Lalu peran lain dijalani begitu
saja. Menjadi si A di kelompok satu, menjadi B di kelompok dua. Dengan asumsi,
ia tetap berkuasa pada dirinya. Pengikat sistem yang mempengaruhinya tidak
membuatnya lemas kaku. Pada satu titik ia menemukan sandaran, di tempat lain ia
bahkan mengadu menangis tersedu. Rindu yang tak kunjung usai. Ingin yang masih enggan.
Berjalan kepadamu sang waktu. Membawa
dua berita yang isinya satu. Aku memilih esok dengan resiko sekarang kau tak
tau apa – apa, atau kau memilih sekarang dan akibatnya aku tidak tau apa – apa besok.
Korbankan aku, lepas dirimu. Korbankan dirimu kita semua terperangkap tetap. Begitulah
tawaran manis racun cinta.
Di kursi itu angan kita selalu
melayang, menerawang bahkan menembus langit ketujuh. Membayang doa dan harapan
hari tua. Pemudi bermata coklat itu masih saja menggangguku. Aku bahkan sudah
kalah sebelum ia menawarkan perang. Kita usai karena ulah kita. Orang lain tak
peduli dan tak tau apa – apa.
Selain merindukan kejutan sebuah
perayaan, sejatinya aku malu menatap ke dalammu.