Jadilah apapun yang kamu mau, yang kamu
inginkan, yang kamu mampu, kamu impikan. Di luar sana sebagian orang selalu
merasa benar [Some people think they’re
always right-The Strokes]. Belajarlah dalam kemauan, atau terimalah saja
jika dibutuhkan paksaan. Risau akan masa depan seolah hilang ingatan dari yang
sudah dilakukan. Jika hasil tidak mengkhianati proses, maka proses jualah yang
menentukan hasil. Lalu bersenang-senanglah selagi bisa, dan jangan berlebihan.
Sebab itu hal yang fana. Senang, sedih, segar, lelah berada dalam rangkaian.
Hindari beban serta perlakuan berlebihan, ya, bisa timbul kecemburuan. Hadapi
apa yang merupakan konsekuensi. Akibat dari reaksi. Tanggung jawab kudu
dipikul, kewajiban dilakukan, biarkan hak yang menentukan jalan. Tiga sampai
lima tahun kedepan mungkin masih sama saja, tetapi tiga atau lima puluh tahun
lagi tak semua yang kita tahu, kenal dan jamah akan tetap sama. Ingatan yang
lemah, tubuh yang lelah. Ketakutan masih misteri, tidak nampak namun terus
menjalari. Takut berjalan sendirian, takut tidak diperhatikan, takut
berlebihan.
Pada hari-hari ketika ketakutan mulai
menjangkiti, pertanyaaan semacam ini muncul; untuk apa aku ada dan hidup di
dunia. Apakah keadaan tersebut ialah keinginanku, atau orang tuaku, atau
keinginan-Nya yang menciptakan manusia agar menjadi khalifah di bumi. Perlu
diketahui juga, keinginan seutuhnya melibatkan semua pihak. Meski orang tua
berkeinginan dan lalu mendapatkan yang diinginkan bukan berarti mereka secara
mutlak menjadi majikan anaknya, sebab anak juga punya keinginan entah itu untuk
menjadi ia yang lepas dari orang tuanya atau menjadi manusia yang tetap ada
bagi mereka yang telah berkontribusi untuk kehadirannya di dunia. Dan bila
keinginan tersebut datang dari-Nya, maka kitalah yang bukan apa-apa hanya ada
untuk memenuhi keinginan-Nya. Mungkin akan muncul lagi pertanyaan; lalu apa
alasan masing-masing mereka menginginkan kehadiran yang lain dihidupnya.
Mungkinkah ini simulacra semesta?.
Khayalan yang nyata, dilihat, dicermati dan ditertawakan oleh mereka yang
berada di luar dunia kita.
Kadang, merasa malas ialah ganjalan. Di lain
waktu, hal itu menjadi simbol dari sebuah kebebasan. Mau jadi apa aku-kamu
nantinya, peran apa yang sebenarnya sesuai dan harus kita mainkan. Sibuk
berjam-jam, tenggelam dalam rutinitas, diganjar berjuta lembar rupiah,
berhadiah pengakuan, diberi penghormatan, berhak atas kehidupan. Menjadi siapa
terlebih dulu mengorbankan sesuatu yang setimpal. Uang meminta waktu, apakah
begitu?. Uang bisa membeli waktu, tentu saja. Haruskah kujawab hindari kekayaan
berlebihan sebab usiamu masih misteri si pembuat waktu. Jadikanlah uang dan
waktu ‘kelebihan’ bukan sekadar kepunyaan tanpa guna. Lalu, mau jadi apa kah
kamu. Aku dalam sepi dan suasana gundah seperti ini lebih sering tenggelam
dalam lamunan, meleburkan yang nyata dan khayalan untuk menciptakan kemungkinan
hidup tanpa kegelisahan. Hasilnya, kematian ialah hidup tanpa perasaan.
Membayangkan tubuh yang bersandar pada kursi kayu di teras, berkeringat terkena
panasnya matahari pukul tiga. Rumput yang muncul di undakan, semut yang
bergotong-royong mengusung remah camilan, serta ayam-ayam yang mematuki beras
di depan rumah.
Jalinan kisah yang seringkali kita abaikan
menunjukkan berbagai rupa dan peringai manusia. Kehebatan manusia dalam ber-dramaturgi menyembunyikan kenyataan
rasa. Merelakan emosi dipendam dalam hati. Mengungkung tubuh dalam dunia
pikiran. Menipu diri kadang tak terelakkan. Tujuan utamanya bukan hanya untuk
mencoba meyakinkan, lebih kepada agar kita merasakan apa yang pihak lain
rasakan, melihat dan mempersepsikan kita dari kacamata yang lain dan
seterusnya. Namun intinya, peredaman ego diri untuk melaksanakan kebaikan
bersama. Kesabaran dibutuhkan, diusahakan dalam pergumulan keinginan menang
sendiri dan menghargai orang lain. Bukan menjadi orang yang lain sama sekali,
hanya kemampuan menerima yang tidak mengada-ada.
Kehebatan memperlakukan keadaan agar tak
mudah tercerabut dari kesabaran-kebaikan tidak tegak sendirian. Ia harus
mengenal situasi yang dihadapi; kepekaan untuk mendefinisikan keadaan atau
dikenal sebagai definisi situasi. Bertujuan tidak saja menempatkan diri pada
posisi yang tidak merugikan, juga bagaimana agar yang lain tidak turut menjadi
korban. Bagaimanapun, keahlian ini membutuhkan praktek nyata bukan sekadar
pelafalan arti di ruang-ruang kelas saja. Pendefinisian yang dilakukan
berdasarkan pengalaman, pengamatan, pengetahuan, pemahaman, introspeksi,
kemauan menghargai, antisipasi, dan kontemplasi.
Hidup berkelompok memang menjengkelkan,
keinginan setiap anggota seringkali bertentangan, menyusahkan pengambilan
keputusan. Sekali terpenuhi, tidak semua kebagian. Atau dapat dicapai namun
masih saja ada yang berkeberatan. Mau menang sendiri, menganggap diri paling
benar, mengomentari yang lain tanpa memberi solusi, memberi masukan yang
bersifat paksaan, murung ketika mendapat kritikan, ialah beberapa hambatan yang
mudah ditemukan.
Ruang-ruang terbatas yang kita tempati dan
waktu-waktu bebas yang kita miliki harap dimanfaatkan secara maksimal. Sebagai contoh,
menyapu lantai boleh dikata hanya tangan dan kaki yang bergerak, pada saat
itulah pikiran kita leluasa. Kita mungkin sekadar menyapu tapi pikiran kita
sedang menyelam atau terbang dengan kemungkinan yang bisa kita ciptakan dan
usahakan setelahnya. Agak mirip dengan mengkhayal memang, sebab pikiran juga
merupakan sesuatu tak terlihat dan keduanya diolah di tempat yang sama. Perlu
dicermati, ketika pikiran ini bisa lepas dari yang tubuh alami, maka mereka
yang di luar sana patut berhati-hati.
Ini bukan pemberontakan, bukan juga sebuah
perlawanan. Tulisan ini sebatas menumbuhkan kesadaran, yang masih jauh dari
kata sempurna dan tanpa referensi memadai. Kalau apa yang kalian pikirkan
kadang tak bisa diterima orang lain bukan sepenuhnya kalian salah. Apa yang ada
ialah kita ini liar. Dan terdapat kelompok yang menciptakan aturan dengan
pertimbangan kebaikan bagi semua anggotanya, penggunaan paksaan fisik seminimal
mungkin, dan sifatnya membatasi. Akibat terburuk yang seringkali tak teramati
ialah lahirnya manusia yang bahkan tidak bisa berpikir bebas. Manusia yang
menerima apa yang diajarkan dan menilai salah apa-apa yang tidak mereka pahami.
Manusia yang membodohkan manusia lainnya gara-gara dirinya merasa tidak pantas
berada di tangga ke dua.
Pada golongan itukah kemaslahatan masa depan
dititipkan. Jawaban umumnya tidak. Akan tetapi apa yang kita perbuat pada
mereka yang selalu menganggap diri mereka benar meskipun apa yang mereka
perbuat lebih banyak mudharatnya akan menentukan. Mereka yang tahu, tidak berguna,
tatkala tidak mau berbagi apa yang mereka ketahui. Ini juga yang lambat laun
menghambat proses pembersihan masyarakat dari manusia kepala batu.
Apabila kita tarik lagi keberadaan kaitan di
antara keduanya ialah; manusia kepala batupun ialah pelajaran bagi manusia
umumnya dan kita sebagai bagian dari kelompok umum manusia bisa memberikan
pengertian (dengan kesabaran) pada mereka para kepala batu. Fungsional ialah
konsep (menurut hemat saya) yang mampu mengakomodir pengertian dari keberadaan
kaitan dua perkara tersebut.
Kesadaran seperti inilah yang akan kita pakai
untuk menjelaskan sebuah tesis –kecelakaan berkendara. Dijelaskan; A sedang
berkendara di jalan dan kemudian B menabraknya. Pada kondisi wajar, banyak yang
akan menilai B pantas disalahkan. Dari kacamata yang lain kita bisa saja
menyalahkan A. Pertanyaannya, atas dasar apa B layak disalahkan dan A pantas
dibela, atau sebaliknya. A sebagai pihak yang tertabrak berhak mengumpat dan B
sebagai penabrak juga wajar bila meminta maaf. Namun masih ada kemungkinan B
yang lebih berhak mengumpat dan A yang wajib memohon maaf. Secara obyektif
keduanya dirugikan. Keduanya kesakitan. Sekarang mari kita lihat kemungkinan
yang ada; A bisa saja memasuki lajur lain tanpa memperhatikan pengendara lain,
berbelok tanpa menggunakan tanda, mengerem mendadak, dan sebagainya, B bisa
saja sedang terburu-buru, remnya rusak, tidak fokus berkendara, salah mengambil
keputusan ketika menyalip kendaraan di depannya. Kemungkinan-kemungkinan yang
telah disebutkan bisa saja dialami oleh A maupun B tanpa ada batasan siapa yang
tertabrak dan siapa yang menabrak. Demi luka yang telah menganga, siapa yang
lebih berhak mengumpat pada yang lainnya?.
Tesis kecelakaan berkendara hanya mencoba
menjelaskan pada kita bahwa sebelum kita berargumen ada baiknya kita
mempelajari latar belakang permasalahannya. Tidak berhenti pada pencarian siapa
yang lebih benar, lebih jauh ialah melatih diri agar tidak mudah terbawa emosi
dan terpengaruh pihak lain. Berpikir jernih, atau jika sanggup kita akan menapaki
level kehidupan selanjutnya; menerima segala konsekuensi, pertama-tama dengan
senyuman, kedua dengan kesyukuran, ketiga dengan kesanggupan memaafkan baik itu
pihak lain pun diri sendiri, dan seterusnya.
Tambahan lagi, dari konflik yang terjadi kita
bisa mengambil suatu pelajaran yang bermanfaat untuk mengarungi bagian-bagian
kehidupan selanjutnya. Ambil contoh apa yang dialami oleh Pak Antasari,
dianggap sebagai orang yang dikorbankan oleh pihak-pihak tertentu, nyatanya (menjadi
warga binaan) tak lantas membuatnya pesakitan. Masih sanggup menjadi tempat orang
mencurahkan keluhan bahkan mengayomi para tahanan. Apa yang ia dapatkan dari
masa penahanan mungkin tak akan didapatkan jika ia masih berkarier sebagai
ketua KPK atau mungkin menjadi Gubernur Jakarta. Dari menjadi korban hingga
mampu mengambil pelajaran yang sangat layak untuk diamalkan.