Kamis, 30 September 2021

menulis,

Untuk bisa menulis lebih dahulu bisa membaca, lalu berimajinasilah dengan kata-kata yang muncul di kepala hasil dari membaca, tak lupa hal-hal yang didengar pun terdengar dapat dimasukkan sebagai opsi dalam tulisan. Membaca itu perlu dan mendengar tak kalah penting, tulisan melengkapinya. Menjadikan terang isi kepala, mempermudah orang melihat sesama. Manusia sayangnya tak sepolos yang terlihat, ia sering bermetafora, membubuhi kata-kata dengan gula, mencampur kalimat dengan madu, mengaduk paragraf dengan secawan kuah soto yang bisa jadi terhidang di hadapan perut lapar manusia lainnya.
Beberapa teman berkata tulisan-tulisanku bermakna, dalam, bahkan juga mentah dan kasar. Semua adalah pujian. Mereka yang berkata demikian telah meluangkan beberapa menit dalam hidupnya hanya untuk membaca coretan anak muda yang mabuk dengan egonya. Terima kasih untuk kalian. 
Namun, buatku, kembali menepi di sudut gelap dini hari untuk menuangkan ide juga perasaan yang mengusik hati bukanlah kegiatan yang mudah. Sebelumnya, apa yang diharapkan dari menulis selain mengkonversi keruwetan isi kepala serta gundah gulana yang melanda hati dan jiwa, tentu saja menyampaikan informasi kepada manusia lainnya. Lalu, seberapa pentingkah tulisanmu untuk dunia yang sudah penuh dengan kata-kata, penuh dengan coretan dan terlalu sumpek diisi kertas-kertas bekas. 
Koloni manusia ini berlaku seolah tak ada yang dirugikan selain dirinya dalam bertindak dan mengambil keputusan di muka bumi ini, memutar balikkan keseimbangan, mengcengkeram erat kepemilikan, memeras habis sumber daya yang menyokong kekenyangan juga kesenangan. Apakah dirimu apatah aku juga demikian?, dimanakah letak kebenaran?, mengisi ruang-ruang kosong kehidupan, menjalani hari-hari biasa saja, mengumpat dan menyesali keputusan, meminum kembali kopi semalam, membuat mie instan untuk sarapan, telat masuk kerja, bolos sekolah, tidur larut, begadang dan berbincang dengan rekan. 
Selembar kertas yang tersisa bisa jadi menentukan persepsi orang lain kepadamu, dan, selain tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain, bagiku tidak ada yang baru di bawah matahari. Istilah ini begitu menarik buatku. Bahwasanya yang mungkin dikerjakan sekarang sebagai seorang anak manusia yang diliputi kecemasan dan ketakutan, disinggahi kekecewaan, dikagetkan oleh kebahagiaan, ialah menyadari bahwa hidup ini biasa-biasa saja. Bersedih seperlunya, bahagia sewajarnya.

Sabtu, 14 Agustus 2021

Sudah setengah lebih.

Lima tahun berlalu dan aku masih merasa sama bodohnya. Tak ada capaian, tak ada prestasi, tak ada apresiasi. Pula, hal-hal yang dulu kubela sepenuh hati kini berbalik dengan apa yang kujalani.
Semalaman adalah waktu yang cukup melelahkan untuk mengingat apa-apa saja yang bermanfaat setelah masa kuliah, dan tentu saja nihil. 
Dari minggu ke minggu aku lalui dengan tanpa ambisi. Yang ada dalam kepala ialah akhir pekan yang akan kusibukkan dengan begadang dan bangun kala siang.

Minggu, 06 Juni 2021

27 dan masih melaju.

Dua dari empat jam yang kulalui setiap malam adalah tentang rebahan dan bermain gawai, sisanya untuk makan, mengobrol, serta memberi makan ikan-ikan. Malam-malam biasa juga mengenai mie instan rebus dengan macam-macam sayur bercampur.
Pada malam-malam tertentu teman-teman datang, terkadang pulang larut. Tak banyak hal baru yang jadi obrolan, masih seputar kerjaan, kekasih hati, putus cinta, soal kekonyolan masa sekolah, hobi pun peliharaan, tak jarang selangkangan.
Tahun-tahun berlalu, tujuan-tujuan hidup mengendap biru. 
Tahun ini semua membaik dan terasa baik-baik saja meski di luar sana patah hati adalah makanan sehari-hari. Tak dapat dipungkiri, rasa lelah dan putus asa tergambar jelas di muka. Tak seorangpun mampu menghapus itu. Ketika tiba satu masa manusia menjadi tak tahu apa-apa, seolah baru saja terlahir dan tak satu orangpun mengasuh dan membimbing, pada saat itu alam bekerja sesuai naluri.
Alam mengobati diri, itu kata mereka. Sebagian bilang ini akibat keserakahan manusia. Semesta, katamu, melaju dalam ketetapan melampaui kecerdasan makhluk-makhluk paling buas se jagad raya, menemukan kembali jalurnya dan begitulah Ia menunjukkan kemegahan.