Ada banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan, dari hal-hal seperti apakah kau suka suasana siang terik kota ini atau kerlip dan kehidupan malamnya, juga mengenai kemungkinan adanya Tuhan di sekitar kita dan tak lupa sebab akibat segala keputusan - tindakan manusia. Mungkin sakit kepala yang menderamu belum seberapa namun lapar dan dingin yang dirasa manusia-manusia tanpa rumah itu pun tak perlu diperbandingkan. Kembalinya akal sehat butuh waktu lama. Ia mengorbankan banyak ketabahan, ketekunan, dan tentunya adalah waktu.
Jika kepalamu terjangkit pusing tak berujung, ada baiknya kau mandi dengan air hangat sore nanti, aku tak kan sungkan menghidangkan teh panas buatmu.
Kematian yang pasti datang sudahkah kau persiapkan sambutan?
Dengan riang dan bahagia?
Pagi tadi adalah embun-embun di pepohonan serta kicau burung-burung di pekarangan. Halaman yang belum kering dari hujan semalam menjadi tempat bercumbu kodok sawah. Laron-laron di udara menjadi santapan lezat sriti dan kawanannya.
Kesegaran pagi tak menghinggapi kepalaku. Dalam riuh dan tarik ulur pendapat, kebijaksanaan tak dapat kutemukan. Dalam almari memori kucari-cari arsip tentangmu. Lusuh dan hampir tak pernah disentuh. Kali ini apa-apa yang kucari tak kudapat. Malahan kenangan puluhan tahun lalu muncul tanpa aba-aba.
Rumah yang selalu bocor ketika hujan masih dihuni manusia-manusia lama. Mereka yang memberikan makan dan asupan wawasan. Ditabuhnya genderang perlawanan suatu waktu, selebihnya, dibangun segunung kasih sayang. Cita-cita dan angan tergerus lumut-lumut, dipreteli oleh angin, lapuk karena hujan, keropos karena usia. Kau cium tangan-tangan renta mereka. Kutertawakan aral di muka.
Sampai kapan kau akan kokoh berdiri dalam kesendirian?
Menerobos jurang kebosanan, melipat kuat kalut - takut.
Langkah gontai manusia-manusia kau abaikan. Ringkih tubuh-tubuh diterangi rembulan. Berjalan dengan keyakinan hidupmu tak sekadar tidur dan makan.