Hobinya menunggui air yang dipanaskan di atas kompor, melihat air mendidih, perlahan menyusut menjadi uap-uap panas. Mie instant di plastik kresek yang baru dibeli dari warung dibiarkan saja. Kepulan asap dan air yang mendidih lebih menarik perhatian. Diliriknya mangkuk di atas rak lalu tumpukan sendok di sebelah kanan barisan piring. Uap air menggulung ke udara, menyengat kulit pipi, membuatnya merah. Kepalanya terlalu menunduk ke arah panci, tapi ia tak merasa kepanasan.
Tangan kanannya meremas uang kembalian di kantong celana. Dipikirnya mie instant rasa ayam bawang itu akan dimasukkan ke dalam panci paling tidak satu menit lagi. Sembari menunggu detik berlalu, ia perhatikan api yang menyala, kemudian ia kecilkan. Ia melihat air tak lagi kacau, permukaannya lebih tenang namun masih menghasilkan uap panas.
Pada detik ke tiga puluh lima ia mulai membuka bungkus mie, dipatahkannya lembaran mie jadi dua, dimasukkan salah satu bagian ke dalam plastik bungkus mie dan satu bagian ke dalam panci. Ia ambil mangkuk lalu disobek bungkus bumbu dan dituangkan ke dalamnya.
Menit berikutnya mie sudah masak. Muka merahnya dihiasi senyum kepuasan.