Sabtu, 20 Desember 2014

surat

seperti apa cinta?
seperti rasa kala aku duduk disampingmu, biasa saja
tanpa keringat dingin, muka memerah, tangan bergetar
waktu itu aku hanya ingin duduk lama disampingmu, mendengarmu bercerita sesuatu
bukan tanpa kata
tapi mata
yang selalu mengagumi yang ada padamu
ada yang belum pernah terlihat
anting ditelingamu
aku ingin menyatakan cinta padamu tanpa kata cinta didalamnya
karena aku tak mengerti arti katanya
aku tak ingin merayu mendayu
duduk bersamaku dan kembali kita berbincang
bukan mengandai
bukan mengkhayal, walau perlu
aku lupa sesuatu,
pernahkah kau menanya untuk apa ada kata cinta?
aku lupa kalau aku tak cinta padamu,
aku hanya ingin berlama-lama denganmu
tak mampu mendefinisikannya
aku tak cinta padamu jika cinta itu membuat tanganku bergetar, berkeringat, sampai mulut tak bisa berkata
itu malu, sesuatu yang membuatku tak bisa menatap matamu
akan kurawat cinta, hingga aku bosan entah kapan

Selasa, 25 November 2014

Part 1

Siang tadi tidak begitu terik, satu mata kuliah hari ini tidak terisi. Mungkin dosen mulai lelah dengan kepasifan kami di dalam lokal, atau mungkin beliau mulai lapar. Singkatnya kami memutuskan makan siang di tempat yang mulai menjadi langganan kami, berjalan kaki seperti biasa. Karena memang jamnya makan siang maka banyak makhluk-makhluk kelaparan mulai berseliweran, tak terkecuali ditempat makan yang kami tuju.
Benar saja pemirsa, sampai dilokasi tidak ada meja kosong, semua terisi, penuh, dihiasi muda-mudi yang sedang melepas gairah perutnya. Tempat makan ini menyediakan menu; ayam penyet dan kawan-kawan, tidak istimewa dari segi bangunan, tapi cobalah sesekali berkunjung mencicipi sambalnya. Yummy.
Di bangku paling ujung dekat dengan pintu dapur tempat masak dua orang duduk menunggu pesanan,  dengan melemparkan senyum innocent saya menanya “apakah saya boleh duduk disini” begitu kira-kira inti pertanyaannya, lalu kakak perempuan yang tidak seperguruan itu menjawab-tanpa tersenyum “ada yang akan duduk disini empat orang”. Yap, saya lempar senyum lagi dan meng-oh kan mulut saya sambil melangkah mundur, beruntung tepat di depan bangku tadi masih ada tempat kosong yang hanya diduduki dua orang manusia, lelaki-perempuan. Mereka mempersilakan.
Sengaja kami tidak segera memesan makanan, terlihat dapur dipenuhi pengunjung dengan berbagai ekspresi kelaparan. Sembari menunggu agak lengang, saya mengamati sekitar, iya itu kebiasaan atau mungkin bakat saya. Lamat-lamat dua orang di samping saya sedang membicarakan semacam kompetisi-kalau saya tidak salah dengar. Tak begitu jelas, tapi saya bisa memberikan sedikit gambaran, dalam kompetisi tersebut menurut sang pencerita-lelaki yang fasih dalam berekspresi saat berbicara banyak delegasi dari unversitas lain mempertanyakan kinerja wasit, eh juri maksudnya. Lelaki tadi seperti ingin memberikan pendapat mengenai jalannya kompetisi yang menurut dia bukan menurut saya, kompetisi tersebut diikuti oleh delegasi-delegasi yang anggotanya tidak terlalu baik atau mungkin wow dalam performanya. Di titik ini, saya ingat kata-kata dari salah satu dosen saya kalau saya tidak lupa, pokoknya pernah. “mahasiswa Un*i secara akademis tidak kalah dengan mahasiswa dari universitas-universitas terkemuka di Jawa sana, (saya skip bagian selanjutnya karena memang tidak terlalu mendukung dalam kisah ini-menurut saya)”. Semakin kesini ceritanya seperti keluhan atas apa yang dialami selama mengikuti kegiatan tersebut, bukan hal yang menyenagkan untuk didengar. Bahkan kekurangan anggota satu delegasipun tidak segan oleh lelaki diumbar kepada teman perempuannya.
Sampai disini saya juga mengingat kembali, belum ada dua minggu terlewat ketika saya diajak untuk mengikuti sebuah program semacam kompetisi juga yang diadakan oleh salah satu televisi swasta. Kami berempat, membuat berita, mengambil video dan lain sabagainya. Di antara kami berempat saya memang akrab dengan salah satunya, hubungan teman saya dan lelaki yang ada di tempat makan tadi memang tidak ada, tapi jika boleh dikata ada kemiripan di antara mereka selain tentunya keekspresifan mereka saat berbicara, yaitu; kalau orang di desa kami disebut “nggelendeng”. Iya tidak perlu saya perjelas, tapi disitu tadi titik kesamaannya yang masih menurut saya.
Sudah ada lima belas menit mungkin kami duduk di bangku ini, teman saya mulai merasakan cacing yang berdemo mulai membakar ban bekas dan melampar bom-bom molotov yang dibuat dari minyak/bensin yang harganya sudah sepuluh ribu kalau eceran, dan cacing-cacing tadi ternyata mendemo harga minyak/bensin yang sudah tidak ketulungan menurut mereka, mungkin, sampai disini saya gagal fokus, mungkin mereka para pendemo kenaikan harga minyak/bensin entah cacing atau bukan merasa keberatan untuk membiayai operasional pembuatan bom-bom molotov kalau mereka ingin berdemo lagi. Dari mana pendapat ini saya peroleh, ya dari arus lalu lintas ke Ind*mart dan Alf*mart masih saja penuh kendaraan bermotor. Mereka sesungguhnya bisa menerima atau mungkin maklum. Hanya mungkin, ah lupakan saja.
Dan fokus lagi, saya akhirnya memesan sampai dua kali, eh tidak sekali saja karena yang terakhir hanya memastikan. Akhirnya kamipun makan, saya dengan telor dadar dan dia dengan paha kanan ayamnya. Ditengah ritus makan, saya tercekat mendengar omongan teman saya mengenai tidak nikmatnya dia makan.
Kepala saya mulai goyah, superslide mengalun deras, terpampang seperti foto-foto yang terekam saat saya makan, baik itu saat masih di Magelang-kebanyakan pun ketika sudah disini. Begitu beragam yang saya makan dari mulai nasi putih plus telor ceplok, sampai ayam pop Rumah Makan Sederhana yang kondang itu, tidak pernah terbayang saya tidak menikmatinya. Ketika saya melihat hidangan di depan mata saya, dalam angan “Ibuk di rumah bahkan tidak mesti seminggu sekali memasak hidangan mewah seperti ini”.
Tidak akan saya bahas lebih jauh, saya hanya terdiam dan merenung kebanyakan setelahnya. Saya ambil definisi nikmat yang masih mengandalkan kinerja mbah Google, maafkan saya Ya Allah kalau saya kurang dalam hal ini, semoga Engkau berkenan. Nikmat secara etimologis berasal dari bahasa arab yang berari segala kebaikan, keenakan, dan semua rasa kebahagiaan. Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu dan akhlak mulia.
Dalam website Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis; nik·mat 1 a enak; lezat: masakannya memang --; 2 a merasa puas; senang: -- rasanya tidur di kamar sebagus ini; 3 n pemberian atau karunia (dr Allah):Allah telah memberi -- kpd manusia; sedangkan me·nik·mati v 1 merasai (sesuatu yg nikmat atau lezat): kami ~ makan minum; 2 mengecap; mengalami (sesuatu yg menyenangkan atau memuaskan): ~hasil kemerdekaan.
Kaitannya nikmat yang merupakan semua rasa kebahagiaan, saya kembali tersenyumkan oleh tulisan dari mas Farid dalam pemaparannya mengenai hastag bahagia itu sederhana #bahagiaitusederhana; ‘bahagia itu sederhana adalah milik semua orang dan milik semua pribadi yang mau bersyukur. Mensyukuri hal-hal kecil dan sederhana dan berbahagia karenanya. Bahagia itu sederhana adalah milik jiwa-jiwa yang ingin merdeka. Bahagia itu sederhana adalah etosnya, bersyukur adalah inti dari semuanya'. 

Dan pada bagian akhir ini, saya memohon maaf bila menyinggung perasaan karena cerita, tokoh, dan tempat bukanlah fiktif belaka. Saya mungkin juga pengeluh dan pengadu seperti kebanyakan. Karena dari peristiwa sehari-hari seperti ini sesungguhnya kita belajar dan menyadari betapa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Pemurah serta Penyayang tentunya, dan dengan tulisan ini saya berharap Tuhan, Allah Yang Maha Esa selalu menuntun kami kejalan-Nya. Amien.

Jumat, 07 November 2014

terik hari adalah pesona
dengannya, pohon rimbun menjelma
payung-payung megah mengurai masa
  lihatlah mereka bergerak bersentuhan
  memijakkan keteduhan
tersibak di antara dedaunan dan rapuh kayu
kemegahan lembut sang bayu
  membisikkan beribu nasehat
  meruntuhkan jutaan penat
merangkai memori
yang bergemuruh dalam diri
  senyumlah untuk syukur damai hari ini 





bulan meragu terangnya
menunggu kilau bintang berjuta
agar malam tak lagi kelam
selepas mendung dan hujan datang
kurangkai mantra untuk pagi menjelang
merdu alunan nada mengalir pelan
hangatkan diri
sambut mentari
jalin senyuman
tangguhkan jiwa

29 okt 
Sesaat mata menerka
rumput daun kayu tertata
mungkin sengaja
atau begitu adanya
bersilangan serta merta



Menggilas kesunyian
dengan canda riuh bertaburan
menuntut kedamaian
malu mengundang kekaguman
sendiri menghantarkan
memupuk kehampaan
21 okt
Aku tidur dalam pelukmu
Di antara bayang kembang rerumputan
Dan sinar rembulan

Kamis, 02 Oktober 2014

nikmatilah rentang waktumu, pun denganku
jika jarak ialah kiasan 
maka rindu sebuah kenyataan 
doaku agar bahagia seirama usia #bayupadamutiara
pada setiap kata aku menggantung harapan 
sejujurnya menikmatimu dari kejauhan ialah keindahan
disisimu adalah kebahagiaan
kebaikan ialah kebahagiaan yang kita bagikan
24 sept
jauh sebelum ini,
 saat hidup bagian imaji
 mendayu nada di pagi
laras sosok memuji,
 menemani hari ini telah jauh lalui
12 sept
kepada malam
 terlalu banyak aku sampaikan
 kepada bayu
 terlalu sering aku titipkan
 kepada cinta yang selalu terpendam 
kepadamu aku menyalam
12 sept
selembar catatan kuhempaskan,
 jalinan kisah telah kita rentangkan,
 serupa pergi tanpa pamitan,
 hadirmu kan selalu jadi kejutan.
12 sept

Senin, 05 Mei 2014

Surat Cinta

Di dalam ruang dua kali tiga meter ini, setiap malam pikiranku melayang ke dalam khayalan masa depan. Jauh melebihi jalinan kisah yang sebenarnya sedang dirajut. Di dalam ruang pengap gelap, kusisipkan beberapa lembar pernyataan akan sebuah keinginan. Tepatnya tujuan. Bukan, bukan hanya karena malam ini aku kembali teringat, namun terlebih karena aku ingin menjadikannya pengingat.

            Berawal dalam sebuah pertemuan, sejenak aku tertegun dengan keberadaan. Kedatanganmu bukan direncanakan, dan perkenalan denganmu bukan juga sebuah kebetulan. Siang itu aku masih ragu ketika melihatmu, selalu begitu. Satu kali ini aku akan mencoba menjadi lebih berani, kuputuskan untuk melakukan. Aku juga akan malu jikalau  suatu waktu kamu mengingatkanku pada hari itu. Muka merah, keringat bercucuran, tangan bergetar, suara mendengung mirip lebah mencari makan, kejadian cepat berlalu karena argumenku mengatakan salah tingkah ialah penyebab utama otak tidak menyimpan memori secara maksimal.

            Perihal daya tarik yang kau berikan tak selalu bisa aku jabarkan, spontan. Iya, masalah hati terkadang jauh dari kewajaran yang merupakan jawaban atas kegelisahan. Wajahmu barangkali ibarat sepucuk aster yang selalu mengangkat semangat dan menonjolkan kepolosan. Tubuhmu tidak jauh berbeda dengan seekor kutilang, ramping kecil mungil. Lincah bergerak dan kicauan khasnya tak pernah lupa menyapa disaat pagi menjelang setelah kabut beranjak serta pada sore yang matahari tak lagi menyengat dengan teriknya.

            Sebenarnya aku menanti suatu sore berhias senja jingga di teras rumah kita, berteman teh hangat dan pisang goreng raja. Dua buah kursi kayu berdampingan terpisah meja bundar berhias dua pucuk aster merah dalam botol saus bekas. Taukah saat ini aku memimpikan peristiwa itu? Dimana hujan yang baru saja berhenti masih meninggalkan jejaknya yang tercampur bau tanah halaman rumah. 

            Begitu banyak kegiatan yang ingin kulakukan bersamamu, begitu banyak waktu untukmu yang mungkin aku sendiri tak pernah menyadari sebanyak itu. Karena aku terlena akan keberadaanmu. Hingga detik ini yang tak jarang membuatku sulit mengistirahatkan pikiran. Tapi aku ikhlas, membiarkan rasa itu mengendap di kalbu.

            Sambut aku ketika malam nanti aku baru pulang, dari bekerja. Seduhkan teh panas setelahnya, kuberikan pelukan hangat sesudahnya. Dan masihkah ada ragu atas keelokanmu, seharusnya sederhana, pakailah kaos dan celana favoritmu maka kiranamu bukan hal yang mustahil. Lalu tak ada lagi jarak di atas peraduan, dan tak lupa secangkir teh panas kembali tersaji selagi kutilang bermandikan embun di dekat jendela.

            Selasa sore hendak kusenandungkan lagu untukmu, kuambil secarik catatan dalam buku. Terlihat sama sebenarnya aku denganmu. Tanah yang kita pijak, langit yang kita junjung, udara yang kita hirup, sama. Perempuan dalam doa ialah hal biasa. Lantas kidung yang telah aku tuliskan, bersajak, tentu saja tentangmu. Tak banyak sebenarnya hanya cukup untuk mengisi sore ini. Lagi-lagi kidungku ialah sepintas doa untukmu. Harapan dan impian.

            Melihatmu gembira dengan kesibukan sebagai seorang ibu rumah tangga, bahagia dikaruniai seorang putra, tersenyum puas setiap kali bakal menutup mata.  Terlelap, bersiap menyambut esok hari baru, rehat sekejap kemudian menyusun kembali semangat. Adakah yang lebih berat daripadanya. Lebih mudah mensyukuri dan menikmati ketimbang mempersoalkannya.

            Karena surat ini merupakan saksi. Karena pagi sudah sering memberiku inspirasi. Karena sore nanti aku kembali menyelesaikan urusan untuk esok hari. Maka jadilah saksi, pengingat karena aku tak ingin lalai. Karena aku ada.

Kerja?!

Memilah dan memilih pekerjaan apalagi anti terhadap pekerjaan tertentu kini tak lagi berlaku. Tidak ada kerja tidak makan, tidak ada kerja tidak sekolah, tidak ada kerja menganggur tapi ‘sok’ banyak acara.

Sekarang kerja tidak bisa dipilih jika kemampuan dan kualitas diri tak mumpuni. Asal kerja asal halal tidak terlalu menjadi masalah. Yang jadi masalah mungkin gengsi, namun apalah artinya gengsi kalau usia sudah tak muda lagi. Ketika tubuh tak sebugar dulu lagi serta kemampuan yang dimilki sebatas mengandalkan fisik maka apapun asal halal dilakukan demi terpenuhinya kebutuhan keluarga.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dibilang siap atau memenuhi kriteria siap untuk membina rumah tangga namun apa daya naluri terasa sulit ditahan akibatnya kebutuhan keluarga mengalahkan lainnya.

Dan bekerja dengan semampunya mungkin jalan paling prospek. Karena jika ditilik melalui prediksi pertumbuhan usia produktif yang semakin membludak daripada menunggu waktu lebih bijaksana langsung bertindak.

Akan tetapi manusia dengan usia produktif selain sedang mengenyam bangku  sekolah maupun perguruan tinggi dibimbing, dibina, untuk kemudian dibudidayakan menjadi wirausahawan dibidang industry, lingkungan serta sosial. Kemungkinan besar akan lebih banyak menyerap pengangguran dan secara tidak langsung mengurangi beban negara mengurus jumlah manusia usia produktif yang belum bermata pencaharian.

Lagi-lagi kreatifitas, inovasi, komitmen, dedikasi, tekad dan mimpi sangat diperlukan generasi usia produktif, sebelum akhirnya berada pada level setengah masa selanjutnya tidak bisa memilih dan menentukan profesi yang akan ditekuni.

11 Juni 2013

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”, pepatah lama terimplementasi dengan baik selaras dengan perkembangan zaman. Transformasi aplikasi dari peribahasa di atas melekat kuat dalam benak seorang pria paruh baya.

Selembar daun yang gugur dari pohon ketapang setiap harinya ialah sumber penghidupan. Daun kering merupakan popok kompos seharusnya, menjadi sampah. Mengganggu kebersihan. Untuk itulah ia dibutuhkan bukan sekadar tuntutan pengangguran maupun sempitnya lapangan pekerjaan. Bagi pemegang teguh prinsip ‘menjaga kebersihan’, tugas ini adalah keharusan dan sisi lain sebagai pekerjaan mulia.

Di dalam rumus kehidupan yang saling melengkapi, setiap peran di laksanakan secara optimal. Multiperan pria paruh baya tak semua berkesempatan merasakan pun memilki. Status yang tak jarang dipandang sebelah mata nyatanya vital fungsi serta manfaatnya.

Selembar daun pun yang jatuh ialah kehendak-Nya dan daun yang jatuh itulah sumber penghidupan seorang pria paruh baya.

1 Maret 2013