Sabtu, 30 Januari 2016

High Fidelity!

     And wait!. Kalau bukan itu, maka ini, dan seharusnya begitu lalu begini, blah blah blah... Kenapa tidak kita kemudian sedikit keluar, dan see. Apa yang terjadi kemudian, ketika lepas tapi tidak bebas, bebas dengan persyaratan, tentu kita bukan tahanan, setidaknya untuk mengingatkan. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?. Apa yang benar - benar kamu jadikan kebutuhan tatkala kamu tidak berkeinginan. Sejauh ini itu yang bisa kutebak.

     Tidak, jangan repot - repot jika hanya sekadar mencari suasana baru!. Itu wajar, sekali lagi fidelity!. Setidaknya itulah yang membuatku tetap (ber)tawa. Ya, kita tahu kita tidak benar - benar mengagungkan sebuah kisah romantis. Klasik, tangis haru itu masa lalu. Kita akan dipenuhi awkwardness yang menyenangkan. Sesuatu berkebalikan dan tidak berkeberatan. Suatu pengertian; kita sudah lelah meloncat kesana kemari.

     Hiduplah seperti apa yang kamu rasakan atas kenyamanan yang sedang kamu lakukan. Tanpa ratapan. Keluhan seperti halnya kerikil yang terinjak, terasa menggigit tapi tak lama. Selama yang telah kita lakukan sebagai makna dari sebuah perjalanan, sesingkat itulah akhirnya kita mengakui kebutuhan akan yang hal lain. Akan diri yang sama yang kamu temukan tidak pada orang lain selain diri masing - masing.

     Selanjutnya, pelajarilah yang disebut dengan keindahan, kata sifat yang bisa digambarkan seolah sebuah benda!. Bahwasanya 'ia' tersusun dari kegilaan sebenarnya dari diri seseorang yang muncul bisa begitu saja, bisa juga setelah perenungan yang agak lama.

     Ini tidak membuktikan apa - apa. Ini juga tidak berarti apa - apa andai kau bertanya saat ini apa gunanya. Sebagian hal itu hanyalah remah kecil yang terkikis dari batang kokohnya, hanya perlu mengumpulkan. Ingat kita bukan pengepul, hanya kolektor.

     Coba bayangkan, mana yang lebih menakutkan; melakukan hal yang dianggap orang sebagai kenyamanan/ menyenangkan tanpa sedikitpun perlu berbagi?. Atau kembali pada satu/ dua kemungkinan yang menyediakan kemampuan dan potensi untuk melahirkan ketenangan dengan berbagi.

     Berbagi bukan materi, namun kehangatan diri.

     Tidakkah kau merasa beku dengan segala rutinitas harianmu?. Dan aku yang lebih sering termangu berfantasi ria tanpa ujung pangkal dan tindakan menyenangkan. Poor me. Jangan kasihani.

     Inilah bagaimana kita menjalani dan menjalin diri di lintasan hidup. Yang telah digariskan, yang tak perlu ditawar.

     Yang hanya sanggup kita banggakan dalam kemawasan diri. Kesungguhan dalam memahami.

     Meresapi apapun yang pernah menjadi.

     Mengulang yang menyebabkan senang.

     Berkelanjutan pada kebahagiaan.

     Berpangkal pada kesyukuran.

     Tapi sabar ada batasnya, dan dunia ada akhirnya; jika kau percaya.

     Maka dari itu arrivederci!.

Rabu, 20 Januari 2016

Menerima



Dalam amarah sekalipun terkandung kasih. Kisah lama yang masih menunggu dirampungkan. Dirangkai dalam rajutan benang – benang lembaran kenangan. Ada satu kisah yang belum usai yang masih kita simpan sebagai pelipur dikala senja. Seutas benang merah menjuntai ke lantai menunggu disulam kembali oleh jemari lentikmu, dengan kuku yang berwarna merah itu. Terlalu enggan aku menyuruhmu menghapus kutek. Sebab kelembutan yang menggairahkan itu yang sanggup membuatku betah berlama – lama dibelaianmu. Dalam kasih sayang sepasang insan di atas dipan tua.
Setalah begitu lama kita terpisah, kita belajar untuk memahami. Menerima segala kondisi tanpa perlu berkonfrontasi. Tradisi penerimaan sekaligus kesinisan yang kuat memancang didiri. Aku pernah berujar seandainya dunia terbagi dua, itu tak lebih dari sekadar pembastas bualan antara si miskin dan si kaya. Saling menyalahkan dengan silang pendapat. Melontarkan tudahan untuk memuaskan kedengkian. Hati yang terlalu keruh menerima pernyataan bahwa tafsiran hanya berlaku bagi sebagian orang, sedangkan yang lain masih bebas mengartikan.
Jalan kembali memang tidak ada lagi. Sebuah kebetulan jika kau menemukan lubang cacing yang bisa mengarahkanmu kembali kepada masa lalu. Kepada awal kita bertemu. Berjumpa di sebuah meja makan bakmi godok langgananku di perempatan jalan. Di simpang di mana pada hari kamis sore, sekitaran setengah lima aku menyempatkan diri untuk sekadar membeli koran harian pada pedagang yang juga menjajakan deretan buku – buku lama. Aku tertarik pada meja dan kursi kayu jatinya, tua namun kokoh. Seperti angin di musim kemarau, gersang namun beraroma menyenangkan.
Jika kemudian sesuatu yang kita alami hanya sebatas kebetulan, maka apa yang sesungguhnya terjadi. Begitu pedih mendengar cerita – ceritamu. Mereka yang kau bilang pengatur keadilan mengendalikan kebebasan sesuka udelnya. Aku ini apa jika dibandingkan mereka. Hanya manusia yang mencoba memerdekakan isi kepalanya. Menjembarkan hati. Memperkaya jiwa. Sedangkan dirimu, manusia berpendidikan yang menimba ilmu pada salah satu tempat yang mengajarkan moral sebagai nilai utamanya. Dan mereka, ialah ahli – ahli agama, ahli berkata – kata. Memutar balikkan fakta di media. Media pengusung dogma penguasa, disetir supaya membahagiakan pemerintah penguasa. Pemilik modal utama yang menggantungkan nasib hidup pada keuntungan semata.
Jalan – jalan yang kami lalui memang panjang. Cenderung memutar tapi kami hampir tidak pernah melangkah mundur, kami mengambil rute lebih jauh, sebab dalam perjalanan itulah kita ditunjukkan bagian – bagian lain dari sisi kehidupan. Mencoba mengerti untuk kemudian memahami apa yang kudu dipersiapkan ketika sudah sampai destinasi.
Kami berujar, kehidupan tak lebih dari anugerah manusia. Lalu untuk apa kita musti menjalaninya dengan terlalu keras hingga lupa caranya tertawa. Kembali, soal benang – benang merah bahan utama kain – kain pembungkus kerakusan makhluk mulia. Dimana terdapat banyak hitung – hitungan semesta yang terlewatkan. Baik itu ketika kita menjumlahkan berapa banyak yang digunakan dan berapakah yang disia – siakan.
Aku terlalu lega mengakui bahwa apa yang aku inginkan kemudian terpenuhi. Apa yang kemudian aku anggap sebagai keyakinan diri perlahan mulai terbukti. Hati yang terlalu berat dan memaksakan kehendak selalu bisa memberikan alasan pada pikiran kenapa kita tidak harus melakukan sesuatu. Mengerjakan apa yang pantas sekaligus tidak tepat. Menjual diri pada pengemis kikir rejeki.

Kamis, 14 Januari 2016

Postulat

Kini jauh sudah. Semua yang terlintas merupakan peristiwa yang tak mampu kita masuki, meski masih bisa kita rasakan. Tetap bisa kita ulangi, tapi tidak akan sama. Sekali kita melakukan, sekali itu saja kita berada, dan jika pun kita melakukan lagi dalam jangka pendek, hal itu sudah bukan hal yang sama. Apapun yang sudah dilakukan dan terlewatkan kemudian menjadi kenangan. Peristiwa lalu yang masih membekas, tanpa keinginan untuk menarik ingatan itu kembali, peristiwa lalu bisa saja terlintas kapan saja.
Kegemilangan dahulu kala yang disanjung dan dipuja sedemikian rupa toh runtuh juga. Digantikan atau bahkan tergantikan, dalam hal ini terjadi semacam kesadaran untuk melakukan penggantian dan termasuk di dalamnya muncul kebiasaan baru yang dengan sendirinya tumbuh lebih cepat dari yang disadarkan pendirinya, dengan cepat dan massif mempengaruhi sebagian besar penghuninya. Namun, yang sudah tergantikan perannya dan misalnya dalam pembahasan ini katakan saja suatu hal yang populer, tidak dengan begitu saja lenyap. Kepopuleran sesuatu dimasa lampau sedikit banyak mempengaruhi sesuatu yang popular kini. Bila diandaikan sebuah siklus, meski A tergantikan B, B tidak serta merta tidak mengandung nilai – nilai yang sebelumnya terkandung di dalam A.
Begitulah sewajarnya, dari tahap ke tahap selanjutnya mengalami suatu perbaikan. Mengeliminasi yang dianggap buruk. Meminimalisir kesalahan, dan memperbesar peluang untuk menang. Menjadi pemenang. Menjadi pemegang kuasa, pengendali atas yang lainnya. Memiliki lebih banyak daripada yang lainnya, mempunyai yang dianggap berharga – bernilai bagi yang lainnya.
Jika boleh diandaikan masa hidup sekarang mengalami penyusutan. Bergerak lebih cepat, hitungan waktu yang telah disetujui tanpa protes kaum ini masih tetap. Tetapi pertanyaannya, apakah benar waktu yang dari dulu sampai sekarang patokannya sudah digunakan mampu menampung cepatnya arus hidup. Pergerakan, dalam rentetan, menemukan sesuatu, berkabar, menyapa, mengirim, berpindah tempat, vakansi, mungkinkah dilakukan dalam satuan waktu yaitu hari, dan hanya sehari. Jika hal ini tentu saja dibandingkan dengan sebelum era millennium.
Pernyataan sebatas asumsi, apalagi untuk ditanyakan validitasnya jangan diharapkan lebih. Seribuan pernyataan yang tercetus dalam hitungan detik, mencapai juta pada hitungan menit dan milyar dalam hitungan hari, adakah di antara pernyataan – pernyataan tersebut yang kemudian revolusioner, visioner, berbeda dan mengandung lebih banyak ide – ide menyegarkan. Ada tentu saja, lalu akan menjadi apakah ide – ide itu, berakhirkah menjadi masturbasi pemikiran belaka. Tanpa sempat diejawantahkan menjadi sesuatu yang berbentuk, yang merdeka atas dirinya, pikiran, rasa, menghasilkan karya.
Sejauh ini arus ide dan sejenisnya memang begitu deras, dan masih wajar andai saja hanya beberapa yang beruntung yang sanggup merekonstruksikannya. Sebab bukan soal bagaimana mewujudkan itu saja, begitu banyak faktor lain yang menyita bukan sekadar waktu, juga kemungkinan terburuknya menelan ide itu sendiri, akibat ketidakmampuan ide tersebut mengakomodasikan keinginan atasnya. Hal ini berujung pada tenggelamnya ide di dalam lautan kapitalis. Diwujudkan jika memberikan keuntungan material yang tidak sedikit dan menjadikannya seragam, bahkan tidak cukup pada pengharapan mendapat keuntungan yang boleh diasumsikan akan menjadi semacam gaya atau bila diartikan dalam secara mikro menjadi sebuah cara untuk hidup, cara menjalani kehidupan.
Tidak ada yang mutlak salah, seragam juga bukan penghalang tumbuhnya tunas – tunas pembaharuan. Di sisi lain jika sanggup, tekanan yang dirasakan, pembatasan yang dilakukan atas individu – individu merdeka, pembredelan kepada masyarakat terbuka malahan pada beberapa kasus mampu menumbuhkan tunas – tunas tadi menjadi sebuah pohon yang akarnya menancap lebih dalam dari lainnya. Batangnya lebih lebih tebal dari tank – tank berlapis baja. Dahannya lebih kokoh dari tangkai – tangkai senapan. Daunnya lebih rimbun dari kompleks kerajaan. Menjulang ke awan jauh mengangkangi pidato – pidato jenderal tanpa pasukan.
Pada awal – awal perubahan banyak yang tidak mengerti bahwa apa yang membuat mereka nyaman selama ini ialah pemusnahan massal tanpa pembunuhan. Banyak yang belum terbiasa padanya. Beberapa sudah bisa mengantisipasi, dan sebagian setelahnya tetap bisa bertahan diri. Bergerak dalam keluwesan masa. Berlenggok mesra dalam tarian imajiner kemilau kerapuhan jiwa.  

Senin, 11 Januari 2016

Ia masih perempuan yang sama.



Kami tak sengaja bertemu ketika sama – sama sedang sakit. Satu karena terlalu jauh dengan rumah, satu karena jenuh terlalu dekat rumah. Satu ingin duduk tenang menyesap teh hangat ditemani lembayung sore. Satu ingin menyusupi jalanan becek perumahan marjinal perkotaan. Satu memulai berjualan, satu masih dalam tahap mengumpulkan.
Kami berbicara mengenai apa saja, kami menikmati bakso bakar di trotoar pinggir jalan. Membaca kumpulan cerpen di bawah teduh pohon di taman. Menenggak air mineral di dalam bus kota. Membahas cinta di beranda rumah ibadah. Kami memandang awan dengan imaji, jari kami bergerak kesana kemari membentuk jerapah, gajah, juga kelinci.
Kami mulai menatap mata satu sama lain, tanpa rencana. Seperti angin menghembuskan rambut gadis kecil di pangkuan ibunya. Mataku masih menerka dan diam – diam hatiku mulai berencana. Matanya menatap tepat pada pupil hitamku, begitu dalam seolah akulah tertuduh, tersangka yang patut disalahkan akan kejatuhan hatinya meski bukan kali pertama.
Kami tersenyum ketika melihat pak tua mendorong gerobak ciloknya, ikut menyelami ketabahan hatinya, merasakan lelah di kaki – kaki sepuhnya. Kami tertawa menyebarkan remah – remah roti pada burung dara. Kami terharu melihat kesediaan bocah memberikan bangkunya kepada seorang nenek sepulang dari pasar.
Kami meraba sinar matahari yang menembus rimbunnya dedaunan. Merasakan hangat di kulit tangan. Saling menguatkan meski tak bersamaan. Kami saling menuliskan puisi pada lembaran kertas buku harian. Berharap akan selalu ingat iktikad baik yang telah kami agendakan.
Kami berbalas pesan jika obrolan tak memungkinkan. Bertukar kabar untuk melepas kerinduan. Kami selalu dimabuk asmara meski usia memasuki kepala tiga. Bergantian menghirup aroma bunga gardenia. Beserta tanaman lainnya yang menjadi koleksi kami berdua.
Kami masih saja mengagumi apa yang ada pada diri. Walau kerut di wajah sudah mulai muncul menghiasi. Perasaan gandrung tak bisa dipungkiri. Kami menyempatkan waktu sekembali bekerja untuk menyeduh kopi. Kendati pegal – pegal di badan selalu menghampiri.
Kami menempuh perjalanan dengan suka cita. Jalan panjang menjadi ajang memperkaya jiwa. Mengolah rasa agar tidak lupa kodrat selaku manusia. Belajar dan berbagi pada sesama makhluk di dunia. Kami berbuat, bertindak agar tidak lupa karena terlalu lama sekadar menulis saja.
Kami bangga, apa yang telah dilakukan dan berhasil diwujudkan ternyata berguna. Membantu dan meringankan beban lainnya. Tentu tidak lantas membuat kami besar kepala. Apalagi pongah dan terlalu membusungkan dada.
Kami tetap menyapa di pagi buta. Sebelum menjalankan ibadah subuh bersama. Mengingatkan untuk tak lupa berdoa sebelum bekerja. Supaya teguh dan bersyukur atas anugerah yang kami terima. Kami senantiasa memohon kesehatan dan kebahagiaan bagi keluarga.
Kami memprioritaskan apa yang kami suka. Mengerjakan sesuatu yang kami bisa. Tak pernah bosan melaksanakan kegiatan harian. Dari mulai menyapu halaman hingga memotong dahan pohon mangga yang terlihat kelebihan beban. Semenjak membuka mata di pagi hari hingga terlelap di malam hari.
            Kami sama – sama keras kepala. Tapi kami sama – sama suka bau tanah selepas hujan reda. Kami sama – sama suka tiduran di atas rerumputan di halaman pun di taman. Kami sama – sama suka kemegahan senja. Kami sama – sama suka karya Seno Gumira sampai Pramoedya Ananta. Kami sama – sama membuat kopi ketika berdua maupun sendiri. Kami sama – sama punya keteguhan hati. Kami sama – sama tertawa dibecandain semesta.

Umpama



Setiap perumpaan memiliki maksud untuk mengetuk perasaan. Menggelitik ingatan. Padanya kita mengemban tugas menyampaikan makna tanpa menusuk lebih dalam apa yang kita maksudkan sebagai tujuan pemaknaan. Intepretasi berlebihan menggugurkan keelokan lekukan tafsiran. Tidak berlebih dan bukan mengurangi sebagian, agar tetap pada koridor keseimbangan. Meski kemudian keseimbangan merupakan kemustahilan di jaman edan. Keadilan yang semula menjadi kunci terciptanya negara dan inti kemasyarakatan, sekarang menjadi komoditas pemilik kuasa. Pemilik modal bebas melenggang tanpa perlu peduli pada inkonsistensi keputusan. Semua mendewakan kekayaan. Kehormatan, kekuasaan, pemilikan uang selalu menjadi tujuan yang menyibukkan seluruh hidup. Tak ada tempat yang paling indah tanpa segelas rupiah, sepiring duit. Banyak manusia saat ini yang produktif, tak bisa terkalahkan, tak pernah gagal, selalu sukses mencapai status tertentu. Mendapat penghormatan. Mempunyai kekayaan. Dan tinggal sedikit dari mereka yang menjadi manusia seutuhnya, utuh dalam pandangan penulis, utuh menurut penulis. Utuh yaitu manusia yang hidup kerena berkesempatan untuk menghidupinya.