Minggu, 06 Juni 2021

27 dan masih melaju.

Dua dari empat jam yang kulalui setiap malam adalah tentang rebahan dan bermain gawai, sisanya untuk makan, mengobrol, serta memberi makan ikan-ikan. Malam-malam biasa juga mengenai mie instan rebus dengan macam-macam sayur bercampur.
Pada malam-malam tertentu teman-teman datang, terkadang pulang larut. Tak banyak hal baru yang jadi obrolan, masih seputar kerjaan, kekasih hati, putus cinta, soal kekonyolan masa sekolah, hobi pun peliharaan, tak jarang selangkangan.
Tahun-tahun berlalu, tujuan-tujuan hidup mengendap biru. 
Tahun ini semua membaik dan terasa baik-baik saja meski di luar sana patah hati adalah makanan sehari-hari. Tak dapat dipungkiri, rasa lelah dan putus asa tergambar jelas di muka. Tak seorangpun mampu menghapus itu. Ketika tiba satu masa manusia menjadi tak tahu apa-apa, seolah baru saja terlahir dan tak satu orangpun mengasuh dan membimbing, pada saat itu alam bekerja sesuai naluri.
Alam mengobati diri, itu kata mereka. Sebagian bilang ini akibat keserakahan manusia. Semesta, katamu, melaju dalam ketetapan melampaui kecerdasan makhluk-makhluk paling buas se jagad raya, menemukan kembali jalurnya dan begitulah Ia menunjukkan kemegahan.