Selasa, 25 November 2014

Part 1

Siang tadi tidak begitu terik, satu mata kuliah hari ini tidak terisi. Mungkin dosen mulai lelah dengan kepasifan kami di dalam lokal, atau mungkin beliau mulai lapar. Singkatnya kami memutuskan makan siang di tempat yang mulai menjadi langganan kami, berjalan kaki seperti biasa. Karena memang jamnya makan siang maka banyak makhluk-makhluk kelaparan mulai berseliweran, tak terkecuali ditempat makan yang kami tuju.
Benar saja pemirsa, sampai dilokasi tidak ada meja kosong, semua terisi, penuh, dihiasi muda-mudi yang sedang melepas gairah perutnya. Tempat makan ini menyediakan menu; ayam penyet dan kawan-kawan, tidak istimewa dari segi bangunan, tapi cobalah sesekali berkunjung mencicipi sambalnya. Yummy.
Di bangku paling ujung dekat dengan pintu dapur tempat masak dua orang duduk menunggu pesanan,  dengan melemparkan senyum innocent saya menanya “apakah saya boleh duduk disini” begitu kira-kira inti pertanyaannya, lalu kakak perempuan yang tidak seperguruan itu menjawab-tanpa tersenyum “ada yang akan duduk disini empat orang”. Yap, saya lempar senyum lagi dan meng-oh kan mulut saya sambil melangkah mundur, beruntung tepat di depan bangku tadi masih ada tempat kosong yang hanya diduduki dua orang manusia, lelaki-perempuan. Mereka mempersilakan.
Sengaja kami tidak segera memesan makanan, terlihat dapur dipenuhi pengunjung dengan berbagai ekspresi kelaparan. Sembari menunggu agak lengang, saya mengamati sekitar, iya itu kebiasaan atau mungkin bakat saya. Lamat-lamat dua orang di samping saya sedang membicarakan semacam kompetisi-kalau saya tidak salah dengar. Tak begitu jelas, tapi saya bisa memberikan sedikit gambaran, dalam kompetisi tersebut menurut sang pencerita-lelaki yang fasih dalam berekspresi saat berbicara banyak delegasi dari unversitas lain mempertanyakan kinerja wasit, eh juri maksudnya. Lelaki tadi seperti ingin memberikan pendapat mengenai jalannya kompetisi yang menurut dia bukan menurut saya, kompetisi tersebut diikuti oleh delegasi-delegasi yang anggotanya tidak terlalu baik atau mungkin wow dalam performanya. Di titik ini, saya ingat kata-kata dari salah satu dosen saya kalau saya tidak lupa, pokoknya pernah. “mahasiswa Un*i secara akademis tidak kalah dengan mahasiswa dari universitas-universitas terkemuka di Jawa sana, (saya skip bagian selanjutnya karena memang tidak terlalu mendukung dalam kisah ini-menurut saya)”. Semakin kesini ceritanya seperti keluhan atas apa yang dialami selama mengikuti kegiatan tersebut, bukan hal yang menyenagkan untuk didengar. Bahkan kekurangan anggota satu delegasipun tidak segan oleh lelaki diumbar kepada teman perempuannya.
Sampai disini saya juga mengingat kembali, belum ada dua minggu terlewat ketika saya diajak untuk mengikuti sebuah program semacam kompetisi juga yang diadakan oleh salah satu televisi swasta. Kami berempat, membuat berita, mengambil video dan lain sabagainya. Di antara kami berempat saya memang akrab dengan salah satunya, hubungan teman saya dan lelaki yang ada di tempat makan tadi memang tidak ada, tapi jika boleh dikata ada kemiripan di antara mereka selain tentunya keekspresifan mereka saat berbicara, yaitu; kalau orang di desa kami disebut “nggelendeng”. Iya tidak perlu saya perjelas, tapi disitu tadi titik kesamaannya yang masih menurut saya.
Sudah ada lima belas menit mungkin kami duduk di bangku ini, teman saya mulai merasakan cacing yang berdemo mulai membakar ban bekas dan melampar bom-bom molotov yang dibuat dari minyak/bensin yang harganya sudah sepuluh ribu kalau eceran, dan cacing-cacing tadi ternyata mendemo harga minyak/bensin yang sudah tidak ketulungan menurut mereka, mungkin, sampai disini saya gagal fokus, mungkin mereka para pendemo kenaikan harga minyak/bensin entah cacing atau bukan merasa keberatan untuk membiayai operasional pembuatan bom-bom molotov kalau mereka ingin berdemo lagi. Dari mana pendapat ini saya peroleh, ya dari arus lalu lintas ke Ind*mart dan Alf*mart masih saja penuh kendaraan bermotor. Mereka sesungguhnya bisa menerima atau mungkin maklum. Hanya mungkin, ah lupakan saja.
Dan fokus lagi, saya akhirnya memesan sampai dua kali, eh tidak sekali saja karena yang terakhir hanya memastikan. Akhirnya kamipun makan, saya dengan telor dadar dan dia dengan paha kanan ayamnya. Ditengah ritus makan, saya tercekat mendengar omongan teman saya mengenai tidak nikmatnya dia makan.
Kepala saya mulai goyah, superslide mengalun deras, terpampang seperti foto-foto yang terekam saat saya makan, baik itu saat masih di Magelang-kebanyakan pun ketika sudah disini. Begitu beragam yang saya makan dari mulai nasi putih plus telor ceplok, sampai ayam pop Rumah Makan Sederhana yang kondang itu, tidak pernah terbayang saya tidak menikmatinya. Ketika saya melihat hidangan di depan mata saya, dalam angan “Ibuk di rumah bahkan tidak mesti seminggu sekali memasak hidangan mewah seperti ini”.
Tidak akan saya bahas lebih jauh, saya hanya terdiam dan merenung kebanyakan setelahnya. Saya ambil definisi nikmat yang masih mengandalkan kinerja mbah Google, maafkan saya Ya Allah kalau saya kurang dalam hal ini, semoga Engkau berkenan. Nikmat secara etimologis berasal dari bahasa arab yang berari segala kebaikan, keenakan, dan semua rasa kebahagiaan. Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu dan akhlak mulia.
Dalam website Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis; nik·mat 1 a enak; lezat: masakannya memang --; 2 a merasa puas; senang: -- rasanya tidur di kamar sebagus ini; 3 n pemberian atau karunia (dr Allah):Allah telah memberi -- kpd manusia; sedangkan me·nik·mati v 1 merasai (sesuatu yg nikmat atau lezat): kami ~ makan minum; 2 mengecap; mengalami (sesuatu yg menyenangkan atau memuaskan): ~hasil kemerdekaan.
Kaitannya nikmat yang merupakan semua rasa kebahagiaan, saya kembali tersenyumkan oleh tulisan dari mas Farid dalam pemaparannya mengenai hastag bahagia itu sederhana #bahagiaitusederhana; ‘bahagia itu sederhana adalah milik semua orang dan milik semua pribadi yang mau bersyukur. Mensyukuri hal-hal kecil dan sederhana dan berbahagia karenanya. Bahagia itu sederhana adalah milik jiwa-jiwa yang ingin merdeka. Bahagia itu sederhana adalah etosnya, bersyukur adalah inti dari semuanya'. 

Dan pada bagian akhir ini, saya memohon maaf bila menyinggung perasaan karena cerita, tokoh, dan tempat bukanlah fiktif belaka. Saya mungkin juga pengeluh dan pengadu seperti kebanyakan. Karena dari peristiwa sehari-hari seperti ini sesungguhnya kita belajar dan menyadari betapa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Pemurah serta Penyayang tentunya, dan dengan tulisan ini saya berharap Tuhan, Allah Yang Maha Esa selalu menuntun kami kejalan-Nya. Amien.

Jumat, 07 November 2014

terik hari adalah pesona
dengannya, pohon rimbun menjelma
payung-payung megah mengurai masa
  lihatlah mereka bergerak bersentuhan
  memijakkan keteduhan
tersibak di antara dedaunan dan rapuh kayu
kemegahan lembut sang bayu
  membisikkan beribu nasehat
  meruntuhkan jutaan penat
merangkai memori
yang bergemuruh dalam diri
  senyumlah untuk syukur damai hari ini 





bulan meragu terangnya
menunggu kilau bintang berjuta
agar malam tak lagi kelam
selepas mendung dan hujan datang
kurangkai mantra untuk pagi menjelang
merdu alunan nada mengalir pelan
hangatkan diri
sambut mentari
jalin senyuman
tangguhkan jiwa

29 okt 
Sesaat mata menerka
rumput daun kayu tertata
mungkin sengaja
atau begitu adanya
bersilangan serta merta



Menggilas kesunyian
dengan canda riuh bertaburan
menuntut kedamaian
malu mengundang kekaguman
sendiri menghantarkan
memupuk kehampaan
21 okt
Aku tidur dalam pelukmu
Di antara bayang kembang rerumputan
Dan sinar rembulan