about me

keluarga tercinta

  Saya seorang mahasiswa perantau, dengan segala fenomena kehidupan sekarang saya mencoba mencari jalan yang baik dan untuk itu tak jarang harus melakukan kesalahan. Namun hidup bukan tentang penyesalan dan kesalahan, hidup adalah perjuangan.
Dengan apa yang telah saya miliki, keterbatasan mendera tapi tetap harus semangat, bebagi-bermanfaat untuk orang pun makhluk lain ciptaan-NYA.
Jasmani yang sehat, kerluarga bahagia, kondusif dalam perjalanannya. Hal itu patut saya syukuri bahkan harus. Selama 18 tahun saya terlahir di bumi pertiwi ini belum banyak peran untuk orang tua juga keluarga, walaupun begitu saya yakin dengan pendidikan yang saya tempuh sekarang dengan bantuan yang saya dapat sampai detik ini dengan rahmat-NYA, saya akan berjuang dan berusaha, lebih lengkapanya yakin-lakukan-doa atau usaha-tawakal-doa.
Bukan masalah biaya yang menjadi masalah besar, ialah motivasi untuk maju serta moral sesuai nilai budaya dan agama yang saya anut-Islam.

  Ibu saya seorang wanita yang penuh kasih sayang, saat kecil beliau tempat berlindung ketika bapak mulai memberi nasehat yang membuat saya menangis. Beliau seorang bendahara terbaik!, meski pemasukan yang didapat pas-pasan beliau selalu mampu membuat perut kami kenyang dan hati kami tentram. Beliau juga koki handal. Dengan berbagai sayuran yang ada di ladang dan bahan yang di beli di warung bisa diramu menjadi masakan lezat nan menyehatkan. Satu lagi, ibu saya orang yang tak kenal lelah, setiap pagi dan malam shalat sunat tak pernah terlewatkan. Doa darinya selalu teriring untuk saya, adik saya, juga bapak.
  Bapak ialah orang serba bisa, kecuali untuk memanjat pohon karena tak mungkin lagi mampu mengingat usia dan perawakan beliau. Beliau mungkin mendidik dengan keras, namun semuanya yang beliau katakan hampir selalu benar, beliau hampir tahu semua hal tak termasuk pelajaran saat SMA saya. Pemimpin, pelindung, pengajar dalam keluarga. Beliau adalah orang hebat!.
  Adik saya lebih banyak bisa daripada saya, namun tetap saja ia adalah adik yang keren!, dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos serta tingkah lucunya menjadi hiburan tersendiri dalam keluarga kecil kami.

  Kedua orang tua bekerja paruh waktu atau mungkin serabutan. lebih tepatnya swasta. adik saya berada di kelas XI SMK.
Kehidupan yang semakin kompetitif membuat orang tua saya agak tersingkir dari bursa pegawai dengan penghasilan menengah ke atas, penghasilan yang mereka dapatkan nyatanya bisa membuat saya dan keluarga bertahan sampai sekarang. Ini bukan soal gengsi. Semua pekerjaan asalkan halal itu jauh lebih baik dari pada memakan yang bukan haknya. Jadi walaupun dalam tingakatan menengah ke bawah harus disyukuri. Mereka mengajarkan banyak hal mengenai pentingnya bersikap jujur dan bertindak rendah hati. Dan saya harus lebih banyak bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang begitu menghargai setiap receh uang terpakai seharusnya tidak sia-sia.