Sebulan tinggal bersama orang lain. Dibutuhkan kesabaran. Bagiku mudah mengenal orang lain tapi tak mudah memahaminya terlebih mereka memahamiku. Jalan tanah berdebu saat kemarau, becek dan licin ketika hujan datang.
Adakah yang salah dengan ini?. Penduduk yang sebagian besar petani, mencari nafkah dengan menderes getah karet, yang lainnya masih mengandalkan pencarian ikan di sungai. Atau sekarang yang sedang heboh yaitu mencari emas. Ladang dan kebun mereka jual hanya untuk kenikmatan sesaat. Pengusaha sawit yang meraup untung. Penduduk desa hanya menjadi pekerja, bukan mandor apalagi bosnya.
Jika ada yang bertanya masihkah ada harimau di sana, mungkin belum tentu. Tapi Beruang Madu, Kancil, Kijang, Rusa, bahkan Buaya masih bisa dijumpai. Kawasan ini memang tak lagi hutan belantara, bukan pula desa tertinggal. Buktinya Net TV bisa masuk kesana.
Lalu apa yang membuat warga disini biasa saja, saya yang sebulan di sana merasakan gap informasi dari sebelumnya. Buat mereka juga mungkin desa lainnya, hidup bukan soal seberapa banyak kepemilikan sepatu Converse, mengoleksi jeans Levi's atau Wrangler. Yang penting trendy. Harga terjangkau dan pastinya senang.
Tidak menjadi masalah bukan. Tak hanya masalah selera namun lebih kepada kultur budaya kekinian yang tidak menunjukkan isi bagian dalam, terlalu banyak kulit yang mereka lihat.
Kehadiran kami bukan solusi, kepulangan kami juga tak patut ditangisi. Kami berbanyak orang, dengan banyak pemikiran dan tujuan masing - masing di dalam isi kepalanya. Bagaimana menyatukan untuk sekadar memberi sumbangsih bagi warga. Prinsip kami selagi ada dana, program jalan. Dan masalah kami, ialah minimnya dana itu sendiri.
Terlepas dari dana dan sejenisnya, menurut saya belum tentu tujuan mereka terwujud maksimal. Lain halnya jika mereka sudah mulai mengerti fungsi dan tujuan kenapa sampai di desa ini.
Tak ada konflik terbuka, mungkin terlalu pecundang (termasuk saya) atau mereka paham itu tak ada guna.
Satu yang pasti, lebih elok kita menjadi pendahulu, memberi contoh bekerja. Jika hanya mengatur (karena jabatan ketua), kebanyakan mereka akan membicarakanmu di belakang. Mereka tidak dibayar, mereka keluar dana tapi malah disuruh ini - itu. Ataupun jika kau minta tolong, maka permintaan tolong itu timbul sesudah ketidakmampuanmu melakukan sesuatu.
Biar hanya kita yang bekerja, hanya kita yang merasa lelah beraktivitas. Akan tetapi jika terlalu "rame ing pamrih, sepi ing gawe" ditambah lagi secara finansial biasa saja. Lebih baik diam dan ikuti saja peraturannya.
Apa yang kami perbuat, yang kami jadikan tujuan tak selamanya dalam trek lurus, Maka ketika hampir kacau, berantakan. Ingatlah saja, tidak ada solusi yang muncul ketika emosi menguasai diri.