Minggu, 28 Agustus 2016

Merdeka sejak dalam pikiran.

Jadilah apapun yang kamu mau, yang kamu inginkan, yang kamu mampu, kamu impikan. Di luar sana sebagian orang selalu merasa benar [Some people think they’re always right­-The Strokes]. Belajarlah dalam kemauan, atau terimalah saja jika dibutuhkan paksaan. Risau akan masa depan seolah hilang ingatan dari yang sudah dilakukan. Jika hasil tidak mengkhianati proses, maka proses jualah yang menentukan hasil. Lalu bersenang-senanglah selagi bisa, dan jangan berlebihan. Sebab itu hal yang fana. Senang, sedih, segar, lelah berada dalam rangkaian. Hindari beban serta perlakuan berlebihan, ya, bisa timbul kecemburuan. Hadapi apa yang merupakan konsekuensi. Akibat dari reaksi. Tanggung jawab kudu dipikul, kewajiban dilakukan, biarkan hak yang menentukan jalan. Tiga sampai lima tahun kedepan mungkin masih sama saja, tetapi tiga atau lima puluh tahun lagi tak semua yang kita tahu, kenal dan jamah akan tetap sama. Ingatan yang lemah, tubuh yang lelah. Ketakutan masih misteri, tidak nampak namun terus menjalari. Takut berjalan sendirian, takut tidak diperhatikan, takut berlebihan.
Pada hari-hari ketika ketakutan mulai menjangkiti, pertanyaaan semacam ini muncul; untuk apa aku ada dan hidup di dunia. Apakah keadaan tersebut ialah keinginanku, atau orang tuaku, atau keinginan-Nya yang menciptakan manusia agar menjadi khalifah di bumi. Perlu diketahui juga, keinginan seutuhnya melibatkan semua pihak. Meski orang tua berkeinginan dan lalu mendapatkan yang diinginkan bukan berarti mereka secara mutlak menjadi majikan anaknya, sebab anak juga punya keinginan entah itu untuk menjadi ia yang lepas dari orang tuanya atau menjadi manusia yang tetap ada bagi mereka yang telah berkontribusi untuk kehadirannya di dunia. Dan bila keinginan tersebut datang dari-Nya, maka kitalah yang bukan apa-apa hanya ada untuk memenuhi keinginan-Nya. Mungkin akan muncul lagi pertanyaan; lalu apa alasan masing-masing mereka menginginkan kehadiran yang lain dihidupnya. Mungkinkah ini simulacra semesta?. Khayalan yang nyata, dilihat, dicermati dan ditertawakan oleh mereka yang berada di luar dunia kita.
Kadang, merasa malas ialah ganjalan. Di lain waktu, hal itu menjadi simbol dari sebuah kebebasan. Mau jadi apa aku-kamu nantinya, peran apa yang sebenarnya sesuai dan harus kita mainkan. Sibuk berjam-jam, tenggelam dalam rutinitas, diganjar berjuta lembar rupiah, berhadiah pengakuan, diberi penghormatan, berhak atas kehidupan. Menjadi siapa terlebih dulu mengorbankan sesuatu yang setimpal. Uang meminta waktu, apakah begitu?. Uang bisa membeli waktu, tentu saja. Haruskah kujawab hindari kekayaan berlebihan sebab usiamu masih misteri si pembuat waktu. Jadikanlah uang dan waktu ‘kelebihan’ bukan sekadar kepunyaan tanpa guna. Lalu, mau jadi apa kah kamu. Aku dalam sepi dan suasana gundah seperti ini lebih sering tenggelam dalam lamunan, meleburkan yang nyata dan khayalan untuk menciptakan kemungkinan hidup tanpa kegelisahan. Hasilnya, kematian ialah hidup tanpa perasaan. Membayangkan tubuh yang bersandar pada kursi kayu di teras, berkeringat terkena panasnya matahari pukul tiga. Rumput yang muncul di undakan, semut yang bergotong-royong mengusung remah camilan, serta ayam-ayam yang mematuki beras di depan rumah.
Jalinan kisah yang seringkali kita abaikan menunjukkan berbagai rupa dan peringai manusia. Kehebatan manusia dalam ber-dramaturgi­ menyembunyikan kenyataan rasa. Merelakan emosi dipendam dalam hati. Mengungkung tubuh dalam dunia pikiran. Menipu diri kadang tak terelakkan. Tujuan utamanya bukan hanya untuk mencoba meyakinkan, lebih kepada agar kita merasakan apa yang pihak lain rasakan, melihat dan mempersepsikan kita dari kacamata yang lain dan seterusnya. Namun intinya, peredaman ego diri untuk melaksanakan kebaikan bersama. Kesabaran dibutuhkan, diusahakan dalam pergumulan keinginan menang sendiri dan menghargai orang lain. Bukan menjadi orang yang lain sama sekali, hanya kemampuan menerima yang tidak mengada-ada.
Kehebatan memperlakukan keadaan agar tak mudah tercerabut dari kesabaran-kebaikan tidak tegak sendirian. Ia harus mengenal situasi yang dihadapi; kepekaan untuk mendefinisikan keadaan atau dikenal sebagai definisi situasi. Bertujuan tidak saja menempatkan diri pada posisi yang tidak merugikan, juga bagaimana agar yang lain tidak turut menjadi korban. Bagaimanapun, keahlian ini membutuhkan praktek nyata bukan sekadar pelafalan arti di ruang-ruang kelas saja. Pendefinisian yang dilakukan berdasarkan pengalaman, pengamatan, pengetahuan, pemahaman, introspeksi, kemauan menghargai, antisipasi, dan kontemplasi.
Hidup berkelompok memang menjengkelkan, keinginan setiap anggota seringkali bertentangan, menyusahkan pengambilan keputusan. Sekali terpenuhi, tidak semua kebagian. Atau dapat dicapai namun masih saja ada yang berkeberatan. Mau menang sendiri, menganggap diri paling benar, mengomentari yang lain tanpa memberi solusi, memberi masukan yang bersifat paksaan, murung ketika mendapat kritikan, ialah beberapa hambatan yang mudah ditemukan.
Ruang-ruang terbatas yang kita tempati dan waktu-waktu bebas yang kita miliki harap dimanfaatkan secara maksimal. Sebagai contoh, menyapu lantai boleh dikata hanya tangan dan kaki yang bergerak, pada saat itulah pikiran kita leluasa. Kita mungkin sekadar menyapu tapi pikiran kita sedang menyelam atau terbang dengan kemungkinan yang bisa kita ciptakan dan usahakan setelahnya. Agak mirip dengan mengkhayal memang, sebab pikiran juga merupakan sesuatu tak terlihat dan keduanya diolah di tempat yang sama. Perlu dicermati, ketika pikiran ini bisa lepas dari yang tubuh alami, maka mereka yang di luar sana patut berhati-hati.
Ini bukan pemberontakan, bukan juga sebuah perlawanan. Tulisan ini sebatas menumbuhkan kesadaran, yang masih jauh dari kata sempurna dan tanpa referensi memadai. Kalau apa yang kalian pikirkan kadang tak bisa diterima orang lain bukan sepenuhnya kalian salah. Apa yang ada ialah kita ini liar. Dan terdapat kelompok yang menciptakan aturan dengan pertimbangan kebaikan bagi semua anggotanya, penggunaan paksaan fisik seminimal mungkin, dan sifatnya membatasi. Akibat terburuk yang seringkali tak teramati ialah lahirnya manusia yang bahkan tidak bisa berpikir bebas. Manusia yang menerima apa yang diajarkan dan menilai salah apa-apa yang tidak mereka pahami. Manusia yang membodohkan manusia lainnya gara-gara dirinya merasa tidak pantas berada di tangga ke dua.
Pada golongan itukah kemaslahatan masa depan dititipkan. Jawaban umumnya tidak. Akan tetapi apa yang kita perbuat pada mereka yang selalu menganggap diri mereka benar meskipun apa yang mereka perbuat lebih banyak mudharatnya akan menentukan. Mereka yang tahu, tidak berguna, tatkala tidak mau berbagi apa yang mereka ketahui. Ini juga yang lambat laun menghambat proses pembersihan masyarakat dari manusia kepala batu.
Apabila kita tarik lagi keberadaan kaitan di antara keduanya ialah; manusia kepala batupun ialah pelajaran bagi manusia umumnya dan kita sebagai bagian dari kelompok umum manusia bisa memberikan pengertian (dengan kesabaran) pada mereka para kepala batu. Fungsional ialah konsep (menurut hemat saya) yang mampu mengakomodir pengertian dari keberadaan kaitan dua perkara tersebut.
Kesadaran seperti inilah yang akan kita pakai untuk menjelaskan sebuah tesis –kecelakaan berkendara. Dijelaskan; A sedang berkendara di jalan dan kemudian B menabraknya. Pada kondisi wajar, banyak yang akan menilai B pantas disalahkan. Dari kacamata yang lain kita bisa saja menyalahkan A. Pertanyaannya, atas dasar apa B layak disalahkan dan A pantas dibela, atau sebaliknya. A sebagai pihak yang tertabrak berhak mengumpat dan B sebagai penabrak juga wajar bila meminta maaf. Namun masih ada kemungkinan B yang lebih berhak mengumpat dan A yang wajib memohon maaf. Secara obyektif keduanya dirugikan. Keduanya kesakitan. Sekarang mari kita lihat kemungkinan yang ada; A bisa saja memasuki lajur lain tanpa memperhatikan pengendara lain, berbelok tanpa menggunakan tanda, mengerem mendadak, dan sebagainya, B bisa saja sedang terburu-buru, remnya rusak, tidak fokus berkendara, salah mengambil keputusan ketika menyalip kendaraan di depannya. Kemungkinan-kemungkinan yang telah disebutkan bisa saja dialami oleh A maupun B tanpa ada batasan siapa yang tertabrak dan siapa yang menabrak. Demi luka yang telah menganga, siapa yang lebih berhak mengumpat pada yang lainnya?.
Tesis kecelakaan berkendara hanya mencoba menjelaskan pada kita bahwa sebelum kita berargumen ada baiknya kita mempelajari latar belakang permasalahannya. Tidak berhenti pada pencarian siapa yang lebih benar, lebih jauh ialah melatih diri agar tidak mudah terbawa emosi dan terpengaruh pihak lain. Berpikir jernih, atau jika sanggup kita akan menapaki level kehidupan selanjutnya; menerima segala konsekuensi, pertama-tama dengan senyuman, kedua dengan kesyukuran, ketiga dengan kesanggupan memaafkan baik itu pihak lain pun diri sendiri, dan seterusnya.
Tambahan lagi, dari konflik yang terjadi kita bisa mengambil suatu pelajaran yang bermanfaat untuk mengarungi bagian-bagian kehidupan selanjutnya. Ambil contoh apa yang dialami oleh Pak Antasari, dianggap sebagai orang yang dikorbankan oleh pihak-pihak tertentu, nyatanya (menjadi warga binaan) tak lantas membuatnya pesakitan. Masih sanggup menjadi tempat orang mencurahkan keluhan bahkan mengayomi para tahanan. Apa yang ia dapatkan dari masa penahanan mungkin tak akan didapatkan jika ia masih berkarier sebagai ketua KPK atau mungkin menjadi Gubernur Jakarta. Dari menjadi korban hingga mampu mengambil pelajaran yang sangat layak untuk diamalkan.