Jika aku bertanya tentang kejujuran, maka peristiwa apa yang
akan kau ceritakan?
Tidak?
Atau berkeberatan?
Baiklah, inilah yang akan kusampaikan. Kejujuran ialah hal
yang baik, tapi efek sampingnya tidak pernah berjalan menyenangkan. Apa aku
pernah bertanya kenapa kita harus jujur dan tidak terkungkung dalam imaji masa
depan?. Ya, sebab hidup ialah jalinan tindakan. Langkah yang berulang, namun jalan
tak pernah berujung kecuali pada kematian. Dan kematian apa yang terdekat dari
hari ini; yaitu tak pernah memaafkan kesalahan. Maka begitulah awal dari sebuah
cerita. Kejujuran itu kusampaikan ketika usiaku belum genap enam belas. Kejujuran
yang sekarang aku apresiasi sebab dengan itu aku belajar menyadari; bahwa hati
tak boleh dipaksakan. Bahwa mencintai ialah kebebasan meski diharuskan
menetapkan satu pilihan. Lagipula jika kita memilih satu maka mau tak mau kita
berkewajiban menanggalkan yang lainnya. Lalu, apabila kemudian kita tak mendapatkan
apa-apa selain penyesalan, tengoklah sebentar apa saja kemungkinan yang bisa
kau lakukan.
Dari kejujuran kecil yang pernah
kulakukan, aku melangkah tanpa tenang, seolah akulah pemantik salah. Dan darinya
aku tak pernah bisa kembali jujur terhadap diriku sendiri. Mungkin itu yang
pertama, tapi kuyakin bukan yang terakhir kalinya. Kejujuran yang menyakitkan. Membawaku
menjauh dari pusaran. Menerbangkan angan. Namun tak pernah mampu membuatku
berhenti berjalan.
Pertanyaan kedua, bila aku dirimu maka siapakah yang akan
paling kau rindukan kedatangannya?
Kenapa diam?
Tak usah takut.
Aku tak pernah kuasa mengendalikan hasrat. Egosentris yang
mengakar kuat. Keinginan memiliki apapun itu tanpa diganggu gugat. Tak pernah
mau kalah meski oleh sejawat.
Namun dalam diriku selama masa perenungan di malam-malam
itu, aku mulai merelakan apa yang namanya kepemilikan. Bahwasanya tak ada yang
lebih abadi selain mengagumi-mencintai. Meski waktu tak pernah memihak, meski
selalu tak terlihat.
Aku tak pernah mau berbagi, tapi tingkat tertinggi
kekesalanku ialah membiarkan orang lain mengoperasikan mainan kesayanganku,
sedangkan aku hanya akan tersenyum karena tindakan seperti itu ialah kebaikan
menurut mayoritas kalian. Walau, ketika malam menjelang semua yang aku
ikhlaskan kembali muncul seperti beban. Membuatku tak berani tuk sekadar
membayangkan.
Satu yang perlu kau camkan ialah aku tak akan pernah
mengambil pun menyentuh sedikitpun apa yang dimiliki orang lain, tanpa
perintah, tanpa tekanan.