Jumat, 03 Maret 2017

Bara.

Jika aku bertanya tentang kejujuran, maka peristiwa apa yang akan kau ceritakan?
Tidak?
Atau berkeberatan?
Baiklah, inilah yang akan kusampaikan. Kejujuran ialah hal yang baik, tapi efek sampingnya tidak pernah berjalan menyenangkan. Apa aku pernah bertanya kenapa kita harus jujur dan tidak terkungkung dalam imaji masa depan?. Ya, sebab hidup ialah jalinan tindakan. Langkah yang berulang, namun jalan tak pernah berujung kecuali pada kematian. Dan kematian apa yang terdekat dari hari ini; yaitu tak pernah memaafkan kesalahan. Maka begitulah awal dari sebuah cerita. Kejujuran itu kusampaikan ketika usiaku belum genap enam belas. Kejujuran yang sekarang aku apresiasi sebab dengan itu aku belajar menyadari; bahwa hati tak boleh dipaksakan. Bahwa mencintai ialah kebebasan meski diharuskan menetapkan satu pilihan. Lagipula jika kita memilih satu maka mau tak mau kita berkewajiban menanggalkan yang lainnya. Lalu, apabila kemudian kita tak mendapatkan apa-apa selain penyesalan, tengoklah sebentar apa saja kemungkinan yang bisa kau lakukan.
Dari kejujuran kecil yang pernah kulakukan, aku melangkah tanpa tenang, seolah akulah pemantik salah. Dan darinya aku tak pernah bisa kembali jujur terhadap diriku sendiri. Mungkin itu yang pertama, tapi kuyakin bukan yang terakhir kalinya. Kejujuran yang menyakitkan. Membawaku menjauh dari pusaran. Menerbangkan angan. Namun tak pernah mampu membuatku berhenti berjalan.

Pertanyaan kedua, bila aku dirimu maka siapakah yang akan paling kau rindukan kedatangannya?
Kenapa diam?
Tak usah takut.
Aku tak pernah kuasa mengendalikan hasrat. Egosentris yang mengakar kuat. Keinginan memiliki apapun itu tanpa diganggu gugat. Tak pernah mau kalah meski oleh sejawat.
Namun dalam diriku selama masa perenungan di malam-malam itu, aku mulai merelakan apa yang namanya kepemilikan. Bahwasanya tak ada yang lebih abadi selain mengagumi-mencintai. Meski waktu tak pernah memihak, meski selalu tak terlihat.
Aku tak pernah mau berbagi, tapi tingkat tertinggi kekesalanku ialah membiarkan orang lain mengoperasikan mainan kesayanganku, sedangkan aku hanya akan tersenyum karena tindakan seperti itu ialah kebaikan menurut mayoritas kalian. Walau, ketika malam menjelang semua yang aku ikhlaskan kembali muncul seperti beban. Membuatku tak berani tuk sekadar membayangkan.

Satu yang perlu kau camkan ialah aku tak akan pernah mengambil pun menyentuh sedikitpun apa yang dimiliki orang lain, tanpa perintah, tanpa tekanan.