Siapa yang tidak kenal saya?. Maksudnya siapa yang
tidak tau saya?.
Dengan gaya rambut yang gondrong cenderung tidak terawat
berwarna coklat, kulit kuning langsat, kaos oblong kusut-lusuh plus baju Jawi nampak berat, earphone
setia di telinga, dan gak lupa raut muka hangat. Siapa yang tidak tau saya?. Selesai.
Agak narsis memang, atau kalau mau dibilang narsis
banget juga boleh. Tapi memang itu faktanya. Kenyataan. Tapi jangan takut
meskipun ilustrasi di atas seolah menggambarkan gue sebagai makhluk agresif
sesungguhnya gue orangnya afektif-kalau tidak salah tafsir, dan yang patut
kalian ingat gue bukan manusia tipe penjilat. Apalagi penggigit, mungkin karena
gue udah jinak lebih tepatnya terjinakkan oleh lingkungan sosial yang pernah
gue tempati. Intinya gue “lain”.
Masih membahas kelainan yang gue miliki, sedikit banyak memberi
pengaruh terhadap perkembangan mental gue, terlebih dimasa gue sekarang-remaja
yang kalian semua udah tau masa-masa itulah yang paling rawan bagi kehidupan
manusia. Karena dengan berpenampilan berbeda atau secara halus tidak seperti
mayoritas lainnya, tentu menuntut kemampuan untuk menyetabilkan emosi-psikis
menyangkut kepercayaan diri tadi. Narsis yang gue dapat bukan hanya soal
berpenampilan, hal itu juga termasuk kebiasaan dan pola piker gue yang kemudian
mamaksa gue buat menambah wawasan serta pengetahuan mengenai seni kehidupan.
Semakin kesini, kearah yang lebih dekat dengan masa
depan gue. Kelainan yang terjadi, gue sadari ternyata bukan saja hasil sebuah
bentuk pemberontakan atas norma-nilai yang dianut sebagian besar masyarakat. Pastinya
bukan juga melawan kesewenang-wenangan serta otoriterisme. Secara logika
mungkin tidak wajar, terlebih lagi perilaku “lain” menunjukkan orang tersebut
ingin diakui di dalam komunitas dan masyarakat di mana ia berada. Untuk itulah
ia berdandan, berpenampilan, berbicara, berpikir, dan berpandangan lain dari
orang kebanyakan. Namun dalam kasus yang gue alami ini sedikit berbeda, ketika
kebanyakan orang berkelakuan “beda” agar mendapat pengakuan dari lingkungan
sekitar, gue, iya gue melakukan hal “beda” dengan alasan gue nyaman dengan dan
karenanya, serta poin pentingnya karena gue bahagia menjadi “beda”.
Bukan masalah gue terlalu membanggakan diri, hanya
ketika gue berkelakuan-tingkah laku-perilaku-berbuat-bertabiat yang dianggap
orang lain berbeda dari kebiasaan, disaat-saat itulah yang membuat hidup gue
lebih bahagia, lebih bisa menikmati setiap hembusan nafas, and actually I can be myself with my own style.
Karena menurut gue ketika kita bahagia akan suatu hal,
kemudian kita terus-menerus melakukan hal tersebut, itu sah-sah saja. Terutama ketika
mampu menjadi diri sendiri ialah suatu kebahagiaan dan merupakan karunia yang
harus sangat disyukuri. Meskipun banyak yang mengaku bahagia tapi belum bisa
menjadi diri sendiri, seharusnya kita juga jangan terlalu membesar-besarkan
masalah tersebut. Sejatinya perbedaan yang diturunkan Tuhan kepada setiap umat
inilah yang sebisa mungkin kita pahami dan mengerti. Itulah kenapa orang bisa
merasa bahagia dengan suatu hal tapi ternyata ada orang lain yang tidak merasa
bahagia dengan hal tersebut.
Bukankah hidup ialah suatu susunan kebahagiaan yang
satu dengan kebahagiaan lainnya sehingga akhirnya terakumulasi menjadi
kebahagiaan abadi di alam surgawi nanti?
Untuk itu selagi kita masih mampu merajut
kebahagiaan-kebahagiaan tersebut tanpa menghiraukan seberapa “beda” kita dengan
orang lain jangan pernah takut untuk melangkah!. Terlebih lagi apabila dengan
kenyamanan yang kita dapatkan akibat ke-beda-an yang kita miliki membuat kita
bahkan bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain serta makhluk lain
ciptaan-Nya di sekitar kita. Tentu akan lebih bermanfaat bagi hidup dan
kelangsungan hubungan sesama kita.
Ketika menyantap roti isi beserta segelas y*kult, juga
menikmati segelas es tebu di pinggir jalanan kampus, atau di tepi kolam melahap
sebungkus beng-b*ng, dan pastinya berjalan sore menuju gerbang kampus. Selalu ditemani
lagu-lagu indie. Selalu dengan senyuman ketika angin menyapa. Berbagi tempat
duduk di bus kota, menunggu transmetro datang, bersama hujan di jalan raya. Saat-saat itulah gue
merasa bahagia, jadi mau bagaimana lagi?.