Kamis, 10 Januari 2019

Lumrah

Semurah udara segar pagi hari, dimunculkannya lagi angan.
Melihat buana tinggi di atas awan, gemerlap, cerah, mengisahkan. Pagi belum tentu beranjak diiringi harmoni. Keselarasan tak utuh menyiratkan. Kebahagiaan tak ditemui di lumbung-lumbung air. Mengalir pelan, sedikit lalu menghambur dalam kelam. Intro dan intermezo. Lagu dan puisi kehidupan. Air dan tanaman, bersinggungan, menghidupi masa depan.

Pada masa tak tentu, mengarahkan konsentrasi pada kepentingan bersama dengan pertimbangan keindahan.

Hari-hari dilimbungkan ketidakpastian. Dibungkam kebohongan. Dirongrong hipokrit akut. Tanah dan pepohonan kering kuning.

Angin panas menghembus rumah-rumah, bayi-bayi kegerahan, kucing-kucing kehausan, ayam-ayam berteduh di bawah kolong ingatan.

Tangan-tangan tak kelihatan katamu. Kemisteriusan duniawi kau bubuhi kisah suci.
Dijungkir balikkannya logika dan rasa. Hingga ketidakteraturan adalah hal biasa. Dipuja bak dewa dipuji seperti nabi.

Di pinggir jalan kau temui lelaki dengan sepeda tua mengayuh penuh khikmat. Melaju tanpa lelah. Melimpahkan senyum dibalik terik siang. Di petak-petak kebun, ibu-ibu menyunggingkan tawa, di sela-sela ceramah rumah tangga, dan tentang suami yang tak muda lagi.

Putus-putus sambungan telepon. Pesan tak sampai. Badai mengulum pulau-pulau kesepian. Rindu dan keinginan pulang. Kabar yang ditukar dengan makanan. Jam tangan diletakkan dalam kantong plastik ketika hujan.

Bisik-bisik tetangga, obrolan sinis teman sebaya, praduga diungkap para tetua, bapak-bapak penuh curiga.

Lama itu relatif dan hidup sekadar singgah.

Para pencerita menjadikan kutukan sebagai dagangan laris dalam toko-tokonya. Dijualnya berbagai barang remeh-temeh lain yang tak jauh beda.

Manusia-manusia sedang berjalan.
Sendiri-sendiri menuju pemakaman.

Ego tak kentara dalam rayu manis kata-kata. Membuncah-ruah dari kepala-kepala berisi teori-teori terkini.
Tinggi hati yang lugu. Menggugat canda dan getir asa.
Kepandaian tak terpiri bertautan dengan kekejian. Nilai-nilai dirundung hama, pohon ilmu tertutup gulma.

Siapa engkau, mendaku raja dengan segala keunggulan, memberikan ancaman-menumbuhkan kebencian. Siapa engkau, lelaki tak berkumis, melanggengkan tumpah darah demi nama harum kemanusiaan. Siapa saja, menganggap salah yang berbeda, percaya diri bahwa yang lain tak pantas berada di muka bumi, selalu melontarkan kemarahan-tuduhan.

Bagaimana bisa aku dengan mudah membicarakan kekurangan orang lain di belakangnya dan sekaligus tersenyum manis menyanjung keberhasilan dan tindakan-tindakan biasa di depannya.