Rabu, 20 Januari 2016

Menerima



Dalam amarah sekalipun terkandung kasih. Kisah lama yang masih menunggu dirampungkan. Dirangkai dalam rajutan benang – benang lembaran kenangan. Ada satu kisah yang belum usai yang masih kita simpan sebagai pelipur dikala senja. Seutas benang merah menjuntai ke lantai menunggu disulam kembali oleh jemari lentikmu, dengan kuku yang berwarna merah itu. Terlalu enggan aku menyuruhmu menghapus kutek. Sebab kelembutan yang menggairahkan itu yang sanggup membuatku betah berlama – lama dibelaianmu. Dalam kasih sayang sepasang insan di atas dipan tua.
Setalah begitu lama kita terpisah, kita belajar untuk memahami. Menerima segala kondisi tanpa perlu berkonfrontasi. Tradisi penerimaan sekaligus kesinisan yang kuat memancang didiri. Aku pernah berujar seandainya dunia terbagi dua, itu tak lebih dari sekadar pembastas bualan antara si miskin dan si kaya. Saling menyalahkan dengan silang pendapat. Melontarkan tudahan untuk memuaskan kedengkian. Hati yang terlalu keruh menerima pernyataan bahwa tafsiran hanya berlaku bagi sebagian orang, sedangkan yang lain masih bebas mengartikan.
Jalan kembali memang tidak ada lagi. Sebuah kebetulan jika kau menemukan lubang cacing yang bisa mengarahkanmu kembali kepada masa lalu. Kepada awal kita bertemu. Berjumpa di sebuah meja makan bakmi godok langgananku di perempatan jalan. Di simpang di mana pada hari kamis sore, sekitaran setengah lima aku menyempatkan diri untuk sekadar membeli koran harian pada pedagang yang juga menjajakan deretan buku – buku lama. Aku tertarik pada meja dan kursi kayu jatinya, tua namun kokoh. Seperti angin di musim kemarau, gersang namun beraroma menyenangkan.
Jika kemudian sesuatu yang kita alami hanya sebatas kebetulan, maka apa yang sesungguhnya terjadi. Begitu pedih mendengar cerita – ceritamu. Mereka yang kau bilang pengatur keadilan mengendalikan kebebasan sesuka udelnya. Aku ini apa jika dibandingkan mereka. Hanya manusia yang mencoba memerdekakan isi kepalanya. Menjembarkan hati. Memperkaya jiwa. Sedangkan dirimu, manusia berpendidikan yang menimba ilmu pada salah satu tempat yang mengajarkan moral sebagai nilai utamanya. Dan mereka, ialah ahli – ahli agama, ahli berkata – kata. Memutar balikkan fakta di media. Media pengusung dogma penguasa, disetir supaya membahagiakan pemerintah penguasa. Pemilik modal utama yang menggantungkan nasib hidup pada keuntungan semata.
Jalan – jalan yang kami lalui memang panjang. Cenderung memutar tapi kami hampir tidak pernah melangkah mundur, kami mengambil rute lebih jauh, sebab dalam perjalanan itulah kita ditunjukkan bagian – bagian lain dari sisi kehidupan. Mencoba mengerti untuk kemudian memahami apa yang kudu dipersiapkan ketika sudah sampai destinasi.
Kami berujar, kehidupan tak lebih dari anugerah manusia. Lalu untuk apa kita musti menjalaninya dengan terlalu keras hingga lupa caranya tertawa. Kembali, soal benang – benang merah bahan utama kain – kain pembungkus kerakusan makhluk mulia. Dimana terdapat banyak hitung – hitungan semesta yang terlewatkan. Baik itu ketika kita menjumlahkan berapa banyak yang digunakan dan berapakah yang disia – siakan.
Aku terlalu lega mengakui bahwa apa yang aku inginkan kemudian terpenuhi. Apa yang kemudian aku anggap sebagai keyakinan diri perlahan mulai terbukti. Hati yang terlalu berat dan memaksakan kehendak selalu bisa memberikan alasan pada pikiran kenapa kita tidak harus melakukan sesuatu. Mengerjakan apa yang pantas sekaligus tidak tepat. Menjual diri pada pengemis kikir rejeki.