Biar kuingat. Sepuluh tahun yang
lewat. Usiaku belum bertambah dari sepuluh lebih empat. Bersepeda, bermain
bola, ngeluyur, masih sempat. Sepuluh tahun lalu sudah tamat. Pesat.
Apa yang lebih hebat, daripada
dua sahabat yang bersua dan saling menjabat.
Ya, aku masih ingat beberapa dari
mereka teman bermain. Kami mencari ikan – ikan kecil di sungai, membuat
bendungan di kali. Bermain bola tanpa alas kaki. Pagi – pagi sudah bersiap
berangkat sekolah, tampil rapi dan tidak lupa sarapan. Belajar, berhitung,
mengaji, jajan, menghafal, membaca RPUL, semacam informasi mengenai dunia,
untuk sekadar meraba.
Bermain setelah pulang sekolah,
aku dulu alpha, memimpin rombongan
pengendara sepeda. Berkeliling ke desa tetangga. Bermain bola mencetak gol aku
hobinya. Sayang, pemandu bakat dari Barcelona tak melirik kami, anak Indonesia.
Tak punya cita – cita selain
menjadi pemain sepakbola. Istimewa. Kami dulu kompak kemana saja. Hari sabtu,
seperti hari ini, ialah waktunya bersih – bersih dan kerja bakti di sekolah. Pulang
lebih awal tentunya, dan berkumpul setelahnya. Dari mulai memancing sampai
berkelana. Tak ubahnya cerita Laskar Pelangi. Kurang sepeda bisa membonceng
lainnya, alpha yang memutuskan
rutenya, mau kemana, belok kanan – atau kiri. Menjauh lagi dari desa atau
sekadar berkeliling untuk kemudian dilanjutkan aktivitas lainnya. Posisi alpha di depan, bisa juga bertindak sebagai
sweeper. Di tengah bisa berubah –
ubah, yang lebih kecil yang mengisi.
Tak ada yang kami khawatirkan
waktu itu. Tak bisa kami bayangkan apa yang kemudian kami harus lakukan sepuluh
tahun kemudian. Apa yang harus dilakukan hari ini. Kami tak mengetahui yang
pasti. Kami waktu itu sehat – sehat saja, bermain dimana saja. Kami tak takut
globalisasi, kami takut dengan guru ngaji. Kami menanam, kami memelihara. Tumbuhan
yang kami dapat, binatang yang kami tangkap, kami rawat. Kami menyapa, ibuk –
ibuk, bapak – bapak, tetangga yang ada di desa, tersenyum pada mereka. Berjalan
dan berlalu begitu saja. Telah lampau, namun masih kuingat. Hangat.