Kelopak mataku serasa panas. Ada sesuatu yang aku tidak tahu
muasalnya. Ingin menangis tapi tak jelas apa yang patut ditangisi. Campuran antara
sedikit sedih tanpa alasan dengan kecewa tak berpenyebab. Sedikit kalut. Ketidaksjelasan
yang menggelayut. Tidak ini bukan rindu biasa, rindu yang aku tujukan kepada
orang tua apalagi keinginan membalas dendam untuk membahagiakan saudara mudaku.
Kangen yang aneh, yang sepintas datang.
Bukankah seharusnya kurasakan sejak berbulan lalu kala
pertama mendengar kabar tentangmu, tapi tunggu aku bahkan merasakan panas
menatap foto lelaki dan seorang perempuan di gawaiku. Lelaki yang bahkan aku
tidak membencinya sekaligus tidak yakin aku akan berbuat baik padanya. Juga perempuan
disampingnya dengan senyum yang kukenal. Yang bahkan membutakan. Yang walaupun
engkau menjanda untuk ketiga kalinya, pun beranak lima, atau merupakan tahanan
di lembaga pemasyarakatan atau pasien rumah sakit jiwa aku akan tetap dan
selalu kuat menerimanya. Menerimamu.
Rambut lebat halus sepunggung, setelan yang selalu pas
dimataku. Selalu bisa membuatku kagum. Tertegun dan mencuri pandangan. Tubuh yang
tidak ada yang sama bentuknya di kota ini. Jalan pikir yang aku tak tahu, dan
baik menurutku.
Mungkin hanya sesaat, dan kemungkinan menjerat.