Paman, kau tak perlu cemas karena belum kau balas suratku sebab itu tak berdampak apa-apa padaku ternyata. Tolong sampaikan padaku Ibuk, aku baik-baik saja sekarang. Sampaikan juga salamku pada bapak, aku selalu mendoakannya agar ia bahagia di akhirat. Tadi malam aku bertemu Kakung dalam mimpi. Ia berkata: aku memaafkanmu, aku memaafkanmu, aku memaafkanmu. Bilang juga pada bibi agar tak usah repot-repot menjadi simpanan Pak Rt lagi.
Surat itu dibacakan oleh si Paman di hadapan istri dan kakaknya dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Selepas menulis surat yang kedua kalinya, Ia bersiap-siap berangkat kerja. Dalam kepalanya yang ada hanya kejar target agar segera terwujud segala angan dan terlepas dari beban.
Paman melanjutkan: akan kubayarkan hutang bapakku sebesar satu setengah juta pada minggu kedua bulan Mei. Lalu sisanya akan kucicil sampai lunas. Jangan biarkan Ibuk bersedih.
Ia sudah bekerja seminggu dan ia pikir cukup mudah mendapatkan uang di kota. Ia tersenyum kecil ketika seorang pria mencium pipinya seraya memasukkan uang di antara dua buah dadanya. Katanya: terimakasih mas, besok datang lagi ya. Sambil mencubit manja perut si pria.
Sabtu, 07 April 2018
Jumat, 06 April 2018
Percakapan Siang Hari
Aku tak suka memakai jam tangan sebenarnya. Dengan muka biasa tak terlihat murung apalagi bahagia, ia melanjutkan argumentasi. Hal menyenangkan ketika kau tak perlu mencemaskan keadaan karena kau terlepas dari kungkungan waktu. Ia terlihat jemawa, kemudian berkata: satu-satunya penentu ialah metabolisme tubuhmu. Kali ini terlihat raut muka bahagia.
Seseorang di sampingnya menimpali tanpa ragu dan terlihat seperti orang yang telah berada di sisinya bahkan sebelum ia dilahirkan ke bumi. Bilang saja kau tak suka melakukan apa-apa. Tertawa sinis dan melanjutkan perkataan: lumrah kau mengatakannya, biar kuingatkan kembali, tak ada kebijaksanaan pada orang-orang yang mencari kebenaran.
Aku tak mencari kebenaran! Ia berseru. Dan aku tak mengabarkan kebijaksanaan.
Keduanya terdiam. Air mineral dalam gelas bercampur es batu kotak-kotak diaduk perlahan. Meja kayu di warung makan itu basah oleh air. Kipas angin berputar kencang menghalau udara panas kota. Sekelompok pengamen menyanyikan lagu Kau Bukan Dirimu-nya Broery Marantika versi keroncong.
Ia merangkum irama dan keramaian, matanya membingkai meja makan, dinding putih berhias kalender dan lukisan ikan koi, suara percakapan, juga bisingnya lalu lalang kendaraan.
Seseorang di sampingnya mengiriminya pesan: kapan kau lanjutkan pekerjaanmu?
Dengan segera ia mengambil gawai dan membalasnya: setelah waktu istirahat siangku selesai.
Seseorang di sampingnya menimpali tanpa ragu dan terlihat seperti orang yang telah berada di sisinya bahkan sebelum ia dilahirkan ke bumi. Bilang saja kau tak suka melakukan apa-apa. Tertawa sinis dan melanjutkan perkataan: lumrah kau mengatakannya, biar kuingatkan kembali, tak ada kebijaksanaan pada orang-orang yang mencari kebenaran.
Aku tak mencari kebenaran! Ia berseru. Dan aku tak mengabarkan kebijaksanaan.
Keduanya terdiam. Air mineral dalam gelas bercampur es batu kotak-kotak diaduk perlahan. Meja kayu di warung makan itu basah oleh air. Kipas angin berputar kencang menghalau udara panas kota. Sekelompok pengamen menyanyikan lagu Kau Bukan Dirimu-nya Broery Marantika versi keroncong.
Ia merangkum irama dan keramaian, matanya membingkai meja makan, dinding putih berhias kalender dan lukisan ikan koi, suara percakapan, juga bisingnya lalu lalang kendaraan.
Seseorang di sampingnya mengiriminya pesan: kapan kau lanjutkan pekerjaanmu?
Dengan segera ia mengambil gawai dan membalasnya: setelah waktu istirahat siangku selesai.
Langganan:
Postingan (Atom)