Ada banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan, dari hal-hal seperti apakah kau suka suasana siang terik kota ini atau kerlip dan kehidupan malamnya, juga mengenai kemungkinan adanya Tuhan di sekitar kita dan tak lupa sebab akibat segala keputusan - tindakan manusia. Mungkin sakit kepala yang menderamu belum seberapa namun lapar dan dingin yang dirasa manusia-manusia tanpa rumah itu pun tak perlu diperbandingkan. Kembalinya akal sehat butuh waktu lama. Ia mengorbankan banyak ketabahan, ketekunan, dan tentunya adalah waktu.
Jika kepalamu terjangkit pusing tak berujung, ada baiknya kau mandi dengan air hangat sore nanti, aku tak kan sungkan menghidangkan teh panas buatmu.
Kematian yang pasti datang sudahkah kau persiapkan sambutan?
Dengan riang dan bahagia?
Pagi tadi adalah embun-embun di pepohonan serta kicau burung-burung di pekarangan. Halaman yang belum kering dari hujan semalam menjadi tempat bercumbu kodok sawah. Laron-laron di udara menjadi santapan lezat sriti dan kawanannya.
Kesegaran pagi tak menghinggapi kepalaku. Dalam riuh dan tarik ulur pendapat, kebijaksanaan tak dapat kutemukan. Dalam almari memori kucari-cari arsip tentangmu. Lusuh dan hampir tak pernah disentuh. Kali ini apa-apa yang kucari tak kudapat. Malahan kenangan puluhan tahun lalu muncul tanpa aba-aba.
Rumah yang selalu bocor ketika hujan masih dihuni manusia-manusia lama. Mereka yang memberikan makan dan asupan wawasan. Ditabuhnya genderang perlawanan suatu waktu, selebihnya, dibangun segunung kasih sayang. Cita-cita dan angan tergerus lumut-lumut, dipreteli oleh angin, lapuk karena hujan, keropos karena usia. Kau cium tangan-tangan renta mereka. Kutertawakan aral di muka.
Sampai kapan kau akan kokoh berdiri dalam kesendirian?
Menerobos jurang kebosanan, melipat kuat kalut - takut.
Langkah gontai manusia-manusia kau abaikan. Ringkih tubuh-tubuh diterangi rembulan. Berjalan dengan keyakinan hidupmu tak sekadar tidur dan makan.
Minggu, 30 Desember 2018
Sabtu, 13 Oktober 2018
1/4
Jika kamu
ingin melakukannya, lakukanlah. Hidup hanya sekali, jangan kebanyakan menyesali
hal-hal yang kau lewati. Semua berawal. Semua punya asal. Semua berakibat,
semua punya dampak, semua beresiko, semua tak pernah aman, dan tak ada kata
sudah. Lakukan dan lakukan. Berjalan terus. Terjang kebosanan. Lelah dan
amarah, candu dan gairah. Susah. Berbenah, lemah, berkilah.
Kau tak
perlu menyombongkan sesuatu. Tak pantas juga kau menggerutu sepanjang waktu. Lihat,
dengar, rasakan. Orang-orang lain juga dilanda keheranan. Dunia yang tak lagi
sesuai harapan. Dan jalan-jalan panjang nan terjal yang harus dilalui ialah
keniscayaan.
Bahagiakan dirimu.
Bebaskan pikiranmu.
Lama sudah
dikungkung norma-norma. Lama sudah hidup menurut kata orang tua. Ide dan
gagasan di kepala disimpan dalam-dalam sebab tak ada tujuan dan strategi masuk
akal. Cita, adalah buah dari peluh yang kita peras selama prinsip kita pegang
teguh. Cita adalah kehidupan. Sedangkan dua puluh tahun hidup, cita, tak lebih
dari bualan, omong kosong tanpa beban.
Musyawarah dan
tukar pikiran dikalahkan oleh kekhawatiran orang tua. Tak ada dukungan. Anggap saja
ada, namun bukan yang kita butuhkan. Sebab hidup berdampingan dengan mereka
bukan lagi prioritas. Sebab impian adalah batas. Karena cita membuat(ku) ingin
terbang bebas.
PKU/ 018
Sabtu, 06 Oktober 2018
Di Jalan Pulang
Malam mulai luruh
Pagi berangsur jatuh
Pedagang pasar mengais berkah
Manusia becak tak kenal lelah
Pemuda-pemuda tanggung tak tahu arah
Udara pagi memeluk daun-daun dan rerumputan
Menyembunyikan sengsara di pojokan
04:12
6 Okt 018
Pagi berangsur jatuh
Pedagang pasar mengais berkah
Manusia becak tak kenal lelah
Pemuda-pemuda tanggung tak tahu arah
Udara pagi memeluk daun-daun dan rerumputan
Menyembunyikan sengsara di pojokan
04:12
6 Okt 018
Rabu, 09 Mei 2018
Berdoa sebelum tidur
Dua lima belas pagi, menurutnya sebuah lagu bisa jadi pengingat sebuah peristiwa. Setahun sebelumnya, ia adalah pelajar tahun kelima. Diambilnya ujung selimut. Dihembuskannya napas panjang perlahan.
Gosok gigi, kamar mandi, kencing, pasta gigi di celana, burung mengeluh di sangkar, semut terjatuh di bak air, dinding berlumut, klakson truk, sepeda motor saling salip, sebuah mobil mengerem mendadak, ambulans meraung di kejauhan, penjual lotek mengulek dua siung bawang putih, burung gereja, burung pipit, burung kutilang, burung berbah, burung perkutut, ayam berkokok, jalan berliku, sawah di kanan kiri, pohon cemara tinggi-tinggi, gelas tumpah, pesanan datang terlambat, nasi goreng keasinan, rumput tegar di bulan kering, mengayuh sepeda keliling desa, ruko-ruko berjejalan, umpatan di jalanan, kotak persegi adalah dunia baru manusia masa kini, televisi digempur berita selebritis, lagu-lagu berisi keluhan, nostalgia adalah kepedihan, kodok melompat ke kubangan, ikan wader berkejaran di kali, rambutan masak di pohon, paving blok rapuh dilindas mobil, seorang bocah bermain layangan, seorang remaja berjualan koran di perempatan, warnet masih ramai, penjual mie ayam mulai pulang, matahari berangsur hangat, kaos kaki kemaren, bau kaki sepanjang malam, piring-piring belum dicuci, sandal bekas dari masjid, buku basah terkena tumpahan teh hangat, kucing tertidur pulas di atas sajadah, orang-orang berlalu-lalang, awan membisu, langit biru setia menunggu, jalanan lengang, mulut-mulut sibuk mengunyah makan siang, impian-impian sirna, doa buruk terkabul, kesempatan tak ada dua, seorang suci mati dikuliti, mata sembab, hidung tersumbat, kereta api melaju perlahan, penjual jagung rebus mendorong gerobak, seorang ibu menyusui bayinya, sang ayah baru pulang kerja, Rusia membom London, Soviet merangkul Beijing, di Hawai ada tsunami, gempa bumi di Indonesia, es di Kutub berkurang setengah, Timur Tengah bergelora, presiden Amerika keturunan Cina, Meksiko mengimpor ganja dari Aceh, seekor nyamuk mengitari telinganya, pusat perbelanjaan memberi diskon besar-besaran, empat kali empat enam belas, bila sempat dibalas kalau tak sempat berarti kau malas, ke timur jauh kau menyongsong cahaya, di tengah jalan semua tak berwarna, tak ada orang lain, rumah sakit yang dingin, masjid sedih di separuh malam, gereja ramai burung-burung, seorang teman mengalamatkan kesedihan padaku, sepeda beriringan, sekelompok merpati terbang melingkar, luka-luka tak bisa disembuhkan, napas tersengal, kepala butuh rehat, kulitmu mulai gosong, jempol kaki berdarah, kasur robek, selimut bau blacan, dua lima belas pagi.
Kau terbangun, berdoa, dan seorang dengan sinar disekujur tubuhnya menggandengmu menemui simbahmu.
Gosok gigi, kamar mandi, kencing, pasta gigi di celana, burung mengeluh di sangkar, semut terjatuh di bak air, dinding berlumut, klakson truk, sepeda motor saling salip, sebuah mobil mengerem mendadak, ambulans meraung di kejauhan, penjual lotek mengulek dua siung bawang putih, burung gereja, burung pipit, burung kutilang, burung berbah, burung perkutut, ayam berkokok, jalan berliku, sawah di kanan kiri, pohon cemara tinggi-tinggi, gelas tumpah, pesanan datang terlambat, nasi goreng keasinan, rumput tegar di bulan kering, mengayuh sepeda keliling desa, ruko-ruko berjejalan, umpatan di jalanan, kotak persegi adalah dunia baru manusia masa kini, televisi digempur berita selebritis, lagu-lagu berisi keluhan, nostalgia adalah kepedihan, kodok melompat ke kubangan, ikan wader berkejaran di kali, rambutan masak di pohon, paving blok rapuh dilindas mobil, seorang bocah bermain layangan, seorang remaja berjualan koran di perempatan, warnet masih ramai, penjual mie ayam mulai pulang, matahari berangsur hangat, kaos kaki kemaren, bau kaki sepanjang malam, piring-piring belum dicuci, sandal bekas dari masjid, buku basah terkena tumpahan teh hangat, kucing tertidur pulas di atas sajadah, orang-orang berlalu-lalang, awan membisu, langit biru setia menunggu, jalanan lengang, mulut-mulut sibuk mengunyah makan siang, impian-impian sirna, doa buruk terkabul, kesempatan tak ada dua, seorang suci mati dikuliti, mata sembab, hidung tersumbat, kereta api melaju perlahan, penjual jagung rebus mendorong gerobak, seorang ibu menyusui bayinya, sang ayah baru pulang kerja, Rusia membom London, Soviet merangkul Beijing, di Hawai ada tsunami, gempa bumi di Indonesia, es di Kutub berkurang setengah, Timur Tengah bergelora, presiden Amerika keturunan Cina, Meksiko mengimpor ganja dari Aceh, seekor nyamuk mengitari telinganya, pusat perbelanjaan memberi diskon besar-besaran, empat kali empat enam belas, bila sempat dibalas kalau tak sempat berarti kau malas, ke timur jauh kau menyongsong cahaya, di tengah jalan semua tak berwarna, tak ada orang lain, rumah sakit yang dingin, masjid sedih di separuh malam, gereja ramai burung-burung, seorang teman mengalamatkan kesedihan padaku, sepeda beriringan, sekelompok merpati terbang melingkar, luka-luka tak bisa disembuhkan, napas tersengal, kepala butuh rehat, kulitmu mulai gosong, jempol kaki berdarah, kasur robek, selimut bau blacan, dua lima belas pagi.
Kau terbangun, berdoa, dan seorang dengan sinar disekujur tubuhnya menggandengmu menemui simbahmu.
Sabtu, 07 April 2018
Melunasi
Paman, kau tak perlu cemas karena belum kau balas suratku sebab itu tak berdampak apa-apa padaku ternyata. Tolong sampaikan padaku Ibuk, aku baik-baik saja sekarang. Sampaikan juga salamku pada bapak, aku selalu mendoakannya agar ia bahagia di akhirat. Tadi malam aku bertemu Kakung dalam mimpi. Ia berkata: aku memaafkanmu, aku memaafkanmu, aku memaafkanmu. Bilang juga pada bibi agar tak usah repot-repot menjadi simpanan Pak Rt lagi.
Surat itu dibacakan oleh si Paman di hadapan istri dan kakaknya dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Selepas menulis surat yang kedua kalinya, Ia bersiap-siap berangkat kerja. Dalam kepalanya yang ada hanya kejar target agar segera terwujud segala angan dan terlepas dari beban.
Paman melanjutkan: akan kubayarkan hutang bapakku sebesar satu setengah juta pada minggu kedua bulan Mei. Lalu sisanya akan kucicil sampai lunas. Jangan biarkan Ibuk bersedih.
Ia sudah bekerja seminggu dan ia pikir cukup mudah mendapatkan uang di kota. Ia tersenyum kecil ketika seorang pria mencium pipinya seraya memasukkan uang di antara dua buah dadanya. Katanya: terimakasih mas, besok datang lagi ya. Sambil mencubit manja perut si pria.
Surat itu dibacakan oleh si Paman di hadapan istri dan kakaknya dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Selepas menulis surat yang kedua kalinya, Ia bersiap-siap berangkat kerja. Dalam kepalanya yang ada hanya kejar target agar segera terwujud segala angan dan terlepas dari beban.
Paman melanjutkan: akan kubayarkan hutang bapakku sebesar satu setengah juta pada minggu kedua bulan Mei. Lalu sisanya akan kucicil sampai lunas. Jangan biarkan Ibuk bersedih.
Ia sudah bekerja seminggu dan ia pikir cukup mudah mendapatkan uang di kota. Ia tersenyum kecil ketika seorang pria mencium pipinya seraya memasukkan uang di antara dua buah dadanya. Katanya: terimakasih mas, besok datang lagi ya. Sambil mencubit manja perut si pria.
Jumat, 06 April 2018
Percakapan Siang Hari
Aku tak suka memakai jam tangan sebenarnya. Dengan muka biasa tak terlihat murung apalagi bahagia, ia melanjutkan argumentasi. Hal menyenangkan ketika kau tak perlu mencemaskan keadaan karena kau terlepas dari kungkungan waktu. Ia terlihat jemawa, kemudian berkata: satu-satunya penentu ialah metabolisme tubuhmu. Kali ini terlihat raut muka bahagia.
Seseorang di sampingnya menimpali tanpa ragu dan terlihat seperti orang yang telah berada di sisinya bahkan sebelum ia dilahirkan ke bumi. Bilang saja kau tak suka melakukan apa-apa. Tertawa sinis dan melanjutkan perkataan: lumrah kau mengatakannya, biar kuingatkan kembali, tak ada kebijaksanaan pada orang-orang yang mencari kebenaran.
Aku tak mencari kebenaran! Ia berseru. Dan aku tak mengabarkan kebijaksanaan.
Keduanya terdiam. Air mineral dalam gelas bercampur es batu kotak-kotak diaduk perlahan. Meja kayu di warung makan itu basah oleh air. Kipas angin berputar kencang menghalau udara panas kota. Sekelompok pengamen menyanyikan lagu Kau Bukan Dirimu-nya Broery Marantika versi keroncong.
Ia merangkum irama dan keramaian, matanya membingkai meja makan, dinding putih berhias kalender dan lukisan ikan koi, suara percakapan, juga bisingnya lalu lalang kendaraan.
Seseorang di sampingnya mengiriminya pesan: kapan kau lanjutkan pekerjaanmu?
Dengan segera ia mengambil gawai dan membalasnya: setelah waktu istirahat siangku selesai.
Seseorang di sampingnya menimpali tanpa ragu dan terlihat seperti orang yang telah berada di sisinya bahkan sebelum ia dilahirkan ke bumi. Bilang saja kau tak suka melakukan apa-apa. Tertawa sinis dan melanjutkan perkataan: lumrah kau mengatakannya, biar kuingatkan kembali, tak ada kebijaksanaan pada orang-orang yang mencari kebenaran.
Aku tak mencari kebenaran! Ia berseru. Dan aku tak mengabarkan kebijaksanaan.
Keduanya terdiam. Air mineral dalam gelas bercampur es batu kotak-kotak diaduk perlahan. Meja kayu di warung makan itu basah oleh air. Kipas angin berputar kencang menghalau udara panas kota. Sekelompok pengamen menyanyikan lagu Kau Bukan Dirimu-nya Broery Marantika versi keroncong.
Ia merangkum irama dan keramaian, matanya membingkai meja makan, dinding putih berhias kalender dan lukisan ikan koi, suara percakapan, juga bisingnya lalu lalang kendaraan.
Seseorang di sampingnya mengiriminya pesan: kapan kau lanjutkan pekerjaanmu?
Dengan segera ia mengambil gawai dan membalasnya: setelah waktu istirahat siangku selesai.
Langganan:
Postingan (Atom)