Semalam aku bermimipi. Tuhan
kehilangan tangan. Malaikat Israil menyembunyikan sangkakala. Membuatku takut
Yang Kuasa tak lagi punya kuasa. Membuatku curiga ia telah dikudeta. Berita di
media massa menyebut tahun ini tahun kesialan bumi dan planet lainnya. Matahari
sekarang sudah malas – malasan menyongsong pagi. Ia kebanyakan begadang.
Semalam aku bermimpi. Masjid –
masjid dirobohkan karena jemaat sudah ahli dalam melaksanakan shalat. Pak RT
bilang sudah waktunya kita mandiri. Menjadikan agama sebagai alat komunikasi
resmi dengan pencipta. Kita diberi selebaran agar kalau mengaji tidak usah
terlalu keras karena itu polusi suara. Sekarang tak perlu takut terintimidasi
suara adzan. Semua sudah aman. Sudah tenang.
Semalam aku bermimpi. Tukang ojek
pengkolan pendapatannya mencapai lima juta sehari. Anak – anaknya bersekolah
pilot ke luar negeri. Mereka mendapat jalur khusus pengojek, bahkan lalu lintas
udara dan barang bisa mereka hantarkan. Lazim mereka hafal jalan – jalan tikus.
Kucing pun dibuat kelabakan oleh ulahnya. Motor mereka buatan anak bangsa.
Monika namanya, panjangnya Motor Indonesia Merdeka.
Semalam aku bermimpi. Serbuan
lalat menyebabkan pesawat tak mampu lepas landas. Miliaran lalat itu lepas dari
penangkaran. Sejatinya mereka digunakan sebagai alat memata – matai teroris.
Terbuat dari besi dan tembaga tipis serta sebuah chip mikroskopis. Harganya
mahal. Pantas saja produsennya sekarang kaya, tapi apa guna kaya kalau sekarang
lalat – lalat itu menyerang pesawat pribadinya. Mungkin mereka lapar tak diberi
makan berbulan – bulan.
Semalam aku bermimpi. Duduk di
sebuah gubuk kecil di tengah kebun tembakau. Aku bukan perokok, tapi aku suka
kebun. Banyak tumbuhan dan hewan. Menyenangkan. Pada saat itu kunang – kunang
bertebaran. Bintang – bintang terlihat terang. Aku melihat bintang kecil di
atas sana tersenyum padaku dan membisikkan sesuatu di telingaku. “Sudah terlalu
pagi jika kau ingin mendekapku kasih.”