Siang tadi tidak
begitu terik, satu mata kuliah hari ini tidak terisi. Mungkin dosen mulai lelah
dengan kepasifan kami di dalam lokal, atau mungkin beliau mulai lapar. Singkatnya
kami memutuskan makan siang di tempat yang mulai menjadi langganan kami, berjalan
kaki seperti biasa. Karena memang jamnya makan siang maka banyak
makhluk-makhluk kelaparan mulai berseliweran, tak terkecuali ditempat makan
yang kami tuju.
Benar saja
pemirsa, sampai dilokasi tidak ada meja kosong, semua terisi, penuh, dihiasi
muda-mudi yang sedang melepas gairah perutnya. Tempat makan ini menyediakan
menu; ayam penyet dan kawan-kawan, tidak istimewa dari segi bangunan, tapi
cobalah sesekali berkunjung mencicipi sambalnya. Yummy.
Di bangku paling
ujung dekat dengan pintu dapur tempat masak dua orang duduk menunggu pesanan, dengan melemparkan senyum innocent saya menanya “apakah saya boleh duduk disini” begitu
kira-kira inti pertanyaannya, lalu kakak perempuan yang tidak seperguruan itu
menjawab-tanpa tersenyum “ada yang akan duduk disini empat orang”. Yap, saya
lempar senyum lagi dan meng-oh kan mulut saya sambil melangkah mundur, beruntung
tepat di depan bangku tadi masih ada tempat kosong yang hanya diduduki dua
orang manusia, lelaki-perempuan. Mereka mempersilakan.
Sengaja kami tidak
segera memesan makanan, terlihat dapur dipenuhi pengunjung dengan berbagai
ekspresi kelaparan. Sembari menunggu agak lengang, saya mengamati sekitar, iya
itu kebiasaan atau mungkin bakat saya. Lamat-lamat dua orang di samping saya
sedang membicarakan semacam kompetisi-kalau saya tidak salah dengar. Tak begitu
jelas, tapi saya bisa memberikan sedikit gambaran, dalam kompetisi tersebut
menurut sang pencerita-lelaki yang fasih dalam berekspresi saat berbicara
banyak delegasi dari unversitas lain mempertanyakan kinerja wasit, eh juri
maksudnya. Lelaki tadi seperti ingin memberikan pendapat mengenai jalannya
kompetisi yang menurut dia bukan menurut saya, kompetisi tersebut diikuti oleh
delegasi-delegasi yang anggotanya tidak terlalu baik atau mungkin wow dalam
performanya. Di titik ini, saya ingat kata-kata dari salah satu dosen saya
kalau saya tidak lupa, pokoknya pernah. “mahasiswa Un*i secara akademis tidak
kalah dengan mahasiswa dari universitas-universitas terkemuka di Jawa sana, (saya
skip bagian selanjutnya karena memang tidak terlalu mendukung dalam kisah ini-menurut
saya)”. Semakin kesini ceritanya seperti keluhan atas apa yang dialami selama
mengikuti kegiatan tersebut, bukan hal yang menyenagkan untuk didengar. Bahkan kekurangan
anggota satu delegasipun tidak segan oleh lelaki diumbar kepada teman
perempuannya.
Sampai disini
saya juga mengingat kembali, belum ada dua minggu terlewat ketika saya diajak
untuk mengikuti sebuah program semacam kompetisi juga yang diadakan oleh salah
satu televisi swasta. Kami berempat, membuat berita, mengambil video dan lain
sabagainya. Di antara kami berempat saya memang akrab dengan salah satunya, hubungan
teman saya dan lelaki yang ada di tempat makan tadi memang tidak ada, tapi jika
boleh dikata ada kemiripan di antara mereka selain tentunya keekspresifan mereka
saat berbicara, yaitu; kalau orang di desa kami disebut “nggelendeng”. Iya tidak perlu saya perjelas, tapi disitu tadi titik
kesamaannya yang masih menurut saya.
Sudah ada lima
belas menit mungkin kami duduk di bangku ini, teman saya mulai merasakan cacing
yang berdemo mulai membakar ban bekas dan melampar bom-bom molotov yang dibuat
dari minyak/bensin yang harganya sudah sepuluh ribu kalau eceran, dan
cacing-cacing tadi ternyata mendemo harga minyak/bensin yang sudah tidak
ketulungan menurut mereka, mungkin, sampai disini saya gagal fokus, mungkin
mereka para pendemo kenaikan harga minyak/bensin entah cacing atau bukan merasa
keberatan untuk membiayai operasional pembuatan bom-bom molotov kalau mereka
ingin berdemo lagi. Dari mana pendapat ini saya peroleh, ya dari arus lalu
lintas ke Ind*mart dan Alf*mart masih saja penuh kendaraan bermotor. Mereka sesungguhnya
bisa menerima atau mungkin maklum. Hanya mungkin, ah lupakan saja.
Dan fokus lagi,
saya akhirnya memesan sampai dua kali, eh tidak sekali saja karena yang
terakhir hanya memastikan. Akhirnya kamipun makan, saya dengan telor dadar dan
dia dengan paha kanan ayamnya. Ditengah ritus makan, saya tercekat mendengar
omongan teman saya mengenai tidak nikmatnya dia makan.
Kepala saya
mulai goyah, superslide mengalun
deras, terpampang seperti foto-foto yang terekam saat saya makan, baik itu saat
masih di Magelang-kebanyakan pun ketika sudah disini. Begitu beragam yang saya
makan dari mulai nasi putih plus telor
ceplok, sampai ayam pop Rumah Makan Sederhana yang kondang itu, tidak pernah
terbayang saya tidak menikmatinya. Ketika saya melihat hidangan di depan mata
saya, dalam angan “Ibuk di rumah bahkan tidak mesti seminggu sekali memasak
hidangan mewah seperti ini”.
Tidak akan saya
bahas lebih jauh, saya hanya terdiam dan merenung kebanyakan setelahnya. Saya ambil
definisi nikmat yang masih mengandalkan kinerja mbah Google, maafkan saya Ya
Allah kalau saya kurang dalam hal ini, semoga Engkau berkenan. Nikmat secara etimologis berasal dari bahasa
arab yang berari segala kebaikan, keenakan, dan semua rasa kebahagiaan. Sesuatu
yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu dan akhlak mulia.
Dalam website Kamus
Besar Bahasa Indonesia tertulis; nik·mat 1 a enak; lezat: masakannya
memang --; 2 a merasa
puas; senang: -- rasanya tidur di kamar sebagus
ini; 3 n pemberian atau karunia (dr Allah):Allah
telah memberi -- kpd manusia; sedangkan me·nik·mati v 1 merasai (sesuatu yg
nikmat atau lezat): kami
~ makan minum; 2 mengecap; mengalami (sesuatu yg
menyenangkan atau memuaskan): ~hasil
kemerdekaan.
Kaitannya nikmat yang merupakan semua rasa kebahagiaan, saya kembali
tersenyumkan oleh tulisan dari mas Farid dalam pemaparannya mengenai hastag bahagia
itu sederhana #bahagiaitusederhana; ‘bahagia itu sederhana adalah milik semua
orang dan milik semua pribadi yang mau bersyukur. Mensyukuri hal-hal kecil dan
sederhana dan berbahagia karenanya. Bahagia itu sederhana adalah milik
jiwa-jiwa yang ingin merdeka. Bahagia itu sederhana adalah etosnya, bersyukur
adalah inti dari semuanya'.
Dan pada bagian akhir ini, saya memohon maaf bila menyinggung perasaan
karena cerita, tokoh, dan tempat bukanlah fiktif belaka. Saya mungkin juga
pengeluh dan pengadu seperti kebanyakan. Karena dari peristiwa sehari-hari
seperti ini sesungguhnya kita belajar dan menyadari betapa Tuhan Maha Pengasih
lagi Maha Pemurah serta Penyayang tentunya, dan dengan tulisan ini saya
berharap Tuhan, Allah Yang Maha Esa selalu menuntun kami kejalan-Nya. Amien.