumira. Apakah mereka juga mendengerkan DDH, FSTVLST, Pure Saturday, TPOBPAH dan lain sebagainya. Apakah mereka kagum dengan sosok Monkey D. Luffy dan Naruto serta Sasuke.

Ya pertanyaan-pertanyaan itu kuyakin tak mudah terjawab walaupun aku membuat angket wawancara dan berkeliling dari rumah ke rumah selama sebulan. Tapi apa sesungguhnya yang membuat mereka atau kita tetap teguh menjalani hidup yang tak tahu kenapa kita bisa, harus, dan bagaimana hidup itu. Perihal hidup memang tak mudah ditafsirkan dengan satu dua pernyataan. Namun, satu yang aku yakini; jika kita hidup maka kita akan mati. Hidup itu sendiri silakan cari definisinya secara mandiri. Lalu, benarkah jika kita hidup kita baiknya melakukan apa-apa yang merupakan hal baik yang telah menjadi kebiasaan orang-orang di sekitar kita. Apakah harus memiliki tujuan, jika ya, maka apa yang seharusnya menjadi tujuan utama kita. Kaya, terhormat, mulia, sehat, sejahtera, sederhana. Bagaimana orang-orang menentukan yang menjadi tujuan hidupnya. Sebelumnya kita ganti istilah tujuan dengan pencapaian. Ya, apa-apa saja yang orang itu ingin capai dalam hidup ini, yang ingin mereka raih, rengkuh, miliki, gapai, atau apapun itu yang dapat membuatnya merasakan hidup yang ‘hidup’. Membuat mereka bahagia, puas, dan cukup. Bahagia dengan tindakan yang telah mereka lakukan selama hidup, puas dengan capaian dalam hidup, dan cukup dengan apa-apa yang telah mereka punyai, miliki, serta jalani.
  Menjadi siapa sekarang yang mungkin tak pernah mereka bayangkan ketika masa kanak-kanak, apakah perlu disesali atau disyukuri. Bagaimana mereka bisa mencapai itu, bagaimana mereka bisa membiarkan waktu membawa mereka sampai kesitu, bagaimana mereka tetap tegar dengan keadaan yang mereka hidupi itu. Bagaimana bisa orang lain menganggap seseorang itu kekurangan sedangkan yang bersangkutan selalu saja merasa berkecukupan. Salahkah menjadi yang sekarang, yang mana mayoritas yang lain tidak pernah menginginkan. Atau kebanyakan yang lain hanya terbersit keinginan untuk melakukan namun mereka terlalu sibuk dan selalu tak memprioritaskan keinginan tersebut.
Apakah para buruh pabrik punya keinginan untuk menjadi seperti petani kates, apakah mbok-mbok penjual di pasar punya keinginan menjadi ibu guru sekolah dasar, apakah seorang guru sekolah menengah punya keinginan menjadi ibu-ibu penjual jajanan dan aneka macam bumbu dapur serta sabun-sabun di teras depan rumah, apakah mbak-mbak freshgraduate punya keinginan untuk menjadi ibu-ibu yang setiap pagi mengantar anak-anaknya ke sekolah dan siangnya menjemput anak-anak lalu ketika sore dengan setia menyapu halaman sambil memperhatikan anak-anaknya bermain pasar-pasaran atau bal-balan, apakah mas-mas yang setiap malam begadang di pos ronda punya keinginan untuk menjadi penceramah di masjid ketika shalat jumat, apakah adek-adek itu punya keinginan untuk menjadi pesepakbola profesional dan bermain untuk tim semacam Emyu, Madrid, Barca atau Milan.
Atau adakah dari mereka yang hanya ingin menjadi peternak kambing yang kesehariannya nitip makan dari satu rumah ke rumah lainnya, dan bermimpi suatu ketika bisa ziarah ke Mekah naik kambing-kambing kesayangannya. Menjalani profesi apapun dengan keyakinan dan keteguhan lalu menyerahkan masa depan kepada Pemilik Hidup.
Ambil contoh Ki Ledjar Subroto yang memilih jalan menjadi pendalang wayang kancil. Entah apa saja yang pernah Ki Ledjar dapat dari kesenangannya mendalang wayang kancil. Menjalaninya dalam beberapa dekade, setia dan itulah keputusannya. Sama halnya Pak Raden, pencipta tokoh Si Unyil. Mereka menjadi mereka yang kita kenal sekarang dengan perjuangan yang tak semua tahu bagaimana dan mengapa mereka kekeuh dengan keputusannya. Tapi berapa banyak peluang yang mereka buang atau tutup setelah mereka memutuskan suatu hal. Bagaimana mereka begitu yakin, apakah keputusan itu mereka buat dengan mempertimbangkan keuntungan-keuntungan materil belaka. Ataukah ada yang lainnya?.
Menjadi tukang tambal ban, penjual mie ayam, penjual bubur pagi-pagi yang murah meriah, menjadi supir yang akan merasa puas bila dapat membantu tetangga yang membutuhkan diantar kemana saja, cukup dengan apa yang ia dapat, penghasilan yang cukup untuk membeli lauk bagi kedua orang anaknya, menjadi ibu rumah tangga yang selalu cakap memberikan makanan yang tak saja bergizi bagi anak-anaknya pun juga santapan yang membuat otak-pikiran-jiwa anaknya bahagia. Haruskah mereka menjadi yang lainnya atau seharusnya mereka bisa menjadi yang lainnya. Bagaimana kalian menyadarinya. Apakah kalian menerimanya.
Sebanyak-banyaknya pilihan untuk bekerja sebagai apa, di mana, kapan, dan dengan siapa, apakah orang-orang benar-benar sadar dan berkeinginan sesuai dengan apa yang dikerjakan sekarang. Ataukah mereka hanya menjalani, bekerja dan berusaha dengan tujuan utama bahagia sekaligus membiarkan diri terbawa ke keadaan dan kondisi yang tak pernah sempurna; menuai hasil yang telah mereka usahakan sebelum-sebelumnya dengan lapang dada, mengutuki diri dan menyatakan bahwa apa yang menimpanya ialah musibah akibat ketamakannya, tersenyum dengan perasaan lega karena apa yang menimpa dianggapnya sebagai ujian dari empunya.

Segala pengaruh yang membuat orang-orang ini tetap berdiri, dan teguh dalam menghidupi diri akan terlalu rumit jika dijabarkan. Untuk itulah orang sering memandang kuantitas kehidupan seseorang hanyalah permukaan yang nampak, dan di dalamnya masih jauh tak terjamah bahkan sebagian enggan untuk menguliknya; sibuk dengan diri masing-masing. Perhitungan yang mereka gunakan berdasarkan pengetahuan juga pengalaman meski tak jarang curang, menurut mereka sebuah kebaikan yang wajar. Tak jarang menceburkan diri ialah kemampuan yang mereka miliki dan kesempatan yang harus dimaksimalkan agar tak ikut hancur bersama kapal yang ditumpanginya. Lain halnya bila dari mereka yang menjadikan kecurangan sebagai alat utama mendapatkan kehormatan, dan juga kekayaan yang bahkan mayoritas tak merasakan keberadaannya. 

Jika sudah begini bagaimana kita menjalani dan menjadi diri sendiri dalam lingkaran hidup manusia agar tetap bermanfaat dan dapat saling menguntungkan?

Menimbang untung-rugi dalam sebuah hubungan, laiknya perjuangan yang pantas kita lakukan bila tak hati-hati akan melenakan. Menyebabkan hubungan hanya melandaskan keuntungan. Dan jika tak ada keuntungan maka kita ditinggalkan atau meninggalkan. Tentu saja sah dilakukan sebab interaksi yang melandasi sebuah hubungan juga berintikan pertukaran. Apakah sepadan apa yang telah diberikan dengan apa yang kita dapatkan. Ataukah kekhawatiran yang terus membayangi apabila tak mampu membalas apa yang telah orang lain berikan.
Di sisi lain, terdapat jalinan-jalinan kuat meski apa yang mereka korbankan tak seimbang secara kasat mata. Ya, mungkin orang-orang tersebut beranggapan bahwa apa-apa yang mereka lakukan kepada yang lain ialah apa-apa yang orang lain butuhkan dan mereka sendiri inginkan. Tak peduli seberapa banyak yang mereka terima akhirnya, mereka akan merasakan kepuasan dari kebersamaan yang telah dibangun dan diperjuangkan sedemikian rupa sehingga masing-masing mereka rela mengorbankan nyawa bagi lainnya.
Inilah yang namanya pertemanan. Pencarian jati diri ialah aktivitas berteman dengan orang-orang yang sesuai-pantas dalam kejujuran. Teman bisa kita jumpai punya kesamaan hobi, kesamaan waktu dan tempat saat berkegiatan, teman di tempat kerja, teman belajar, berdebat, lomba, dan lainnya. Namun ada juga teman yang bahkan akan saling membela meski jelas-jelas salah. Teman seperti kata seorang teman ialah orang yang tertawa bersama dalam ketulusan.
Boleh saja kita berteman meski sering tak merasakan kenyamanan, sebab menjaga hati orang lain tetap senang juga dianjurkan, dan berbuat jahat kepada orang lain tak diajarkan karena lebih banyak kita tak tahu-menahu mengapa orang lain tega berbuat sesuatu terhadap yang lain. Dan andai kita tahu, maka sebagai pihak yang tahu bertindaklah sesuai apa yang kita tahu.
Sebab tak banyak yang kita kenal di muka bumi ini, dan kita hanya perlu berbuat baik kepada yang lainnya.
Dan, agak berbeda dengan fenomena pertemanan umumnya; apabila ada ketertarikan di antara dua manusia berbeda jenis kelamin lalu mereka menjalin sebuah hubungan dengan tujuan memuaskan nafsu birahi, pada titik itu meneguhkan bahwasanya manusia juga binatang, dengan gairah mengawini. Binatang hidup untuk bereproduksi, melestarikan jenisnya dalam keseimbangan hayati. Maka bagaimana kita mengawini yang lain dengan tidak saja bertujuan reproduksi namun lebih kepada relaksasi ialah pembeda. Pembeda inilah yang oleh pihak-pihak tertentu dijadikan komoditas untuk dipertukarkan, yang disesuaikan dengan penawaran-permintaan. Akan tetapi, pembeda ini jua yang kemudian menjadi bibit tumbuh kembangnya sebuah lembaga yang kadang-kadang bias atau bahkan tak segan mengurangi hak-hak dari para penganutnya. Lembaga yang melegalkan kepemilikan dan menghindarkan diri dari kecemburuan, bayangkan jika orang yang dikawini tadi malam, hari ini sedang kawin dengan orang lain yang bahkan tak pernah dikenalnya. Ya, asal ada imbalan yang pantas tentu itu sah-sah saja. Pertanyaannya apakah jika kita menjadi bagian yang lain dari itu sanggup bertahan dalam kesendirian, sebab satu-satunya yang berhak kita miliki dan keruk keindahannya ialah apa yang nyawa kita tempati saat ini.
Perihal imbalan dan pertukaran, tentu sudah sering kita alami. Melakukan sesuatu, bekerja, mengerjakan tugas sekolah, menyapu lantai rumah, mengedit makalah, dan masih banyak lagi ialah bentuk aktivitas yang layak mendapat imbalan. Tenaga dibalas uang. Atau di masa lampau orang bertukar garam dengan asam, tanpa uang sebagai acuan. Sekarang, uang menjadi ukuran. Pekerjaan disesuaikan dengan uang, bukan kebutuhan. Tapi wajar sebab beberapa dari mereka memang layak mendapat balas jasa berupa setumpuk uang atas kemampuan yang tidak semua orang bisa. Menggilanya balas jasa juga dengan mudah menjalari lingkungan pendidikan. Para pengajar sekarang mengerjakan proyek layaknya pekerja, mereka bisa disebut sebagai pendidik yang cari aman. Barangkali, mereka bahkan tak mendidik, lebih sekadar memenuhi kewajiban dan lalu bekerja seperti orang kantoran lainnya. Hanya mereka mendapat tunjangan hari tua. Tapi apa mau dikata, semua yang membutuhkan tenaga ialah kerja. Lalu apa bedanya dengan para penjaja yang menawarkan jasa pemuasan gairah bersenggama?.




Sabtu, 01 Oktober 2016

Menjadi aku.

Kedewasaan diukur dari apakah, kemampuan berpikir, kepekaan tindakan, atau keluwesan memperlakukan orang lain. Jika menjadi dewasa itu pilihan maka aku lebih suka memilih untuk bersikap seperti sepuluh atau dua belas tahun lalu. Menjalin relasi dengan orang yang kusuka, tidak perlu menahan diri ketika berada di satu tempat dengan orang yang tidak menyenangkan hati. Lagipula suara anak-anak tidak akan terlalu diambil hati meski kadang si anak berucap sesuka hati. Pernah dulu ketika bersama Bapak aku merengek kenapa kita mesti repot-repot membantu saudara yang sedang hajatan, sedangkan yang punya hajatan kan mereka tapi kok kenapa kita juga yang berlelah-lelahan. Bapak menjawab bahwa, jika nanti kita punya hajatan, maka mereka juga akan membantu kita pada akhirnya.
Poinnya pada waktu itu, kenapa aku memaksakan diri mengikuti kegiatan yang melelahkan padahal bukan kewajibanku untuk melakukan. Menjalani yang bisa saja tidak harus kita laksanakan, sebab mereka yang beraksi tapi mengapa kita juga yang harus bereaksi.
Apa yang para manusia dewasa lakukan pada waktu itu tidak masuk di akalku. Aku berkeberatan. Istilahnya mas Dodit, “kamu yang bikin soal, aku yang suruh jawab?”.
Apa yang para manusia dewasa lakukan tidak mengenakan.
Jika begitu maka melakukan suatu tindakan didasari pamrih!, padahal ketika itu aku masih ingat betul belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang mana dijelaskan bahwa jika kita membantu seseorang harus tanpa pamrih. Pikirku, jika memang aku lelah bukankah boleh saja aku tidak membantu mereka para pembuat acara yang maunya dibantu sedemikian rupa sehingga terselenggara lancar jaya.
Pernahkah kalian seperti itu, berat hati bila dimintai tolong, atau menolong orang lain agar suatu saat nanti orang itu berkenan menolong kita kembali?.

Tiga-empat bulan terakhir ini tanpa berpikir keras mengenai pamrih, berat hati, juga pertolongan kembali, terasa sesuatu yang lain. Hal mengenai hubungan timbal-balik antarmanusia, suatu bentuk interaksi di antara mereka, yang meskipun menguntungkan namun tidak selalu dengan bentuk yang sama. Lelahku bukan lelahmu. Tenaga yang tak sebanding tersebut lebih layak tak dibuat perbandingan. Sebab apa yang kita lakukan semestinya apa yang kita inginkan. Namun bagaimana ingin yang kadang tak terakomodasi dan juga tindakan yang kadang tanpa mempertimbangkan keinginan bisa saling disesuaikan ialah penanda kedewasaan. Setidaknya itu menurutku.

Ada sebagian yang merasa dewasa karena menang debat dari yang lainnya. Ada yang merasa dewasa karena selama hidupnya terbiasa tak berfoya-foya. Ada yang merasa dewasa karena mampu membanggakan orang tuanya, ada yang karena bisa menjaga saudaranya, ada yang karena bisa membiayai hidup tanpa uang dari orang tua. Sebagian lainnya memang sewajarnya.

Ah tapi biarlah, menjadi dewasa memang memuakkan dan menjadi diri sendiri tak bisa sembarangan. 

Minggu, 11 September 2016

Kelam. Selami malam-malam, dalam hidup yang terlanjur tanpa paham.

Demi orang-orang yang terlantar. Terpinggirkan. Diabaikan oleh mayoritas, dianggap liyan dan suaranya tidak pernah dipertimbangkan. Demi mereka yang meneguk segelas air putih untuk setiap ember keringat yang setiap hari mereka keluarkan. Demi apapun juga yang telah mereka lakukan untuk bisa membeli sekilo beras, beberapa butir telur ayam, tahu dan tempe, serta beberapa ikat sayur lengkap dengan bawang juga cabai dan tomat. Kalian yang rela berpanas-panasan, membiarkan kaki melepuh dan kulit menghitam, wajah kusam dan tubuh yang dilekati rasa lelah. Walaupun lelah namun bisa bertahan, sanggup menahan lapar, ngantuk, dahaga dan amarah meski pernah merasa tidak diberi keadilan, dapat tersenyum dalam keadaan yang begitu-begitu saja. Kaki yang mengayuh sepeda sejauh yang engkau bisa, lengan yang tak berhenti melayani para pembeli, telinga yang selalu kuat meski sering kena hujat. Kalian yang meski tahu salah namun tak mau meluapkan amarah. Kalian yang diberi lebih akan tetapi masih mau menyisihkan yang ada. Merasa cukup dan terus berusaha. Keluhan yang tak seberapa dibanding dengan doa dan harapan yang kalian haturkan. Terimakasih atas senyum yang kalian persembahkan, termakasih atas ucapan sopan yang kalian utarakan, sikap ramah yang kalian perlihatkan.

Jumat, 02 September 2016

Kamu tahu hidup?

Kamu mati.

Kamis, 01 September 2016

A reader.

Minggu, 28 Agustus 2016

Merdeka sejak dalam pikiran.

Jadilah apapun yang kamu mau, yang kamu inginkan, yang kamu mampu, kamu impikan. Di luar sana sebagian orang selalu merasa benar [Some people think they’re always right­-The Strokes]. Belajarlah dalam kemauan, atau terimalah saja jika dibutuhkan paksaan. Risau akan masa depan seolah hilang ingatan dari yang sudah dilakukan. Jika hasil tidak mengkhianati proses, maka proses jualah yang menentukan hasil. Lalu bersenang-senanglah selagi bisa, dan jangan berlebihan. Sebab itu hal yang fana. Senang, sedih, segar, lelah berada dalam rangkaian. Hindari beban serta perlakuan berlebihan, ya, bisa timbul kecemburuan. Hadapi apa yang merupakan konsekuensi. Akibat dari reaksi. Tanggung jawab kudu dipikul, kewajiban dilakukan, biarkan hak yang menentukan jalan. Tiga sampai lima tahun kedepan mungkin masih sama saja, tetapi tiga atau lima puluh tahun lagi tak semua yang kita tahu, kenal dan jamah akan tetap sama. Ingatan yang lemah, tubuh yang lelah. Ketakutan masih misteri, tidak nampak namun terus menjalari. Takut berjalan sendirian, takut tidak diperhatikan, takut berlebihan.
Pada hari-hari ketika ketakutan mulai menjangkiti, pertanyaaan semacam ini muncul; untuk apa aku ada dan hidup di dunia. Apakah keadaan tersebut ialah keinginanku, atau orang tuaku, atau keinginan-Nya yang menciptakan manusia agar menjadi khalifah di bumi. Perlu diketahui juga, keinginan seutuhnya melibatkan semua pihak. Meski orang tua berkeinginan dan lalu mendapatkan yang diinginkan bukan berarti mereka secara mutlak menjadi majikan anaknya, sebab anak juga punya keinginan entah itu untuk menjadi ia yang lepas dari orang tuanya atau menjadi manusia yang tetap ada bagi mereka yang telah berkontribusi untuk kehadirannya di dunia. Dan bila keinginan tersebut datang dari-Nya, maka kitalah yang bukan apa-apa hanya ada untuk memenuhi keinginan-Nya. Mungkin akan muncul lagi pertanyaan; lalu apa alasan masing-masing mereka menginginkan kehadiran yang lain dihidupnya. Mungkinkah ini simulacra semesta?. Khayalan yang nyata, dilihat, dicermati dan ditertawakan oleh mereka yang berada di luar dunia kita.
Kadang, merasa malas ialah ganjalan. Di lain waktu, hal itu menjadi simbol dari sebuah kebebasan. Mau jadi apa aku-kamu nantinya, peran apa yang sebenarnya sesuai dan harus kita mainkan. Sibuk berjam-jam, tenggelam dalam rutinitas, diganjar berjuta lembar rupiah, berhadiah pengakuan, diberi penghormatan, berhak atas kehidupan. Menjadi siapa terlebih dulu mengorbankan sesuatu yang setimpal. Uang meminta waktu, apakah begitu?. Uang bisa membeli waktu, tentu saja. Haruskah kujawab hindari kekayaan berlebihan sebab usiamu masih misteri si pembuat waktu. Jadikanlah uang dan waktu ‘kelebihan’ bukan sekadar kepunyaan tanpa guna. Lalu, mau jadi apa kah kamu. Aku dalam sepi dan suasana gundah seperti ini lebih sering tenggelam dalam lamunan, meleburkan yang nyata dan khayalan untuk menciptakan kemungkinan hidup tanpa kegelisahan. Hasilnya, kematian ialah hidup tanpa perasaan. Membayangkan tubuh yang bersandar pada kursi kayu di teras, berkeringat terkena panasnya matahari pukul tiga. Rumput yang muncul di undakan, semut yang bergotong-royong mengusung remah camilan, serta ayam-ayam yang mematuki beras di depan rumah.
Jalinan kisah yang seringkali kita abaikan menunjukkan berbagai rupa dan peringai manusia. Kehebatan manusia dalam ber-dramaturgi­ menyembunyikan kenyataan rasa. Merelakan emosi dipendam dalam hati. Mengungkung tubuh dalam dunia pikiran. Menipu diri kadang tak terelakkan. Tujuan utamanya bukan hanya untuk mencoba meyakinkan, lebih kepada agar kita merasakan apa yang pihak lain rasakan, melihat dan mempersepsikan kita dari kacamata yang lain dan seterusnya. Namun intinya, peredaman ego diri untuk melaksanakan kebaikan bersama. Kesabaran dibutuhkan, diusahakan dalam pergumulan keinginan menang sendiri dan menghargai orang lain. Bukan menjadi orang yang lain sama sekali, hanya kemampuan menerima yang tidak mengada-ada.
Kehebatan memperlakukan keadaan agar tak mudah tercerabut dari kesabaran-kebaikan tidak tegak sendirian. Ia harus mengenal situasi yang dihadapi; kepekaan untuk mendefinisikan keadaan atau dikenal sebagai definisi situasi. Bertujuan tidak saja menempatkan diri pada posisi yang tidak merugikan, juga bagaimana agar yang lain tidak turut menjadi korban. Bagaimanapun, keahlian ini membutuhkan praktek nyata bukan sekadar pelafalan arti di ruang-ruang kelas saja. Pendefinisian yang dilakukan berdasarkan pengalaman, pengamatan, pengetahuan, pemahaman, introspeksi, kemauan menghargai, antisipasi, dan kontemplasi.
Hidup berkelompok memang menjengkelkan, keinginan setiap anggota seringkali bertentangan, menyusahkan pengambilan keputusan. Sekali terpenuhi, tidak semua kebagian. Atau dapat dicapai namun masih saja ada yang berkeberatan. Mau menang sendiri, menganggap diri paling benar, mengomentari yang lain tanpa memberi solusi, memberi masukan yang bersifat paksaan, murung ketika mendapat kritikan, ialah beberapa hambatan yang mudah ditemukan.
Ruang-ruang terbatas yang kita tempati dan waktu-waktu bebas yang kita miliki harap dimanfaatkan secara maksimal. Sebagai contoh, menyapu lantai boleh dikata hanya tangan dan kaki yang bergerak, pada saat itulah pikiran kita leluasa. Kita mungkin sekadar menyapu tapi pikiran kita sedang menyelam atau terbang dengan kemungkinan yang bisa kita ciptakan dan usahakan setelahnya. Agak mirip dengan mengkhayal memang, sebab pikiran juga merupakan sesuatu tak terlihat dan keduanya diolah di tempat yang sama. Perlu dicermati, ketika pikiran ini bisa lepas dari yang tubuh alami, maka mereka yang di luar sana patut berhati-hati.
Ini bukan pemberontakan, bukan juga sebuah perlawanan. Tulisan ini sebatas menumbuhkan kesadaran, yang masih jauh dari kata sempurna dan tanpa referensi memadai. Kalau apa yang kalian pikirkan kadang tak bisa diterima orang lain bukan sepenuhnya kalian salah. Apa yang ada ialah kita ini liar. Dan terdapat kelompok yang menciptakan aturan dengan pertimbangan kebaikan bagi semua anggotanya, penggunaan paksaan fisik seminimal mungkin, dan sifatnya membatasi. Akibat terburuk yang seringkali tak teramati ialah lahirnya manusia yang bahkan tidak bisa berpikir bebas. Manusia yang menerima apa yang diajarkan dan menilai salah apa-apa yang tidak mereka pahami. Manusia yang membodohkan manusia lainnya gara-gara dirinya merasa tidak pantas berada di tangga ke dua.
Pada golongan itukah kemaslahatan masa depan dititipkan. Jawaban umumnya tidak. Akan tetapi apa yang kita perbuat pada mereka yang selalu menganggap diri mereka benar meskipun apa yang mereka perbuat lebih banyak mudharatnya akan menentukan. Mereka yang tahu, tidak berguna, tatkala tidak mau berbagi apa yang mereka ketahui. Ini juga yang lambat laun menghambat proses pembersihan masyarakat dari manusia kepala batu.
Apabila kita tarik lagi keberadaan kaitan di antara keduanya ialah; manusia kepala batupun ialah pelajaran bagi manusia umumnya dan kita sebagai bagian dari kelompok umum manusia bisa memberikan pengertian (dengan kesabaran) pada mereka para kepala batu. Fungsional ialah konsep (menurut hemat saya) yang mampu mengakomodir pengertian dari keberadaan kaitan dua perkara tersebut.
Kesadaran seperti inilah yang akan kita pakai untuk menjelaskan sebuah tesis –kecelakaan berkendara. Dijelaskan; A sedang berkendara di jalan dan kemudian B menabraknya. Pada kondisi wajar, banyak yang akan menilai B pantas disalahkan. Dari kacamata yang lain kita bisa saja menyalahkan A. Pertanyaannya, atas dasar apa B layak disalahkan dan A pantas dibela, atau sebaliknya. A sebagai pihak yang tertabrak berhak mengumpat dan B sebagai penabrak juga wajar bila meminta maaf. Namun masih ada kemungkinan B yang lebih berhak mengumpat dan A yang wajib memohon maaf. Secara obyektif keduanya dirugikan. Keduanya kesakitan. Sekarang mari kita lihat kemungkinan yang ada; A bisa saja memasuki lajur lain tanpa memperhatikan pengendara lain, berbelok tanpa menggunakan tanda, mengerem mendadak, dan sebagainya, B bisa saja sedang terburu-buru, remnya rusak, tidak fokus berkendara, salah mengambil keputusan ketika menyalip kendaraan di depannya. Kemungkinan-kemungkinan yang telah disebutkan bisa saja dialami oleh A maupun B tanpa ada batasan siapa yang tertabrak dan siapa yang menabrak. Demi luka yang telah menganga, siapa yang lebih berhak mengumpat pada yang lainnya?.
Tesis kecelakaan berkendara hanya mencoba menjelaskan pada kita bahwa sebelum kita berargumen ada baiknya kita mempelajari latar belakang permasalahannya. Tidak berhenti pada pencarian siapa yang lebih benar, lebih jauh ialah melatih diri agar tidak mudah terbawa emosi dan terpengaruh pihak lain. Berpikir jernih, atau jika sanggup kita akan menapaki level kehidupan selanjutnya; menerima segala konsekuensi, pertama-tama dengan senyuman, kedua dengan kesyukuran, ketiga dengan kesanggupan memaafkan baik itu pihak lain pun diri sendiri, dan seterusnya.
Tambahan lagi, dari konflik yang terjadi kita bisa mengambil suatu pelajaran yang bermanfaat untuk mengarungi bagian-bagian kehidupan selanjutnya. Ambil contoh apa yang dialami oleh Pak Antasari, dianggap sebagai orang yang dikorbankan oleh pihak-pihak tertentu, nyatanya (menjadi warga binaan) tak lantas membuatnya pesakitan. Masih sanggup menjadi tempat orang mencurahkan keluhan bahkan mengayomi para tahanan. Apa yang ia dapatkan dari masa penahanan mungkin tak akan didapatkan jika ia masih berkarier sebagai ketua KPK atau mungkin menjadi Gubernur Jakarta. Dari menjadi korban hingga mampu mengambil pelajaran yang sangat layak untuk diamalkan.


Kamis, 21 Juli 2016

Absurd

Membayangkan kebahagiaan ketika bisa bersamanya, sedang kita sekarang sudah bahagia, hanya, terlihat biasa.

Selasa, 19 Juli 2016

selepas tidur, ketika dalam mimpi sedang bersiap tuk menikah

Kemampuanmu mengkonversikan lelahku menjadi bahan bakar api semangatku, sungguh mengagumkan.

Rabu, 13 Juli 2016

Urip kui penak.

Bagaimana jadinya hidup tanpa tertawa. Sehari tanpa senyum. Pagi hari lengkap dengan syukur, malam tiba disambut dengan doa. Mau jadi apa kalau dua puluh empat jam dalam sehari, empat jam saja bisa merasa bahagia. Apa yang membuat hati jadi gembira, jiwa tenang dan jarang menggerundel. Mata yang ramah, lidah yang halus, hati yang bestari.

Sedang hidup masih saja tak dapat menghindari kata tapi, sering menyangkali, menafikan meski sudah dinyatakan.

Minggu, 10 Juli 2016

Aku tidur dalam pelukmu
Di antara bayang kembang rerumputan
Dan sinar rembulan



26 juli 014

Suatu saat.

Suatu saat aku akan bicara tentang bimasakti. Suatu saat aku akan bicara tentang bumi. Suatu saat aku akan bicara tentang langit. Suatu saat aku akan bicara tentang awan.
Lalu aku akan mulai bicara tentang tanah, bicara tentang rumah.
Aku bicara tentang debu, pasir, batu, dan rumput.
Suatu saat aku bicara tentang manusia dengan manusia. Tentang partikel, atom, dan sel.
Bicara yang abstrak, belum teraba. Kemudian bicara yang nyata, dapat dirasa.
Yang tinggi, yang besar, yang luas. Dan yang kecil, rendah, juga enteng.

Misalnya aku membicarakan hangat pagi, lalu aku membicarakan meja dan kursi.  

Selasa, 05 Juli 2016

Apa yang perlu saya rayakan.

Akhir-akhir ini saya hampir setiap malam mendengarkan sebuah lagu dari Opick yang berjudul Salam Ya Rasulullah. Lagu yang kalem dan menenangkan. Ada kata-kata dalam liriknya yang memicu rasa penasaran saya; ummati ummati ummati. Dalam sebuah riwayat, dikatakan Rasulullah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya mengucapkan; ummati ummati ummati. Ummati atau dimaknai sebagai umatku diucapkan sebanyak tiga kali, tentu tidak sembarangan jika beliau malah lebih memikirkan umatnya dibanding keluarga dan kerabatnya atau bahkan kematian itu sendiri. Hal ini juga mengindikasikan kecintaan yang mendalam Rasulullah terhadap umatnya yang walaupun masih dibawah cinta beliau terhadap Sang Kekasih. Tak sekadar rasa cinta Rasul pada umatnya sekaligus juga kegundahan hati dengan apa yang akan dialami oleh umatnya terepresentasi dalam ummati ummati ummati.
Jika boleh mengandaikan, Rasul mungkin telah banyak tersenyum selama ramadhan kali ini. Melihat kita yang senantiasa meramaikan rumah-rumah Allah sepanjang hari, melihat kita yang selalu menyegerakan beribadah, menyegerakan berbuka misalnya. Menjalankan shalat-shalat malam, mengkhatamkan Quran, bersedekah dan berbagi dan masih banyak lagi.
Mungkin beliau sekarang menangis, melihat kondisi umatnya; bom bunuh diri di Jordan, Istanbul, Bangladesh, Baghdad, Malaysia, Qatif, Jeddah, Madinah, dan sekarang Solo [kutipan tweet mbak Alissa Wahid]. Atas dasar apa umat yang dicintainya berusaha menghancurkan masjid yang telah didirikan olehnya dan bahkan menjadi makam bagi beliau dan kerabatnya.
Dan bagi kita umat yang akan segera menyambut perayaan, apakah yang akan kita lakukan, hari ini dan di masa depan.
Apakah kita sudah melupakan Salim Kancil yang dibunuh oleh preman dan orang-orang suruhan. Apakah masih ingat kematian Yuyun yang diperkosa dan dibuang ke jurang oleh kawanan.
Berapa banyak petani yang sawahnya harus dikorbankan yang katanya demi pembangunan. Nelayan yang dipindahkan akibat reklamasi lahan. TKI yang mati tanpa perlawanan. Orang-orang pinggiran yang mati kelaparan.
Masih bisakah kita tolerir tindakan kekerasan demi tegaknya ketertiban. Ribuan saudara di pulau Papua yang dipukul, diintimidasi, ditekan, agar tunduk atas nama keindonesiaan. Orang berbeda keyakinan yang dibumi hanguskan. Penyeragaman atas dasar kebhinnekaan. Warga terusir dari tanah kelahiran. Masyarakat yang disuruh pergi dari kampung halaman. Bahkan lumpur lapindo tak kunjung terselesaikan.
Pencemaran lingkungan, degradasi lahan, kebakaran hutan, pencurian ikan, longsor dan banjir yang masih dianggap tanggung jawab hujan.

Apa yang bisa kita rayakan?

Selasa, 07 Juni 2016

Lima kalimat dalam surat.

/1

Sore itu aku baru kembali dari mengajar, ketika sepucuk surat dengan amplop bawaan kantor pos tergeletak di ambang pintu.
Peluh membasahi tubuh. Maklum tempatku mengajar tidaklah terlalu jauh, jadi sepeda menjadi kendaraan utamaku untuk mencapainya. Sore itu matahari bersinar terik namun tak cukup menyengat. Aku segera membuka surat itu setelah mengelap keringat di kening dan tengkukku. Tak segera kubaca, sengaja untuk mengamati dimana nama penulis surat berada, sialnya tak kutemukan. Ini menggelikan, selembar kertas binder hanya berisi lima baris kalimat. Apa salahnya kirim pesan via email atau kalau perlu sms saja pikirku. Bisa-bisanya alamat rumah tahu tapi nomor kontak handphone tak punya.

Halo yang jauh dan menjauh disana. Demikian kalimat pertamanya. Aku heran, seingatku, aku tak pernah berusaha menjauhi seseorang, tidak ada diwaktu sekarang tidak pula di masa lalu. Apalagi berencana di masa mendatang, pastilah suatu kerugian ketika kita menjauhi orang lain untuk apapun alasannya. Bayangkan, bukankah memutus silaturahmi itu dosa yang besar yang telah tertulis di Quran dan sering disampaikan dalam ceramah-ceramah keagamaan pun kemasyarakatan. Tiba-tiba aku merasa takut akan kemungkinan terburuk yang pernah aku lakukan. Siapakah dia, apa yang telah aku lakukan padanya, apakah aku sejahat ini. Seketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika tersadar sesaat usai membaca kalimat pertama surat tersebut.

Aku merindukanmu, masih kuingat hangatnya peluk tubuhmu, manisnya bibirmu yang tak pernah menghisap rokok, juga segores luka di kulit dada kirimu, luka yang selalu kuusap sebelum kita terlelap. Aku tercekat. Aku tidak ingat pernah tidur dengan seorang perempuan manapun, terlebih dalam keadaan bugil, apalagi dengan lelaki. Memang aku sering bertelanjang dada jika kegerahan, namun untuk tidur aku bahkan selalu memakai selimut. Sebentar kuletakkan kertas berisi lima baris kalimat di atas meja bundar yang terbuat dari kayu. Kugeser meja tersebut mendekati jendela di sebelah ranjang tidurku, lalu kuambil kursi dan kuletakkan di sampingnya. Sebelum kulanjutkan membaca aku menyempatkan menyeduh kopi sachet yang kubeli kemaren di warung Mak Ijah. Aku duduk di samping jendela dengan teralis besi, membelakangi ranjang tidurku, kusesap kopiku, lalu kulihat sinar matahari sore yang menerangi tanaman di bagian belakang kontrakanku. Kuambil kertas surat tersebut, dan aku kembali mengingat apa saja yang pernah aku perbuat. Dalam dudukku yang khusuk sembari mengangkat cangkir berisi kopi, tiba-tiba aku teringat ia. Ya, dia yang masih di kota yang sama bahkan ketika aku menjadikan kota tempat tinggal dan mengajarku sekarang sebagai destinasi ketiga. Perempuan dengan rambut kuncir ekor kuda, kulitnya yang tak terlalu putih, badannya tak lebih tinggi dariku, tidak berisi hanya saja berbentuk. Bentuk yang selalu kuingat selama aku masih berstatus anak Sma. Tersadar ternyata aku sudah terlalu lama tidak menghubunginya, terakhir kudengar kabar tentangnya ketika aku masih semester tiga di perguruan tinggi di pulau seberang. Aku selalu suka caranya memanggil namaku, lebih-lebih saat keringat membasahi wajahnya, baik ketika berolahraga maupun ketika menyantap makanan di kantin. Aku masih ingat gerak-gerak bibirnya ketika membaca novel di perpustakaan sekolah, atau cara beridirinya saat disuruh membaca buku di kelas atau menjawab pertanyaan dari guru. Juga kaki-kakinya yang lincah sewaktu bermain basket. Ah, perempuan itu meskipun tak terlalu pandai pelajaran favoritku namun nilai matematikanya selalu di atasku. Ingin rasanya kutampar bibirnya yang tak seberapa itu dengan bibirku, akan tetapi bibirnya telah dihalalkan oleh teman sebangkuku di Sma. Kadang hidup memang terlihat seperti kebetulan-kebetulan tanpa alasan.

Aku tahu, kamu pasti lupa. Pada bagian ini aku sontak berteriak, tentu saja aku lupa. Ah, rupanya masih koma. Selanjutnya. Namun aku tidak pernah bisa melupakanmu begitu saja, ucapan selamat malam sebelum aku tidur masih menggema di telingaku, kalimat selamat pagi sayang masih terngiang. Setelah membacanya aku tertawa, aku kipikir orang ini hanya mengada-ada. Aku terpingkal, sebab selama ini yang pernah kukirimi ucapan selamat malam dan selamat pagi sayang hanyalah si Kaliko. Ya, kucing betina yang dulu kutemukan di dekat kampusku kuliah. Kucing belang tiga yang kini telah beranak tiga, belang-belang tiga pula tiga-tiganya. Kaliko namanya, aku ambil dari bahasa Jepang yang jika ditulis menggunakan huruf abjad menjadi Calico, dan aku membacanya kaliko. Yang mana jika diartikan dalam dunia perkucingan kurang lebih dimaknai sebagai seekor kucing yang mempunyai tiga jenis warna rambut. Aku tak habis pikir, dari siapa dan untuk siapa surat ini sebenarnya, sampai-sampai mebuatku tertawa mengeluarkan air mata. Dugaanku mengenai sang pengirim surat yaitu Kaliko membuatku terpingkal sekali lagi. Baik betul Tuhan kali ini, gumamku dalam hati. Memberiku teman yang dengan setia berbagi tempat tidur denganku. Bahkan rela dan mau tinggal dan menetap bersamaku untuk waktu begitu lama tanpa status hubungan yang tak lebih sebagai seorang teman. Sesaat aku merasakan haru.

Kini aku sudah hamil tua, sembilan bulan tepatnya, jika kamu menduga jenis kelaminnya maka jawabnya sama sepertimu, lelaki dan untuk itulah aku ingin meminta pendapatmu mengenai nama yang akan kuberikan pada calon anakku, aku ingin nama yang sama denganmu untuk anakku. Kalimat panjang itu membuatku mengumpat. Dia pikir dia siapa, tiba-tiba datang dengan surat yang isinya hanya ingin meminta ijin menggunakan namaku sebagai nama anaknya. Apakah namaku betul-betul unik hingga kamu ingin menggunakannya untuk menamai anakmu, gumamku lirih sambil kembali menyesap kopi yang masih hangat. Dan bagaimana pula kamu bisa menemukan orang yang mempunyai nama seperti yang kau inginkan untuk menamai anakmu. Ataukah kamu salah seorang pekerja BPS yang secara teliti menyortir nama-nama penduduk kota ini yang banyaknya hampir mencapai angka tiga juta jiwa. Lalu mengirimi mereka surat seperti ini serentak sekaligus, dan berharap mereka dengan senang hati akan mengiyakan bahkan mendoakan keselamatan kelahiran anakmu kelak. Jika ya, sungguh suatu kasus ngidam yang unik.

Aku tidak mau menamainya dengan nama bapaknya yang telah memutuskan lari bahkan sebelum pernikahan kami digelar, tapi bukan karena itu aku ingin menamainya sama dengan namamu, aku ingin anakku kelak selalu bergembira, layaknya dirimu Ranjana. Untuk kali pertama aku merasakan kepedihan yang terakhir kurasa bertahun-tahun lamanya. Kertas yang kupegang sedari tadi basah oleh tetesan air mata, sore yang sedari tadi hangat seketika membuatku kedinginan. Aku beranjak cepat membuka lemari pakaian, dan mengambil sebuah liontin dari dalam kotak bekas wadah biskuit khongguan. Pramudita kaukah itu?.

**

/2

Aku terduduk lesu sesampainya di rumah orang tuaku, perawat di klinik tadi berkata dalam waktu tiga minggu kedepan aku harus benar-benar menjaga diriku, janinku akan segera menghirup udara bumi.
 Di rumah inilah aku menghabiskan masa kecil hingga remajaku, di rumah inilah aku tinggal dengan kedua orang tua yang mengadopsiku. Rumah sederhana ini berhadapan dengan jalan kampung yang di sebelahnya ialah area persawahan milik warga. Bapakku seorang lurah yang baik, setidaknya ini bisa dilihat dari respon warga yang diayominya. Bukti nyata kebaikan beliau yaitu ketika musim panen padi tiba, tak jarang beberapa dari warga yang notabene juga tetangga kami mengunjungi rumah dan membagikan beras-beras hasil panenan mereka. Tak hanya petani padi yang melakukan hal itu, beberapa orang yang mempunyai kebun salak, pepaya, kacang tanah, jagung, rambutan, mangga, juga kelapa serta pisang silih berganti bertamu ke rumah kami membawa hasil kebun mereka masing-masing. Ibuku yang seorang guru Sekolah Dasar di desa sebelah juga orang yang ramah, pantas jika hari libur tiba banyak anak didiknya yang sering bermain di rumah kami. Beberapa dari mereka yang sudah melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi juga masih sering berkunjung ke rumah kami. Tidak hanya anak-anak didik yang bahkan sudah berpasangan pun berketurunan, orang tua mereka juga ketika lebaran ada yang sowan ke rumah. Ramai dan hidupnya rumah ini beserta keramahan dan kehangatan penghuninya ialah faktor utama kenapa aku semakin betah dan selalu betah tinggal disini bersama mereka.
Matahari pagi ini masih matahari yang sama kita lihat waktu itu. Matahari yang mendukung proses fotosintesis daun-daun tanaman yang dulu kutanam bersama ibuku di halaman rumah kami. Tanaman yang rajin aku siram ketika sore tiba. Hangatnya matahari pagi ini juga yang mendorongku menuliskan kabar untukmu. Jangan kau heran jika aku mengetahui alamat tempat tinggalmu, aku paham betul watakmu, seorang lelaki yang tak pandai menyembunyikan rahasia.

Halo yang jauh dan menjauh disana. Sengaja aku tidak menyertakan nama dan alamat pengirim surat, karena aku tahu kamu juga orang yang sanggup menyelidiki sesuatu. Frasa menjauh disana tidak kubuat-buat. Itulah yang aku rasakan hampir sembilan belas tahun hidupku. Kamu yang waktu itu berjanji akan menghubungiku dan mencari alamat pengadopsiku, ternyata kamu selama ini ingkar. Kamu, aku masih menyimpan marah padamu. Dan masih menyimpan tanya kenapa kamu tidak menghubungiku, mungkinkah lupa, ataukah kamu takut. Disisi lain aku masih dan tetap mengenangmu sebagai seseorang yang baik bagi perempuan sepertiku.

Aku merindukanmu, masih kuingat hangatnya peluk tubuhmu, manisnya bibirmu yang tak pernah menghisap rokok, juga segores luka di kulit dada kirimu, luka yang selalu kuusap sebelum kita terlelap. Dulu tempat kita masih sering bocor ketika hujan tiba, sialnya lagi listrik juga belum masuk ke tempat kita. Itulah sebabnya setiap malam aku menyelinap untuk bisa tidur bersamamu, seseorang yang tak bisa lebih kupercaya dibanding siapapun di tempat itu.  Kau bilang bekas luka itu disebabkan oleh cakaran dinosaurus, ketika aku tanya mengapa ada bekas luka di dada sebelum aku mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian aku tahu bekas lukamu akibat ulahmu yang tak tahu waktu. Ya, kamu dulu pernah bermain bola di bawah cahya bulan, aku penasaran kenapa kamu melakukannya, dan aku terlalu takut menanyakannya padamu. Takut kamu tak membolehkanku lagi tidur bersamamu.

Aku tahu, kamu pasti lupa, namun aku tidak pernah bisa melupakanmu begitu saja, ucapan selamat malam sebelum aku tidur masih menggema di telingaku, kalimat selamat pagi sayang masih terngiang. Bagaimana kita mengatur posisi tidur di atas kasur sempit itupun masih tergambar jelas dalam ingatanku. Aku akan tidur di sisi dalam, di samping dinding panti, sedangkan kamu berada di sisi luar. Katamu itu adalah cara menjagaku kalau sewaktu-waktu dinosaurus datang ketika kita tidur, dengan begitu kamu bisa menghalau dan menghajarnya dengan leluasa. Tidur bersamamu selalu membuatku merasa aman meskipun sebenarnya ada peraturan agar anak-anak tidur di tempat dan bagiannya masing-masing. Entah kenapa pengasuh membiarkan kita tidur bersama, mungkin sikapmu yang selalu ceria dan jauh dari kata nakal yang membuat mereka memberikan pengecualian pada kita. Atau mungkin karena kita diantarkan oleh orang yang sama.

Kini aku sudah hamil tua, sembilan bulan tepatnya, jika kamu menduga jenis kelaminnya maka jawabnya sama sepertimu, lelaki dan untuk itulah aku ingin meminta pendapatmu mengenai nama yang akan kuberikan pada calon anakku, aku ingin nama yang sama denganmu untuk anakku. Lelaki yang kupuja selama masa kuliah kini telah pergi entah kemana. Hal ini membuatku merasakan beban berat, beban keluarga angkatku, dan juga beban calon anakku kelak. Ia akan menyambut dunia tanpa kehadiran sosok bapak. Aku takut ia menjadi kurang percaya diri, atau mungkin menjadi pembenci. Aku bahkan semakin takut sebab para tetangga tidak menghormati kedua orang tuaku seperti dulu lagi. Bapak dan ibu awalnya menjadi tertutup sejak mengetahui kehamilanku, mereka marah, dan bapak bahkan sempat sakit yang kuduga penyebab utamanya ialah kehamilan di luar nikahku. Aku takut, aku tahu aku salah, dan aku tidak ingin anakku kelak juga melakukan hal yang salah. Untuk itu aku memohon kepada ibuku agar aku diasingkan ke panti untuk sementara, namun segera beliau menolaknya. Ibu berujar, jika memang ini yang telah Dia berikan, maka dengan senang hati ia akan menjalaninya. Hingga kehamilanku yang telah memasuki bulan kesembilan, orang tuaku mulai sanggup menerima keadaan. Tak hanya itu, mereka bahkan berencana membelikan keranjang tidur beserta mobil-mobilan untuk cucunya kelak.

Aku tidak mau menamainya dengan nama bapaknya yang telah memutuskan lari bahkan sebelum pernikahan kami digelar, tapi bukan karena itu aku ingin menamainya sama dengan namamu. Ranjana abangku, aku tahu kamu telah mencoba melupakanku untuk belasan tahun lamanya, dan maafkan aku harus mengingatkan tentang masa lalu yang pilu. Aku, Pramudita dengan segenap tenaga tersisa memohon kepadamu mengijinkanku menamai anakku dengan namamu. Agar ia bisa menjadi anak yang selalu bergembira laiknya arti namamu.

****



Senin, 06 Juni 2016

Biarlah kita menjadi ketidakberaturan yang tidak mudah terpisah, saling menguatkan dalam lajur pencapaian tujuan. 22

Selasa, 17 Mei 2016

Hikayat Anak Pak Tani



Tersembunyi di lipatan-lipatan lemak manusia kolot, perlahan menyayat kulit.
Terhimpit di ketiak basah manusia resah, tiada rasa sakit menjangkit.
Di ruas-ruas jalan protokol di kota ini, yang ruwetnya sama dengan rimbun lebat rambut gimbalnya.
Ia sibuk mencaci diri di hadapan cermin spion bekas motor matik kumaha.
Bertanya dan terus bertanya, kenapa oh kenapa.
Sinis memandangi yang lain lalu lalang, ia menyeru namun tak ada yang mendengar.
Ia teriak sekalipun, tak terdengar.
Ia diam dan menulis, mereka mulai melirik.
Ia menggambar, orang menoleh.
Ia melukis, yang lain teralihkan.
Ia kemudian menari, dan seluruh kota mengikuti.

Ia gembira dan dalam waktu bersamaan heran, orang macam apa yang kerjanya menari-nari setiap hari. Tanpa rasa haus, lapar, lelah, ngantuk. Ia heran, ia menari di dalam selimut, yang lain tetap mengikuti, namun ia memelankan tarian, yang lain stagnan, lalu ia mematung. Dan yang lain menggila. Ia heran, ada apa gerangan. Ia putus asa, lalu tidur. Keesokan harinya makin banyak yang menari, ia melihat berita, disiarkan di televisi. Ia masuk koran, ia dilagukan, ia tokoh dalam novel. Ia terkenal, kaya, mendunia, ia gila. Ia punya uang, setumpuk, segudang, ia mandi dengan uang, ketika berak ia ganti tisunya dengan uang dua ribuan. Ia melancong ke Paris dan Milan, tak lupa ke London. Dua minggu penuh, makan kerang mentah, makan pizza, makan otak sapi, minum anggur putih, bir, juga kopi luwak. Ah, ia teringat sesuatu. Luwak dulu banyak di kampungnya, mencuri anak-anak ayam, memakan kates di pekarangan rumahnya, menggerogoti pisang-pisang juga. Seandainya ada pohon kopi di rumahnya kali ini, ia ingin ada luwak disitu. Biar ia bisa minum kopi tanpa bayar, tapi ia bingung, bagaimana membersihkan biji-biji kopi dari tai luwak, bagaimana ia membersihkan tai-tai luwak dari biji kopi, menyusahkan. Ia kaget dari lamunan, ketika Diego Costa menjebol gawang Petr Cech. Ya, malam itu ia menyaksikan pertandingan sepakbola di negeri sepakbola, sebuah pertandingan di liga terbaik di eropa, di dunia.
Pulang ke kotanya, ia melipat muka, kusut, ia tak mandi selama di eropa, ia kedinginan.
Ia lelah, ia mulai bosan.
Wajahnya di mana-mana, di bungkus-bungkus gorengan, di majalah wanita, di baliho acara, di poster-poster.
Ia heran, ia dipuja oleh yang tak dikenalnya. Ia menjabat tangan yang tak pernah sebelumnya ia tahu namanya. Ia tersenyum kepada wajah-wajah riang di hadapannya.
Di sebuah koran harian, ia membaca sebuah artikel tentangnya;

“Sebelumnya tak ada yang mengenal dirinya, ia kurus dengan kulit coklat kotor, dengan rambut tak pernah tersentuh air, ia sekarang  menjadi buah bibir di kota ini. Ada yang bilang ia dulu terlihat sering tidur di emper-emper ruko jalan ikhlas. Beberapa perempuan sering melihatnya di depan pasar guma, ada pemuda pernah melihatnya di halte bus di jalan taqwa. Tak ada yang tahu siapa nama aslinya, pemerintah kota pun bergeming ketika dimintai pendapatnya, walikota berpendapat yang penting ia taat membayar pajak. Saat ini, ia dikabarkan sedang plesiran ke eropa, siapa yang menyangka ia menjadi terkenal. Berawal dari video amatir yang diunggah ke media sosial, ia semakin terkenal. Jogetnya lucu, kata anak-anak, menurut pemerhati dari salah satu bidang di Dinas Sosial, ia ialah antitesis masyarakat kekinian yang hidup seperti robot, mengalir dari rutinitas ke rutinitas, seperti tanpa kebahagiaan, terlihat murung setiap pagi, tanpa semangat hidup setelah pulang kerja. Namun hal itu masih menjadi perdebatan, siapakah yang berhak mengukur kebahagiaan seseorang di kota ini, dan apakah benar ‘ia’ ialah manusia terbahagia di kota ini. Satu yang jelas, ia semakin kaya, uangnya di bank-bank di luar kota. Hanya saja ada satu keanehan, ia tak memiliki mobil mewah, ah padahal biaya parkir dan pajak tak seberapa untuk orang sekaya dirinya. Ferrari, Lamborghini, Jaguar, Mercedes, ia sanggup untuk mengoleksi masing-masing lima dari tiap pabrikan, tapi ia tak melakukan, entah apa motivasinya. Desas-desus berhembus, ia masih mabok kalau naik mobil, bukankah ada produk bernama antamo?. Biarlah, karena toh sekarang ia menikmati kehidupan barunya, ia masih lajang, baru dua puluh sembilan. Orang tuanya sudah berhaji dan berumah nyaman di kampung di pinggiran ladang persawahan di kaki gunung sana. Ia masih sendiri, ia baik hati, ia sering memberi dan menawarkan pekerjaan bagi teman-temannya di jalanan dulu. Pantaslah orang-orang dari Dinas Sosial sangat akrab padanya, rupanya angka kemiskinan kota ini semakin berkurang, tak terlihat lagi gepeng, anak jalanan, pengamen, bahkan angka kriminalitas juga turun. Orang lebih banyak menonton televisi sambil makan marning. Hidup terlalu rumit untuk dijabarkan dalam sebuah kolom koran bukan. Dan ia, mungkin tak mengenaliku lagi”.


Ia kaget, ketika membaca kalimat terakhir, ia penasaran, siapa kira-kira yang menulis artikel di koran itu. Siapa dia, apakah ia mengenalnya, apakah ia pernah bertemu atau berbicara padanya. Ia segera mengutus orang untuk menemui pemimpin redaksi koran tersebut, untuk mencari tahu siapa penulisnya sebab tak ada nama yang jelas tertera pada akhir tulisan itu.
Ia mengingat-ingat masa lalu, kejadian masa silam, namun ia masih tak menemukan jawaban.


***

Pagi-pagi buta lelaki itu terbangun gara-gara suara pasar yang semakin riuh, pedagang menjajakan sayuran, tempe, ikan, ada juga yang menjual teh hangat, bakwan, lotek, dan bubur. Lelaki itu menyusuri emper-emper ruko melewati pasar menuju sebuah halte, bukan karena terganggu dengan ributnya peluit tukang parkir, cuma tak tahan menghirup aroma bakwan dan bubur serta teh hangat. Dalam pikiran lelaki itu, ada dua surga baginya, surga yang kata orang-orang ada di ujung cakrawala sana, dan mulut tirus yang terisi dengan suapan bubur dengan bakwan adalah surga yang satunya. Hampir lima tahun lelaki itu hidup terlunta-lunta, dari emperan ruko melewati pasar lalu ke sebuah halte, itu-itu saja orbit sang lelaki. Di bulan kesembilan tahun terakhirnya, lelaki itu bermimpi didatangi seorang ‘gila’. Laki-laki dalam mimpinya berambut kribo, celana cutbray, kaca mata hitam besar, kumis lebat, dan baju juga celana berwarna biru metalik. Laki-laki dalam mimpinya berkata, menyanyilah karena Tuhan telah memberikan kita suara, menulislah biar tak terlupakan, menggambar atau melukislah agar semakin nyata dan abadi, menarilah karena kau bahagia.
Semenjak bermimpi aneh seperti itu, sang lelaki mulai bernyanyi dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte. Ia bernyanyi sendiri, tak ada orang lain yang peduli.
Lalu lelaki itu juga menulis di jalanan dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte. Menggunakan kapur, arang, cat, dan apapun yang bisa digunakan untuk menulis yang didapatkan dari tempat-tempat sampah. Selesai menulis sang lelaki merasa diperhatikan.
Lelaki itu menggambar, dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte dan merasa tak sendiri, begitupun ketika melukis kambing-kambing dan sapi-sapi kurus di atas kanvas yang terbuat dari sisa-sisa kain mori yang dijumputnya dari suatu sudut pasar.
Satu hari, sang lelaki itu menari dari emperan ruko melewati pasar sampai ke halte. Lelaki itu menari tanpa henti, orang-orang heran namun tak terganggu, beberapa menganggapnya lucu. Sejak hari itu sang lelaki rajin menari dan mendapatkan surga duniawi setiap pagi. Lelaki itu semakin giat menari, semakin lincah, atraktif, menghibur. Anak-anak bolos sekolah, pegawai tak masuk kerja, di tempat-tempat ibadah tak ada lagi yang berkhutbah, pedagang meraup untung besar kalau berjualan di sekitar lelaki itu. Banyak yang ikut menari, semakin hari semakin banyak, bertambah banyak, hingga satu kota hafal tariannya, herannya mereka tak pernah bosan. Lelaki itu menari, mereka juga menari. Setiap hari.

Sabtu, 14 Mei 2016

Akan kau temui.



Akan kau temui suatu saat nanti
Jemari yang tak lagi kuat menggenggam mimpi
Tangan yang terlalu lemah tuk memberi

Akan kau temui suatu saat nanti
Senyum ramah di jeruji-jeruji besi
Amarah terpendam dalam hati

Akan kau temui suatu saat nanti
Pagi yang tak lagi berseri
Rumah-rumah megah yang sepi

Akan kau temui suatu saat nanti
Daun-daun kering yang tak mati
Pupuk alami yang menghidupi

Akan kau temui suatu saat nanti
Tembok-tembok putih terkotori
Goresan pensil disana-sini

Akan kau temui suatu saat nanti
Baju lusuh terbengkalai di dalam lemari
Jin luntur jarang dicuci

Akan kau temui suatu saat nanti
Luka-luka menganga dan tak terobati
Bekasnya terus menghantui

Akan kau temui suatu saat nanti
Interaksi manusia yang tertata rapi
Tersimpan aman dalam kotak peranti

Akan kau temui suatu saat nanti
Tentang hidup adalah berbagi
Menjadi manusia ialah menyebar kebaikan di muka bumi

Akan kau temui suatu saat nanti
Sungai-sungai kering dibulan januari
Kambing kelaparan tak ada rumput dapat dikonsumsi

Akan kau temui suatu saat nanti
Atap rumah menjadi wahana bermain burung pleci
Pekarangan sering dikunjungi capung warna-warni

Akan kau temui suatu saat nanti
Hujan yang turun tak lagi membasahi
Terik kemarau bisa dihindari

Akan kau temui suatu saat nanti
Teman lama yang telah lama pergi
Dambaan hati resmi bersuami

Akan kau temui suatu saat nanti
Memasak hanya dalam panci
Toko-toko berisi makanan cepat saji

Akan kau temui suatu saat nanti
Mobil bukan sekadar alat transportasi
Kuda-kuda tak mau lagi berlari

Akan kau temui suatu saat nanti
Mendoan merajai kedai-kedai kopi
Tahu susur menjadi kudapan sehari-hari

Akan kau temui suatu saat nanti
Rumah-rumah hijau ditumbuhi tanaman padi
Beras tak perlu impor dari luar negeri

Akan kau temui suatu saat nanti
Obat bius paling ampuh yaitu televisi
Senjata mematikan yakni religi

Akan kau temui suatu saat nanti
Pintu-pintu yang rapat terkunci meski diketuk berkali-kali
Jendela-jendela sunyi dengan tirai-tirai menggelayuti

Akan kau temui suatu saat nanti
Gelas-gelas kotor bekas menyeduh kopi
Piring nasi beraroma sambal terasi

Akan kau temui suatu saat nanti
Buku-buku berhiaskan debu suci
Kertas-kertas tak lagi diproduksi

Akan kau temui suatu saat nanti
Pakaian bukan cuma pembungkus diri
Material yang melekat di tubuh ialah sumber gengsi

Akan kau temui suatu saat nanti
Semut-semut tak lagi doyan gulali
Tikus-tikus tidak saja musuh pak tani