Kamis, 19 Desember 2013

friday~random~night



Mungkin benar kata kebanyakan orang, ucapkan saja atau sampai tua kau akan menyesal karena tak melakukannya.
Mudah mungkin bagi mereka, paling tidak lebih mudah daripada aku yang melakukan tindakan itu. Bukannya aku tak mau, bukannya aku tak sanggup. Aku masih terlalu banyak menimbang.
Sudah banyak cerita tentang kebaikannya. Sudah banyak pengakuan akan keelokannya. Tidaklah cukup untuk lekas memutuskan. Baru-baru ini saja aku mendengar kebenarannya, mengenai sikap dan kebiasaan yang dulunya belum aku tau.
Semakin lama menimbang, semakin ragu. Dan akhirnya aku memutuskan bertahan, tetap kulakukan usaha meski tak besar namun niatan akan tujuan yang tidak hanya sekadar keinginan berdekatan ditumbuhkan. Sulit memang ketika harus menerima hal yang kurang menyenangkan yang ditujukan untuk ketulusan serta memperbaikinya.
Dari awal aku pertama berbicara padanya, mengenalnya, berjarak tak jauh darinya. Aku tak berani menatapnya. Merasa rendah diriku. Tak kusapa karena tak ada keberanian. Sampai sekarang masih berlanjut. Duh, ibu..maafkan anakmu yang terlalu dini memikirkan pewaris estafet hak kepengurusanku, yang akan merawatku dan anak-anakku. Tapi bukankah itu naluri lelakiku. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu dan tak akan kupaksakan.
Sekarang aku tak benar-benar mengerti. Selalu berakhir depresi.
Semoga kisah yang aku sampaikan bukan menjadi tekanan. Karena ungkapan berguna menurunkan ketegangan.

Rabu, 04 Desember 2013

Hipster



Siapa yang tidak kenal saya?. Maksudnya siapa yang tidak tau saya?.

Dengan gaya rambut yang gondrong cenderung tidak terawat berwarna coklat, kulit kuning langsat, kaos oblong kusut-lusuh plus baju Jawi nampak berat, earphone setia di telinga, dan gak lupa raut muka hangat. Siapa yang tidak tau saya?. Selesai.

Agak narsis memang, atau kalau mau dibilang narsis banget juga boleh. Tapi memang itu faktanya. Kenyataan. Tapi jangan takut meskipun ilustrasi di atas seolah menggambarkan gue sebagai makhluk agresif sesungguhnya gue orangnya afektif-kalau tidak salah tafsir, dan yang patut kalian ingat gue bukan manusia tipe penjilat. Apalagi penggigit, mungkin karena gue udah jinak lebih tepatnya terjinakkan oleh lingkungan sosial yang pernah gue tempati. Intinya gue “lain”.

Masih membahas kelainan  yang gue miliki, sedikit banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan mental gue, terlebih dimasa gue sekarang-remaja yang kalian semua udah tau masa-masa itulah yang paling rawan bagi kehidupan manusia. Karena dengan berpenampilan berbeda atau secara halus tidak seperti mayoritas lainnya, tentu menuntut kemampuan untuk menyetabilkan emosi-psikis menyangkut kepercayaan diri tadi. Narsis yang gue dapat bukan hanya soal berpenampilan, hal itu juga termasuk kebiasaan dan pola piker gue yang kemudian mamaksa gue buat menambah wawasan serta pengetahuan mengenai seni kehidupan. 

Semakin kesini, kearah yang lebih dekat dengan masa depan gue. Kelainan yang terjadi, gue sadari ternyata bukan saja hasil sebuah bentuk pemberontakan atas norma-nilai yang dianut sebagian besar masyarakat. Pastinya bukan juga melawan kesewenang-wenangan serta otoriterisme. Secara logika mungkin tidak wajar, terlebih lagi perilaku “lain” menunjukkan orang tersebut ingin diakui di dalam komunitas dan masyarakat di mana ia berada. Untuk itulah ia berdandan, berpenampilan, berbicara, berpikir, dan berpandangan lain dari orang kebanyakan. Namun dalam kasus yang gue alami ini sedikit berbeda, ketika kebanyakan orang berkelakuan “beda” agar mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar, gue, iya gue melakukan hal “beda” dengan alasan gue nyaman dengan dan karenanya, serta poin pentingnya karena gue bahagia menjadi “beda”.

Bukan masalah gue terlalu membanggakan diri, hanya ketika gue berkelakuan-tingkah laku-perilaku-berbuat-bertabiat yang dianggap orang lain berbeda dari kebiasaan, disaat-saat itulah yang membuat hidup gue lebih bahagia, lebih bisa menikmati setiap hembusan nafas, and actually I can be myself with my own style.

Karena menurut gue ketika kita bahagia akan suatu hal, kemudian kita terus-menerus melakukan hal tersebut, itu sah-sah saja. Terutama ketika mampu menjadi diri sendiri ialah suatu kebahagiaan dan merupakan karunia yang harus sangat disyukuri. Meskipun banyak yang mengaku bahagia tapi belum bisa menjadi diri sendiri, seharusnya kita juga jangan terlalu membesar-besarkan masalah tersebut. Sejatinya perbedaan yang diturunkan Tuhan kepada setiap umat inilah yang sebisa mungkin kita pahami dan mengerti. Itulah kenapa orang bisa merasa bahagia dengan suatu hal tapi ternyata ada orang lain yang tidak merasa bahagia dengan hal tersebut.

Bukankah hidup ialah suatu susunan kebahagiaan yang satu dengan kebahagiaan lainnya sehingga akhirnya terakumulasi menjadi kebahagiaan abadi di alam surgawi nanti?

Untuk itu selagi kita masih mampu merajut kebahagiaan-kebahagiaan tersebut tanpa menghiraukan seberapa “beda” kita dengan orang lain jangan pernah takut untuk melangkah!. Terlebih lagi apabila dengan kenyamanan yang kita dapatkan akibat ke-beda-an yang kita miliki membuat kita bahkan bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain serta makhluk lain ciptaan-Nya di sekitar kita. Tentu akan lebih bermanfaat bagi hidup dan kelangsungan hubungan sesama kita. 

Ketika menyantap roti isi beserta segelas y*kult, juga menikmati segelas es tebu di pinggir jalanan kampus, atau di tepi kolam melahap sebungkus beng-b*ng, dan pastinya berjalan sore menuju gerbang kampus. Selalu ditemani lagu-lagu indie. Selalu dengan senyuman ketika angin menyapa. Berbagi tempat duduk di bus kota, menunggu transmetro datang, bersama  hujan di jalan raya. Saat-saat itulah gue merasa bahagia, jadi mau bagaimana lagi?.



Selasa, 03 Desember 2013

Teka Teki



Bukankah dunia ini penuh teka dan teki?. Iya, rahasia di mana-mana. Di hutan, di sawah, di laut, di sekolah, di kampus, dan gak lupa di hati. Loncat dari pembahasan ke-rahasia-an dulu, gue mau nulis sesuatu yang gak kalah penting. Gue lebih sering menjadi penggemar, pendengar, penulis, pengamat, penikmat, penonton juga. Tapi jarang jadi pembicara, kecuali pengirim pesan, dan itu beda. Balik ke topik rahasia-rahasia dan teka serta teki tadi. Kegemaran gue yang terlihat pasif menjadikan gue seolah orang yang punya banyak rahasia; rahasia tetap ceria, rahasia tetap ganteng, rahasia menjadi cowok keren, dan rahasia-rahasia lainnya termasuk rahasia tanda lahir gue.

Jadi apa yang mau dibahas?

Gak ada sih, eh, gak jauh-jauh dari dua hal di atas kok. Karena menurut hemat gue, mempunyai kegemaran yang cenderung pasif di mata orang banyak juga gak merugikan. Apalagi kalau disalurkan ke jalur yang benar dan diridhai-Nya.

Rahasia-rahasia dan teka-tekinya dikemanakan?

Di sini aja dari tadi, iya di sini. Di sinilah ke-rahasia-an tersebut berada, bermula dan berakhir, di hati [ngelantur]. Ingat paragraf paling atas, benar sekali rahasia ada di mana-mana. Pertanyaannya, kenapa rahasia itu ada, apa fungsi serta hubungannya dengan kegemaran gue?. 
Gue perjelaskan satu persatu dulu, yang pertama shalat malam perbanyaklah, eh bukan, pertama adalah rahasia diturunkan kepada manusia karena hanya manusialah makhluk Tuhan paling sexy, eh sorry, maksud gue satu-satunya makhluk Tuhan yang berakal-bukan hanya berotak!
Akal itulah yang kemudian menjadi senjata andalan manusia menaklukkan makhluk lain ciptaan-Nya termasuk juga sesama manusianya. Akal ini berkemampuan tinggi baik itu dalam merancang/merancanakan sesuatu, menemukan solusi permasalahan, ataupun juga mengatur anggota tubuh yang lainnya. Akal selalu bisa menyuarakan ide-ide maupun gagasan dalam menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari. Dalam menyuarakan segala ide dan pendapat, manusia cenderung lebih ekspresif dan eksplisit saat melakukan kegiatan penyuaraan ide-ide tadi. Memang, banyak dari kita lebih suka bersorak gembira saat ide tersebut terlaksana dan tentunya sukses serta banyak juga yang dengan bangga tersenyum lebar saat idenya diterima dan dipraktekkan orang lain.

Akal manusia berguna mengungkapkan ide dengan melontarkannya? Lalu apa sebenarnya di balik itu semua?

Tanpa kita sadari lebih, sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan bahwa kemerdekaan itulah yang sangat dioptimalkan oleh makhluk yang berjenis manusia. Kemerdekaan mengungkapkan pendapat, seperti yang kita bahas di atas, maupun kemerdekaan – kebebasan berpendapat di dalam hati. Karena tanpa kalian tahu, orang-orang yang jarang mengungkapkan idenya seketika bisa jadi mereka ialah para pemilik alat penyimpan rahasia. Yap, alat rahasia ini memang tidak diproduksi massal dan hanya orang-orang tertentu yang berkesempatan memiliki serta menggunakan secara legal. Alat penyimpan rahasia ini juga gak akan kalian dapatkan, meskipun kalian dengan muka mengenaskan merintih memohon kepada Doraemon agar mau mengeluarkannya dari kantong ajaibnya!.
Faktanya adalah gue selama ini udah punya yang namanya alat penyimpan rahasia. Dan jangan tanya bentuknya. Alat ini cukup ampuh bagi gue ketika gue mengalami yang namanya ketersendatan berpikir kritis – sistematis pada keadaan genting dalam waktu yang singkat. Misalnya saat diskusi kelompok dan fatalnya ketika terjadi suatu perdebatan.
Gue emang bukan tipe manusia yang banyak omong, gue juga kurang paham ketika diajak berdiskusi apalagi berdebat. Tapi gue sepenuhnya percaya pada kemampuan gue. Kemampuan bermain rahasia, seperti misalnya kenapa gue gak setuju dengan pendapat si A sayangnya gue gak bisa langsung kasih alasan yang mendukung. Ataupun saat dimana gue kurang memperhatikan sesuatu tapi gue gak mampu ngejelasin kenapa gue gak mau memperhatikannya. Di sini gue emang terlihat sebagai manusia yang lebih didominasi oleh perasaan tapi sialnya sebenarnya gue juga bukan orang sensitive. Jadi kalo pisau itu tajamnya kearah lain bukan ke keadaan gue berada, analogi yang gak nyambung sepertinya.
Dan menurut gue, ketika tiap-tiap manusia punya rahasia dan teka-teki kehidupannya yang tidak semua orang tahu dan kita sendiri tidak mencoba mencari tahu rahasia orang lain, maka hidup kalian gak akan pernah terasa flat lagi. Karena kalian akan selalu merasa belum tahu segalanya, di mana perasaan ini akan mendorong kalian buat selalu mempunyai ketertarikan dan rasa hormat terhadap sesame manusia. Seni kehidupan dalam menerima serta menghargai rahasia yang orang lain punya.
Well, setelah sekian banyak ngelantur kesana-kemari, tulisan ini memang tidak banyak memberikan informasi yang penting. Akan tetapi sebagai generasi cerdas pasti akan bisa melihat apa Goal yang ingin gue capai. Betul sekali, nothing can’t be same unless you’re drunk. Orang mabuklah yang gak bisa membedakan mana yang lurus mana yang belok. 



Minggu, 03 November 2013

Mahasiswa

      Sebagai seorang mahasiswa gue merasa hampa. Entah kenapa kehidupan seorang mahasiswa seperti yang sedang gue jalani malah bikin gue ngerasa gak punya kerjaan. Yah, walaupun akhir-akhir ini banyak tugas menumpuk, sebenarnya bukan karena banyak hanya terlalu malas buat ngerjainnya. Apalagi kalo gak ada yang namanya tugas, paling sehari-hari kerjaannya cuma Datang-Duduk-Diam di kelas terus ngobrol ngalor-ngidul gak jelas dengan sesama mahasiswa. Kasus terparah yang pernah gue alami yaitu ketika gue masuk kuliah jam setengah empat sore dan udah nongkrong di kampus sejak pukul tujuh pagi! Mungkin fakta tersebut udah bisa dijadikan salah satu indikator adanya "makhluk penghuni" kampus.

      Beruntunglah dengan kecerdasan yang terbatas, gue bisa menciptakan dunia gue sendiri kalo lagi ngampus. Imajinasi gue yang ngeloyor kemana-mana berhasil membuat gue gak kesepian lagi. Kemampuan daya imajinasi yang gue miliki memang belum terbukti secara ilmiah tapi udah sering terbukti kemanjurannya terlebih kalo lagi sendirian (silahkan praktekkan di rumah). 

      Selain meluangkan waktu dengan berimajinasi ria, biasanya gue bisa baca-baca buku ataupun novel, meskipun belum lama mengenal dekat istilah membaca-dulunya gue alergi-tapi ini salah satu cara ampuh yang gue saranin buat kalian. Dengan membaca bisa menambah wawasan sekaligus mengalihkan perhatian sejenak dari kehampaan yang gue rasakan selama menjadi mahasiswa.

       Oke, beberapa fakta yang gue ungkapkan di atas mungkin dialami juga oleh mahasiswa lain. Harapannya semoga mereka yang mengalami cobaan tersebut agar bisa tabah dan berbesar hati. Ada beragam masalah yang turut memperparah keadaan dan statusisasi ke-hampa-an dalam diri mahasiswa. Misalnya kalo tugas yang dikumpul tidak mendapat respon baik dari dosen, Uas selalu menghadirkan kabar buruk, sekelas sama mantan+pasangan barunya si mantan, uang bulanan telat dikirim, atau juga terinfeksi virus gadget/fashionholic : merupakan kondisi seorang manusia dimana pelakunya mengalami kecenderungan "mudah berubah" (read:menggunakan)-gadget/fashion-dalam rentang waktu harian yang berlebihan.

      Seringnya mahasiswa merasa kosong dalam masa studinya tentu berakibat tidak baik untuk perkembangan mental dan nalarnya. Inilah yang kebanyakan mahasiswa alami : kurangnya daya nalar-logis dalam menganalisis suatu permasalahan disekitarnya. Jadilah mereka anak SMA yang masuk kelas mengenakan baju bebas dengan intensitas pertemuan dalam ruangan jauh lebih sedikit.

      Perasaan hampa yang sering gue dan mahasiswa lain alami bisa dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama ialah mereka yang merasa hampa disebabkan kondisi disekitarnya tidak memiliki daya dukung untuk diri mereka menghalau kesepian. Contoh nyatanya, seorang mahasiswa yang punya banyak aktivitas di kampus akan tetapi tidak bisa menemukan kebahagiaan di balik statusnya sebagai seorang "mahasiswa" dikarenakan kegiatannya hanya bersifat ikut-ikutan. Kategori kedua, adalah mahasiswa yang sudah melengkapi diri dengan bermacam atribut dengan tujuan membuat suasana saat berada kampus lebih menyenangkan. Contohnya, mahasiswa yang selama menjalani masa studinya tidak terlalu banyak mempunyai aktivitas di kampus bahkan sampai ada yang jarang mengikuti kegiatan belajar mengajar, namun soal apa yang mereka bawa dan kenakan tidak pernah telat update.

      Dari analisis singkat tersebut meski belum dilakukan penelitian dan pengamatan serius, gue bisa membayangkan meskipun mahasiswa tersebut selalu belajar, tidak pernah absen, selalu ikut ujian dan tepat waktu mengumpulkan tugas belum tentu dia memahami poin penting menjadi seorang mahasiswa, apalagi kalo dia yang tiap harinya TA-istilah umum dikampus, jarang mengumpulkan tugas dan ikut ujian ditambah tidak pernah membaca buku.

      Dan kehampaan tidak akan pernah lenyap kecuali kita mengaktualisasikan nilai-nilai ke-mahasiwa-an yang kita dapat/miliki dalam kehidupan sehari-hari.

Kamis, 31 Oktober 2013

Panti Asuhan



Beberapa minggu lalu saya menyempatkan diri mengunjungi suatu Panti Asuhan bersama “seseorang”. Ini bukan kali pertama saya pergi ke panti asuhan, pernah tapi tak sering juga. Rasanya menyenangkan sekaligus mengharukan. Saat kali pertama ke panti asuhan yang bertepatan ditemani olehnya mengingatkan saya untuk lebih bersyukur dan terus mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan. Hal tersebut wajar kala kita singgah sejenak dan menyelami kembali memori kita akan hal-hal yang belum tercapai atau sesuatu yang seolah berakhir sia-sia.
Betapa berharganya waktu yang Tuhan berikan kepada kita sesungguhnya.
Dan tak terbayang akan jadi apa mereka nantinya, hanya mengharap dan mendoakan yang terbaik untuk mereka.


Wujudkan!



Tukang mimpi, mungkin itu julukan yang tepat buat saya. Bukan karena saya telah mewujudkan mimpi besar saya, namun lebih kepada sebegitu banyak mimpi yang saya miliki. Bicara tentang mimpi  gak akan berakhir kecuali kita udah tidur dan mengalami mimpi itu sendiri.
Suatu ketika saya punya mimpi memiliki handphone yang bisa digunakan untuk memutar lagu/mp3-an.  Alhamdulillah beberapa bulan lalu terwujud dan sampai sekarang  jam terbang dari aplikasi pemutar music tersebut terus saja meningkat. Sejak Sma saya punya keinginan membeli laptop, meskipun di rumah ada komputer tapi karena rusak, akhirnya hari-hari saya biasa saya habiskan di warnet sebelah rumah. Dan pertengahan tahun ini, mimpi itu terwujud. Adalah abang saya yang dengan ikhlas membelikan laptop untuk saya.
Beberapa hari lalu saya baru saja melakukan transaksi di internet untuk pembelian sebuah kamera digital, ya digital. Alhamdulillah barangnya sudah sampai di tangan saya.

Ini penampakannya..

 Untuk melihat hasil jepretannya silahkan kunjungi alamat ini



 Pertimbangan saya membeli kamera tersebut selain karena saya suka sesuatu yang “beda”, juga terkendala di budget apabila ingin membeli sebuah DSLR. Dibandingkan dengan kamera instax atau Polaroid tentu lebih murah karena tidak perlu membeli kertas setiap melakukan pemotretan. Kamera Lomo Joco VX5 ini berbeda dengan kamera lomo pada umumnya karena Joco VX5 tidak lagi menggunakan film sebagai media penyimpannya alias tak lagi kamera analog melainkan sudah digital. Digital dengan efek lomo dan bisa mengambil  video juga dengan efek lomo.
Itulah alasan saya kenapa saya membelinya. Saya yakin kalian juga mempunyai alasan masing-masing untuk setiap tindakan dan khususnya barang-barang yang kalian beli. Tapi intinya alasan masuk akal ketika barang tersebut memang bermanfaat buat kalian.
Mengenai mimpi, it’s not about the ideas it’s about making ideas happen. d[(^_^)]b