Belajar untuk apa. Sekolah untuk apa. Hidup untuk siapa. Makan dari mana. Jualan pada siapa. Kerja dimana. Punya uang untuk apa. Tak punya uang tak apa - apa. Hidup bahagia dengan siapa. Asal ibuk bapak senang aku bahagia. Kalau ibuk menggoreng mendoan aku yang menghabiskan. Kalau bapak memelihara burung kicauan dan ayam bangkok, aku yang memberi makan dan membersihkan kandang. Kalau pak Raden pahlawan, seharusnya si Unyil bisa di filmkan.
Pukul berapa tadi, ketika beli gado - gado tapi lebih ngiler melihat bakwan. Atau setelahnya. Ini Minggu pagi. Hari minggu biasa dengan nuansa berbeda. Tumben kota ini makin menjadikanku akrab dengas suasana rumah. Orang tua. Mungkin cuma aku yang merasa. Ya, sepagi ini keinginan untuk tidur tetap ada, tapi entah kenapa aku hanya lebih suka pada keadaan "berkeinginan". Ada nafsu, gairah disitu. Seperti suatu nyata tapi tidak terlihat. Dan ada.
Hujan yang sudah beberapa hari ini mulai turun cukup mampu mengenyahkan asap. Ternyata shalat lebih manjur daripada rekayasa garam. Sebab itu, rumput halaman kini lebih hijau, tak hanya rumput tetangga yang begitu. Dan pohon mulai menumbuhkan kuncup dan dedaunan baru. Aku tersipu. Hujan menguatkan.
Andai tidur hanya sebuah keinginan bukan tindakan, maka waktu - waktu seperti ini seolah ingin aku terjaga dua puluh empat jam lamanya. Aku punya rentangan waktu tertentu setiap harinya yang akan aku cumbu dengan berbagai macam
playlist-ku. Seperti pagi menjelang siang hari ini. Tembang Kodaline kurasa lebih pas didengarkan, biasanya aku memutar
The pains of being pure at heart. Coba saja.
Sebuah lagu bisa membawamu ke masa lalu. Suasana tertentu bisa mengingatkanmu akan sesuatu. Sepenggal cerita bisa membawamu kemana saja. Sebait puisi bisa membuatmu berani mati.
Empat jam lalu aku termenung. Bagaimana kalau aku sudah bekerja nanti, atau akan bekerja apakah aku nanti. Banyak sarjana menjadi itu - itu saja. Mengekor pada tuannya. Tidak menjadi juragan. Tidak salah. Impianku
ambyar, semasa kecil aku bebas berkeinginan diriku menjadi ini - itu. Semakin besar kini, rasanya egois jika masih seperti itu, kita seperti dituntut menjadi ini - itu, tak bebas lagi. Benar juga. Pagi tadi kulihat seorang pemotong rumput panggilan, mempromosikan diri dengan sepeda kayuhnya. Aku teringat sesuatu, jika saja aku yang begitu sanggupkah aku. Tapi bukankah kalau sudah pada waktunya juga akan terbiasa. Yang lebih menggoyahkan ialah mungkinkah itu keinginan dia sebenarnya, atau sebatas tuntutan hidupnya. Apa salahnya bekerja seperti itu. Halal. Pertanyaannya mengacu pada seberapa mampu bapak itu menyelenggarakan kehidupan yang layak bagi keluarganya, istrinya tercinta, anak - anaknya tersayang. Ah, bukankah tidak ada yang mutlak pada fenomena seperti ini. Dan kenapa tidak kita menjadi kaya dan lalu bisa mempekerjakan bapak itu. Lalu efek berantai pada keluarganya, dan sebagainya, bermanfaat, menguntungkan, dengan membantu, memberikan uluran tangan. Dan bagaimana kalau bapak itu merasa cukup dengan kondisi sekarang, mungkin yang sedikit dipikiran ialah, pernyataan tersebut adalah sebuah optimisasi diri, bukan penutup kemungkinan untuk berbuat lebih, berpenghasilan lebih. Karena sejatinya manusia tidak pernah puas. Sepertiku. Maaf kalau aku terlalu.
Aku belum pernah mengucapkan sayang kepada ibukku, jadi kalau ada perempuan yang mendengar kata itu dariku ditujukan padanya, hati - hati kemungkinan besar hanya sebatas nafsu.
Apa yang dilakukan ibukku sekarang apakah juga merupakan keinginannya saat kecil dulu, saat kakekku masih ada, saat bertani menjadi mata pencaharian utama, saat Soeharto masih berkuasa, saat di desa lebih banyak populasi kambing daripada sepeda motornya, saat bapakku masih menjadi pria tertampan di masanya, saat aku dan adikku masih berada di puncak gunung entah apa namanya, saat ibukku masih sering menjumpai ikan di sungai progo, dulu saat ibukku masih menjadi gadis idaman pria di sekolahnya, di tempat kerjanya. Dulu. Saat itu. Apakah benar keinginannya, atau adakah keinginan lainnya yang sebenarnya ia dambakan, dan lalu ia mengalah dan masih bisa bersyukur dengan apa yang terjadi dan menjadi seperti sekarang, dengan tetap bersyukur atas nikmat - rahmat Tuhannya. Benarkah seperti itu, atau itu dugaanku saja. Sampai sekarang aku belum pernah menanyakannya.
Sama halnya rasa penasaranku dengan Pak Raden, apakah beliau mencipta si Unyil untuk memuaskan keinginannya ataukah sekadar menjadikan Unyil bukti kegelisahan akan dunia yang sekarang.
Dunia yang mendasarkan dikotomi besar kaya - miskin. Tanpa makna jelas dan nilai nyata dari kedua istilah tersebut, dunia tetap berlanjut. Si kaya dan si miskin, si Unyil kaya atau miskin. Kaya banyak harta, punya kemampuan mengendalikan orang lain, bisa membuat keputusan yang dipatuhi orang lain, punya status yang membuat orang lain terpaksa menunduk - nunduk ketika berjumpa, memelankan suara ketika berbicara, bekerja lebih cepat dari mekanisme seharusnya. Ataukah miskin, dan mengiyakan segala perintah, hanya menahan diri bila muncul amarah, bersabar sampai air mata tak lagi terasa. Kaya seperti apa, miskin seperti apa. Tapi bukankah orang miskin juga bisa berkemampuan mengendalikan orang lain, memberi keputusan yang kemudian akan dilaksanakan, disegani orang. Lalu apa kaya, apa miskin. Kaya dan miskin dikotomi lebar. Di dalamnya masing - masing terkandung golongan yang lebih kompleks. Seperti misalnya; kaya kreatif, kaya baik, kaya jahat, kaya penuh tawa, kaya dermawan, kaya ikut pengajian, kaya kredit barang, kaya antre di loket, kaya butuh bantuan mengolah sampah, kaya takut ketinggian, kaya suka bakmi, kaya rajin sembahyang, kaya absen ikut misa, kaya doyan bakwan, kaya pesan nasi kucing, kaya bajunya bolong, kaya celananya melorot, kaya hobi nulis, kaya tak bisa main gitar, kaya tapi monyet. Miskin juga seperti di atas. Beraneka macam, ragam, rupa. Saling terkait, tidak ada yang lepas dari lainnya.
Di media, di kampus, yang kaya ya kaya yang miskin ya miskin. Pak Raden kaya karya miskin uangnya.