Sabtu, 21 November 2015

Kuingat.



Kelopak mataku serasa panas. Ada sesuatu yang aku tidak tahu muasalnya. Ingin menangis tapi tak jelas apa yang patut ditangisi. Campuran antara sedikit sedih tanpa alasan dengan kecewa tak berpenyebab. Sedikit kalut. Ketidaksjelasan yang menggelayut. Tidak ini bukan rindu biasa, rindu yang aku tujukan kepada orang tua apalagi keinginan membalas dendam untuk membahagiakan saudara mudaku. Kangen yang aneh, yang sepintas datang.
Bukankah seharusnya kurasakan sejak berbulan lalu kala pertama mendengar kabar tentangmu, tapi tunggu aku bahkan merasakan panas menatap foto lelaki dan seorang perempuan di gawaiku. Lelaki yang bahkan aku tidak membencinya sekaligus tidak yakin aku akan berbuat baik padanya. Juga perempuan disampingnya dengan senyum yang kukenal. Yang bahkan membutakan. Yang walaupun engkau menjanda untuk ketiga kalinya, pun beranak lima, atau merupakan tahanan di lembaga pemasyarakatan atau pasien rumah sakit jiwa aku akan tetap dan selalu kuat menerimanya. Menerimamu.
Rambut lebat halus sepunggung, setelan yang selalu pas dimataku. Selalu bisa membuatku kagum. Tertegun dan mencuri pandangan. Tubuh yang tidak ada yang sama bentuknya di kota ini. Jalan pikir yang aku tak tahu, dan baik menurutku.
Mungkin hanya sesaat, dan kemungkinan menjerat.