Jumat, 02 Oktober 2015

Ya, Halo!



Halo saya Amirul Bayu Kurniawan, saya terlahir di kota jauh dari Jakarta namun virus globalisasi dan kapitalisme mulai menggerogotinya. Di kota saya pendidikan bukan lagi hal yang mewah, hampir seluruh penduduk mengenalnya meski tak semua mengenyamnya. Di kota tempat saya lahir seolah tidak terpengaruh isu – isu pemanasan global, mencairnya es di kutub utara maupun misteri Iluminati di luar sana.
Masih jelas terekam bagaimana orang tua saya begitu mendambakan pendidikan tinggi bagi anaknya, meski selalu menjadi masalah dalam urusan dana bahkan rela terbelit hutang karenanya. Mbah Kakung saya dan orang tuanya dulu merupakan orang yang disegani di dusun saya. Saya kurang tahu persis cerita mengenai Mbah buyut Kakung, namun Mbah Kakung saya sewaktu beliau hidup ialah seorang kyai, menjadi imam masjid, dan diundang mengaji kesana – kemari. Menurut penuturan ibu saya, Mbah Kakung dulu juga sempat ikut berperang melawan penjajah, meski saya tidak pernah mendengar langsung ceritanya dari Mbah Kakung. Sampai akhirnya Mbah Kakung stroke saya sering meminta uang untuk membeli bola plastik yang saya gunakan untuk bermain di halaman depan rumah Mbah.
Berbicara tentang pendidikan, saya akan menyoroti apa yang saya lihat dari para Bangsawan kalau saya boleh sebut baik di dusun saya maupun di dusun sekitarnya. Mereka para Bangsawan, kaum cendekia, disegani orang lain, bisaanya karena mempunyai kepandaian tertentu, misalnya pandai mengaji seperti para Kyai, atau menjadi guru dan mantri, selain itu mereka juga masih mempunyai garis keturunan baik dari Trah Raja Mataram dan sebagainya, yang jelas selain ilmu serta kepandaian, mereka juga Tuan Tanah. Mereka dihormati, anak – anak mereka oleh orang bisaa dipanggil dengan sebutan “Mas” sebelum namanya, saya juga dipanggil seperti itu oleh tetangga, bahkan oleh ibuk – ibuk dan bapak – bapak disekitar. Namun kini dijaman duaribuan ini ada sesuatu yang mulai bergeser, ilmu dan pengetahuan menjadi komoditas terbaik untuk mendapatkan kehormatan, dan hal itu mulai disadari oleh masyarakat di desa saya. Banyak mereka sudah menjadi sarjana, menjadi pegawai, tentara, masuk kantor perpajakan, hidup di luar kota, atau bagi yang membangun rumah di desa memiliki arsitektur minimalis yang sedang digandrungi masa kini dengan deretan motor dan mobil yang semakin menunjukkan kesuksesannya. Bagi para keturunan Bangsawan sudah banyak yang bisa dijadikan contoh, dari masyarakat yang terhitung bisaa juga sudah banyak yang mulai bermunculan. Sengaja saya tidak membahas mereka yang mungkin kurang secara pendidikan dan kesuksesan, karena mereka bahkan sampai saat ini masih adem ayem hidup tentrem tiap malem bisa merem meski dollar hampir limabelas ribu tetep kalem.
Kemudian yang menjadi titik perhatian saya ialah, mereka yang merupakan keturunan bangsawan dengan sederet kesusksesan dan prestasi yang dimiliki akan tetap dihormati oleh orang lain di dusun pun di desanya karena dua hal, pertama karena orang tuanya, yang kedua karena harta kekayaannya. Bukan ilmu dan kepandaian serta kharisma yang otomatis turut serta di dalamnya, dan juga sikap kedermawanan yang menurut saya seharusnya menjadi inti dari konsep Kebangsawanan.
Ketika mereka yang telah sukses dan melihat dunia luar lebih luas dari desa dan dusunnya kemudian mulai terbuai rayuan gombal materialistis dan kapitalis maka gelar Kebangsawanan yang mereka warisi ialah kosong, tak lebih dari manusia yang berlindung dengan tedeng aling – aling uang, harta, dan komoditi kekayaan lainnya. Dimana hal tersebut juga sudah mulai mampu dicapai oleh mereka masyarakat bisaa. Sesungguhnya bukan ketakutan akan hilangnya penghargaan akan gelar Bangsawan, namun lebih kepada apa yang selanjutnya akan mereka hargai, hormati dan patuhi lebih dari sekadar kepemilikan benda dan kekayaan sejenisnya.
Tidak akan ada lagi seseorang yang peduli dengan mereka kaum biasa, yang bekerja untuk makin nanti, dan besok mereka yakin pekerjaannya bisa mencukupi kebutuhan hari berikutnya. Mereka yang mau menyentuh, memahami, tidak menyeragamkan pikiran atas semua penduduk dusun yang jelas mulai terasa kesenjangan ekonomi pun pendidikan. Keluasan berpikir, kelapangan hati mengerti dan memahami, bukan saja membela mereka yang lemah tapi sekaligus meng-andhap asor­-kan para generasi berpikiran maju. Ini yang saya takutkan dan serta saya harapkan.
Kemudian menjelang masa akhir kuliah strata satu saya, saya mulai berpikir akan jadi apa saya nantinya, kaum sukses yang bekerja di luar kota punya rumah gedong di desa dengan segala perabotan dan kendaraan yang sesuai dengan selera pasaran. Atau kah hidup sembari berjualan angkringan, tiap pagi ke ladang menyangkul, sebelumnya diawalai ritual makan bubur dari mbok – mbok di RT sebelah, sambil menyenandungkan lagu – lagu dari mas Dadang Pohon Tua. Lalu sesampai di ladang nyangkulnya dengan iringan music Navicula, Efek Rumah Kaca. Ah sudahlah ini masalah selera, menjadi pak tani pun bisa hafal lirik lagu Bonjovi bahkan FSTVLST, The 1975, Vampire Weekend, atau juga The Strokes dan The Libertines. Tapi siapa pula yang mau mendampingi hidup pak tani itu, jaman sekarang anak gadis dirawat betul – betul oleh orang tuanya agar kelak bisa hidup bahagia selama – lamanya dengan suami dan anak – anaknya yang setiap hari naik mobil istimewa duduk dimuka, mengendarainya supaya baik nama dan pamornya.