Halo saya Amirul Bayu Kurniawan, saya terlahir di kota
jauh dari Jakarta namun virus globalisasi dan kapitalisme mulai
menggerogotinya. Di kota saya pendidikan bukan lagi hal yang mewah, hampir
seluruh penduduk mengenalnya meski tak semua mengenyamnya. Di kota tempat saya
lahir seolah tidak terpengaruh isu – isu pemanasan global, mencairnya es di
kutub utara maupun misteri Iluminati di luar sana.
Masih jelas terekam bagaimana orang tua saya begitu
mendambakan pendidikan tinggi bagi anaknya, meski selalu menjadi masalah dalam
urusan dana bahkan rela terbelit hutang karenanya. Mbah Kakung saya dan orang
tuanya dulu merupakan orang yang disegani di dusun saya. Saya kurang tahu
persis cerita mengenai Mbah buyut Kakung, namun Mbah Kakung saya sewaktu beliau
hidup ialah seorang kyai, menjadi imam masjid, dan diundang mengaji kesana –
kemari. Menurut penuturan ibu saya, Mbah Kakung dulu juga sempat ikut berperang
melawan penjajah, meski saya tidak pernah mendengar langsung ceritanya dari
Mbah Kakung. Sampai akhirnya Mbah Kakung stroke saya sering meminta uang untuk
membeli bola plastik yang saya gunakan untuk bermain di halaman depan rumah
Mbah.
Berbicara tentang pendidikan, saya akan menyoroti apa
yang saya lihat dari para Bangsawan
kalau saya boleh sebut baik di dusun saya maupun di dusun sekitarnya. Mereka
para Bangsawan, kaum cendekia,
disegani orang lain, bisaanya karena mempunyai kepandaian tertentu, misalnya
pandai mengaji seperti para Kyai, atau menjadi guru dan mantri, selain itu
mereka juga masih mempunyai garis keturunan baik dari Trah Raja Mataram dan
sebagainya, yang jelas selain ilmu serta kepandaian, mereka juga Tuan Tanah.
Mereka dihormati, anak – anak mereka oleh orang bisaa dipanggil dengan sebutan
“Mas” sebelum namanya, saya juga dipanggil seperti itu oleh tetangga, bahkan
oleh ibuk – ibuk dan bapak – bapak disekitar. Namun kini dijaman duaribuan ini
ada sesuatu yang mulai bergeser, ilmu dan pengetahuan menjadi komoditas terbaik
untuk mendapatkan kehormatan, dan hal itu mulai disadari oleh masyarakat di
desa saya. Banyak mereka sudah menjadi sarjana, menjadi pegawai, tentara, masuk
kantor perpajakan, hidup di luar kota, atau bagi yang membangun rumah di desa
memiliki arsitektur minimalis yang sedang digandrungi masa kini dengan deretan motor
dan mobil yang semakin menunjukkan kesuksesannya. Bagi para keturunan Bangsawan sudah banyak yang bisa
dijadikan contoh, dari masyarakat yang terhitung bisaa juga sudah banyak yang
mulai bermunculan. Sengaja saya tidak membahas mereka yang mungkin kurang
secara pendidikan dan kesuksesan, karena mereka bahkan sampai saat ini masih
adem ayem hidup tentrem tiap malem bisa merem meski dollar hampir limabelas ribu tetep kalem.
Kemudian yang menjadi titik perhatian saya ialah,
mereka yang merupakan keturunan bangsawan dengan sederet kesusksesan dan
prestasi yang dimiliki akan tetap dihormati oleh orang lain di dusun pun di
desanya karena dua hal, pertama karena orang tuanya, yang kedua karena harta
kekayaannya. Bukan ilmu dan kepandaian serta kharisma yang otomatis turut serta
di dalamnya, dan juga sikap kedermawanan yang menurut saya seharusnya menjadi
inti dari konsep Kebangsawanan.
Ketika mereka yang telah sukses dan melihat dunia luar
lebih luas dari desa dan dusunnya kemudian mulai terbuai rayuan gombal
materialistis dan kapitalis maka gelar Kebangsawanan
yang mereka warisi ialah kosong, tak lebih dari manusia yang berlindung dengan
tedeng aling – aling uang, harta, dan komoditi kekayaan lainnya. Dimana hal
tersebut juga sudah mulai mampu dicapai oleh mereka masyarakat bisaa.
Sesungguhnya bukan ketakutan akan hilangnya penghargaan akan gelar Bangsawan, namun lebih kepada apa yang
selanjutnya akan mereka hargai, hormati dan patuhi lebih dari sekadar
kepemilikan benda dan kekayaan sejenisnya.
Tidak akan ada lagi seseorang yang peduli dengan
mereka kaum biasa, yang bekerja untuk makin nanti, dan besok mereka yakin
pekerjaannya bisa mencukupi kebutuhan hari berikutnya. Mereka yang mau
menyentuh, memahami, tidak menyeragamkan pikiran atas semua penduduk dusun yang
jelas mulai terasa kesenjangan ekonomi pun pendidikan. Keluasan berpikir,
kelapangan hati mengerti dan memahami, bukan saja membela mereka yang lemah
tapi sekaligus meng-andhap asor-kan
para generasi berpikiran maju. Ini yang saya takutkan dan serta saya harapkan.
Kemudian menjelang masa akhir kuliah strata satu saya,
saya mulai berpikir akan jadi apa saya nantinya, kaum sukses yang bekerja di
luar kota punya rumah gedong di desa
dengan segala perabotan dan kendaraan yang sesuai dengan selera pasaran. Atau
kah hidup sembari berjualan angkringan, tiap pagi ke ladang menyangkul,
sebelumnya diawalai ritual makan bubur dari mbok – mbok di RT sebelah, sambil
menyenandungkan lagu – lagu dari mas Dadang Pohon Tua. Lalu sesampai di ladang
nyangkulnya dengan iringan music Navicula, Efek Rumah Kaca. Ah sudahlah ini
masalah selera, menjadi pak tani pun bisa hafal lirik lagu Bonjovi bahkan
FSTVLST, The 1975, Vampire Weekend, atau juga The Strokes dan The Libertines.
Tapi siapa pula yang mau mendampingi hidup pak tani itu, jaman sekarang anak
gadis dirawat betul – betul oleh orang tuanya agar kelak bisa hidup bahagia
selama – lamanya dengan suami dan anak – anaknya yang setiap hari naik mobil
istimewa duduk dimuka, mengendarainya supaya baik nama dan pamornya.