Kamis, 24 September 2015

kapan lalu saya teringat sesuatu

Sepagi ini, saat lebaran besar. Ini yang kedua kalinya. Biasa saja. Sepi. Maksudku, orang lain sibuk dan saya sendiri selalu merasa selo. Bahkan hari - hari biasa pun rasanya selo, meski kalau ada tawaran telponan saya akan bilang sibuk.
Sepagi ini, mulai menyadari, saya sendiri. Lainnya sudah punya kesibukan, saya masih doyan internetan. Lainnya sudah mendaki banyak puncak, saya masih disibukkan dengan malas gerak. Lainnya sudah halan - halan, kok saya di kamar rebahan. Lainnya ada yang lulus studi, ada yang membuka usaha, ada yang magang, mulai kerja di kantor atau entah di pabrik, saya masih mantengin youtube berharap nemuin musik yang pas sama skema hati. Ada lho yang sudah melenggang kesana - kemari, bikin iri, tapi yasudah tau diri.
Sepagi ini, asap sudah mulai hilang, hujan sudah mulai datang, tapi kok pompa air gak mau jalan atau sumurnya kering kerontang.
Sepagi ini, bikin kopi.
Sepagi ini, baru sempat melihat sampul Burung - Burung Manyar. Sudah baca selesai bab satu, dan besok lagi.
Sepagi ini, selepas shalat ied bingung gak karuan di depan laptop. Rencananya mau makan pagi, tapi warung tutup. Kamis pagi, tidak terlalu panas. Hari ini bisa dibilang cerah, tapi hati ini kok malah gelisah.
Sepagi ini, saya masih merasa sendiri. Siapa yang mau menghubungi saya atau siapa yang akan saya hubungi nanti.
Sepagi ini.
           Sepagi ini.
                      Sepagi ini.
                                                                                                                    Sepagi ini.
Sepagi ini, rasanya ingin kembali, kepada waktu lalu ketika lebaran bukan hanya dirayakan pada tanggalan. Lalu berkumpulah sekeluarga, pakdhe-budhe-bulek-paklek-mas-mbak-adek.
Sepagi ini, teringat mimpi, takut kalau rencana hanya tinggal wacana, dan kenapa selalu resah jika menyangkut dana.
Sepagi ini, yang lain sudah mulai proposal dan tinggal skripsi. Kok saya masih ribet sama judul, tidak, judul itu nanti. Tapi fenomena apa yang mau diteliti?
Sepagi ini, kalau ingat hujan kala kecil, rasanya itulah waktu paling nikmat untuk tidur entah pagi, siang, sore, pun malam. Dan bau tanah selepas hujan seringnya mengiringi.
Sepagi ini, melankoli.
Sepagi ini, apa yang harus dilakukan lagi. Kuliah cepat lulus, cari kerja, nganggur dan sering tidur.
Sepagi ini, saya lebih suka menjadi teman yang dicari ketika mereka mendapat masalah hati. menghibur orang itu menyenangkan, menghibur diri?
Sepagi ini, apakah yang saya mulai yakini bahwa hidup memang diperuntukkan migunani marang liyan. Dan saya mulai takut saya mulai menghindari kekayaan, bukan, bukan maksud tak mau kaya, spesifiknya gaya hidup mewah dan hedon. Dan bukankah memang itu yang seharusnya. Tepat. Saya cenderung berjalan kesana seratus delapan puluh derajat beda dengan yang diyakini. Tuhan beri saya informasi.
Sepagi ini, otak mulai mendeteksi seberapa persen kadar anti-sosial dalam diri. Seimbang dengan keinginan bersosialisasi. Masih ada pamrih meski selalu ditahan, dan keluhan yang dirasakan. Hitung - hitungan yang menyibukkan logika, siapa yang paling berjasa. Timbang sana - sini, melelahkan pemikiran, anti-sosial mencoba bersosialisai.
Sepagi ini, saya belum ingin mati. 
Sepagi ini, saya sadari betul, setelah menulis seperti ini biasanya muncul keinginan mensyukuri. Apa saja yang telah terjadi dan diberikan oleh-Nya pada diri.