Dalam amarah sekalipun terkandung
kasih. Kisah lama yang masih menunggu dirampungkan. Dirangkai dalam rajutan
benang – benang lembaran kenangan. Ada satu kisah yang belum usai yang masih
kita simpan sebagai pelipur dikala senja. Seutas benang merah menjuntai ke
lantai menunggu disulam kembali oleh jemari lentikmu, dengan kuku yang berwarna
merah itu. Terlalu enggan aku menyuruhmu menghapus kutek. Sebab kelembutan yang
menggairahkan itu yang sanggup membuatku betah berlama – lama dibelaianmu. Dalam
kasih sayang sepasang insan di atas dipan tua.
Setalah begitu lama kita
terpisah, kita belajar untuk memahami. Menerima segala kondisi tanpa perlu
berkonfrontasi. Tradisi penerimaan sekaligus kesinisan yang kuat memancang
didiri. Aku pernah berujar seandainya dunia terbagi dua, itu tak lebih dari
sekadar pembastas bualan antara si miskin dan si kaya. Saling menyalahkan
dengan silang pendapat. Melontarkan tudahan untuk memuaskan kedengkian. Hati yang
terlalu keruh menerima pernyataan bahwa tafsiran hanya berlaku bagi sebagian
orang, sedangkan yang lain masih bebas mengartikan.
Jalan kembali memang tidak ada
lagi. Sebuah kebetulan jika kau menemukan lubang cacing yang bisa mengarahkanmu
kembali kepada masa lalu. Kepada awal kita bertemu. Berjumpa di sebuah meja
makan bakmi godok langgananku di perempatan jalan. Di simpang di mana pada hari
kamis sore, sekitaran setengah lima aku menyempatkan diri untuk sekadar membeli
koran harian pada pedagang yang juga menjajakan deretan buku – buku lama. Aku tertarik
pada meja dan kursi kayu jatinya, tua namun kokoh. Seperti angin di musim
kemarau, gersang namun beraroma menyenangkan.
Jika kemudian sesuatu yang kita
alami hanya sebatas kebetulan, maka apa yang sesungguhnya terjadi. Begitu pedih
mendengar cerita – ceritamu. Mereka yang kau bilang pengatur keadilan
mengendalikan kebebasan sesuka udelnya. Aku ini apa jika dibandingkan mereka. Hanya
manusia yang mencoba memerdekakan isi kepalanya. Menjembarkan hati. Memperkaya jiwa.
Sedangkan dirimu, manusia berpendidikan yang menimba ilmu pada salah satu
tempat yang mengajarkan moral sebagai nilai utamanya. Dan mereka, ialah ahli –
ahli agama, ahli berkata – kata. Memutar balikkan fakta di media. Media pengusung
dogma penguasa, disetir supaya membahagiakan pemerintah penguasa. Pemilik modal
utama yang menggantungkan nasib hidup pada keuntungan semata.
Jalan – jalan yang kami lalui
memang panjang. Cenderung memutar tapi kami hampir tidak pernah melangkah
mundur, kami mengambil rute lebih jauh, sebab dalam perjalanan itulah kita
ditunjukkan bagian – bagian lain dari sisi kehidupan. Mencoba mengerti untuk
kemudian memahami apa yang kudu dipersiapkan ketika sudah sampai destinasi.
Kami berujar, kehidupan tak lebih
dari anugerah manusia. Lalu untuk apa kita musti menjalaninya dengan terlalu
keras hingga lupa caranya tertawa. Kembali, soal benang – benang merah bahan
utama kain – kain pembungkus kerakusan makhluk mulia. Dimana terdapat banyak
hitung – hitungan semesta yang terlewatkan. Baik itu ketika kita menjumlahkan
berapa banyak yang digunakan dan berapakah yang disia – siakan.
Aku terlalu lega mengakui bahwa
apa yang aku inginkan kemudian terpenuhi. Apa yang kemudian aku anggap sebagai
keyakinan diri perlahan mulai terbukti. Hati yang terlalu berat dan memaksakan
kehendak selalu bisa memberikan alasan pada pikiran kenapa kita tidak harus
melakukan sesuatu. Mengerjakan apa yang pantas sekaligus tidak tepat. Menjual diri
pada pengemis kikir rejeki.