Selalu lebih sulit menyatakan sesuatu kebenaran ketimbang mengucapkan hal yang asal. Seperti mengatakan bahwa aku terlalu sering merasa berat, pada saat - saat tertentu. Bahkan beberapa detik dalam sehari pernahku merasa bahwa tak seharusnya aku mempunyai keturunan. Kenapa. Karena kuanggap semua ini tidak pasti, terlalu rumit, penuh perjuangan. Karena aku bahkan tak pernah berjuang, karena mungkin aku selalu malas dan teramat malas berjuang. Ah, apa itu berjuang. Seperti menghadapi revisi proposal sebelum mengajukan diri kepada ujian akhir perkuliahan. Seperti itu.
Selalu saja mudah menyerah, seperti ketika seorang perempuan mengataimu sebagai pengadu, yang bahkan aku terlalu besar mulut untuk membicarakan sesuatu tentangnya. Menyerah untuk mendapat apresiasinya, menyerah dan kemungkinan terburuknya tak kan bisa hanya untuk membenci, kata - kata pun persepsinya.
Selalu saja kemudian dengan mudah diingatkan kembali kehadiran mereka. Manusia - manusia yang membuat diriku ada. Keberadaan yang tak setiap orang menyadari dan mau mengakui.
Apakah benar jika kemudian aku menanyakan adakah kehidupan lebih baik ketimbang aku menjadi pecundang, rubah pencuri remah - remah roti di akhir musim semi. Pengadu bermulut besar yang akan mengatai di belakang orang - orang yang dalam pendapatnya seperti demikian. Dan jika ada kemungkinan untuk mengkonversi kekesalan menjadi keingintahuan maka yang tersurat belum tentu pancaran yang tersirat. Aku memang selalu peduli, apalagi tentangmu. Sebab hal itu yang akan membuatku setidaknya bergairah kembali menyalakan harapan kecil di sela - sela kecilnya peluang kehidupan di kota ini. Terlalu jika kau bilang, mengurusi dan mencampuri kehidupan orang lain. Dan membuat orang itu risih dan terganggu. Bukan maksud. Tentu saja jika benar aku akan menghancurkanmu dan membuatmu hidup ditertawakan orang lain seperti jalang tua di pinggiran arengka.
Tapi tak apa. Itu sudah selesai. Meski suatu masa kau memohon kepadaku, aku akan selalu mengingat ini dan sehampa ini dan memang karena tidak ada apa - apa, dan kita bukan siapa - siapa.
Kembali, jika desember sudah hampir selesai di masehi ini. Maka apa - apa saja yang sudah selesai darimu olehmu. Cerita yang usai. Hati yang selesai kalau kata Cak Nun. Pada bagian ini aku seolah baru memulai, proposal yang baru saja aku ujikan diterima dan kemudian aku akan berfokus pada satu titik utama penelitian. Dan tahun besok ini akan terealisasikan. Untuk akhirnya membawa pulang sebuah kepuasan, kehormatan sebagai manusia, serta kebanggaan pernah berada disini.
Aku tidak menjanjikan, bukankah angan juga semurah harga padi para petani. Hanya itu yang aku tahu mengenai perekonomian bangsa ini. Petani setengah mati menghidupi sawah untuk menghasilkan padi. Pejabat sekarat menghitung untung rugi tanpa peduli bau busuk kematian bersumber jutaan perut lapar rakyat. Politik yang terlalu rumit namun selalu mudah diterka, mereka yang bermulut lamis dan nyerocos tanpa nurani selalu memenangkan kursi perwakilan yang derajat seharusnya berada dibawah rakyat.
Terlalu skeptik memang, namun jika dianggap agnostik selanjutnya jika mempertanyakan fungsi kerahmatan, guna dari semua yang telah menjadi perlambang dan kode yang menunjukkan bentuk kepedulian yang menghasilkan kekecewaan bukankah itu terlalu mudah dirasa.
Ini bahkan belum berakhir dan lancang jika mengakhiri dan keputusan sekali lagi kuasa dari kita yang merupakan kelebihan yang telah dianugerahkan Dia pada kita, sayang jika dibiarkan begitu saja.
Untuk hari ini, tulisan melayang dari malam selepas hari - hari yang riweh. Setelah masa bakti selama hitungan tahun dalam masehi. Semua seperti biasa saja, yang pantas dikenang hanya beberapa. Tidak semua.
Jumat, 25 Desember 2015
Rabu, 02 Desember 2015
Desember
Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang berbicara.
Percakapan membosankan, jenuh. Ada suara yang tak sempat ditulis ketika dua
orang mulai berpendapat. Mencatat hal – hal berat. Ada suara yang tak
tersampaikan walau sekejap ketika mata memandang mata dua orang yang saling
bersua. Ada suara yang tak tersampaikan meski sudah sampai ditenggorakan ketika
air mata mulai mengalir seperti hujan di bulan desember. Sudah waktunya. Saat
yang semestinya.
Beribu suara lain tak dapat didengar meski sudah disampaikan.
Tak mampu didengar meski sudah lantang diteriakkan. Manusia memang tuli pada
hal – hal tertentu. Pada logika terbalik akan pencapaian kedamaian di muka
bumi, keselamatan yang menghasut. Jutaan suara lainnya dibungkam hingga hanya
terdengar dengungan seperti lebah mencari nektar pada bunga – bunga mekar di
taman.
Pagi, siang, malam, suara – suara itu tetap ada. Kadang
semakin kencang di waktu tertentu. Kadang seperti berbisik. Dan membuatku yakin
suara itu tak pernah diam. Pemiliknya hanya terlalu lelah. Tapi tak cukup lelah
untuk menyerah. Aku pernah mendengar suara seperti itu ketika menuju toilet
sebuah rumah sakit. Seperti lolongan anjing, menyalak, membentak. Tapi kosong.
Hanya suara yang aku tak mengerti pengucapannya. Mirip balita mengucap benda –
benda yang mulai dikenalinya.
Suara itu menyebar. Seperti virus. Terbang, halus, dan dalam
sekejap menghunus. Membunuh pendengarnya dengan sergapan tak kasat telinga.
Samar – samar.
Ada suara yang tak tersampaikan ketika dua orang saling
menatap dibawah naungan halte bus, selasa sore, diminggu pertama bulan
desember.
Suara yang mencekik lidah, melipat bibir, menyumbat
tenggorokan. Suara sepasang sepatu dikeramaian halte bus transmetro menjelang
maghrib. Suara yang terdengar selama lima detik dan berlalu kemudian.
Suara yang, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia jika ditulis
menjadi parau. Pe a er a u, dengan definisi yang aku tak mengerti maknanya.
Mungkin bau tanah basah selepas hujan bisa kuandaikan seperti itu.
Sabtu, 21 November 2015
Kuingat.
Kelopak mataku serasa panas. Ada sesuatu yang aku tidak tahu
muasalnya. Ingin menangis tapi tak jelas apa yang patut ditangisi. Campuran antara
sedikit sedih tanpa alasan dengan kecewa tak berpenyebab. Sedikit kalut. Ketidaksjelasan
yang menggelayut. Tidak ini bukan rindu biasa, rindu yang aku tujukan kepada
orang tua apalagi keinginan membalas dendam untuk membahagiakan saudara mudaku.
Kangen yang aneh, yang sepintas datang.
Bukankah seharusnya kurasakan sejak berbulan lalu kala
pertama mendengar kabar tentangmu, tapi tunggu aku bahkan merasakan panas
menatap foto lelaki dan seorang perempuan di gawaiku. Lelaki yang bahkan aku
tidak membencinya sekaligus tidak yakin aku akan berbuat baik padanya. Juga perempuan
disampingnya dengan senyum yang kukenal. Yang bahkan membutakan. Yang walaupun
engkau menjanda untuk ketiga kalinya, pun beranak lima, atau merupakan tahanan
di lembaga pemasyarakatan atau pasien rumah sakit jiwa aku akan tetap dan
selalu kuat menerimanya. Menerimamu.
Rambut lebat halus sepunggung, setelan yang selalu pas
dimataku. Selalu bisa membuatku kagum. Tertegun dan mencuri pandangan. Tubuh yang
tidak ada yang sama bentuknya di kota ini. Jalan pikir yang aku tak tahu, dan
baik menurutku.
Mungkin hanya sesaat, dan kemungkinan menjerat.
Minggu, 01 November 2015
Pak Raden, Ibuk, dan dunia yang semakin menyempit. Cerita lama sekumpulan bocah dari desa. Peristiwa, kampung halaman dan kehangatan keluarga.
Belajar untuk apa. Sekolah untuk apa. Hidup untuk siapa. Makan dari mana. Jualan pada siapa. Kerja dimana. Punya uang untuk apa. Tak punya uang tak apa - apa. Hidup bahagia dengan siapa. Asal ibuk bapak senang aku bahagia. Kalau ibuk menggoreng mendoan aku yang menghabiskan. Kalau bapak memelihara burung kicauan dan ayam bangkok, aku yang memberi makan dan membersihkan kandang. Kalau pak Raden pahlawan, seharusnya si Unyil bisa di filmkan.
Pukul berapa tadi, ketika beli gado - gado tapi lebih ngiler melihat bakwan. Atau setelahnya. Ini Minggu pagi. Hari minggu biasa dengan nuansa berbeda. Tumben kota ini makin menjadikanku akrab dengas suasana rumah. Orang tua. Mungkin cuma aku yang merasa. Ya, sepagi ini keinginan untuk tidur tetap ada, tapi entah kenapa aku hanya lebih suka pada keadaan "berkeinginan". Ada nafsu, gairah disitu. Seperti suatu nyata tapi tidak terlihat. Dan ada.
Hujan yang sudah beberapa hari ini mulai turun cukup mampu mengenyahkan asap. Ternyata shalat lebih manjur daripada rekayasa garam. Sebab itu, rumput halaman kini lebih hijau, tak hanya rumput tetangga yang begitu. Dan pohon mulai menumbuhkan kuncup dan dedaunan baru. Aku tersipu. Hujan menguatkan.
Andai tidur hanya sebuah keinginan bukan tindakan, maka waktu - waktu seperti ini seolah ingin aku terjaga dua puluh empat jam lamanya. Aku punya rentangan waktu tertentu setiap harinya yang akan aku cumbu dengan berbagai macam playlist-ku. Seperti pagi menjelang siang hari ini. Tembang Kodaline kurasa lebih pas didengarkan, biasanya aku memutar The pains of being pure at heart. Coba saja.
Sebuah lagu bisa membawamu ke masa lalu. Suasana tertentu bisa mengingatkanmu akan sesuatu. Sepenggal cerita bisa membawamu kemana saja. Sebait puisi bisa membuatmu berani mati.
Empat jam lalu aku termenung. Bagaimana kalau aku sudah bekerja nanti, atau akan bekerja apakah aku nanti. Banyak sarjana menjadi itu - itu saja. Mengekor pada tuannya. Tidak menjadi juragan. Tidak salah. Impianku ambyar, semasa kecil aku bebas berkeinginan diriku menjadi ini - itu. Semakin besar kini, rasanya egois jika masih seperti itu, kita seperti dituntut menjadi ini - itu, tak bebas lagi. Benar juga. Pagi tadi kulihat seorang pemotong rumput panggilan, mempromosikan diri dengan sepeda kayuhnya. Aku teringat sesuatu, jika saja aku yang begitu sanggupkah aku. Tapi bukankah kalau sudah pada waktunya juga akan terbiasa. Yang lebih menggoyahkan ialah mungkinkah itu keinginan dia sebenarnya, atau sebatas tuntutan hidupnya. Apa salahnya bekerja seperti itu. Halal. Pertanyaannya mengacu pada seberapa mampu bapak itu menyelenggarakan kehidupan yang layak bagi keluarganya, istrinya tercinta, anak - anaknya tersayang. Ah, bukankah tidak ada yang mutlak pada fenomena seperti ini. Dan kenapa tidak kita menjadi kaya dan lalu bisa mempekerjakan bapak itu. Lalu efek berantai pada keluarganya, dan sebagainya, bermanfaat, menguntungkan, dengan membantu, memberikan uluran tangan. Dan bagaimana kalau bapak itu merasa cukup dengan kondisi sekarang, mungkin yang sedikit dipikiran ialah, pernyataan tersebut adalah sebuah optimisasi diri, bukan penutup kemungkinan untuk berbuat lebih, berpenghasilan lebih. Karena sejatinya manusia tidak pernah puas. Sepertiku. Maaf kalau aku terlalu.
Aku belum pernah mengucapkan sayang kepada ibukku, jadi kalau ada perempuan yang mendengar kata itu dariku ditujukan padanya, hati - hati kemungkinan besar hanya sebatas nafsu.
Apa yang dilakukan ibukku sekarang apakah juga merupakan keinginannya saat kecil dulu, saat kakekku masih ada, saat bertani menjadi mata pencaharian utama, saat Soeharto masih berkuasa, saat di desa lebih banyak populasi kambing daripada sepeda motornya, saat bapakku masih menjadi pria tertampan di masanya, saat aku dan adikku masih berada di puncak gunung entah apa namanya, saat ibukku masih sering menjumpai ikan di sungai progo, dulu saat ibukku masih menjadi gadis idaman pria di sekolahnya, di tempat kerjanya. Dulu. Saat itu. Apakah benar keinginannya, atau adakah keinginan lainnya yang sebenarnya ia dambakan, dan lalu ia mengalah dan masih bisa bersyukur dengan apa yang terjadi dan menjadi seperti sekarang, dengan tetap bersyukur atas nikmat - rahmat Tuhannya. Benarkah seperti itu, atau itu dugaanku saja. Sampai sekarang aku belum pernah menanyakannya.
Sama halnya rasa penasaranku dengan Pak Raden, apakah beliau mencipta si Unyil untuk memuaskan keinginannya ataukah sekadar menjadikan Unyil bukti kegelisahan akan dunia yang sekarang.
Dunia yang mendasarkan dikotomi besar kaya - miskin. Tanpa makna jelas dan nilai nyata dari kedua istilah tersebut, dunia tetap berlanjut. Si kaya dan si miskin, si Unyil kaya atau miskin. Kaya banyak harta, punya kemampuan mengendalikan orang lain, bisa membuat keputusan yang dipatuhi orang lain, punya status yang membuat orang lain terpaksa menunduk - nunduk ketika berjumpa, memelankan suara ketika berbicara, bekerja lebih cepat dari mekanisme seharusnya. Ataukah miskin, dan mengiyakan segala perintah, hanya menahan diri bila muncul amarah, bersabar sampai air mata tak lagi terasa. Kaya seperti apa, miskin seperti apa. Tapi bukankah orang miskin juga bisa berkemampuan mengendalikan orang lain, memberi keputusan yang kemudian akan dilaksanakan, disegani orang. Lalu apa kaya, apa miskin. Kaya dan miskin dikotomi lebar. Di dalamnya masing - masing terkandung golongan yang lebih kompleks. Seperti misalnya; kaya kreatif, kaya baik, kaya jahat, kaya penuh tawa, kaya dermawan, kaya ikut pengajian, kaya kredit barang, kaya antre di loket, kaya butuh bantuan mengolah sampah, kaya takut ketinggian, kaya suka bakmi, kaya rajin sembahyang, kaya absen ikut misa, kaya doyan bakwan, kaya pesan nasi kucing, kaya bajunya bolong, kaya celananya melorot, kaya hobi nulis, kaya tak bisa main gitar, kaya tapi monyet. Miskin juga seperti di atas. Beraneka macam, ragam, rupa. Saling terkait, tidak ada yang lepas dari lainnya.
Di media, di kampus, yang kaya ya kaya yang miskin ya miskin. Pak Raden kaya karya miskin uangnya.
Pukul berapa tadi, ketika beli gado - gado tapi lebih ngiler melihat bakwan. Atau setelahnya. Ini Minggu pagi. Hari minggu biasa dengan nuansa berbeda. Tumben kota ini makin menjadikanku akrab dengas suasana rumah. Orang tua. Mungkin cuma aku yang merasa. Ya, sepagi ini keinginan untuk tidur tetap ada, tapi entah kenapa aku hanya lebih suka pada keadaan "berkeinginan". Ada nafsu, gairah disitu. Seperti suatu nyata tapi tidak terlihat. Dan ada.
Hujan yang sudah beberapa hari ini mulai turun cukup mampu mengenyahkan asap. Ternyata shalat lebih manjur daripada rekayasa garam. Sebab itu, rumput halaman kini lebih hijau, tak hanya rumput tetangga yang begitu. Dan pohon mulai menumbuhkan kuncup dan dedaunan baru. Aku tersipu. Hujan menguatkan.
Andai tidur hanya sebuah keinginan bukan tindakan, maka waktu - waktu seperti ini seolah ingin aku terjaga dua puluh empat jam lamanya. Aku punya rentangan waktu tertentu setiap harinya yang akan aku cumbu dengan berbagai macam playlist-ku. Seperti pagi menjelang siang hari ini. Tembang Kodaline kurasa lebih pas didengarkan, biasanya aku memutar The pains of being pure at heart. Coba saja.
Sebuah lagu bisa membawamu ke masa lalu. Suasana tertentu bisa mengingatkanmu akan sesuatu. Sepenggal cerita bisa membawamu kemana saja. Sebait puisi bisa membuatmu berani mati.
Empat jam lalu aku termenung. Bagaimana kalau aku sudah bekerja nanti, atau akan bekerja apakah aku nanti. Banyak sarjana menjadi itu - itu saja. Mengekor pada tuannya. Tidak menjadi juragan. Tidak salah. Impianku ambyar, semasa kecil aku bebas berkeinginan diriku menjadi ini - itu. Semakin besar kini, rasanya egois jika masih seperti itu, kita seperti dituntut menjadi ini - itu, tak bebas lagi. Benar juga. Pagi tadi kulihat seorang pemotong rumput panggilan, mempromosikan diri dengan sepeda kayuhnya. Aku teringat sesuatu, jika saja aku yang begitu sanggupkah aku. Tapi bukankah kalau sudah pada waktunya juga akan terbiasa. Yang lebih menggoyahkan ialah mungkinkah itu keinginan dia sebenarnya, atau sebatas tuntutan hidupnya. Apa salahnya bekerja seperti itu. Halal. Pertanyaannya mengacu pada seberapa mampu bapak itu menyelenggarakan kehidupan yang layak bagi keluarganya, istrinya tercinta, anak - anaknya tersayang. Ah, bukankah tidak ada yang mutlak pada fenomena seperti ini. Dan kenapa tidak kita menjadi kaya dan lalu bisa mempekerjakan bapak itu. Lalu efek berantai pada keluarganya, dan sebagainya, bermanfaat, menguntungkan, dengan membantu, memberikan uluran tangan. Dan bagaimana kalau bapak itu merasa cukup dengan kondisi sekarang, mungkin yang sedikit dipikiran ialah, pernyataan tersebut adalah sebuah optimisasi diri, bukan penutup kemungkinan untuk berbuat lebih, berpenghasilan lebih. Karena sejatinya manusia tidak pernah puas. Sepertiku. Maaf kalau aku terlalu.
Aku belum pernah mengucapkan sayang kepada ibukku, jadi kalau ada perempuan yang mendengar kata itu dariku ditujukan padanya, hati - hati kemungkinan besar hanya sebatas nafsu.
Apa yang dilakukan ibukku sekarang apakah juga merupakan keinginannya saat kecil dulu, saat kakekku masih ada, saat bertani menjadi mata pencaharian utama, saat Soeharto masih berkuasa, saat di desa lebih banyak populasi kambing daripada sepeda motornya, saat bapakku masih menjadi pria tertampan di masanya, saat aku dan adikku masih berada di puncak gunung entah apa namanya, saat ibukku masih sering menjumpai ikan di sungai progo, dulu saat ibukku masih menjadi gadis idaman pria di sekolahnya, di tempat kerjanya. Dulu. Saat itu. Apakah benar keinginannya, atau adakah keinginan lainnya yang sebenarnya ia dambakan, dan lalu ia mengalah dan masih bisa bersyukur dengan apa yang terjadi dan menjadi seperti sekarang, dengan tetap bersyukur atas nikmat - rahmat Tuhannya. Benarkah seperti itu, atau itu dugaanku saja. Sampai sekarang aku belum pernah menanyakannya.
Sama halnya rasa penasaranku dengan Pak Raden, apakah beliau mencipta si Unyil untuk memuaskan keinginannya ataukah sekadar menjadikan Unyil bukti kegelisahan akan dunia yang sekarang.
Dunia yang mendasarkan dikotomi besar kaya - miskin. Tanpa makna jelas dan nilai nyata dari kedua istilah tersebut, dunia tetap berlanjut. Si kaya dan si miskin, si Unyil kaya atau miskin. Kaya banyak harta, punya kemampuan mengendalikan orang lain, bisa membuat keputusan yang dipatuhi orang lain, punya status yang membuat orang lain terpaksa menunduk - nunduk ketika berjumpa, memelankan suara ketika berbicara, bekerja lebih cepat dari mekanisme seharusnya. Ataukah miskin, dan mengiyakan segala perintah, hanya menahan diri bila muncul amarah, bersabar sampai air mata tak lagi terasa. Kaya seperti apa, miskin seperti apa. Tapi bukankah orang miskin juga bisa berkemampuan mengendalikan orang lain, memberi keputusan yang kemudian akan dilaksanakan, disegani orang. Lalu apa kaya, apa miskin. Kaya dan miskin dikotomi lebar. Di dalamnya masing - masing terkandung golongan yang lebih kompleks. Seperti misalnya; kaya kreatif, kaya baik, kaya jahat, kaya penuh tawa, kaya dermawan, kaya ikut pengajian, kaya kredit barang, kaya antre di loket, kaya butuh bantuan mengolah sampah, kaya takut ketinggian, kaya suka bakmi, kaya rajin sembahyang, kaya absen ikut misa, kaya doyan bakwan, kaya pesan nasi kucing, kaya bajunya bolong, kaya celananya melorot, kaya hobi nulis, kaya tak bisa main gitar, kaya tapi monyet. Miskin juga seperti di atas. Beraneka macam, ragam, rupa. Saling terkait, tidak ada yang lepas dari lainnya.
Di media, di kampus, yang kaya ya kaya yang miskin ya miskin. Pak Raden kaya karya miskin uangnya.
Rabu, 28 Oktober 2015
Asa
Kamu kira tanpa beban?, yang kamu terka selalu siaga dan murah tawa, seringkali berangan segera menjejak masanya, asa, hangat keluarga. Lalu seketika diputar olehmu, kenangan - kenangan dalam rongga kepala, aku menyiyir, mungkin ini ilusi, nyatanya ini harap yang tak terbendung oleh sikap, kedamaian palsu demi ketenangan sesaat agar produktifitas tetap berlanjut. Agar mata tidak kalah oleh kantuk. Kemudian lalu, seingatku kamu hanya tersenyum simpul melihatku, mengejekku dengan kibasan rambut ekor kudamu, melenggang manja dengan sepatu flatmu. Benarkah aku bisa mengelak darimu?, dari ringkihnya tubuh rampingmu yang penuh terisi pelbagai jenis pengetahuan dunia baru, kerap aku ragu.
Tugas selesai sekejap, ujian hanya sesaat, pekerjaan adalah limpahan kebahagiaan, kamu mengatakannya sekaligus menjalankan, aku mengamini. Pertanyaan klise untuk berketurunan, oh tidak ini terlalu jauh, bagaimana kalau film apa yang akan kita tonton akhir pekan ini?.
Pikiranku terbagi, prioritasku beranjak lagi, apa yang aku ingini, apa yang perlu aku dahulukan, mana yang harus aku kerjakan, berlebihkah?. Aku yang dulu mengidolakan kekasih dalam tampilan gaun merah sekarang mengidamkan wanita dengan balutan dress hitam, dulu dan sekarang.
Kabar yang berhembus kini tak ada lagi harap yang bisa dibeli, angan akan dengan mudah diciptakan sekaligus dihancurkan. Ada suatu kelompok tirani yang akan menyeleksi, memfilterisasi. imajinasi bukan privasi lagi, ketakutanku bukan hidup dalam terali besi. Ketakutanku bersumber pada ketidakmampuanku meyakinkan dunia bahwa menjadi diri sendiri lebih berarti. Aku tak punya nyali, aku akan mati. Sedih yang aku singkirkan, impian yang aku damba, keinginan yang sudah selesai aku bangun fondasinya, kini terancam menjadi keping reruntuhan. Menjadi masa lalu yang tak akan lagi bisa kubeli dari kebanyakan harap yang dipajang dibalik toko - toko megah berinstalasi. Aku murka. Padaku, padamu, pada mereka. Tapi aku diam, ini bukan hak nyata. dan sungguh hanya sementara aku terdiam, hari berikutnya aku menggonggong. Mengaum dalam sunyinya malam, meraung diantara gelapnya hari, mengintai dengan keji setiap mereka yang menghampiri, sayatan luka pada muka. Goresan langka di atas kulit lembutmu terbuat dari cakaran kuku yang belum aku potong hari jumat lalu, bukan kesengajaan tentu saja.
Dan pada malam - malam tertentu kau akan membangunkanku pada jam - jam dini hari untuk sekadar menemanimu membaca novel sampai pagi. Aku butuh kopi, selimut hangat dan earphone agar tetap terjaga, kadang ucapan lirihmu ketika membaca seolah sihir agar aku lekas mendekat. Dan mendekapmu yang akan diteruskan dengan belaian pelan jemari pada rambutku, begitu sampai kucing tetangga mulai berlarian di genteng rumah berusaha menerkam tikus kecil yang dengan sialnya melewati area perburuan musuh, dan bum, kau kaget lalu sedikit meremas tanganku. Aku tersenyum kecil, itu bukan hantu, itu kucing tetanggamu. Kataku dalam hati.
Tiga ratus enam puluh lima hari sejak saat itu kita masih sekamar, lebih menyatu dan dunia makin merayu, mencoba memutus segalanya. Aku terharu dengan kejujuranmu, aku meluapkan ledakan tangis di bantal pemberianmu dalam lindungan selimut yang kubeli denganmu. Bukankah kita terlalu kuat. Sampai - sampai hanya kita seorang yang sanggup memelihara masa lalu meski di dalam stoples bekas selai kacang. Memelihara, mengembangbiakkan, kemudian akan kita bebaskan dua kali tiga ratus enam puluh lima hari lagi.
"Menulis buatku bukan suatu prestasi, ialah bentuk kejujuran", begitu tulisan di atas sticky notes yang kau tempel pada stoples berharga itu. Lalu kuberikan kotak pandora itu. Kau membuka dan tenggelam di dalamnya, selama tiga ratus enam puluh lima hari kemudian kau terus begitu. Menyelami, menjadikan itu candu, menghabiskan waktu luangmu, menukar tiket - tiket keinginan yang telah kau kumpulkan. Melepas saham yang telah kau investasikan, menjual rugi harta benda kehidupan. Yang kemudian kau dapati ialah secarik kertas dalam pandoraku, bertuliskan "aku bukan diriku", lalu kau mulai marah, menyesali semuanya. Terutama keberadaanku, karena yang telah kuberikan semua palsu. Dan yang kau miliki ternyata tak punya arti. Kita ditelanjangi.
Tawa yang menguatkan, tangis yang melenakan. Habis sudah. Asa. Kehidupan yang menghidupimu. Kini terkikis. Sedikit lagi. Dan akan hilang. Dan waktu yang telah kau simpan rapat di brankas pojok kamar di bawah vas bunga porselin putih, kini memudar, baunya mirip telor dadar. Membuatku lapar, seketika mengharuskanku bersabar. Karena dunia sekarang tidak permisif pada makhluk lemah. Pada individu yang terlampau mengalah, dan kamar ini akan segera kita robohkan, tapi tidak sekarang meski tiga ratus enam puluh lima hari berikutnya kita dipastikan tidak lagi bertegur sapa.
Siapa sangka pada hari ketiga ratus lima puluh sembilan benih yang kau sisih dalam cangkir itu tumbuh. Butuh dua hari saja untuk dewasa, dan sehari kemudian mekar bunga krisan putih sejuk. Dua puluh empat jam selanjutnya kau habiskan waktu mengamati krisan putih itu, aku di dapur mengiyakan segala permintaanmu, bahkan buku dan lagu. Stoples yang kau simpan kau sejajarkan dengan cangkir berisi bunga krisan, di jendela kamar, kita berdoa masing - masing, bunga itu melayu. Kau berikan sedikit darah padanya, untuk sekadar menunggu dua puluh tiga jam lagi sebelum masanya.
Sehebat apapun mereka bukan lantas alasan untukku merana. Kesedihan selamanya menghabiskan waktu, sajak yang tertulis akan berdebu, kesempurnaan akan sulit terwujud, ombak di pantai tetap bersahut. Temaram masa depan hanya mampu kita raba, belum sanggup kita genggam. Beban yang sampai sekarang masih terkandung kalau kata orang jangan sampai menyilaukan tujuan kehidupan. Kehangatan keluarga serta asa yang kita bela semerbak menguasai ruangan, jika dan hanya jika ikhlas segalanya.
Lima menit sebelum itu kau melumat bibirku, dan matamu mengucap syukur atas semesta. "Masa lalu takkan bisa kau bunuh, ia akan terus hidup, bahkan berjumlah masif setiap harinya, kedamaian ialah persahabatan tanpa pretensi". Selamat bersumpah pada dunia untuk cita - cita mulia kehidupan. ~#28Oktober1928
Rabu, 14 Oktober 2015
Tahun Baru Muharram
Selamat tahun baru hijriyah.
Mari kita berhijrah.
Hijrah yaitu pindah.
Pindah tempat, pindah perilaku, pindah kebiasaan, pindah haluan.
Menuju kepada kebaikan, kemanfaatan.
Aku dan kamu, aku berhijrah menuju kamu. Atau aku berhijrah dari kamu. Dia yang tahu.
Jumat, 02 Oktober 2015
Ya, Halo!
Halo saya Amirul Bayu Kurniawan, saya terlahir di kota
jauh dari Jakarta namun virus globalisasi dan kapitalisme mulai
menggerogotinya. Di kota saya pendidikan bukan lagi hal yang mewah, hampir
seluruh penduduk mengenalnya meski tak semua mengenyamnya. Di kota tempat saya
lahir seolah tidak terpengaruh isu – isu pemanasan global, mencairnya es di
kutub utara maupun misteri Iluminati di luar sana.
Masih jelas terekam bagaimana orang tua saya begitu
mendambakan pendidikan tinggi bagi anaknya, meski selalu menjadi masalah dalam
urusan dana bahkan rela terbelit hutang karenanya. Mbah Kakung saya dan orang
tuanya dulu merupakan orang yang disegani di dusun saya. Saya kurang tahu
persis cerita mengenai Mbah buyut Kakung, namun Mbah Kakung saya sewaktu beliau
hidup ialah seorang kyai, menjadi imam masjid, dan diundang mengaji kesana –
kemari. Menurut penuturan ibu saya, Mbah Kakung dulu juga sempat ikut berperang
melawan penjajah, meski saya tidak pernah mendengar langsung ceritanya dari
Mbah Kakung. Sampai akhirnya Mbah Kakung stroke saya sering meminta uang untuk
membeli bola plastik yang saya gunakan untuk bermain di halaman depan rumah
Mbah.
Berbicara tentang pendidikan, saya akan menyoroti apa
yang saya lihat dari para Bangsawan
kalau saya boleh sebut baik di dusun saya maupun di dusun sekitarnya. Mereka
para Bangsawan, kaum cendekia,
disegani orang lain, bisaanya karena mempunyai kepandaian tertentu, misalnya
pandai mengaji seperti para Kyai, atau menjadi guru dan mantri, selain itu
mereka juga masih mempunyai garis keturunan baik dari Trah Raja Mataram dan
sebagainya, yang jelas selain ilmu serta kepandaian, mereka juga Tuan Tanah.
Mereka dihormati, anak – anak mereka oleh orang bisaa dipanggil dengan sebutan
“Mas” sebelum namanya, saya juga dipanggil seperti itu oleh tetangga, bahkan
oleh ibuk – ibuk dan bapak – bapak disekitar. Namun kini dijaman duaribuan ini
ada sesuatu yang mulai bergeser, ilmu dan pengetahuan menjadi komoditas terbaik
untuk mendapatkan kehormatan, dan hal itu mulai disadari oleh masyarakat di
desa saya. Banyak mereka sudah menjadi sarjana, menjadi pegawai, tentara, masuk
kantor perpajakan, hidup di luar kota, atau bagi yang membangun rumah di desa
memiliki arsitektur minimalis yang sedang digandrungi masa kini dengan deretan motor
dan mobil yang semakin menunjukkan kesuksesannya. Bagi para keturunan Bangsawan sudah banyak yang bisa
dijadikan contoh, dari masyarakat yang terhitung bisaa juga sudah banyak yang
mulai bermunculan. Sengaja saya tidak membahas mereka yang mungkin kurang
secara pendidikan dan kesuksesan, karena mereka bahkan sampai saat ini masih
adem ayem hidup tentrem tiap malem bisa merem meski dollar hampir limabelas ribu tetep kalem.
Kemudian yang menjadi titik perhatian saya ialah,
mereka yang merupakan keturunan bangsawan dengan sederet kesusksesan dan
prestasi yang dimiliki akan tetap dihormati oleh orang lain di dusun pun di
desanya karena dua hal, pertama karena orang tuanya, yang kedua karena harta
kekayaannya. Bukan ilmu dan kepandaian serta kharisma yang otomatis turut serta
di dalamnya, dan juga sikap kedermawanan yang menurut saya seharusnya menjadi
inti dari konsep Kebangsawanan.
Ketika mereka yang telah sukses dan melihat dunia luar
lebih luas dari desa dan dusunnya kemudian mulai terbuai rayuan gombal
materialistis dan kapitalis maka gelar Kebangsawanan
yang mereka warisi ialah kosong, tak lebih dari manusia yang berlindung dengan
tedeng aling – aling uang, harta, dan komoditi kekayaan lainnya. Dimana hal
tersebut juga sudah mulai mampu dicapai oleh mereka masyarakat bisaa.
Sesungguhnya bukan ketakutan akan hilangnya penghargaan akan gelar Bangsawan, namun lebih kepada apa yang
selanjutnya akan mereka hargai, hormati dan patuhi lebih dari sekadar
kepemilikan benda dan kekayaan sejenisnya.
Tidak akan ada lagi seseorang yang peduli dengan
mereka kaum biasa, yang bekerja untuk makin nanti, dan besok mereka yakin
pekerjaannya bisa mencukupi kebutuhan hari berikutnya. Mereka yang mau
menyentuh, memahami, tidak menyeragamkan pikiran atas semua penduduk dusun yang
jelas mulai terasa kesenjangan ekonomi pun pendidikan. Keluasan berpikir,
kelapangan hati mengerti dan memahami, bukan saja membela mereka yang lemah
tapi sekaligus meng-andhap asor-kan
para generasi berpikiran maju. Ini yang saya takutkan dan serta saya harapkan.
Kemudian menjelang masa akhir kuliah strata satu saya,
saya mulai berpikir akan jadi apa saya nantinya, kaum sukses yang bekerja di
luar kota punya rumah gedong di desa
dengan segala perabotan dan kendaraan yang sesuai dengan selera pasaran. Atau
kah hidup sembari berjualan angkringan, tiap pagi ke ladang menyangkul,
sebelumnya diawalai ritual makan bubur dari mbok – mbok di RT sebelah, sambil
menyenandungkan lagu – lagu dari mas Dadang Pohon Tua. Lalu sesampai di ladang
nyangkulnya dengan iringan music Navicula, Efek Rumah Kaca. Ah sudahlah ini
masalah selera, menjadi pak tani pun bisa hafal lirik lagu Bonjovi bahkan
FSTVLST, The 1975, Vampire Weekend, atau juga The Strokes dan The Libertines.
Tapi siapa pula yang mau mendampingi hidup pak tani itu, jaman sekarang anak
gadis dirawat betul – betul oleh orang tuanya agar kelak bisa hidup bahagia
selama – lamanya dengan suami dan anak – anaknya yang setiap hari naik mobil
istimewa duduk dimuka, mengendarainya supaya baik nama dan pamornya.
Kamis, 24 September 2015
kapan lalu saya teringat sesuatu
Sepagi ini, saat lebaran besar. Ini yang kedua kalinya. Biasa saja. Sepi. Maksudku, orang lain sibuk dan saya sendiri selalu merasa selo. Bahkan hari - hari biasa pun rasanya selo, meski kalau ada tawaran telponan saya akan bilang sibuk.
Sepagi ini, mulai menyadari, saya sendiri. Lainnya sudah punya kesibukan, saya masih doyan internetan. Lainnya sudah mendaki banyak puncak, saya masih disibukkan dengan malas gerak. Lainnya sudah halan - halan, kok saya di kamar rebahan. Lainnya ada yang lulus studi, ada yang membuka usaha, ada yang magang, mulai kerja di kantor atau entah di pabrik, saya masih mantengin youtube berharap nemuin musik yang pas sama skema hati. Ada lho yang sudah melenggang kesana - kemari, bikin iri, tapi yasudah tau diri.
Sepagi ini, asap sudah mulai hilang, hujan sudah mulai datang, tapi kok pompa air gak mau jalan atau sumurnya kering kerontang.
Sepagi ini, bikin kopi.
Sepagi ini, baru sempat melihat sampul Burung - Burung Manyar. Sudah baca selesai bab satu, dan besok lagi.
Sepagi ini, selepas shalat ied bingung gak karuan di depan laptop. Rencananya mau makan pagi, tapi warung tutup. Kamis pagi, tidak terlalu panas. Hari ini bisa dibilang cerah, tapi hati ini kok malah gelisah.
Sepagi ini, saya masih merasa sendiri. Siapa yang mau menghubungi saya atau siapa yang akan saya hubungi nanti.
Sepagi ini.
Sepagi ini.
Sepagi ini.
Sepagi ini.
Sepagi ini, rasanya ingin kembali, kepada waktu lalu ketika lebaran bukan hanya dirayakan pada tanggalan. Lalu berkumpulah sekeluarga, pakdhe-budhe-bulek-paklek-mas-mbak-adek.
Sepagi ini, teringat mimpi, takut kalau rencana hanya tinggal wacana, dan kenapa selalu resah jika menyangkut dana.
Sepagi ini, yang lain sudah mulai proposal dan tinggal skripsi. Kok saya masih ribet sama judul, tidak, judul itu nanti. Tapi fenomena apa yang mau diteliti?
Sepagi ini, kalau ingat hujan kala kecil, rasanya itulah waktu paling nikmat untuk tidur entah pagi, siang, sore, pun malam. Dan bau tanah selepas hujan seringnya mengiringi.
Sepagi ini, melankoli.
Sepagi ini, apa yang harus dilakukan lagi. Kuliah cepat lulus, cari kerja, nganggur dan sering tidur.
Sepagi ini, saya lebih suka menjadi teman yang dicari ketika mereka mendapat masalah hati. menghibur orang itu menyenangkan, menghibur diri?
Sepagi ini, apakah yang saya mulai yakini bahwa hidup memang diperuntukkan migunani marang liyan. Dan saya mulai takut saya mulai menghindari kekayaan, bukan, bukan maksud tak mau kaya, spesifiknya gaya hidup mewah dan hedon. Dan bukankah memang itu yang seharusnya. Tepat. Saya cenderung berjalan kesana seratus delapan puluh derajat beda dengan yang diyakini. Tuhan beri saya informasi.
Sepagi ini, otak mulai mendeteksi seberapa persen kadar anti-sosial dalam diri. Seimbang dengan keinginan bersosialisasi. Masih ada pamrih meski selalu ditahan, dan keluhan yang dirasakan. Hitung - hitungan yang menyibukkan logika, siapa yang paling berjasa. Timbang sana - sini, melelahkan pemikiran, anti-sosial mencoba bersosialisai.
Sepagi ini, saya belum ingin mati.
Sepagi ini, saya sadari betul, setelah menulis seperti ini biasanya muncul keinginan mensyukuri. Apa saja yang telah terjadi dan diberikan oleh-Nya pada diri.
Langganan:
Postingan (Atom)
