Silakan saja kalian mengadu pada teman atau orang yang
dipercaya. Hanya, seperti yang kubilang, setiap manusia punya kapasitas untuk
mengkhianati manusia lainnya, meski dalam pikiran dan hati bukan dalam ucapan
dan tindakan. Silakan saja kalian jujur kepada orang lain, namun jangan sampai
tak jujur pada diri. Sebab tak ada yang peduli pada dirimu, selain dirimu
sendiri.
Selama perilaku manusia masih berorientasi materi makin
mudah setiap mereka digerakkan dalam kegiatan yang bertujuan menaikkan derajat
sosial. Lalu benarkah manusia adalah makhluk sosial ataukah manusia adalah
makhluk yang tak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya?
Sejak kapan manusia mempertimbangkan kepentingan manusia
lainnya sebelum ia membuat suatu keputusan? Dan kenapa manusia hidup dalam
bayang yang lain.
Pada akhirnya hanya ada dua perspektif dalam menjalani hidup
ini; aku menjadi bagian hidupmu atau kamu menjadi bagian hidupku.
Sejarah ialah masa lalu dan masa kini yang segera melaju
menuju masa depan dan semua tinggal sejarah di masa yang entah lagi hingga
kapan.
Jenny=Fstvlst berujar :
Tentang benda-benda yang engkau punya dan engkau
banggakan
Tentang gaya hidup yang kau kenakan dan bahkan kini
engkau tuhankan
Tentang kekinian yang selalu saja engkau bicarakan
Tentang status dan posisi tawarmu di penglihatan
orang-orang
Jangan harap itu bisa mengesankanku dan menjatuhkanku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah dan selamanya
akan kau genggam
Tentang nama besar yang engkau sandang dan engkau
busungkan
Tentang seberapa pintar dan cemerlangmu di
penglihatan orang-orang
Tentang satu dua tiga peperangan yang pernah kau
menangkan
Kalimat menjatuhkan yang jadi sering engkau ucapkan
kau hujamkan
Jangan harap itu bisa mempercepatmu dan mengejarku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah kau punya
Dan atas nama segalanya yang engkau kira telah dan
selamanya akan kau genggam
Seratus dua puluh sekian masih kan menambah kecepatan,
kecepatan dan tak akan bisa kau kejar
Jangan harap itu bisa mempercepatmu dan mengejarku
Atas nama dunia yang engkau pikir telah kau punya
Dan atas nama segalanya yang engkau kira telah dan
selamanya akan kau genggam
Seratus dua puluh sekian masih kan menambah kecepatan
Kenapa dianjurkan berdoa dan juga berusaha, sedangkan masih
ada perih dalam tatapan kosong pedagang mie tektek yang tiap malam mendorong
gerobak dengan kaki-kaki rentanya.
Kenapa diajarkan menjadi sejahtera, sedangkan masih ada
lelah dalam kayuhan pedal sepeda penjaja kacang rebus juga pengumpul kardus dan
botol plastik di jalanan.
Kenapa diberi contoh berbagi, sedangkan dalam naungan halte
transmetro seorang tua tak tahu lagi harus pulang apatah berteduh kemana.
Kenapa harus berilmu jika yang kau urus hidupmu melulu?
Untuk apa logika dihadapkan dengan rasa?
Kenapa berkomunitas tapi tak bertetangga?
Kenapa mesti hidup jika nanti mati?
Untuk apa hidup jika kelak mati. Lalu apa guna punya kuasa
memilih dan mengolah raga, pikir, rasa, jika hanya sementara. Tak ada yang
abadi. Lalu buat apa kau cipta ini semua?
Mengapa kau biarkan manusia menindas manusia dan kau tak
acuh ketika manusia saling suka.
Kenapa kau ciptakan adam dengan hawa?
Kenapa manusia hidup bersama, tidak sekadar
berpasang-pasangan saja?
Kenapa ada miskin ada kaya, ada benci ada suka, ada tangis
ada tawa.
(Ada yang punya kesempatan menjadi lebih kaya dan banyak juga yang tak sanggup meningkatkan kesejahteraan hidup. Sebab struktur di masyarakat yang tidak memungkinkan.
Sejak kapan manusia jadi serigala bagi manusia lainnya.
Apa saja alasan manusia membantu manusia lainnya:
- Berharap imbalan-Nya
- Agar dianggap baik oleh lainnya
- Memuaskan hasrat kepahlawanan
- Agar dibantu juga olehnya kalau sedang sulit
- Mendapat untung materil
- Karena manusia tersebut memang butuh dibantu
- Karena manusia tersebut ingin membantu)
Kamilah makhluk sempurna! Sesempurna gelisah dalam tanya tentang
apa, mengapa, bagaimana. Tak ada jawab, kecuali jika mau mencarinya. Sempurna. Usaha,
kerja. Lalu doa? Bukankah kerja juga sebentuk doa?
Siapaku ragukanmu adalah pertanyaan oleh-Mu padaku.
Jika konsensus adalah sebuah upaya agar hak hidup manusia
lain tidak dirusuhi, mengapa nafsu menjadikan manusia lain lebih disegani?
Pada akhirnya kita akan jadi pupuk tanah-tanah gersang. Menjadi
makanan cacing, sendirian, kedinginan. Maka apa salahnya tidur di bawah buaian
hangat matahari pukul sepuluh pagi. Carpe
diem katamu, beribadah, dan jadilah manusia. Akan tetapi tidur seharian
juga tak perlu disayangkan dalam rentang umur yang singkat katanya.
Tidurlah, tidurlah jangan takut tak bangun lagi. Selagi cukup
makan dan minum, tidurmu menyenangkan.
Dan sementara akan kututup dengan paragraf ini:
Kami mungkin
seperti Nuh yang mencipta bahtera dan mengisinya dengan hal-hal yang kami suka.
Tapi tidak terjadi banjir. Dan tabung gas lima kiloan yang tersambung dengan
kompor yang kami nyalakan meledak, dan membakar habis kami dan hal-hal yang
kami sukai.