Kamis, 14 Januari 2016

Postulat

Kini jauh sudah. Semua yang terlintas merupakan peristiwa yang tak mampu kita masuki, meski masih bisa kita rasakan. Tetap bisa kita ulangi, tapi tidak akan sama. Sekali kita melakukan, sekali itu saja kita berada, dan jika pun kita melakukan lagi dalam jangka pendek, hal itu sudah bukan hal yang sama. Apapun yang sudah dilakukan dan terlewatkan kemudian menjadi kenangan. Peristiwa lalu yang masih membekas, tanpa keinginan untuk menarik ingatan itu kembali, peristiwa lalu bisa saja terlintas kapan saja.
Kegemilangan dahulu kala yang disanjung dan dipuja sedemikian rupa toh runtuh juga. Digantikan atau bahkan tergantikan, dalam hal ini terjadi semacam kesadaran untuk melakukan penggantian dan termasuk di dalamnya muncul kebiasaan baru yang dengan sendirinya tumbuh lebih cepat dari yang disadarkan pendirinya, dengan cepat dan massif mempengaruhi sebagian besar penghuninya. Namun, yang sudah tergantikan perannya dan misalnya dalam pembahasan ini katakan saja suatu hal yang populer, tidak dengan begitu saja lenyap. Kepopuleran sesuatu dimasa lampau sedikit banyak mempengaruhi sesuatu yang popular kini. Bila diandaikan sebuah siklus, meski A tergantikan B, B tidak serta merta tidak mengandung nilai – nilai yang sebelumnya terkandung di dalam A.
Begitulah sewajarnya, dari tahap ke tahap selanjutnya mengalami suatu perbaikan. Mengeliminasi yang dianggap buruk. Meminimalisir kesalahan, dan memperbesar peluang untuk menang. Menjadi pemenang. Menjadi pemegang kuasa, pengendali atas yang lainnya. Memiliki lebih banyak daripada yang lainnya, mempunyai yang dianggap berharga – bernilai bagi yang lainnya.
Jika boleh diandaikan masa hidup sekarang mengalami penyusutan. Bergerak lebih cepat, hitungan waktu yang telah disetujui tanpa protes kaum ini masih tetap. Tetapi pertanyaannya, apakah benar waktu yang dari dulu sampai sekarang patokannya sudah digunakan mampu menampung cepatnya arus hidup. Pergerakan, dalam rentetan, menemukan sesuatu, berkabar, menyapa, mengirim, berpindah tempat, vakansi, mungkinkah dilakukan dalam satuan waktu yaitu hari, dan hanya sehari. Jika hal ini tentu saja dibandingkan dengan sebelum era millennium.
Pernyataan sebatas asumsi, apalagi untuk ditanyakan validitasnya jangan diharapkan lebih. Seribuan pernyataan yang tercetus dalam hitungan detik, mencapai juta pada hitungan menit dan milyar dalam hitungan hari, adakah di antara pernyataan – pernyataan tersebut yang kemudian revolusioner, visioner, berbeda dan mengandung lebih banyak ide – ide menyegarkan. Ada tentu saja, lalu akan menjadi apakah ide – ide itu, berakhirkah menjadi masturbasi pemikiran belaka. Tanpa sempat diejawantahkan menjadi sesuatu yang berbentuk, yang merdeka atas dirinya, pikiran, rasa, menghasilkan karya.
Sejauh ini arus ide dan sejenisnya memang begitu deras, dan masih wajar andai saja hanya beberapa yang beruntung yang sanggup merekonstruksikannya. Sebab bukan soal bagaimana mewujudkan itu saja, begitu banyak faktor lain yang menyita bukan sekadar waktu, juga kemungkinan terburuknya menelan ide itu sendiri, akibat ketidakmampuan ide tersebut mengakomodasikan keinginan atasnya. Hal ini berujung pada tenggelamnya ide di dalam lautan kapitalis. Diwujudkan jika memberikan keuntungan material yang tidak sedikit dan menjadikannya seragam, bahkan tidak cukup pada pengharapan mendapat keuntungan yang boleh diasumsikan akan menjadi semacam gaya atau bila diartikan dalam secara mikro menjadi sebuah cara untuk hidup, cara menjalani kehidupan.
Tidak ada yang mutlak salah, seragam juga bukan penghalang tumbuhnya tunas – tunas pembaharuan. Di sisi lain jika sanggup, tekanan yang dirasakan, pembatasan yang dilakukan atas individu – individu merdeka, pembredelan kepada masyarakat terbuka malahan pada beberapa kasus mampu menumbuhkan tunas – tunas tadi menjadi sebuah pohon yang akarnya menancap lebih dalam dari lainnya. Batangnya lebih lebih tebal dari tank – tank berlapis baja. Dahannya lebih kokoh dari tangkai – tangkai senapan. Daunnya lebih rimbun dari kompleks kerajaan. Menjulang ke awan jauh mengangkangi pidato – pidato jenderal tanpa pasukan.
Pada awal – awal perubahan banyak yang tidak mengerti bahwa apa yang membuat mereka nyaman selama ini ialah pemusnahan massal tanpa pembunuhan. Banyak yang belum terbiasa padanya. Beberapa sudah bisa mengantisipasi, dan sebagian setelahnya tetap bisa bertahan diri. Bergerak dalam keluwesan masa. Berlenggok mesra dalam tarian imajiner kemilau kerapuhan jiwa.