Rabu, 04 Desember 2013

Hipster



Siapa yang tidak kenal saya?. Maksudnya siapa yang tidak tau saya?.

Dengan gaya rambut yang gondrong cenderung tidak terawat berwarna coklat, kulit kuning langsat, kaos oblong kusut-lusuh plus baju Jawi nampak berat, earphone setia di telinga, dan gak lupa raut muka hangat. Siapa yang tidak tau saya?. Selesai.

Agak narsis memang, atau kalau mau dibilang narsis banget juga boleh. Tapi memang itu faktanya. Kenyataan. Tapi jangan takut meskipun ilustrasi di atas seolah menggambarkan gue sebagai makhluk agresif sesungguhnya gue orangnya afektif-kalau tidak salah tafsir, dan yang patut kalian ingat gue bukan manusia tipe penjilat. Apalagi penggigit, mungkin karena gue udah jinak lebih tepatnya terjinakkan oleh lingkungan sosial yang pernah gue tempati. Intinya gue “lain”.

Masih membahas kelainan  yang gue miliki, sedikit banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan mental gue, terlebih dimasa gue sekarang-remaja yang kalian semua udah tau masa-masa itulah yang paling rawan bagi kehidupan manusia. Karena dengan berpenampilan berbeda atau secara halus tidak seperti mayoritas lainnya, tentu menuntut kemampuan untuk menyetabilkan emosi-psikis menyangkut kepercayaan diri tadi. Narsis yang gue dapat bukan hanya soal berpenampilan, hal itu juga termasuk kebiasaan dan pola piker gue yang kemudian mamaksa gue buat menambah wawasan serta pengetahuan mengenai seni kehidupan. 

Semakin kesini, kearah yang lebih dekat dengan masa depan gue. Kelainan yang terjadi, gue sadari ternyata bukan saja hasil sebuah bentuk pemberontakan atas norma-nilai yang dianut sebagian besar masyarakat. Pastinya bukan juga melawan kesewenang-wenangan serta otoriterisme. Secara logika mungkin tidak wajar, terlebih lagi perilaku “lain” menunjukkan orang tersebut ingin diakui di dalam komunitas dan masyarakat di mana ia berada. Untuk itulah ia berdandan, berpenampilan, berbicara, berpikir, dan berpandangan lain dari orang kebanyakan. Namun dalam kasus yang gue alami ini sedikit berbeda, ketika kebanyakan orang berkelakuan “beda” agar mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar, gue, iya gue melakukan hal “beda” dengan alasan gue nyaman dengan dan karenanya, serta poin pentingnya karena gue bahagia menjadi “beda”.

Bukan masalah gue terlalu membanggakan diri, hanya ketika gue berkelakuan-tingkah laku-perilaku-berbuat-bertabiat yang dianggap orang lain berbeda dari kebiasaan, disaat-saat itulah yang membuat hidup gue lebih bahagia, lebih bisa menikmati setiap hembusan nafas, and actually I can be myself with my own style.

Karena menurut gue ketika kita bahagia akan suatu hal, kemudian kita terus-menerus melakukan hal tersebut, itu sah-sah saja. Terutama ketika mampu menjadi diri sendiri ialah suatu kebahagiaan dan merupakan karunia yang harus sangat disyukuri. Meskipun banyak yang mengaku bahagia tapi belum bisa menjadi diri sendiri, seharusnya kita juga jangan terlalu membesar-besarkan masalah tersebut. Sejatinya perbedaan yang diturunkan Tuhan kepada setiap umat inilah yang sebisa mungkin kita pahami dan mengerti. Itulah kenapa orang bisa merasa bahagia dengan suatu hal tapi ternyata ada orang lain yang tidak merasa bahagia dengan hal tersebut.

Bukankah hidup ialah suatu susunan kebahagiaan yang satu dengan kebahagiaan lainnya sehingga akhirnya terakumulasi menjadi kebahagiaan abadi di alam surgawi nanti?

Untuk itu selagi kita masih mampu merajut kebahagiaan-kebahagiaan tersebut tanpa menghiraukan seberapa “beda” kita dengan orang lain jangan pernah takut untuk melangkah!. Terlebih lagi apabila dengan kenyamanan yang kita dapatkan akibat ke-beda-an yang kita miliki membuat kita bahkan bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain serta makhluk lain ciptaan-Nya di sekitar kita. Tentu akan lebih bermanfaat bagi hidup dan kelangsungan hubungan sesama kita. 

Ketika menyantap roti isi beserta segelas y*kult, juga menikmati segelas es tebu di pinggir jalanan kampus, atau di tepi kolam melahap sebungkus beng-b*ng, dan pastinya berjalan sore menuju gerbang kampus. Selalu ditemani lagu-lagu indie. Selalu dengan senyuman ketika angin menyapa. Berbagi tempat duduk di bus kota, menunggu transmetro datang, bersama  hujan di jalan raya. Saat-saat itulah gue merasa bahagia, jadi mau bagaimana lagi?.