Rabu, 06 Januari 2016

Ujung Hari



Semalam aku bermimipi. Tuhan kehilangan tangan. Malaikat Israil menyembunyikan sangkakala. Membuatku takut Yang Kuasa tak lagi punya kuasa. Membuatku curiga ia telah dikudeta. Berita di media massa menyebut tahun ini tahun kesialan bumi dan planet lainnya. Matahari sekarang sudah malas – malasan menyongsong pagi. Ia kebanyakan begadang.
Semalam aku bermimpi. Masjid – masjid dirobohkan karena jemaat sudah ahli dalam melaksanakan shalat. Pak RT bilang sudah waktunya kita mandiri. Menjadikan agama sebagai alat komunikasi resmi dengan pencipta. Kita diberi selebaran agar kalau mengaji tidak usah terlalu keras karena itu polusi suara. Sekarang tak perlu takut terintimidasi suara adzan. Semua sudah aman. Sudah tenang.
Semalam aku bermimpi. Tukang ojek pengkolan pendapatannya mencapai lima juta sehari. Anak – anaknya bersekolah pilot ke luar negeri. Mereka mendapat jalur khusus pengojek, bahkan lalu lintas udara dan barang bisa mereka hantarkan. Lazim mereka hafal jalan – jalan tikus. Kucing pun dibuat kelabakan oleh ulahnya. Motor mereka buatan anak bangsa. Monika namanya, panjangnya Motor Indonesia Merdeka.
Semalam aku bermimpi. Serbuan lalat menyebabkan pesawat tak mampu lepas landas. Miliaran lalat itu lepas dari penangkaran. Sejatinya mereka digunakan sebagai alat memata – matai teroris. Terbuat dari besi dan tembaga tipis serta sebuah chip mikroskopis. Harganya mahal. Pantas saja produsennya sekarang kaya, tapi apa guna kaya kalau sekarang lalat – lalat itu menyerang pesawat pribadinya. Mungkin mereka lapar tak diberi makan berbulan – bulan.
Semalam aku bermimpi. Duduk di sebuah gubuk kecil di tengah kebun tembakau. Aku bukan perokok, tapi aku suka kebun. Banyak tumbuhan dan hewan. Menyenangkan. Pada saat itu kunang – kunang bertebaran. Bintang – bintang terlihat terang. Aku melihat bintang kecil di atas sana tersenyum padaku dan membisikkan sesuatu di telingaku. “Sudah terlalu pagi jika kau ingin mendekapku kasih.”