Sabtu, 09 Januari 2016

Teringat



Biar kuingat. Sepuluh tahun yang lewat. Usiaku belum bertambah dari sepuluh lebih empat. Bersepeda, bermain bola, ngeluyur, masih sempat. Sepuluh tahun lalu sudah tamat. Pesat.
Apa yang lebih hebat, daripada dua sahabat yang bersua dan saling menjabat.
Ya, aku masih ingat beberapa dari mereka teman bermain. Kami mencari ikan – ikan kecil di sungai, membuat bendungan di kali. Bermain bola tanpa alas kaki. Pagi – pagi sudah bersiap berangkat sekolah, tampil rapi dan tidak lupa sarapan. Belajar, berhitung, mengaji, jajan, menghafal, membaca RPUL, semacam informasi mengenai dunia, untuk sekadar meraba.
Bermain setelah pulang sekolah, aku dulu alpha, memimpin rombongan pengendara sepeda. Berkeliling ke desa tetangga. Bermain bola mencetak gol aku hobinya. Sayang, pemandu bakat dari Barcelona tak melirik kami, anak Indonesia.
Tak punya cita – cita selain menjadi pemain sepakbola. Istimewa. Kami dulu kompak kemana saja. Hari sabtu, seperti hari ini, ialah waktunya bersih – bersih dan kerja bakti di sekolah. Pulang lebih awal tentunya, dan berkumpul setelahnya. Dari mulai memancing sampai berkelana. Tak ubahnya cerita Laskar Pelangi. Kurang sepeda bisa membonceng lainnya, alpha yang memutuskan rutenya, mau kemana, belok kanan – atau kiri. Menjauh lagi dari desa atau sekadar berkeliling untuk kemudian dilanjutkan aktivitas lainnya. Posisi alpha di depan, bisa juga bertindak sebagai sweeper. Di tengah bisa berubah – ubah, yang lebih kecil yang mengisi.
Tak ada yang kami khawatirkan waktu itu. Tak bisa kami bayangkan apa yang kemudian kami harus lakukan sepuluh tahun kemudian. Apa yang harus dilakukan hari ini. Kami tak mengetahui yang pasti. Kami waktu itu sehat – sehat saja, bermain dimana saja. Kami tak takut globalisasi, kami takut dengan guru ngaji. Kami menanam, kami memelihara. Tumbuhan yang kami dapat, binatang yang kami tangkap, kami rawat. Kami menyapa, ibuk – ibuk, bapak – bapak, tetangga yang ada di desa, tersenyum pada mereka. Berjalan dan berlalu begitu saja. Telah lampau, namun masih kuingat. Hangat.