Jumat, 25 Desember 2015

Patut!

     Selalu lebih sulit menyatakan sesuatu kebenaran ketimbang mengucapkan hal yang asal. Seperti mengatakan bahwa aku terlalu sering merasa berat, pada saat - saat tertentu. Bahkan beberapa detik dalam sehari pernahku merasa bahwa tak seharusnya aku mempunyai keturunan. Kenapa. Karena kuanggap semua ini tidak pasti, terlalu rumit, penuh perjuangan. Karena aku bahkan tak pernah berjuang, karena mungkin aku selalu malas dan teramat malas berjuang. Ah, apa itu berjuang. Seperti menghadapi revisi proposal sebelum mengajukan diri kepada ujian akhir perkuliahan. Seperti itu.

     Selalu saja mudah menyerah, seperti ketika seorang perempuan mengataimu sebagai pengadu, yang bahkan aku terlalu besar mulut untuk membicarakan sesuatu tentangnya. Menyerah untuk mendapat apresiasinya, menyerah dan kemungkinan terburuknya tak kan bisa hanya untuk membenci, kata - kata pun persepsinya.

     Selalu saja kemudian dengan mudah diingatkan kembali kehadiran mereka. Manusia - manusia yang membuat diriku ada. Keberadaan yang tak setiap orang menyadari dan mau mengakui.

     Apakah benar jika kemudian aku menanyakan adakah kehidupan lebih baik ketimbang aku menjadi pecundang, rubah pencuri remah - remah roti di akhir musim semi. Pengadu bermulut besar yang akan mengatai di belakang orang - orang yang dalam pendapatnya seperti demikian. Dan jika ada kemungkinan untuk mengkonversi kekesalan menjadi keingintahuan maka yang tersurat belum tentu pancaran yang tersirat. Aku memang selalu peduli, apalagi tentangmu. Sebab hal itu yang akan membuatku setidaknya bergairah kembali menyalakan harapan kecil di sela - sela kecilnya peluang kehidupan di kota ini. Terlalu jika kau bilang, mengurusi dan mencampuri kehidupan orang lain. Dan membuat orang itu risih dan terganggu. Bukan maksud. Tentu saja jika benar aku akan menghancurkanmu dan membuatmu hidup ditertawakan orang lain seperti jalang tua di pinggiran arengka.

     Tapi tak apa. Itu sudah selesai. Meski suatu masa kau memohon kepadaku, aku akan selalu mengingat ini dan sehampa ini dan memang karena tidak ada apa - apa, dan kita bukan siapa - siapa.

     Kembali, jika desember sudah hampir selesai di masehi ini. Maka apa - apa saja yang sudah selesai darimu olehmu. Cerita yang usai. Hati yang selesai kalau kata Cak Nun. Pada bagian ini aku seolah baru memulai, proposal yang baru saja aku ujikan diterima dan kemudian aku akan berfokus pada satu titik utama penelitian. Dan tahun besok ini akan terealisasikan. Untuk akhirnya membawa pulang sebuah kepuasan, kehormatan sebagai manusia, serta kebanggaan pernah berada disini.

     Aku tidak menjanjikan, bukankah angan juga semurah harga padi para petani. Hanya itu yang aku tahu mengenai perekonomian bangsa ini. Petani setengah mati menghidupi sawah untuk menghasilkan padi. Pejabat sekarat menghitung untung rugi tanpa peduli bau busuk kematian bersumber jutaan perut lapar rakyat. Politik yang terlalu rumit namun selalu mudah diterka, mereka yang bermulut lamis dan nyerocos tanpa nurani selalu memenangkan kursi perwakilan yang derajat seharusnya berada dibawah rakyat.

     Terlalu skeptik memang, namun jika dianggap agnostik selanjutnya jika mempertanyakan fungsi kerahmatan, guna dari semua yang telah menjadi perlambang dan kode yang menunjukkan bentuk kepedulian yang menghasilkan kekecewaan bukankah itu terlalu mudah dirasa.

     Ini bahkan belum berakhir dan lancang jika mengakhiri dan keputusan sekali lagi kuasa dari kita yang merupakan kelebihan yang telah dianugerahkan Dia pada kita, sayang jika dibiarkan begitu saja.

     Untuk hari ini, tulisan melayang dari malam selepas hari - hari yang riweh. Setelah masa bakti selama hitungan tahun dalam masehi. Semua seperti biasa saja, yang pantas dikenang hanya beberapa. Tidak semua.

Rabu, 02 Desember 2015

Desember



Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang berbicara. Percakapan membosankan, jenuh. Ada suara yang tak sempat ditulis ketika dua orang mulai berpendapat. Mencatat hal – hal berat. Ada suara yang tak tersampaikan walau sekejap ketika mata memandang mata dua orang yang saling bersua. Ada suara yang tak tersampaikan meski sudah sampai ditenggorakan ketika air mata mulai mengalir seperti hujan di bulan desember. Sudah waktunya. Saat yang semestinya.
Beribu suara lain tak dapat didengar meski sudah disampaikan. Tak mampu didengar meski sudah lantang diteriakkan. Manusia memang tuli pada hal – hal tertentu. Pada logika terbalik akan pencapaian kedamaian di muka bumi, keselamatan yang menghasut. Jutaan suara lainnya dibungkam hingga hanya terdengar dengungan seperti lebah mencari nektar pada bunga – bunga mekar di taman.
Pagi, siang, malam, suara – suara itu tetap ada. Kadang semakin kencang di waktu tertentu. Kadang seperti berbisik. Dan membuatku yakin suara itu tak pernah diam. Pemiliknya hanya terlalu lelah. Tapi tak cukup lelah untuk menyerah. Aku pernah mendengar suara seperti itu ketika menuju toilet sebuah rumah sakit. Seperti lolongan anjing, menyalak, membentak. Tapi kosong. Hanya suara yang aku tak mengerti pengucapannya. Mirip balita mengucap benda – benda yang mulai dikenalinya.
Suara itu menyebar. Seperti virus. Terbang, halus, dan dalam sekejap menghunus. Membunuh pendengarnya dengan sergapan tak kasat telinga. Samar – samar.
Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang saling menatap dibawah naungan halte bus, selasa sore, diminggu pertama bulan desember.
Suara yang mencekik lidah, melipat bibir, menyumbat tenggorokan. Suara sepasang sepatu dikeramaian halte bus transmetro menjelang maghrib. Suara yang terdengar selama lima detik dan berlalu kemudian.
Suara yang, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia jika ditulis menjadi parau. Pe a er a u, dengan definisi yang aku tak mengerti maknanya. Mungkin bau tanah basah selepas hujan bisa kuandaikan seperti itu.